Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 27 ~ Gemas


__ADS_3

Di sisi lain, Austin sedang kesal setengah mati. Baru saja keluar dari ruang operasi seseorang sudah menunggunya di depan pintu seperti bagian keluarga pasien. Sierra melambaikan tangannya dengan ceria.


Untung saja wanita itu tidak berani mendekat saat ia memberi penjelasan pada keluarga pasiennya.


Setelah selesai menjelaskan, dokter muda itu akan berjalan pergi dan di saat itulah Sierra mulai melancarkan aksi. Dengan wajah yang tertutup topi dan masker, gadis itu segera menghampiri Austin dengan sekotak tisu dan sebotol air.


"Bagaimana operasinya? Lancar? Kau pasti lelah, sini aku bersihkan keringat di wajah mu," ujarnya beruntun sembari mengikuti langkah Austin yang lebar.


Austin berdecak, kesal sekali rasanya dengan gadis yang satu bulan belakangan ini selalu menguntit dirinya. "Apa kau tidak punya pekerjaan?" tanya Austin geram.


"Tentu saja ada, ini aku baru selesai syuting dan langsung kemari."


Austin mendengus, tak peduli dengan apa yang wanita itu katakan. Ia lebih memilih membuka pintu ruangannya, namun Sierra sudah berdiri di samping. "Kau mau apa?"


"Ikut masuk ke ruangan mu."


"Tidak boleh! Sekarang kau keluar dari sini. Kehadiranmu sangat mengganggu ketenangan rumah sakit. Apalagi jika ada yang menyadari kau adalah Sierra Panamera."


"Maka dari itu biarkan aku masuk ke ruangan mu, dengan begitu tidak ada yang akan mengetahui keberadaan ku."


Tanpa izin dari sang empu, Sierra menerobos masuk ke ruang kerja Austin yang membuat sang pemilik menarik napasnya kasar. Selalu seperti ini setiap hari, namun baru kali ini Sierra berhasil masuk ke ruangannya.


"Sekarang kamu duduk, aku ada bawa makan siang untukmu. Aku suapi ya," ujar Sierra dengan lembut. Topi dan masker telah ia lepaskan, kini tampaklah wajah cantik dengan rambut cokelat bergelombang.


Gadis itu tersenyum, sementara Austin menatapnya dingin. Namun pria itu tak menolak saat Sierra menyodorkan satu sendok penuh makanan ke hadapannya. Pikirnya jika ia menghabiskan makanan ini lebih cepat maka gadis aneh ini juga akan cepat pergi.


Sementara Sierra sangat senang, akhirnya perjuangannya tidak sia-sia. Austin sudah mulai melunak dan ia pasti bisa menang taruhan dengan teman-temannya. Ya, satu bulan yang lalu ia mendapat tantangan dari teman-temannya untuk menaklukkan hati dokter muda nan dingin itu.


"Lihat saja, aku akan mencampakkanmu setelah kau bucin padaku sebagai pembalasan karena selalu menolakku seperti ini," batin gadis itu sembari tersenyum smirk yang tidak Austin sadari.


Kriet.


Pintu terbuka dengan sedikit bantingan, membuat kedua orang yang berada di ruangan itu menatap pada sumber suara.


"Lio."


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan memanggilku seperti itu!"


"Dasar pria kejam, kita sudah sahabatan sejak bayi wajar saja aku memanggilmu dengan panggilan masa kecil."


"Jangan mengujiku, Sierra. Sekarang kau keluar dari ruangan ini! Aku ada urusan dengan Austin."


"Kau ... Aku duluan yang ada disini. Kau tidak bisa main mengusirku."


"Kalian berdua seret dia keluar!"


Kedua anak buahnya mengangguk, setelahnya menyeret tubuh Sierra keluar ruangan.

__ADS_1


"Kau! Hei, lepaskan aku!"


Austin tertawa kecil.


"Kau senang sekali?"


"Baru kali ini kekasaranmu aku terima. Terima kasih sudah membantuku mengusir perempuan berisik itu."


"Cih, aku tidak melakukan ini untukmu."


"Hah, baiklah. Katakan ada apa kau kemari. Kau pasti tidak akan kesini tanpa alasan kan?"


"Periksa lenganku. Semalam terkena luka tembak."


"Apa? Kau sudah gila, baru sekarang kau kemari untuk memeriksa?"


"Sudahlah, tidak perlu banyak protes. Periksa dan obati saja."


"Ck, tapi ini sepertinya sudah pernah diobati."


"Memang sudah diobati, tapi terbuka lagi setelah aku olahraga semalaman."


"Kau benar-benar tidak waras. Sudah terluka masih berolahraga."


Marvel tersenyum, ingatannya kembali pada saat Austin mengancam akan mengambil Ayla jika kembali menyakitinya.


"Maksudmu olahraga yang itu?"


Marvel mengedik, wajahnya terlihat jenaka kala Austin menampilkan wajah muramnya.


"Kau mengkhianati Ayla."


"Siapa yang bilang aku mengkhianati istriku. Tubuhnya sangat menggiurkan, aku terlalu bodoh baru menyadarinya. "Argh, kau!" Marvel menatap Austin tajam kala pria itu dengan sengaja menekan lukanya dengan keras.


"Kau menyakitinya? Sudah aku bilang jangan sampai kau kembali menyakitinya."


"Aku tidak menyakitinya, dia istriku. Wajar aku melakukannya, justru kau yang bukan siapa-siapa tidak pantas mengkhawatirkan wanita milik orang lain. Satu lagi, dia adalah Lalaku dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengusiknya termasuk kau." Aura permusuhan tampak menguar pada kedua pria itu. Meski begitu, Austin tetap profesional, mengobati kemudian mengganti perban yang baru. Untung saja lukanya tidak fatal, jadi hanya perlu diganti perban secara berkala saja.


"Aku tidak peduli dia Lala atau bukan, yang pasti jika aku mendengar kau menyakitinya lagi aku tidak akan segan meski kau sahabat baikku." Sekali lagi Austin memberi ultimatum, Marvel malas mendengarnya. Pria itu bangun dan menatap Austin.


"Sudah selesai kan?" Austin mengangguk.


Syut.


Dengan gerakan cepat Marvel mengunci kedua tangan Austin. "Argh, apa yang kau lakukan?"


"Aku juga ingin mengatakan meski kau adalah sahabatku, aku tidak akan segan mematahkan kedua tangan ini atau kedua kaki mungkin? Kalau kau berani berebut wanita denganku."

__ADS_1


"Kau, aku tidak akan takut dengan ancaman mu."


"Oh? Benarkah?" Marvel mengeratkan cekalannya.


"Argh, kau."


.


.


.


"Hem, pria menyebalkan. Berani sekali dia mengusirku. Lihat saja, aku akan membalasnya." Sierra bergerutu, setelah diusir ia memutuskan untuk mengelilingi rumah sakit, tepatnya di ruang rawat kelas menengah sembari menunggu pria kejam itu pergi.


"Eh, Ayla?" gumamnya ketika melihat seorang wanita tengah duduk di kursi tunggu dengan dua orang pengawal yang berdiri di sisi kiri dan kanan.


"Jadi dia datang bersama istrinya dan memberinya pengawalan juga?" gumamnya lagi, menimang bagaimana perlakuan Marvel kepada sang istri. Seketika senyum licik menghiasi bibirnya yang tertutup masker.


"Dia tidak akan memberi pengawalan jika orang itu tidak penting. Hebat juga kau Ayla, dalam satu bulan kau bisa menggantikan posisi perempuan khayalannya itu," batin Sierra.


"Baiklah, kau mengusirku dari ruangan Austin dan mengganggu acara kencanku. Sebagai gantinya aku akan menculik istrimu," batinnya lagi sembari menyeringai, apalagi ia lihat Ayla sudah mulai beranjak dari tempat duduknya diikuti dua pria itu.


...


Ayla menatap kedua pengawal yang ditugaskan oleh suaminya itu dengan kesal. Kedua pria itu benar-benar membuntutinya kemanapun bahkan saat ia ingin ke kamar mandi seperti ini.


"Kalian mau ikut masuk ke toilet wanita?" tanya Ayla dengan gemas, tidak habis pikir dengan pola pikir kedua pria itu. Tidak, tapi semua bawahan sang suami yang begitu setia, sampai Ayla pikir kalau mereka adalah orang bodoh yang bahkan menerima perintah yang tidak masuk akal sekalipun.


"Maaf, Nyonya. Kami hanya mengikuti perintah tuan untuk mengikuti kemanapun Anda pergi."


"Tapi ini toilet wanita, kalian mau dihakimi semua wanita yang ada di dalam?"


Kedua pengawal itu saling memandang, lalu berpikir ada banyak wanita yang menyerbu mereka dan berkata bahwa mereka cabul. Seketika keduanya menggelengkan kepala.


"Baiklah, Nyonya. Tapi kami akan tetap masuk jika Nyonya tidak keluar dalam waktu lima menit."


"Oke, aku akan keluar dalam satu menit jika perlu," balas Ayla kesal.


"Lebih cepat lebih bagus, Nyonya."


"Hiih." Sungguh Ayla gemas dengan kedua pria yang berbicara padanya tanpa ekspresi itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2