Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 7 ~ Penyakit Cinta


__ADS_3

"Om, sudah ku bereskan semuanya. Artinya urusan saya sama Om sudah selesai kan?"


"Hey, siapa bilang? Kau harus membersihkan apartemen saya selama dua bulan. Itupun tidak cukup mengingat berapa uang yang saya keluarkan untuk biaya rumah sakit Ayla."


"What? Dua bulan? Om lagi ngerjain saya, ya?"


"Enak saja, untuk apa aku ngerjain kamu. Lagian kamu itu harus bertanggungjawab sama perbuatan mu sendiri."


"Tapi kenapa lama sekali? Aku kan harus sekolah."


"Kamu sekolah nya pagi, pulang sekolah langsung kesini dan lakukan pekerjaan kamu!"


"Tapi, Om. Nanti orangtua saya nanya gimana?"


"Ya, itu urusan kamu. Sudah, ini kode apartemen saya. Saya ada urusan, jadi harus pergi sekarang. Oh iya, sebelum pulang pastikan semuanya bersih dan rapi. Kalau tidak saya akan menambah hukuman kamu dua kali lipat."


"Eh, mana bisa begitu." Calia protes, namun Willy sudah beranjak dari ruangan itu.


"Akh, menyusahkan sekali. Aku semakin membencimu Ayla Navara."


.


.


.


Di Rumah Sakit Mitra Medistra, tepatnya di ruangan Austin.


Pria itu tengah menatap sebuah foto yang selalu ia simpan di dalam laci kerja, baik itu di rumah sakit, maupun di rumahnya. Sudah lama sejak ia kembali ke ruangan ini, dan selama itu hanya itu yang ia lakukan disana.


Kadang ia tersenyum, kadang juga menatap foto itu pedih. "Kenapa takdir seolah mempermainkan ku? Padahal aku siap sedia untuk menopang mu. Tapi kamu justru terjerat dengan temanku yang tak punya hati itu," gumamnya seorang diri.


Ya, foto yang ia tatap lama sekali itu adalah foto Ayla. Ia merupakan salah satu fans wanita itu, bahkan ia sudah menonton semua drama maupun film yang Ayla perankan. Semasa Ayla masih berjaya pun, pria ini sempat mendekatinya. Namun apa daya, Ayla adalah wanita dingin yang sulit sekali mencair.


Dan mungkin ini lah alasan mengapa ia bersikap dingin pada Sierra yang notabene pengganti Ayla setelah menghilang dan koma.


Ceklek.


Pintu tiba-tiba terbuka membuat Austin kaget dan dengan cepat menyembunyikan foto Ayla kembali ke laci.


"K-kau? Untuk apa kau kesini?" tanya Austin dengan gugup.


"Memangnya kenapa? Rumah sakit ini kan milikku, aku bebas kemanapun dong."


"Huft, katakan ada apa kemari?"


"Aku ingin kau memeriksa ku!"


"Kau kenapa? Kau sakit?" tanya Austin dengan wajah khawatir.

__ADS_1


Marvel mengangguk, pria itu menampilkan wajah yang sangat serius.


"Apa kau punya sakit serius? Kenapa menyembunyikannya selama ini?" tanya Austin lagi, jujur saja ia ikut tegang ketika melihat bagaimana pria itu terlihat sangat serius.


"Jantung ku."


"Jantung mu kenapa?"


"Ck, dengarkan dulu penjelasan ku!"


"Baiklah, sekarang katakan bagaimana keluhanmu."


"Tadi jantungku terasa terpompa dengan sangat cepat. Tapi sekarang tidak lagi, sepertinya wanita itu membawa sial untukku. Jika berdekatan dengannya, jantung ku pasti berdegup kencang seperti habis lari maraton."


Mendengar itu, Austin tersenyum jenaka walau di dalam hati terasa sesak. "Ya, bisa dibilang Ayla memang membawa sial untuk mu."


"Nah, benarkan?"


Austin mengangguk. "Membawa sial karena membuat kau mengidap penyakit cinta. Tapi aku rasa nantinya Ayla akan lebih sial karena dicintai orang seperti mu."


"Kau ini bilang apa? Kau mengejekku?"


"Aku tidak mengejek, kau memang menyukainya. Karena itulah jantungmu bereaksi berlebihan." Dengan perasaan sesak Austin menjelaskan perasaan itu. Bagaimanapun Ayla sudah menjadi istri Marvel. Ia akan merelakan Ayla bila Marvel tidak keterlaluan pada gadis itu, dan lebih bagus bila mencintainya.


"Omong kosong. Sepertinya aku harus memecat dokter tidak becus seperti mu."


"Bulshit."


Dengan emosi Marvel meninggalkan ruangan Austin. Bukannya mendapat pengobatan, Austin malah membuat kepalanya semakin ruwet.


"Cintaku hanya untuk Lala. Tidak ada seorangpun yang bisa menggantikannya." Selalu pernyataan itu yang ia tanam dengan kokoh di dalam hati. Karena itulah sampai sekarang ia belum pernah membuka hati pada siapapun.


"Tidak, aku tidak bisa membiarkan ini. Aku yakin ini hanya rasa tertarik karena wanita itu memiliki kalung ini. Aku harus kembali menyiksanya, nanti pasti perasaan ini akan hilang," gumamnya kemudian, lalu memutuskan untuk kembali ke ruangan Ayla.


Sementara di ruangannya, Ayla sudah sadar. Namun gadis itu hanya dapat menatap langit-langit ruang rawat itu dengan nanar.


"Kenapa semuanya berubah? Bahkan Lucy juga membenciku," batinnya sedih.


"Kota Lotus juga tidak ada. Lalu ini dimana? Kenapa aku tiba-tiba terdampar di dunia asing ini?"


Ceklek.


Suara pintu terbuka membuat Ayla menoleh. Ia memandang Marvel yang berdiri disana lengkap dengan tatapan dinginnya.


Drttt, drttt.


"Tuan, nyonya besar sedang dalam perjalan keruangan nona."


Baru saja membaca pesan dari Willy, pria itu sudah mendengar hentakan sepatu yang beradu. Ruangan Ayla masihlah sama, di ruangan VIP lantai teratas yang sepi. Karena lantai ini khusus untuk keluarga Prado, sang pemilik rumah sakit.

__ADS_1


"Ck, pasti bahas masalah Sierra lagi," batinnya merasa malas. Tatapannya pun kembali ke arah Ayla. Seketika seringai sebelah kirinya tercipta dengan sempurna.


Terburu-buru pria itu segera masuk, tidak lupa menutup pintu. Ayla yang melihatnya hanya menatap bingung.


Sementara Marvel tidak ada waktu untuk menjelaskan. Pria itu dengan gerakan cepat ikut naik ke tempat tidur, kemudian menindih tubuh Ayla di dalam kuasanya. Tanpa kata ia mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya pada bibir Ayla, membuat gadis itu seketika membulatkan kedua matanya.


Ingin memberontak pun tak bisa, karena Marvel membelenggu kedua tangannya dengan sangat erat hanya menggunakan tangan kanan pria itu. "Emh, emh." Hanya itu yang bisa Ayla gumam kan sebagai bentuk protes.


Kedua matanya kian melebar kala tangan kiri Marvel yang lowong mulai menjamah tubuhnya. "Emh." Gadis itu mulai memberontak, kedua kakinya bergerak tak karuan namun akhirnya harus takluk ketika Marvel mengapitnya.


Tubuhnya yang lemah berhadapan dengan belenggu kuat seorang pria kejam, Ayla seolah dibuat harus menerima apapun yang akan Marvel lakukan.


Perlahan air mata mengalir dari kedua sudut mata indah gadis itu, sungguh ia merasa perlakuan Marvel jauh lebih menyakitkan dibanding menyadari Kota Lotus tak pernah ada.


Ceklek.


Pintu ruangan itu terbuka dan membuat nyonya Prado yang tak lain adalah tante Marvel sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan saking kagetnya.


"Sebaiknya Nyonya tidak menganggu tuan Marvel saat ini," saran seorang pengawal Marvel yang memang berjaga di depan pintu. Jaga-jaga agar Ayla tidak bisa kabur lagi.


"Kau benar." Wanita itu lalu merapatkan kembali pintu yang baru saja ia buka.


"Dasar keturunan Prado. Tingkat mesumnya memang tidak ada tandingan, bahkan tidak melihat tempat, padahal ini rumah sakit." Wanita itu bergerutu dan berjalan pergi dari sana dengan kesal.


Sementara di dalam kamar rawat, Marvel masih tidak menghentikan kegiatannya. Pria itu seolah terlena dan menikmati apa yang tengah ia lakukan, padahal sang ibu sudah pergi. Bukan tanpa alasan ia menganggap sang tante sebagai ibu, pasalnya wanita itulah yang telah merawatnya sejak kedua orangtuanya meninggal.


Tapi entah kenapa kini pria itu seperti tidak bisa menahan hasratnya yang selama ini ia jaga mati-matian. Tubuh Ayla terasa bagai candu yang tidak bisa ia tolak. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya ia seintim ini dengan seorang wanita.


Perlahan ciuman pria turun ke leher jenjang gadis itu. Mencium dan membuat jejak perjalanan awalnya disana. Berhasil, Marvel tersenyum bangga kala melihat tanda merah yang sangat jelas terpampang nyata dihadapannya, padahal ini adalah pertama kali ia mencoba. Sungguh pencapaian luar biasa menurutnya.


Ingin menjelajah lebih lanjut, pria itu mengarahkan tangannya untuk membuka piyama pasien yang Ayla gunakan.


Sementara Ayla yang sudah pasrah mulai terisak karena Marvel tak lagi membungkam mulutnya.


"Hiks."


Mendengar suara isakan membuat Marvel mengembalikan akal sehatnya. Pria itu lalu mendongak dan langsung bertatapan dengan kedua mata Ayla yang sudah merah karena menangis.


"Shiit!" umpat pria itu dan dengan cepat turun dari tubuh Ayla dan bangkit berdiri.


"Jangan terlalu percaya diri karena aku menyentuhmu! Ini adalah hukuman karena kau berani kabur. Sekali lagi kau berbuat seperti itu, maka aku bisa berbuat lebih."


Setelah berkata kejam seperti itu, Marvel lalu kembali keluar dari ruang rawat itu dengan penampilan yang berantakan. Sementara Ayla masih terisak sembari memukul dadanya yang terasa sesak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2