
Pria itu lalu bangkit berdiri, berjalan meninggalkan Ayla yang masih merasa sedikit sesak ketika dibilang tidak berguna. Padahal sebelumnya Marvel sering mengatakan kalimat itu. Namun rasa sakitnya tetap sama, tidak berkurang sama sekali.
"Aku akan berusaha mengingatnya." Ucapan Ayla berhasil mengalihkan atensi Marvel.
Ayla bangkit berdiri, berjalan dengan tegap ke arah sang suami. "Kamu mau aku cepat ingat kan? Kalau begitu, seharusnya kamu beri aku kebebasan, biarkan aku kembali ke duniaku. Bukankah itu merupakan salah satu cara agar ingatanku cepat kembali?"
"Kau pikir aku bodoh? Dengan begitu kau berniat untuk pergi dari genggamanku kan?"
Ayla menghela napasnya. "Aku akan tetap tinggal disini."
Marvel menaikkan sebelah alisnya, kemudian tersenyum jenaka. Ia jepit dagu sang istri kemudian menariknya untuk mendongak.
"Kau tidak memiliki hak untuk bernegosiasi denganku," ujarnya dengan kedua mata hazel yang menatap lurus pada kedua mata coklat Ayla. Beberapa saat keduanya saling menatap nyalang, ketakutan Ayla seolah lenyap entah kemana.
Di dalam hati, Marvel merasa tertantang, sebelumnya belum pernah ada orang yang berani menatapnya seperti itu. Dapat ia lihat pancaran kemarahan dalam dua manik indah milik Ayla.
Pria itu yang lebih dulu memutus tatapannya, mendorong dagu Ayla, berbalik dan berjalan menuju bathroom. "Aku mau keluar dari sini," pekikan gadis itu kembali menghentikan langkahnya.
Marvel menarik sudut bibir sebelah kirinya. "Duduk diam lah dan tunggu aku dengan sabar ... atau kau akan tahu sendiri akibatnya." Pria itu tak menoleh, ia hanya memberi peringatan walau tahu gadis itu tidak akan mendengar.
"Mari kita lihat, apa kau masih berani menatapku seperti itu nanti," batinnya sembari menutup pintu bathroom.
Setelah Marvel hilang di balik pintu, kedua netra Ayla mulai melirik kesana kemari, seakan sedikitpun celah untuk kabur tidak akan ia lewati.
Terlihat banyak celah yang begitu nyata. Yang pertama pintu utama, kedua pintu balkon, dan beberapa jendela kaca.
Bukankah ia bisa kabur dengan mudah? pikirnya sembari tersenyum kecil.
"Di luar ada bodyguard, coba balkon saja dulu," gumamnya.
Klek ... klek, klek, klek.
"Menyebalkan sekali, kenapa harus dikunci?" gumam gadis itu lagi dengan sebal.
Atensinya beralih pada jendela kaca, namun sama, semuanya terkunci dengan rapat dan gadis itu sama sekali tidak bisa membukanya. "Argh," pekiknya frustasi.
__ADS_1
"Apa aku harus memecahkan kaca ini?"
"Tidak, tidak. Itu akan menimbulkan keributan."
"Kunci, ya, kunci. Aku harus mencari kunci balkon. Pasti ada di salah satu laci ini."
Gadis itu lalu berjongkok, menarik laci nakas satu per satu. Namun tidak ia temukan apapun. "Sial, kenapa tidak ada apapun disini."
Tiba-tiba lampu ruangan berubah menjadi merah, berkedip-kedip dan membuat Ayla kebingungan.
"Penyusup, penyusup." Bunyi suara yang entah dari mana semakin menambah kebingungan gadis itu.
Dalam hitungan detik, semua cahaya merah itu mengarah padanya. Merasa ini adalah sinyal bahaya, Ayla segera berlari menghindar. Tak peduli dengan barang-barang yang berjatuhan yang tidak sengaja ia senggol.
Namun cahaya-cahaya itu terus mengikutinya hingga ia harus tersungkur karena menabrak sofa. Dan kembali semua cahaya itu berkumpul dan membidik ke arahnya.
Cemas, takut, semuanya berlebur menjadi satu. Tubuhnya mulai bergetar lagi. Perlahan plafon kamar itu terbuka, dari sana muncul sebuah pisau yang langsung melesat cepat.
Shuttt.
"Akhh," pekik Ayla sembari menutup kedua matanya. Pergerakan pisau itu sangat cepat hingga ia panik tidak dapat menghindar.
Sontak ia buka kedua matanya dan kaget melihat Marvel yang sudah menindihnya dengan jarak yang sangat dekat.
"Akkh, uhm, uhm." Gadis itu berteriak, namun langsung dibungkam oleh Marvel. Tangan kiri pria itu langsung menarik selimut hingga tubuh keduanya tertutup sempurna.
Mulut bungkam mulut, bukankah akan lebih cepat membuat orang diam? Lihat saja, wanita di bawah ini akhirnya tak lagi memberontak.
Perlahan ia lepas bungkamannya. Baru saja Ayla akan membuka suara sudah kembali dibungkam lagi hingga pria itu mendongak setelah beberapa saat.
"Tenang, sistem masih mengincarmu. Diamlah! Setelah lima menit jika tidak ada pergerakan semua akan kembali normal." Marvel berbisik dan kembali menunduk dengan kepalanya yang berposisi di ceruk leher Ayla.
"Apa perlu dengan posisi seperti seperti ini?" tanya Ayla dengan suara bergetar, bahkan tubuhnya masih gemetar menahan takut. Entah kenapa melihat pisau yang mengarah padanya, membuat ia merasa ketakutan tersendiri. Seperti ia pernah mengalami hal serupa.
Marvel tidak menjawab, pria itu malah memperdalam kepalanya. "Wangi," batin pria itu sembari mengendus rambut panjang Ayla.
__ADS_1
Dan walau merasa geli, Ayla tak dapat berbuat apa-apa. Ia harus bisa menahan selama beberapa menit ke depan.
"Apa sistem itu juga akan menyerangmu? Bukankah kamu yang menciptakannya?"
"Sstt, diamlah. Mereka akan tetap menyerangku karena sudah ada yang memicunya," jawab Marvel berbohong.
Sebenarnya sistem itu hanya akan menyerang orang asing dengan gelagat mencurigakan. Sedangkan ia sendiri tidak akan diserang, ia berbohong karena ingin membuat wanita ini menyesal karena berani menatapnya nyalang tadi.
Sementara Ayla mulai berkedip-kedip, rasa hangat pelukan Marvel membuatnya terbuai dan mengantuk. Maklum saja, sehabis menangis tentu mata akan sembab dan mudah terserang kantuk.
"Tidak, tidak boleh tidur!" batin gadis itu sembari menggelengkan kepalanya.
Namun pergerakan kecil ini justru membuat Marvel panas dingin. Pergerakan yang membuat pria itu merasa sedang mengendus-endus ceruk leher gadis itu.
"Diamlah!" tegasnya dengan suara yang berat.
Ayla terdiam, namun diam malah membuatnya kembali mengantuk. Perlahan kedua matanya menutup, ia yakin meski tertidur pria kejam ini akan membangunkan dan mengusirnya keluar.
Hingga beberapa menit kemudian. Deru napas teratur mulai terdengar oleh telinga Marvel. "Apa wanita ini tertidur?" gumamnya.
Merasa keadaan sudah aman, Marvel perlahan bangkit dan menyingkirkan selimut yang menutupi mereka berdua.
Tatapannya beralih pada gadis yang berada di bawahnya. Matanya tertutup dengan bulu mata lentik yang begitu indah. Wajahnya halus dan lembut alami tanpa make up, membuat pria yang menatapnya lama itu merasakan desir aneh di dalam hati.
Buru-buru ia menggeleng. Tangannya terangkat untuk menampar wanita ini agar bangun. Namun ia tak sampai hati, tangan itu justru mendarat dengan lembut dan mengusap wajah halus sang wanita.
Perlahan tapi pasti, pria itu menunduk. Mengecup kedua mata yang tampak sembab dan bengkak. Ia tahu, wanita ini menangis karena dirinya.
Tanpa sadar bibirnya melengkung sempurna. Bukan lagi seringai di sebelah bibir, melainkan lengkungan di kedua sisi yang terlihat indah. Kedua netranya terus menatap pahatan sempurna di depannya, wajah cantik yang teduh saat terlelap.
Tangannya pun terangkat, perlahan mengusap bibir Ayla yang terluka karena dirinya. Kembali ia tersenyum, tidak ada rasa bersalah dalam hatinya. Yang ada adalah rasa bangga karena wanita yang di elu-elu kan para pria satu tahun yang lalu kini berada dalam genggamannya.
Perlahan ia bangkit, berpindah tempat ke samping Ayla. Dan menggunakan kedua tangan sebagai bantal, menerawang langit-langit kamar yang sempat mengamuk tadi. Lalu mengingat kembali percakapannya dengan teman-temannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼