Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 22 ~ Rasa Bersalah


__ADS_3

"Kakak Lio," pekik Ayla kecil sembari menarik sebuah layang-layang berbahan kantong plastik.


"Ada apa? Jangan lari-lari, Lala."


"Hah, hah, a-ayo kita main layang-layang," ujar gadis kecil itu dengan napas terengah-engah.


Lio mengusap kepala Lala dengan lembut, sembari membetulkan rambut yang berantakan itu ia tersenyum hangat.


"Ayo!" ajaknya yang membuat Lala melompat-lompat kegirangan.


"Kalian tidak mengajakku?" Genio menghampiri dengan wajah cemberutnya.


"Ayo, Kak Gen. Kita main bersama," balas Lala dengan ceria. Sementara Lio langsung memasang wajah datar, ia tidak suka waktunya berdua dengan Lala ada orang lain yang mengganggu.


"Ayo," ujar Genio senang, tanpa sadar pada tatapan dingin Lio.


Ketiganya pun bermain bersama walau dengan wajah Lio yang tampak cemburu dengan kedekatan Lala dan Genio. Hingga sebuah bayangan hitam menarik atensi pria kecil itu.


"Cepat juga cara kerja mereka," batin bocah itu dengan wajah yang semakin dingin.


"Wah, layangannya nyangkut," pekik Genio sembari menarik-narik tali layangan yang tersangkut di ranting pohon.


"Ayo, tarik lagi Kak Gen." Lala memberi semangat.


Srak.


"Kak Lio, awas!" teriak gadis kecil itu kala melihat Lio yang malah melamun padahal ranting pohon yang putus karena tarikan Genio jatuh ke arahnya.


"Akhh."


"Lala," pekik Lio dan Genio bersamaan.


"Kak Lio, sakit," adu Lala kecil sembari memegang belakang telinganya yang terluka karena ranting.


"Telingamu berdarah. Ayo kita temui suster!"


.


.


.


"Aku tidak melakukannya," lirih Ayla, mengalir sudah air mata yang sejak tadi ia tahan membuat Marvel tertegun kala menatap kedua netra indah itu.


"Nona, berpura-puralah sangat kesakitan. Tuan pasti akan semakin marah pada wanita itu," bisik Daisy pada Audi dan gadis itu mengangguk.


"Argh, sakit Kak. Hiks," pekik Audi melanjutkan dramanya.

__ADS_1


"Ayo kita ke rumah sakit." Melihat wajah memelas sang adik membuat Marvel panik, namun bukan itu yang Audi inginkan. Yang menjadi tujuannya adalah wanita itu ditendang dari mansion ini.


"Biar Genio saja yang membantuku Kak, Kakak uruslah urusan Kakak dengan wanita itu, ssshh," ujar Audi dengan meyakinkan, namun bukan Marvel namanya jika mau mendengar kata orang lain di saat ia sudah memutuskan sesuatu.


Dengan gerakan cepat ia menggendong sang adik dan berlalu ke arah lift.


"Ck, gagal," batin Daisy dengan wajah cemberut.


"Lak, kau tidak papa?" tanya Genio khawatir, tangannya terangkat untuk menarik dagu Ayla hingga menghadap padanya.


"Ya ampun, bibirmu berdarah," ucap pria itu sembari mengusap sudut bibir Ayla.


"Ssshh."


"Ayo kita obati!"


"Ada apa dengan Ayla?" pekik Alya panik. Ia memang tidak mengetahui keributan apa yang baru saja terjadi. Saat melihat Marvel yang tergesa-gesa keluar dengan Audi di dalam gendongan, baru wanita itu sadari ada masalah yang terjadi.


Ayla tidak menjawab, ia lebih memilih untuk memeluk kakak Alya nya. "Kak, aku mau pergi," lirihnya nyaris tidak terdengar.


Hati Alya mencelos kala mendengar suara pelan Ayla. Selama mengenal gadis itu, Ayla adalah kepribadian yang tegar dan hampir tidak pernah menunjukkan kelemahannya di depan orang lain. Tapi mungkin sekarang gadis itu telah lelah.


"Sstt, kita obati dulu luka mu ya," balas Alya akhirnya dengan suara lembut. Sementara Agya yang kebetulan lewat tetap memasang wajah datar nan dingin seperti biasanya, meski di dalam hati ia merasa sedikit iri dengan Ayla yang memiliki hubungan baik dengan sang adik.


.


.


.


"Adikmu tidak papa, tangannya hanya keseleo. Dalam beberapa hari ke depan pasti sudah sembuh," jelas Austin yang memang merupakan dokter pribadi keluarga Prado.


"Kau yakin? Jika terjadi sesuatu dengan Audi maka kau yang akan ku bunuh pertama kali," ancam Marvel dengan tatapan nyalang.


"Sungguh? Kau akan membunuh aku lebih dulu? Bukan orang yang membuat adik kesayanganmu itu jatuh?" balas Austin sembari tertawa kecil tanpa melihat raut wajah Marvel yang berubah.


"Ya, dia yang akan ku bunuh pertama kali," gumam Marvel dengan raut wajah yang sangat menyeramkan.


"Hey, bisakah kau lebih santai sedikit? Adikmu itu tidak papa," ujar Austin berusaha mencairkan suasana namun tak diindahkan oleh sahabatnya itu. Malah Marvel bangkit berdiri dan berlalu dari sana.


"Dasar pria tak punya sopan santun," teriak Austin setelah Marvel pergi begitu saja tanpa pamit.


Sementara pria yang tengah diumpat itu sama sekali tidak peduli. Kini ia telah berada di dalam mobil dengan segala pemikirannya. Jujur saja, kedua netra cokelat dengan binar kecewa itu sangat mengganggunya. Ia harus kembali memeriksa sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Selain itu ia ingin memastikan keadaan wanita yang telah menganggu ketenangannya itu. Entah kenapa ada rasa bersalah yang bersarang di sudut hati terdalamnya.


Tanpa membawa Audi yang masih berada di ruang rawat, Marvel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tidak ada Willy yang biasanya menyetir, pria itu hanya diawasi beberapa anak buah yang membawa dua mobil di belakangnya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba terdengar tembakan dari arah kanan mobilnya.


"Shiit," umpatnya. Ini memang bukan pertama kalinya ia diserang, namun memang sudah lama kejadian seperti ini tidak terjadi. Sebagai seorang mafia tentu pria itu memiliki banyak musuh yang menginginkan nyawanya, walau pria itu seperti memiliki nyawa seribu untuk menghindar dari maut.


Pria itu lalu menekan alarm di ponselnya yang akan langsung terhubung pada teman-temannya. Ia sadar saat ini sedang kalah jumlah.


Dua mobil pengawal yang awalnya di belakang itu melaju cepat menuju mobil sang tuan untuk melindungi. Namun sepertinya penyerangan kali terencana karena dalam hitungan detik hampir sepuluh mobil mengepung mereka.


"Sial," umpatnya lagi sembari mengeluarkan senjata api yang selalu ia bawa kemana-mana. Senjata api tanpa suara yang membuat pergerakannya sulit diprediksi.


Marvel membidik ban salah satu mobil musuh dan menarik pelatuknya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya terus mengemudi dan menstabilkan pergerakan mobil.


BRAK, BRAK.


Dua mobil terguling secara bersamaan, satu milik musuh dan satu milik pengawal Marvel.


"Sialan, pasti ada penghianat." Bukan tanpa alasan ia menduga ada pengkhianat di mansionnya, tapi dua kejadian merugikan sekarang menjadi buktinya. Pertama sketsa perhiasan yang bocor dan sekarang ia diserang dalam perjalanan.


Dor.


Tembakan dari musuh membuat kaca depan mobil Marvel pecah, pria itu tetap tenang sembari menghindar dari setiap serangan. Lengan ia gunakan sebagai tameng untuk melindungi kepala.


Dor, dor, dor.


Serangan semakin menjadi hingga membuat pria itu sulit menghindari setiap serangan yang bertubi. Untung saja masih ada satu mobil pengawal yang terus melindungi.


Dor.


"Argh, shiit." Satu tembakan berhasil mengenai lengan Marvel membuat mata iblis itu seketika menyala. Pria itu balik menyerang dengan tembakan jitu yang membabi buta. Terutama pada mobil datangnya peluru yang berhasil melukainya.


Di sisi lain, dari arah belakang akhirnya bala bantuan tiba. Tiga sahabat Marvel mengejar dengan pasukan masing-masing. Jadilah jalanan yang sepi kini dipenuhi mobil-mobil berkualitasnya tinggi dengan kecepatan di atas rata-rata.


Seketika suara tembakan menggema, begitu pun dengan suara benturan mobil. Dua kubu saling menyerang hingga musuh yang tersisa mulai mundur dan berangsur kabur.


"Kau baik-baik saja?" tanya Enzo dengan raut wajah khawatir setelah melihat luka di lengan Marvel.


"Dia sudah bosan hidup, bisa-bisanya lengah ... ini nih akibat terlalu menjunjung tinggi diri sendiri, sok-sokan tidak mau dikawal, kalau tadi kau tidak selamat bagaimana?" kesal Skala sang ketua Silent Sparta.


Sementara Morgan bergeming, matanya terus mengawasi para musuh yang tengah dibekuk oleh anak buah mereka. Akan ia habisi setiap orang yang telah berani-beraninya menyerang sang sahabat.


"Aku yakin ada penghianat di mansion ku," ujar Marvel tanpa peduli pada kecemasan teman-temannya.


"Dan kau harus memusnahkan parasit seperti itu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2