Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 32 ~ Pasrah


__ADS_3

Hampir tiga puluh menit berlalu, Ayla masih duduk di posisi yang sama. Wanita itu tetap was-was meski kedua binatang itu tidur dengan sangat nyenyak. Untung saja tidak ada nyamuk yang akan membuat dirinya resah meski berada di tempat yang terbilang gelap.


Aum.


Sebuah auman yang membuat Ayla mendelik, dilihatnya Leo tengah bergerak-gerak kecil. Binatang buas itu tampak tidak nyaman.


Ayla mengeratkan pelukan di lututnya. Tubuhnya mengerut bagai bola. Seberani apapun seseorang tentu akan bergetar jika dihadapkan pada binatang buas. Apalagi ada dua, di sisi kiri dan kanan dan ia sama sekali tidak bisa kabur. Kalau bisa Ayla jadi ingin punya ilmu teleportasi saja.


Aum.


Leo semakin menggeliat, mata tajam itu mulai terbuka. Dalam kegelapan dapat Ayla lihat mata binatang buas itu bercahaya dan menatap pada dirinya. Wanita itu tidak berani bergerak sama sekali, berharap binatang itu mengira ia sebagai patung saja.


Aum.


Namun singa itu bangkit, berjalan mengintai sambil mengaum dan mulai mencakar tiang. Ternyata ia menyadari ada mangsa empuk di hadapannya.


"Akh," pekik Ayla tertahan saat Leo mengulurkan tangannya melalui sela-sela kandang besi itu. Kini ia tidak bisa berdiam diri lagi, dengan tubuh gemetar Ayla beringsut ke pojok kiri. Berusaha menjauh dari jangkauan sang predator yang semakin lama semakin ganas.


Baru saja dirasa aman karena tangan singa itu tak dapat menjangkau dirinya, tiba-tiba terdengar auman dari belakang.


"Akh." Kali ini wanita itu berteriak. Segera menunduk agar serangan macan kumbang tak mengenai dirinya.


"Huhu, Tuhan, lindungi aku," gumamnya dengan air mata yang mulai menetes.


Tiba-tiba ia teringat akan kenangannya dulu, waktu dirinya masih menjadi Alice yang terjebak di hutan belantara. Saat itu ia dan kakak Edricnya diserang oleh serigala.


"Ya, aku harus terlihat lebih kuat dari mereka," batin Ayla sembari menyeka air mata yang mengalir tanpa diminta.


Maka setelah keberaniannya terkumpul, wanita itu bangkit, berjalan dengan perlahan sembari menghindari tangan kedua binatang buas itu hingga ke pintu kandang besi. Ayla berdiri dengan tegap di titik tengah kandang, lalu mengumpulkan semua kekuatannya dan mulai berteriak.


AKHHHHH.


Teriaknya seraya mengangkat kedua tangan. Itu agar ia terlihat lebih besar dari dua binatang itu. Sekejap saja singa dan macan itu sedikit melunak. Saling menatap kemudian mengaum lagi.


Aum.


Keduanya kembali bergerak, bahkan Leo semakin menjadi dengan mendorong tiang-tiang besi yang menjadi pembatas kandang. Entah apa yang terjadi, tapi Ayla menyadari ada yang tidak beres dengan singa itu jika dibanding macan kumbang hitam yang berada di sebelah kirinya.


Keduanya memang memasang sikap pemangsa, namun Leo jauh lebih agresif dari sang macan kumbang. Singa itu seperti tidak makan berhari-hari lamanya.


AKHHHHH.


Kembali Ayla berteriak, kali ini dibarengi dengan tepukan tangan yang menggema. Terus seperti itu, namun tak menyurutkan kedua predator itu. Meski sang macan kumbang kini hanya mengintai dan tak lagi mengulurkan tangannya ingin meraih tubuh Ayla.


Sedangkan Leo tetap mengerahkan seluruh kekuatannya. Lama-lama Ayla melihat tiang pembatas itu mulai bergerak. "Sial, ada pintu penghubung rupanya," batinnya resah.


Tidak, ia tidak bisa terus bertahan seperti ini. Ia harus meminta bantuan atau ia akan menjadi santapan lezat sang predator.


"Akhhh, tolong! Siapapun tolong aku! ... Tolong! Aku ini istri bos kalian, jika aku mati Marvel tidak akan mengampuni kalian ... Tolong!" teriak wanita itu namun tidak berani berbalik, tubuhnya tetap menghadap dan tidak membelakangi kedua binatang buas itu.

__ADS_1


Terus seperti itu, namun tak ada seorang pun yang datang membantu.


"Tolong," teriaknya mulai putus asa. Terlebih pintu penghubung itu mulai bergoyang dan rantai yang mengikat sudah merenggang hingga kedua ujungnya jatuh ke tanah.


"Apa yang bisa aku lakukan?" gumamnya dengan suara yang serak karena terlalu banyak berteriak.


Aum.


Leo terus mencakar, menggigit dan mendorong pintu itu. Sementara Ayla ingin mendekat dan mempertahankan pintu penghubung itu, tapi bukankah itu sama saja dengan mengantarkan diri?


Tapi jika dipikir lagi itu lebih baik dibanding Leo berhasil membuka pintu itu dan masuk ke kandang besi tempat Ayla berada.


AKHHHHH.


Segenap kekuatan telah ia kerahkan, kini suaranya habis sudah. Tenggorokannya terasa sangat sakit, namun itu berhasil mengalihkan atensi singa jantan itu hingga berhenti memberontak sejenak. Lantas dengan gerakan cepat, Ayla menarik kedua ujung rantai yang membelit pintu itu dan mempertahankannya dengan kencang.


Aum.


Geram marah Leo sembari kembali menggigit dan mendorong pintu di hadapannya.


.


.


.


Di sisi lain, Alya dan Morgan telah sampai di depan sebuah gerbang beton yang lumayan tinggi. "Untuk apa kau membawaku ke sini?" tanya Morgan yang memang tidak bertanya apa yang perlu ia bantu.


"Apa? ... kalau begitu aku tidak mau membantumu," sahut Morgan, pria itu bahkan langsung berbalik pergi.


Ia tahu baik dengan tempat ini, tempat di mana Marvel merawat dan membesarkan binatang-binatang buas kebanggaannya. Dan setiap orang yang telah masuk ke dalam sana tentunya jika bukan musuh maka orang-orang yang telah berani mengusik sang kawan baik.


"Apa maksudmu? Kau sudah mengatakan akan membantuku," pekik Alya yang membuat Morgan mendelik. Berani sekali wanita ini membentaknya.


Lagian kenapa pelayan kecil ini memiliki seorang teman yang bermusuhan dengan majikannya sendiri? Pikir Morgan yang memang tidak mengetahui apa yang terjadi, pria itu memang sependiam itu hingga bisa menghabiskan waktu seharian di dalam kamar bersama komputer kesayangannya.


Melihat Morgan yang malah diam dan menatapnya tajam tak menyurutkan keberanian Alya. Gadis itu meraih telapak tangan Morgan dan menggenggamnya dengan erat.


"Saya mohon, Tuan. Selamatkan teman saya, saya akan melakukan apapun untuk Anda".


"Tidak, saya tidak mau." Morgan tetap pada pendiriannya, menghempas tangan Alya dan mulai kembali melangkah.


Alya menatap pria itu sebal, kesal dan marah. "Kau itu bukan pria ya?" teriaknya dengan penuh emosi.


Langkah Morgan terhenti, ternyata wanita ini tidak hanya berani tapi sangat berani hingga berani menantang pria berdarah dingin sepertinya.


Melihat Morgan yang berhenti, Alya berjalan cepat menyusul. Lalu berdiri di depan pria itu dan menatapnya dengan tajam. "Kau itu bukan pria, kalau kau seorang pria kau akan memegang kata-katamu."


Morgan menyipitkan matanya, jika saja yang di hadapannya ini bukan seorang wanita sudah sejak tadi ia hilangkan nyawanya.

__ADS_1


"Aku mohon, selamatkan Ayla," ujar Alya akhirnya, gadis itu mulai meneteskan air matanya dengan putus asa.


Jika saja ia bisa melakukannya sendiri, ia tidak akan meminta bantuan orang lain apalagi pria manekin ini. Lihatlah, di saat sorot matanya menatap penuh kemarahan tapi wajah pria itu tetap datar dan sama.


"Aku tidak bisa masuk ke sana, mereka pasti tidak mengizinkanku masuk. Aku khawatir dengan keadaan Ayla."


"Ayla," batin pria itu. Tanpa kata ia segera berbalik, tak peduli pada Alya yang ia tinggalkan. Gadis itu menatap bingung, namun juga bersyukur karena pria itu berubah pikiran.


"Hey, buka gerbangnya!" titah Morgan pada kedua pengawal yang berdiri di dalam gerbang sembari bermain ponsel.


"Hei, kalian!"


"Tuan Morgan," ujar salah satu dari mereka. Segera pria itu membuka pintu gerbang dan membiarkan teman sang majikan untuk masuk.


"Di mana kalian mengurung Ayla?"


"Ka-kami mengurungnya di sebelah kandang Leo, Tuan."


Tanpa menjawab pernyataan itu, Morgan langsung berlari ke arah kandang yang paling ujung. Alya pun melakukan hal yang sama, meski tak bisa mengimbangi langkah cepat kaki panjang pria itu.


Sementara di tempatnya Ayla masih bertahan, menarik rantai besi dengan sekuat tenaga hingga telapak tangannya mulai berdarah. Wanita itu tidak sadar bahwa ia berusaha bertahan dari satu predator namun mendekati predator yang satunya.


Aum.


"Akh," pekik Ayla kala merasakan sesuatu menggores kakinya. Refleks saja ia melepaskan rantai yang ia pegang dan berlari menjauh dari macan kumbang itu.


Wanita itu menunduk, dilihatnya darah mulai menetes di betis jenjangnya. Ingin berteriak pun sudah habis suaranya. Kini ia mulai pasrah, terlebih melihat rantai yang sejak tadi ia pertahankan digigit dan ditarik dengan keras oleh Leo.


Prang.


Pintu yang menjadi penghubung itu kini terbuka dengan lebar. Singa buas itu lalu berjalan perlahan.


Aum.


Leo menggeram sembari mengintai di depan sang mangsa empuknya. Sedangkan Ayla berdiri bersandar pada bangunan besi itu. Napasnya tidak beraturan, begitu juga dengan penampilannya. Wanita itu tahu, sebentar lagi singa jantan itu akan menyerang. Lantas ia kepalkan dengan erat telapak tangannya.


Dan di saat melihat Leo siap menerkam, ia kerahkan kepalan tangannya pada wajah sang predator. Beberapa kali sampai wanita itu tak sanggup lagi, kekuatan Leo sangat besar hingga kini ia jatuh tersungkur.


Aum.


Kembali singa itu menggeram, melompat lagi dan kali ini Ayla hanya bisa menutup kedua matanya dengan erat. Sudah pasrah akan takdirnya yang harus mati dimakan binatang peliharaan suaminya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


Halo teman-teman semuanya, dukung othor yuk lewat like, komen, vote dan hadiahnya ya.


Terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat, Joy 🌼


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2