Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 38 ~ Aku Akan Membuktikannya Sendiri


__ADS_3

"Kamu itu nikah sama wanita sakit atau wanita stres, Lio?" tanya seorang pria paruh baya dengan tatapan tak bersahabat. Kini mereka telah duduk di sofa ruang tamu.


Marvel tak begitu menggubris, pria itu menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum tipis. "Aku menikah dengan siapa itu bukan urusan Om," jawabnya mantap.


"Lio!" bentak sang tante yang merasa sang suami dipermalukan. Pasalnya tuan Albert langsung terdiam saat Marvel menjawab demikian. Meski ia sendiri pun sering merendahkan pria itu.


"Ada urusan apa kalian ke sini?" tanya Marvel akhirnya tanpa mau berbasa-basi lagi. Tak peduli juga dengan mata melotot sang tante.


"Kamu ini berubah ya, Lio. Apa karena wanita itu?" tanya sang tante yang membuat Marvel mendelik.


"Jangan menyangkut pautkan semuanya pada istriku, Ma," sahut pria itu yang memang memanggil sang tante dengan sebutan Mama sejak kedua orangtuanya meninggal.


Sang tante menghela napasnya kasar, Marvel memang keras kepala. Semakin besar juga semakin tidak bisa diatur.


"Padahal mama sudah menjodohkan mu dengan wanita yang lebih baik sepuluh kali lipat dari istrimu itu. Entah apa yang kau lihat dari wanita gila itu."


Marvel tak menjawab, pria itu mengalihkan atensinya pada Alya yang baru turun dari kamar sang istri.


"Bagaimana keadaannya?"


"Nyonya baru saja tidur, Tuan," jawab Alya sembari menunduk. Sebab ada seseorang yang sudah menunggunya sembari tersenyum smirk di depan sana. Sekarang ia hanya berharap Marvel akan memberinya tugas lagi agar bisa menghindar dari pria aneh itu.


Marvel yang juga melihat keberadaan sang sahabat memuluskan jalan Morgan. "Baiklah, kau boleh kembali melanjutkan kegiatanmu!" ujar pria itu, namun Alya bergeming.


"Ada apa lagi, Alya?"


"Ti-tidak ada, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap gadis itu dengan gugup apalagi menyadari tatapan tak bersahabat dari sang nyonya besar.


"Lio, kau dengar tidak mama sedang berbicara dengan mu?" tanya sang tante yang perkataannya tak kunjung dijawab sang keponakannya.


"Ma ... dengarkan aku baik-baik! Yang pertama, Ayla adalah istriku. Yang ke-dua, aku tidak akan menggantikannya dengan siapapun bahkan pengganti itu seribu kali lipat lebih baik daripada istriku. Dan yang ke-tiga, aku Marvelio Prado adalah milik Ayla Navara. Selamanya hanya milik Lalaku."


"Kau!"


"Kalau mama sudah tidak ada yang akan disampaikan aku mau kembali ke kamar dulu. Istriku sedang tidak sehat dan aku harus selalu berada di sampingnya." Dan tanpa menunggu balasan dari sang tante, Marvel beranjak pergi dari sana.


"Apa yang kubilang, hah? Sejak lama aku mengatakan untuk jangan terlalu peduli pada ponakanmu itu. Lihat! Bukan hanya tidak membalas kebaikanmu di masa lalu, dia bahkan tidak menghormatimu lagi," sinis sang suami yang membuat wanita itu semakin menunjukkan pancaran emosi.


"Tapi ya sudahlah, ayo kita pulang. Jangan pedulikan anak durhaka itu lagi!" ujar Albert lagi sembari menarik tangan sang istri setelah melihat pancaran marah wanita itu.

__ADS_1


Pria bertubuh besar itu memang masih terlihat gagah di usianya yang tak lagi muda. Namun siapa yang tahu bahwa ia adalah pria yang tidak berguna sama sekali. Seumur hidup hanya hidup dengan mengandalkan sang istri.


Catherine Prado menatap sang suami dengan tajam. "Kau tidak berhak mengkomentari tentang apa yang menjadi urusan ku," sinis Catherine balik, berdiri dan meninggalkan sang suami begitu saja. Tanpa sadar bahwa pria itu tengah menatapnya dengan kilat permusuhan.


Di saat bersamaan, Daisy lewat di sana. Membuat tatapan pria yang tadinya penuh emosi itu menjadi tersenyum. Bahkan ia mengerlingkan sebelah matanya dan Daisy membalas dengan kedipan genit. Walau akhirnya ia terus berjalan dan membuat pria paruh baya itu sedikit kecewa.


.


.


.


"Tuan, maaf sebelumnya. Kenapa Anda selalu mengikuti saya?" tanya Alya yang merasa risih dengan tingkah Morgan.


"Apa aku mengikuti mu?" tanya Morgan dengan wajah polos. Sungguh tidak sesuai dengan sikapnya yang sebenarnya kejam berdarah dingin.


"Huft." Alya menarik dan mengeluarkan napasnya dengan berat. Padahal ia ingin ke kamar Ayla untuk menunjukkan sesuatu yang bagus. Barang kali trauma Ayla bisa sedikit terobati dengan kata-kata manis itu.


"Tuan, saya akan ke kamar nyonya. Apa Tuan akan ikut masuk?" tanya Alya yang sudah berusaha bersikap sopan pada teman majikannya itu.


Lagian kenapa pria ini tidak pulang-pulang? Kalau dulu palingan ketiga teman Marvel hanya akan menginap satu atau dua malam. Tapi kenapa pria ini sekarang seperti orang yang tuna karya dan tuna wisma.


"Maksud tuan saya punya kelainan?"


"Siapa yang tahu? Kamu juga tidak tertarik pada saya yang tampan ini?"


"What?" Alya jadi menganga sendiri. Random sekali pikiran pria dingin ini. Apa dia sedang bercanda dengan wajah datar itu?


"Saya adalah pelayan pribadi nyonya Ayla, Tuan. Tentu saja saya harus selalu berada di sisi nya apalagi saat ini nyonya sedang sakit." Sebenarnya malas juga Alya menjelaskan, tapi jika tidak diluruskan maka pikiran pria ini akan semakin belok.


"Aku akan memintamu pada Marvel."


"Hah?" Memikirkannya saja Alya sudah bergidik ngeri. Tidak terbayangkan hidupnya jadi apa kalau ikut dengan pria ini. Anggota inti Silent Sparta yang paling muda namun paling berdarah dingin.


"Ayo ikut aku! Aku akan memintamu pada Marvel," ujar pria itu lagi sembari menarik pergelangan tangan Alya.


"Lepaskan, saya tidak mau!" pekik Alya sembari meronta. Namun pria itu tidak mendengar, tetap menariknya dengan sikap penuh dominan.


"Lepaskan dia!" ujar seseorang yang mengalihkan atensi keduanya.

__ADS_1


Di sana berdiri Kendrick yang menatap sahabat sang tuan tanpa takut.


"Kau ... berani padaku?" tanya Morgan dengan suara rendahnya yang penuh intimidasi.


Kendrick menelan ludahnya susah payah. Ia tentu mengenal bagaimana pria yang menjadi rival cintanya saat ini, tapi ia juga tidak ingin menjadi pecundang yang tidak bertanggungjawab.


"Maaf, Tuan Morgan. Tapi Alya adalah kekasih saya," ucap Kendrick sembari mendekat pada mereka.


Alya mendelik, sejak kapan dirinya menjadi kekasih Kendrick? Tapi ia akan menerima untuk saat ini saja, agar ia bisa lepas dari pria kejam yang masih menggenggam tangannya dengan erat.


"Kami bahkan sudah ...."


"Sudah apa?" potong Morgan tidak sabaran.


"Sudah tidur bersama," jawab Kendrick dengan suara mengecil.


"What? Siapa yang tidur denganmu?" pekik Alya tak terima. Oh, ayolah, ia memang butuh sandiwara menjadi kekasih tapi jangan kelewatan juga.


"Kau lupa? Semalam kita ...."


"Itu bukan aku. Semalam aku tidur di kamarku sendiri," ujar Alya yang masih membela dirinya sendiri. Bahkan tak sadar jika pegangan di tangannya semakin erat dan menekan.


"Jelas-jelas itu kau!" pekik Kendrick balik, tak terima juga Alya tidak mengakui dirinya. Padahal semalam mereka sangat menikmati kegiatan itu.


Sementara di balik sebuah dinding, Agya tengah menggenggam pakaiannya sendiri. Kedua matanya nampak tergenang cairan yang jika berkedip pasti akan jatuh berderai.


"Sungguh bukan aku, lihatlah! Aku baik-baik saja bukan? Lihat mataku, aku sama sekali tidak kekurangan tidur," balas Alya yang masih tidak menyerah. Membuat Kendrick jadi sangsi sendiri, memang tidak terdapat jejak kelelahan pada gadis itu. Sementara lehernya juga masih putih mulus padahal ia ingat betapa beringasnya ia semalam.


"Aku akan membuktikannya sendiri," ujar Morgan yang sejak tadi diam.


"Apa? Aw, sakit Tuan. Lepaskan!"


"Aku yang akan membuktikan bahwa kau memang tidak tidur dengannya."


"Apa? Tidak, saya tidak mau! Lepas!" pekik gadis itu panik sekali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2