Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 39 ~ Wanita Gila


__ADS_3

Marvel kembali dari dapur dengan omelette kesukaan sang istri.


"Alya," panggil pria itu yang bagai angin segar untuk sang pelayan.


"Ya, Tuan. Saya di sini," pekik gadis itu sembari melepaskan pegangan Morgan.


Morgan tersenyum sekilas, wanita ini memang menarik.


"Tuan." Alya bernapas terengah-engah, membuat Marvel menatapnya aneh namun juga tak peduli.


"Antar ini pada istriku!" pintanya sembari memberikan piring berisi omelette dan segelas susu.


"Ini makanan kesukaan nyonya," ujar Alya dengan mata berbinar.


"Tuan membuatnya sendiri?" Marvel tak menjawab, pria itu malah memasang wajah sombong seakan bangga.


Alya menghela napasnya, lupa kalau sang majikan memang tak banyak bicara.


"Saya pamit ke kamar nyonya dulu, Tuan." Marvel mengangguk, lalu beranjak pergi ke arah Morgan yang masih mematung di tempat tadi.


"Bro." Marvel menepuk pundak Morgan.


"Kau merusak kesenangan ku, Lio." Morgan menggeram, meski kekesalannya tidak bersungguh-sungguh.


Marvel lalu tertawa kecil. "Jangan terburu-buru, Brother. Kau masih memiliki banyak waktu untuk mengambil hatinya."


Morgan mendengus, hal yang belum pernah Marvel lihat. "Sepertinya Enzo dan Skala akan mempunyai bahan ejekan baru."


Morgan menatap tajam. Keduanya hening beberapa saat.


"Aku sudah memperbaikinya." Akhirnya Morgan yang membuka suara.


Marvel menaikkan sebelah alisnya. "Ayo ke ruang kerja!"


.


.


.


"Agya," pekik Kendrick sembari mengejar langkah Agya yang berlari kembali ke paviliun.


Pria itu mempercepat langkahnya dan berhasil mencekal pergelangan tangan sang gadis. "Katakan padaku, apa yang semalam itu adalah kau?" tanya Ken dengan tatapan mengintimidasi.


Tapi bukan Agya namanya jika akan takut. Wanita itu balik menatapnya tajam. "Kalau iya memang kenapa?"


"Kau."


"Kita berdua sudah sama-sama dewasa. Jadi lupakan saja."


"Tidak! Aku akan bertanggung jawab."

__ADS_1


Agya menatap Ken sejenak lalu menarik sudut bibirnya kemudian tertawa kecil. "Tapi sayangnya aku tidak butuh tanggung jawab darimu."


"Agya."


"Sudahlah, kita lupakan saja semuanya. Lagian itu juga atas kemauanku sendiri, kau sama sekali tidak memaksaku."


"Baiklah jika itu yang kau inginkan." Kendrick menatap Agya sejenak kemudian pergi berlalu dari sana. Seketika pertahanan Agya runtuh, tangan yang tadinya terkepal erat mengendur begitu saja. Berdirinya yang kokoh tadi pun jadi mundur selangkah.


Air mata mengalir dari kedua sudut matanya. "Bagus, seperti ini saja. Semua sudah sesuai dengan keinginanmu, Agya" gumamnya sembari memukul-mukul dadaanya.


...


"Bagaimana, enak?" tanya Alya sembari menatap Ayla yang sedang mengunyah makanannya. Ayla mengangguk pelan, hanya dengan Alya lah ia bisa bersikap tenang saat ini. Walau masih enggan rasanya ia mengeluarkan suara.


"Kamu tahu? Tuan Marvel yang membuat semua ini." Alya tak menyadari perubahan wajah sang nyonya, gadis itu masih sibuk menyedok makanan yang akan ia suapkan.


"Aaa ... Ayla, kamu kenapa?"


"Tidak, tidak! Pergi, pergi dari sini!" pekik Ayla serak.


"Ayla, tenanglah! Kamu tidak papa? Ini kakak, ini kakak Alya mu."


"Nggak, pergi!"


"Ayla."


"PERGI!"


"Ada apa dengan istriku?" tanya Marvel yang baru kembali dari ruang kerja sudah disuguhi teriakan sang istri.


"Maaf, Tuan. Saya mengatakan kalau Tuan yang membuat omelette itu."


"Kau!"


Alya menunduk dalam, siap menerima apabila Marvel akan melayangkan pukulan atau apapun padanya.


"Hah, sudahlah. Tapi ingat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama!" Alya mengangguk, juga takjub dibuatnya. Apa ini kekuatan cinta?


Sejak menikah dengan Ayla, Marvel memang banyak berubah. Selain lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, juga emosinya tidak meledak-ledak lagi. Ayla memang hebat batinnya.


Setelah Alya undur diri, Marvel berdiam diri di sana. Matanya tertuju pada pintu kamar sang istri yang tertutup, namun juga tak berani masuk dan membuat wanita itu semakin takut padanya.


"Apa istrimu tidak akan takut lagi kalau kau terus berdiri di sini?" sinis Morgan walau wajahnya tetap datar.


"Kau tidak mengerti," balas Marvel sembari menghela napasnya berat.


.


.


.

__ADS_1


Dan waktu berlalu begitu cepat. Begitu setiap hari terlewati hingga tak terasa sudah dua minggu sejak kejadian itu. Marvel tetap belajar memasak dan membuat makanan yang layak untuk sang istri meski tidak berani memberikannya secara langsung.


Namun setiap malam ia akan menghampiri Ayla yang tengah tertidur, entah untuk sekedar berbisik ringan, mengelus kepala atau mengecup dan mencuri ciuman dari wanita itu.


Seperti halnya malam ini, Marvel tengah menatap wajah damai Ayla. Istrinya yang tertidur itu terlihat sangat cantik dan Marvel merasa beruntung akan itu, meski ini bukanlah wajah asli Lalanya.


Ya, ia sudah menyelidikinya secara menyeluruh, pada saat kecelakaan itu memang yang selamat adalah Lala. Namun karenanya keduanya duduk bersama dan memiliki bentuk tubuh yang tidak jauh berbeda membuat pihak perusahaan sulit mengenalinya, apalagi wajah Lala rusak parah dan keduanya sama-sama tidak memiliki keluarga. Dan itulah yang menjadi alasan kenapa Lala memiliki wajah seorang Ayla Navara sekarang.


Setelah dirasa puas menatap wajah sang istri, ralat ia tidak akan pernah puas menatap wajah jelita ini. Namun ia lebih takut jika istrinya akan terbangun dan histeris lagi ketika melihatnya seperti yang sudah-sudah.


Marvel tersenyum tulus, lalu mendekat dan membenamkan sebuah ciuman dalam di dahi sang istri. Cukup lama sembari memejamkan kedua matanya.


"Good night, my love," bisiknya lalu tersenyum lagi dan menatap sesaat Ayla yang terlihat sangat nyenyak hingga akhirnya ia beranjak keluar. Tanpa disadari setelah ia keluar, Ayla membuka kedua matanya. Menerawang jauh dalam keheningan malam.


.


.


.


"Aku tidak bisa mengendalikan dia lagi," ucap Daisy yang tengah berbicara dengan seorang pria.


"Tidak masalah lagi, bos meminta kita untuk mempercepat semuanya selagi mafia bodoh itu masih sibuk dengan istri gilanya," jawab pria itu yang ternyata adalah Lucio. Keduanya tengah berada di lorong yang paling jarang dikunjungi penghuni rumah.


"Dipercepat? Kau yakin akan berhasil?" Mendadak Daisy menjadi bimbang.


Lucio mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi wanita itu lalu mendekat dan mengecup bibirnya mesra. Pria itu tertawa kecil kala menatap wajah Daisy yang memerah. Sementara Daisy tersenyum malu. Namun senyum itu langsung sirna kala melihat ada seseorang yang tengah menatapnya tajam.


"Ada apa? Mau melanjutkannya di kamar?" Lucio mengelus tengkuk wanita itu dengan sensual.


"Lucio," geram Daisy tak memalingkan wajahnya dari seseorang itu.


"Ada apa, Daisy?"


Lucio mengikuti arah pandang wanita itu dan seketika tersentak saat melihat Ayla berdiri tegak di sana. Selama beberapa saat keheningan melanda.


"Hahaha, ada orang yang berpacaran. Tidak, tidak. Aku tidak boleh mengintip, kalian lanjutkan lah. Aku tahu kalian malu, aku akan pergi." Ayla tertawa dengan wajah jenaka, membuat kedua orang itu bernapas lega.


Ya, selama satu minggu ini Ayla memang bersikap seperti orang tidak waras. Setiap hari mengelilingi mansion, lalu tertawa tidak jelas namun tiba-tiba juga bisa menangis kencang.


"Sudahlah, jangan hiraukan wanita gila itu," ujar Lucio sembari meyakinkan Daisy yang wajahnya masih tegang.


"Bagaimana kalau kita melanjutkan yang tadi," ujar Lucio lagi yang kedua matanya sudah dipenuhi kabur gairah.


Melihat Daisy yang bergeming, Lucio lalu memainkan lidahnya. Mencium dan menggigit leher wanita itu. "Ugh," desah Daisy tertahan. Membuat Lucio tersenyum dan menyeret Daisy ke arah gudang yang dulunya dijadikan sebagai kamar Ayla.


Di sisi lain, Ayla tengah mengepalkan kedua tangannya dengan erat dibalik sebuah dinding.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2