
Hari berganti, matahari bersinar menunjukkan kuasanya. Menerangi penjuru bumi tanpa bisa dicegah. Pagi itu cerah sekali.
Sepasang suami istri masih betah bergelung di bawah selimut. Sang pria memeluk sang wanita dengan erat, seakan bila ia lepas sejenak maka wanita itu akan menghilang. Sementara sang wanita terlihat tidak tenang walau kedua netra indahnya tertutup rapat.
Di bawah alam sadar Ayla, tiba-tiba ada seekor singa melompat ke arahnya. "Jangan! Jangan mendekat, jangan!" gumam wanita itu sembari menggeleng. Membuat sang suami yang sedang lelap terganggu juga tidurnya meski suara sang istri nyaris seperti berbisik.
"Jangan! Jangan, jangan mendekat! Akh."
"Lala? Ada apa, Sayang?"
"Jangan, jangan, hiks."
Marvel menatap bingung, apalagi kini sang istri menangis dalam tidurnya. "Sayang, bangunlah. Ada apa, hem?" panggilnya sembari mengguncang pelan lengan Ayla.
Perlahan kedua mata cokelat yang indah terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan yang sialnya sangat menyeramkan untuknya.
"Akhhh, pergi!" teriaknya serak sembari bangkit dan bergerak dengan acak hingga tanpa sadar akan jatuh dari tempat tidur jika Marvel tidak segera menangkapnya.
"Lepas! Lepaskan aku!" pekiknya lagi namun Marvel tak langsung menurut. Pria itu memeluk tubuh sang istri dan memindahkannya ke posisi aman walau Ayla terus memberontak.
Wanita itu beringsut, memeluk tubuhnya yang polos di balik selimut. Air mata terus mengalir dan binar ketakutan terlihat jelas dari kedua matanya yang was-was.
Terang saja Marvel semakin bingung. Terlebih ia baru menyadari bahwa kedua telapak tangan sang istri tengah diperban. Refleks saja ia meraih kedua tangan itu, namun lagi-lagi penolakan yang ia terima. Ayla menghempas dan mendorongnya sembari berteriak namun dengan suaranya yang nyaris habis.
Hal itu menambah kebingungan Marvel, apa ada yang terjadi saat ia sedang di luar? Pria itu mengepalkan tangannya kala menangkap perban yang lebih lebar terpasang di betis Ayla.
Apa Lalanya terluka? Dan ia sama sekali tidak menyadarinya?
"Bodoh," maki Marvel di dalam hati, istrinya sedang terluka dan ia hanya mementingkan hasrat. Seharusnya ia bisa menahan meski dalam pengaruh wewangian ruangan itu.
"Lala, Sayang. Apa yang terjadi padamu?" tanyanya dengan sangat lembut. Namun Ayla bergeming, wanita mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan tubuh bergemetar, wanita itu terus bergumam. "Jangan ... jangan ...."
Marvel mengacak rambutnya resah. Lantas langsung memungut pakaiannya dan memakainya asal. Saat membuka pintu sudah ada Alya dan berjalan bolak-balik di depan sana.
"Hmm." Marvel berdehem hingga menarik atensi sang pelayan.
"Tuan, bagaimana kondisi nyonya?"
"Kau bantulah istriku berbenah terlebih dahulu."
Alya mengangguk, bermaksud untuk langsung masuk ke dalam kamar sang nyonya.
"Setelah selesai, berkumpul di ruang tengah! Kau harus menceritakan apa yang terjadi semalam serinci mungkin!" tambah Marvel dengan menekankan suaranya. Seakan tidak boleh dibantah, apalagi didustai.
__ADS_1
Alya mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya masuk dulu," balas Alya sembari pamit.
Gadis masuk ke dalam kamar sang nyonya dan seketika terperangah akan kondisi kamar yang jauh dari kata baik-baik saja.
Terlebih ia melihat Ayla yang duduk meringkuk di kepala ranjang dengan tubuh yang bergemetar. "Ya ampun, Ayla. Ada apa denganmu?"
Ayla bergeming, bahkan Alya sekalipun tak berhasil membuat kesadaran wanita itu kembali. "Ayla," panggilnya sembari mendekati temannya itu.
"Tidak, pergi! Pergi!" Lagi, wanita itu menolak segala perhatian orang lain. Alya tak menyerah, ia terus mendekat hingga berhasil meraih kedua tangan Ayla yang sontak memberontak.
"Ada apa dengan mu? Ini aku Alya, kakak Alya mu." Mendengar kata kakak Alya membuat Ayla menghentikan berontak tangannya. Wanita itu mendongak demi mendapat jawaban apa benar ini adalah kakak Alya nya.
Melihat bahwa itu sungguh Alya, Ayla langsung memeluk gadis itu. Tak peduli tentang tubuh polosnya, ia hanya butuh pelukan hangat sekarang.
"Ada apa, Ay?" tanya Alya yang juga ikut merasa sakit kala melihat keadaan Ayla yang berantakan.
Ayla menggeleng, masih memendam rasa takutnya sendiri saja.
"Baiklah, bagaimana jika kamu mandi dulu?" Ayla mengangguk, meski merasa nyaman pada Alya namun ia tetap enggan mengeluarkan suara.
Dengan patuh wanita itu mengikuti langkah Alya, berjalan perlahan menuju kamar mandi yang telah Alya siapkan. Sebenarnya ada kursi roda yang siap sedia untuk dipakai. Namun Ayla tidak mau memakainya, wanita itu menggeleng kuat kala Alya membawanya untuk duduk di kursi beroda itu.
...
Alya meringis kala menatap tubuh polos sang teman sekaligus majikannya itu. Belum juga sembuh luka cambuk, ditambah luka-luka cakaran yang masih basah. Kini bertambah lagi bekas-bekas lebam merah sisa percintaan yang Alya yakin sangat menyakitkan bagi Ayla semalam.
Tanpa sadar air mata menetes saat ia memberi bantalan pada betis kiri Ayla yang tidak boleh terkena air. Tidak terbayang bagaimana hidupnya jika menjadi Ayla, gadis yang sebelumnya dielu-elukan banyak pria kini hidup menderita di bawah naungan seorang mafia kejam.
"Apa sakit?" tanya Alya dengan lembut sembari menggosok punggung wanita itu.
Ayla menggeleng, wanita itu memejamkan matanya namun bayangan singa menerkam langsung memenuhi penglihatannya. "Akh," pekiknya tanpa suara.
Alya bahkan sedikit terkejut dengan gerakan Ayla yang tiba-tiba. Dapat ia lihat sang nyonya sedang menangis dalam diam, air mata mengalir dari dua sudut mata cantik itu.
"Sstt, tenanglah. Ada kakak di sini, tidak ada yang bisa menyakitimu," bujuk Alya sembari menyandarkan kepala Alya di dadanya. Sementara Ayla hanya bisa mengangguk kecil, sembari mengeratkan tangannya pada pelukan hangat itu.
"Sepertinya aku harus memberitahu dokter Austin dan memintanya untuk mengirim psikolog kemari," batin Alya sembari mengelus rambut Ayla.
.
.
.
__ADS_1
"Katakan apa yang terjadi semalam!" titah Marvel pada beberapa pelayan dan pengawal yang berdiri di depannya. Sebenarnya ia bisa saja melihat semuanya dari CCTV, tapi ia ingin melihat kejujuran para pelayan dan pengawal dan yang paling penting adalah memastikan siapa saja yang cocok untuk ia tempatkan di sisi sang istri.
"Setelah Anda pergi, nona Audi menggantikan Anda untuk menghukum nyonya, Tuan," sahut Alya.
Sementara yang lain terdiam, apalagi dua pengawal yang ditugaskan untuk mengantar Ayla ke kandang itu.
"Beliau meminta agar nyonya dikurung bersama Leo dan temannya."
Marvel menggeram. "Dan kalian menurutinya?" teriaknya dengan menggema.
"Maaf, Tuan," ucap pelayan dan pengawal di sana serentak, semuanya menunduk takut.
Marvel menarik napasnya berat, di satu sisi adalah adik kesayangannya, di sisi lain adalah cinta masa kecilnya yang telah lama menghilang.
"Kalian berdua."
Kedua pengawal yang mengantar Ayla tersentak, apa sang tuan tahu bahwa mereka yang menjalankan tugas.
"Kenapa kalian berdua sangat gugup seperti itu?"
"Mereka yang mengantar nyonya dan mengurungnya di kandang, Tuan," pekik Daisy yang tidak ingin campur tangannya diketahui oleh sang tuan.
Marvel menghunuskan mata tajamnya kala mendengar penjelasan itu. "Kemana kalian saat istriku berteriak meminta pertolongan?"
Kedua pengawal itu terdiam, tidak berani menjawab karena memang mereka lalai dan terlalu sibuk dengan ponsel mereka.
"Biarkan mereka mengalami apa yang terjadi pada istriku. Kurung mereka sampai besok di kandang sebelah Leo. Jika kalian selamat, itu adalah keberuntungan kalian," ujar Marvel yang sebenarnya bohong, pria itu tidak pernah mengampuni orang yang telah ia putuskan untuk mati. Jikalau selamat, maka pada akhirnya orang tersebut harus mati dengan cara yang lain. Itu adalah caranya yang tidak ingin orang yang selamat akan memupuk dendam nantinya.
"Tu-tuan, ampuni kami. Kami hanya menuruti perintah nona Audi. Ampuni kami, Tuan."
"Kesalahan terbesar kalian adalah menuruti perintah seorang gadis kecil. Sejak kapan adikku bisa mengambil keputusan di kediaman ini? Dengan melakukan itu, kalian seperti tidak menghormati ku." Marvel menggerakkan kepalanya, memberi kode untuk membawa kedua pengawal itu pergi.
"Ampun, Tuan."
Marvel memejamkan matanya, tidak mau mendengar suara teriakan itu hingga menghilang sendiri tertelan jarak.
"Sekarang bawa Audi kemari!" titah Marvel tidak dapat dibantah.
Seorang pelayan yang ditugaskan pun berlari menuju kamar sang nona yang ternyata kosong.
"Tuan, nona Audi tidak ada di dalam kamarnya," ujar pelayan itu sembari menarik napasnya yang sesak usai berlari. Membuat Marvel mendelik dengan dingin dan tajam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼