
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Enzo namun sama sekali tak digubris Marvel. Pria itu menatap ke arah lain dengan wajah datar nan dingin.
"Untuk apa bertanya jika sudah tau dengan jelas?"
"Kami melakukan ini demi kebaikanmu, kau terluka parah dan jika memaksakan diri bukan hanya Ayla yang tidak bisa kau temukan. Kau pun akan celaka."
"Aku tidak masalah jika harus celaka!" teriak Marvel. Ia berbalik dan menatap Enzo dengan penuh emosi.
"Sekarang biarkan aku keluar dari sini karena kalian sama sekali tidak becus untuk mencari istriku."
"Cukup! Kau tidak bisa hanya menyalahkan kami, jika dari awal kau bersikap baik pada istri mu itu apa kejadian ini akan terjadi?"
Marvel menatap Enzo tajam, namun akhirnya hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Sadar atau tidak ia memang alasan utama menghilangnya sang istri, jika dari awal ia tidak menyiksa Ayla, jika dari awal ia menyayangi wanita itu dan melindunginya. Ia tidak akan kecolongan seperti ini.
"Kami sudah menemukan ambulance yang membawa mereka. Letaknya ada di sebuah gudang kosong yang bahkan terletak jauh dari pemukiman. Tidak ada CCTV di sana. Meski memiliki banyak koneksi, tapi ini sedikit sulit karena kerja mereka sangat rapi."
Marvel kembali menghela napasnya, mencoba mengurai emosi dan berpikir dengan lebih jernih. Namun suara pintu terbanting membuat atensi mereka teralih.
"Lokasi Austin sudah terlacak, dia menyalakan ponsel," ujar Morgan yang hampir membuat Marvel melompat dari brankarnya jika saja Enzo tidak mencegah.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat kita ke sana dan temukan istriku," teriak Marvel menggema di ruang rawat itu. Pria itu bahkan langsung bangun dari pembaringan dan menahan rasa sakit dari patah kakinya yang saat ini di gips.
"Tidak, kami yang akan ke sana. Kau tetap di sini!" putus Skala yang masuk berbarengan dengan Morgan tadi. Pria itu bahkan menatap Marvel dengan tatapan mematikan.
"Apa maksudmu? Aku tidak bisa diam saja di sini dan menunggu tanpa kejelasan seperti orang bodoh," balas Marvel dengan suara penuh emosi.
"Justru dengan kau seperti inilah yang membuatmu tampak bodoh. Sudahlah, tetap di sini dan jangan membuang waktu dengan argumen mu itu. Jika kau ikut, kau hanya akan menambah masalah kami. Kami janji akan membawa istrimu kembali. "
Marvel akhirnya kembali terjatuh ke atas brankar. Pria itu mengeratkan genggaman tangannya dan meninju bantal.
"Sial, aku benar-benar tidak berguna," teriaknya frustasi. Pria itu menjambak rambutnya sendiri, tak peduli dengan cairan infus yang masih terpasang di tangannya.
"Lio!" pekik Enzo sembari menahan tangan pria itu. Sejenak Marvel terdiam, lalu mendongak dan menatap teman-temannya dengan mata memerah.
"Aku percaya pada kalian kali ini, tapi jika istriku masih belum ditemukan, maka aku tidak akan mendengarkan perkataan kalian lagi sekeras apapun ancaman kalian," ujar Marvel dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Skala mengangguk, seakan memberikan keyakinan untuk pria itu dan berlalu pergi diikuti Morgan dan Enzo.
.
.
.
Di sisi lain, Ayla sedang berada di ruang kerja Austin. Sebenarnya ia mau langsung kabur, namun kemanapun ia menemukan pintu keluar pasti ada penjaga yang berdiri di sana. Jadi hanya menghubungi seseorang yang bisa ia lakukan sekarang. Wanita itu kini memegang sebuah ponsel namun bingung ingin menghubungi siapa.
"Seharusnya aku menghapal setidaknya salah satu nomor mereka," gumam Ayla resah. Tangan wanita itu terus mengotak-atik nomor kontak di ponsel itu. Namun tidak ada satupun yang ia kenal. Bahkan nomor sang suami pun tidak ada. Padahal yang Ayla tahu Austin mempunyai hubungan yang baik dengan Marvel.
"Apa aku hubungi nomor acak saja?" gumamnya lagi sembari terus menggeser nomor kontak, namun jari-jarinya terhenti kala melihat nama seseorang yang ia kenal.
"Sierra."
Tanpa menunggu ia langsung menghubungi nomor itu. Sementara Skala yang berada di dalam mobil menatap ponsel Sierra yang ia tahan. Tampak sebuah nama muncul di layar ponsel itu.
"Kau punya pacar?" tanya Enzo dengan tatapan tak percaya. Sekilas ia membaca tulisan My Darling di sana. Sementara Skala tidak menggubris, pria itu mengabaikan panggilan tidak penting itu dan menoleh pada Morgan.
"Titiknya berada di pegunungan Valley. Namun untuk titik pastinya belum terlacak karena sinyal GPS nya sangat lemah."
...
Ayla mendecak kesal, Sierra tidak menjawab panggilannya dan sinyal di sana pun sangat lemah. Saat mencoba menelpon lagi malah tidak bisa terhubung terkendala sinyal.
Namun ia tidak patah semangat, mencoba lagi dan lagi. Hingga percobaan ke-5 kali akhirnya panggilan kembali terhubung. Kali ini pun Skala mencoba kembali abai. Namun ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia lewatkan.
"Apa Sierra Panamera punya pacar?" tanya Skala pada Enzo yang duduk di kursi pengemudi di sebelahnya.
"Sierra Panamera? Aktris yang sedang naik daun itu? Kenapa? Kau tertarik padanya?" balas Enzo dengan tatapan jenaka. Membuat Skala mendengus.
"Sierra Panamera sedang mengejar Austin," sahut Morgan dari belakang, masih sibuk dengan laptopnya dan melacak keberadaan Ayla.
"Shiit!" umpat Skala sembari menggeser layar ponsel untuk menjawab panggilan itu. Namun terlambat karena panggilan sudah terputus. Pria itu ingin menghubungi nomor itu kembali, namun ponsel Sierra memiliki kode pengaman.
__ADS_1
"Morgan, retas ponsel ini dan buka kunci pengamannya!" titah Skala yang langsung dilaksanakan Morgan tanpa bertanya apapun. Jari-jari panjangnya mengetik di atas komputer dengan cepat. Dalam waktu kurang dari satu menit, kunci ponsel itu telah terbuka. Dan Skala langsung menghubungi nomor yang tadi, namun tidak aktif.
"Sial," geramnya kesal.
Sedangkan Ayla masih terus mencoba, namun tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk. Sebuah panggilan dari seseorang yang Austin simpan dengan nama P.
Tanpa berpikir panjang Ayla menjawab panggilan itu.
"Halo," jawabnya namun tidak ada suara di sebrang sana. Sementara seseorang terlihat menggenggam ponselnya dengan erat, rahangnya juga mengeras.
"Halo. Ini siapa?" Sebuah suara lembut yang terdengar lemah itu membuatnya tatapannya semakin dingin. Lalu ia mematikan panggilan itu begitu saja.
"Akh, kenapa dimatikan?" pekik Ayla frustasi. Namun sebuah panggilan kembali masuk, nama Sierra tertera di sana membuat Ayla seperti mendapat angin segar.
"Halo," jawabnya dengan cepat membuat ketiga sahabat Marvel yang berada di dalam mobil saling menatap.
"Ayla," pekik Enzo yang lebih dulu membuka suara.
Ayla membulatkan kedua matanya, bukankah ini suara Enzo?
"Enzo, ini aku Ayla. Tolong aku, aku mau keluar dari sini," ucap Ayla cepat. Namun yang terdengar di sisi teman-teman Marvel adalah suara Ayla yang terputus-putus.
"Halo, halo. Enzo!" Ayla mengusap rambutnya kasar. Kini suara Enzo pun tak terdengar lagi walau panggilan masih terhubung.
"Halo, Enzo...."
BRAK.
"Ayla Navara!" teriak Austin dengan wajah merah padam di depan pintu, membuat Ayla tersentak. Ponsel yang ia pegang pun terjatuh begitu saja. Tatapan mematikan yang Austin berikan membuat tubuhnya terasa bergetar, tatapan itu sama persis dengan tatapan Marvel di malam itu. Malam yang membuat ia merelakan diri demi menyelamatkan nyawa Genio.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1