Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 6 ~ Siapa Edric?


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah. Bangunan yang sama dimana Ayla pernah bernaung. Terdengar getaran ponsel yang membuat sang pemilik sangat terganggu.


"Engg." Terlihat sebuah tangan kecil, halus keluar dari selimut dan meraba-raba ponselnya yang berada di atas nakas.


"Halo," jawabnya dengan suara serak.


"Bagus sekali, Nona Besar. Sudah jam berapa sekarang dan kau belum bangun?" ujar marah suara renta di ujung sana.


Sementara wanita yang tadi langsung melek. "Sial, kenapa aku angkat sih?" gerutunya, namun hanya di dalam hati.


"Hehe, Grandma. Ada apa menghubungiku pagi-pagi begini?"


"Apa? Masih pagi? Ini sudah jam 12 siang, Nona besar. Sekarang kamu mandi, siap-siap dan pergi cari tuan muda Marvel."


"Oh, ya ampun Grandma. Dia tidak mau padaku. Kenapa Grandma memaksa sekali? Jika dia tidak mau, apa tidak boleh dibiarkan saja? Jika Grandma terus memintaku mengejarnya, lama-lama kulit wajahku bisa jadi kulit kuda laut."


"Maksudmu kuda nil?"


"Ah, iya-iya. Kuda apapun itu, yang pasti aku tidak mau mengejarnya lagi. Bukankah dia bilang sudah menikah?"


"Ck, pernikahan itu hanya alasan. Pokoknya kau harus pergi. Atau Grandma hari ini tidak mau makan."


"Grandma ...."


Tut.


"Huh, menyebalkan sekali. Pergi ya pergi, hitung-hitung aku bisa lihat wajah dokter tampan itu," gumamnya sembari tersenyum malu.


.


.


.


"Keadaannya baik. Lukanya juga tidak terlalu parah, tinggal diolesi salep maka lebam-lebam itu akan menghilang," ujar Austin sembari memberikan resep obat pada Willy.


"Kasian sekali dia. Aku takut kau nanti akan menyesal," lanjutnya lagi sembari mengalihkan pandangan pada Marvel.


"Tidak akan."


"Hah, bagaimana kalau dia adalah Lala, gadis yang kau cari?"


"Itu tentu tidak mungkin. Mereka sama sekali tidak mirip. Bahkan aku sudah meminta seorang ahli untuk membandingkan wajah mereka dan hasilnya mereka adalah dua orang yang berbeda."


"Banyak yang bisa terjadi di dunia ini. Wajah masa kecil bisa saja berbeda setelah dewasa."


"Cukup, bagaimanapun kau berbicara tapi keyakinan ku tetap sama. Dia bukanlah Lala ku."


Austin menghela napas. "Aku harap kau benar-benar tidak akan pernah menyesal. Karena jika dia sudah lelah, bahuku siap untuk menampung kepalanya." Setelah mengatakan itu, Austin berlalu begitu saja.


Meninggalkan Marvel yang mengepalkan kedua tangannya erat. Secara tidak langsung, Austin sudah berani menabuh genderang perang padanya.


"Halo, dokter Austin," sapa seorang gadis dengan lembut ketika Austin keluar dari ruangan Ayla.


Austin tidak menjawab, pria itu memang tidak menyukai wanita ini, apalagi sekarang suasana hatinya sedang tidak baik. Maka baginya semakin tidak ada waktu untuk meladeni wanita stres ini.


"Ei, dokter Austin. Tunggu sebentar, aku mau bertanya sesuatu."


"Katakan!"

__ADS_1


"Tadi itu siapa yang sakit?"


"Bukan urusan Anda."


"A-apa? Tentu saja itu urusanku. Tunanganku ada di sana."


"Mantan tunangan jika kau lupa."


Gadis itu mengulum senyum, "Terima kasih sudah mengingatkan," balasnya dengan senyuman sumringah sembari tetap mengikuti langkah kaki Austin.


"Ngomong-ngomong, apa dia istri Marvel?"


"Bukan urusan Anda."


"Eh, tunggu."


BRAK.


"Huft. Dingin sekali, padahal dengan orang lain dia hangat dan ramah. Kenapa padaku malah kebalikannya?" gumamnya cemberut. Tidak sadar jika beberapa orang sedang memperhatikannya.


"Hai, apa kamu adalah Sierra Panamera?"


"Iy ... eh, bukan. Namaku Sierru. Bye," ujar wanita itu dan segera kabur sebelum diamuk massa. Eh, diamuk haters maksudnya.


Dengan tergesa-gesa ia kembali ke ruangan rawat Ayla.


Brakk.


Pintu ia tutup dengan sedikit kasar. Tanpa melihat penghuni ruangan, wanita itu malah mengintip-intip keadaan di luar.


"Kenapa kau kemari?" tanya seseorang dengan suara dingin.


"Jangan memanggilku seperti itu!"


"Eh, i-iya. Maaf."


"Oh, inikah istrimu?" tanya Sierra sembari berjalan menghampiri ranjang Ayla.


"Ternyata benar-benar Ayla. Tapi wajahnya semakin tirus ya? Tubuhnya juga lebih kurus." wanita itu malah bergumam-gumam seorang diri.


Ia seolah lupa tujuan sang nenek memintanya untuk menemui Marvel. "Aku hanya ingin menjenguk istrimu. Katakan padanya agar cepat sembuh, kebetulan aku mau pamer posisi Queen Of Antagonist yang ia pegang dulu, kini telah menjadi milikku. Hehe." Wanita itu terkekeh sejenak. Ponselnya ia arahkan pada Marvel.


Klik.


Gambar Marvel telah terambil. Ia hanya perlu mengirim pada sang nenek, dan grandma nya itu pasti tidak akan ngeles lagi.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya," pamitnya, dan tanpa menunggu jawaban Marvel wanita itu segera berlalu dari sana lengkap dengan kacamata hitam dan topinya.


"Ehm, Tuan. Kalau begitu saya juga pamit dulu ya. Kebetulan saya ada urusan sebentar."


Melihat sang tuan mengangguk. Willy pun beranjak dari sana. Meninggalkan Marvel seorang diri bersama Ayla.


Pria itu lalu menatap pada Ayla yang terlelap. Perlahan ia berjalan dan duduk di kursi sebelah ranjang. Kedua matanya terpaut pada wajah tirus Ayla, lama sekali. 10 menit hingga 20 menit berlalu, dan dia masih betah dalam posisi itu.


"Tidak, wajah mereka sangat berbeda. Lala memiliki tahi lalat di hidungnya, dan wanita ini tidak ada. Mereka adalah dua orang yang berbeda," gumam pria itu dengan yakin.


"Tapi wajah sendu ini kenapa terasa familiar ... ck, sepertinya aku sudah gila karena tidak ada orang lain di ruangan ini."


Pria itu lalu bangkit dari posisinya. Ia akan keluar dari ruangan atau dia bisa gila.

__ADS_1


"Kak Edric," gumam Ayla berhasil menghentikan langkah Marvel.


"Kak, jangan pergi!"


Marvel lalu menoleh pada gadis itu. Wajah yang cemas tergambar sangat jelas disana. Kedua alis Ayla saling bertaut, dan napasnya tak beraturan.


"Siapa Edric?" tanyanya merasa sedikit kesal. Namun, tentu Ayla tidak akan bisa menjawab. Gadis itu masih betah dengan mata yang tertutup rapat, hanya wajah yang terlihat tidak tenang.


Perlahan Marvel kembali ke sisi gadis itu. Tangannya terangkat untuk menyentuh kedua alis Ayla yang saling bertaut.


Perlahan tapi pasti, elusan jari tangan Marvel berhasil membuat kedua alis itu kembali lurus. Bersamaan itu, Ayla juga tersenyum kecil. Manis sekali.


Deg, deg, deg.


Marvel memegang jantung yang terasa terpompa sesuatu. Pria itu lalu kembali beranjak, dengan langkah lebarnya ia keluar dari ruangan itu. "Sial," gerutunya setelah berhasil keluar dengan selamat.


"Aku harus memeriksakannya pada Austin. Sepertinya wanita ini pembawa sial, aku sampai mendapat penyakit seperti ini." Setelahnya pria itu benar-benar pergi untuk menemui Austin di ruangannya.


Namun baru beberapa langkah ia jadi teringat sesuatu. Sebuah nama yang membuat dirinya merasa sedikit panas sedari kemarin sejak Ayla sadar dari koma.


Sebelah tangannya lalu merogoh ponsel, menyentuh nama Willy dan menghubunginya.


Di tempat lain Willy sedang tersenyum senang. Ia baru saja mengerjai gadis kecil yang tadi membawa Ayla. "Lucu sekali," gumamnya.


Drttt, drttt.


"Lio?"


"Halo, ada apa?"


"Kenapa suara mu begitu? Kau sedang kesal denganku?"


"Mana berani aku kesal denganmu. Katakan ada apa?"


"Aku ingin kau mencari tahu tentang seseorang."


"Siapa?"


"Edric."


"Edric. Nama panjangnya, atau kau punya fotonya."


"Tidak ada."


"What? Kau kira Edric di dunia ini hanya ada satu."


"Ck, aku tidak mau tahu. Pokoknya kau cari Edric yang berkemungkinan memiliki hubungan dengan wanita itu."


"Oh, istrimu ya?" tanya Willy dengan nada mengejek.


"Pokoknya cari tahu saja. Aku tidak mau jika ada gosip yang membuat mamaku curiga nantinya."


Tut.


"Alasan saja," gumam Willy sembari terkekeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2