Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 18 ~ Sakit Lagi


__ADS_3

Di sisi lain.


Marvel baru turun dari kamarnya setelah setengah jam berlalu. Tak ada ekspresi apa-apa yang ia tunjukkan, hanya ada wajah dingin yang senantiasa datar.


"Tuan," sapa Ken yang telah berdiri di depan lift untuk menyambut sang tuan. Kendrick Garcia merupakan bodyguard nomor satu Marvel. Pria itu tidak hanya memiliki kemampuan bela diri yang tinggi, namun juga lihai dalam berbagai hal termasuk mengendalikan senjata.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Marvel sembari membetulkan pengait sarung tangannya. Bukan tanpa alasan ia bertanya, Ken memang tidak pernah menyambutnya seperti ini bila tidak ada hal yang penting.


Sementara yang ditanya malah pikirannya sedang tidak sinkron. Tatapannya terfokus pada kedua telapak tangan sang tuan yang kini tenggelam dalam sarung hitam berbahan dasar kulit yang tentunya berharga fantastis.


"Ken?"


"Oh? hem. Ini mengenai nona Ayla, Tuan," sahut pria itu setelah tersadar dari lamunannya.


Mendengar nama itu membuat rahang pria itu mengetat. "Aku kira hal penting apa yang ingin kau katakan, Ken. Ternyata tentang wanita itu. Ada apa dengannya?" tanya Marvel acuh tak acuh.


"Nona Ayla disiksa oleh nona Audi, Tuan. Saat ini ...."


"Biarkan saja! Audi tahu apa yang harus ia lakukan."


"Baik," jawab Ken patuh setelah terdiam beberapa detik. Tubuhnya membungkuk sedikit kala Marvel berlalu begitu saja dari hadapannya.


"Apa tuan kembali seperti dulu lagi?" batin Ken sembari menatap punggung sang tuan yang telah menghilang setelah keluar dari rumah megah itu.


...


"Tuan." Willy yang baru saja mau masuk berpas-pasan dengan sang tuan. Walau baru pulang dari lembur, tapi ia sudah terbiasa bekerja bagai robot seperti ini. Terlebih ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


Namun sama halnya Ken, pria itu juga terfokus pada kedua tangan Marvel yang terbalut sarung tangan.


"Tuan, kenapa Anda menggunakan ini lagi?" Berbeda dengan Ken yang memilih diam, Willy dengan berani bertanya. Bahkan pria itu memegang tangan sang tuan yang seketika langsung dihempas. Seakan tangan Willy adalah kuman yang harus ia hindari.


"Jangan sentuh aku!" desis pria itu dengan tatapan menghujam.


"Ada apa denganmu Lio?"


"Satu lagi, berhenti memanggilku dengan nama itu! Mulai sekarang panggil aku tuan bagaimanapun keadaannya!" ujar pria itu tegas hingga membuat Willy menelan ludahnya dengan susah payah.


Jika sudah seperti ini, Willy hanya bisa menurut. Entah apa yang terjadi pada pria itu, namun Marvel yang baru saja mulai menghangat semenjak kehadiran Ayla kini berubah menjadi iblis tak tersentuh lagi.


"Silakan masuk, Tuan," ucapnya sopan dengan wajah menunduk.


Marvel tak menjawab, pria itu hanya berlalu dan masuk ke dalam mobil begitu saja.


Meski merasa aneh, Willy hanya dapat memendamnya di dalam hati. Jika tidak ingin dipulangkan maka ia harus menerima apapun perintah sang tuan. Pria itu lantas ikut masuk ke dalam mobil, menjadi sopir bagi pria angkuh nan kejam itu.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, Marvel melangkah dengan cepat. Sapaan dari semua karyawan yang pria itu lewati, ia abaikan begitu saja. Sedangkan Willy mengejar dari belakang setelah meminta satpam untuk memarkirkan mobil dengan benar.


"Tuan," panggil Willy setelah ikut masuk ke ruangan pria itu.


Marvel menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya "Kenapa?"


"Hem." Terlebih dahulu sang asisten berdehem, informasi penting yang ingin ia sampaikan membuat pria itu sedikit takut terlebih menyadari suasana hati sang tuan yang sepertinya sedang mendung.


"Katakan atau kau pulang saja!" kesal Marvel setelah menunggu beberapa saat namun Willy tak kunjung membuka mulutnya.


"Ma-maaf, Tuan. Jadi begini, desain perhiasan yang akan kita luncurkan di musim gugur mendatang terekspos dan diklaim oleh perusahaan Loire Valley."


BRAKKK.


Willy tersentak, sudah ia duga akan menjadi tempat pelampiasan kali ini.


"Apa kerja kalian hingga kita bisa kecolongan seperti ini?" tanyanya dengan nada mengintimidasi.


"Maaf, Tuan. Desain ini hanya memiliki dua salinan. Salinan pertama ada pada desainer, salinan kedua ada pada bagian produksi sementara untuk desain aslinya ada pada tuan. Untuk dua salinan itu tidak mungkin terekspos mengingat desainer yang membuatnya merupakan senior yang sangat setia pada kita. Sementara untuk bagian produksi, tuan sendiri tahu bagaimana keamanan di sana."


"Jadi maksudmu, desain yang ada padaku lah yang terekspos?"


"Bu-bukan begitu, Tuan. Mungkin, mungkin."


Meski ini adalah masalah kecil yang tidak akan mempengaruhi perusahaannya yang bergerak di berbagai bidang, tapi pria ini tidak pernah mentolerir penghianatan sekecil apapun.


"Baik, Tuan."


.


.


.


"Ayla," panggil Alya sembari mengintip dari balik selah pintu yang sedikit terbuka.


"Ayla." Panik, gadis itu segera menghampiri Ayla yang sedang bergelung di bawah sebuah selimut tipis. Ia berjongkok, menggapai posisi Ayla yang berbaring di kasur tipisnya.


"Ada apa denganmu?" tanya Alya sembari menyentuh tubuh Ayla.


"Panas sekali," ringisnya kala merasakan suhu tubuh Ayla yang tidak biasa.


"Tadi baik-baik saja, kenapa ditinggal sebentar jadi begini?" gumamnya.


"Ayla, jawab aku!"

__ADS_1


"Ayla," panggil Alya dengan lebih keras.


"Kak," lirih Ayla dengan suara yang sangat kecil, nyaris tak tertangkap telinga Alya.


"Ya, ya, bertahanlah. Aku akan memanggil dokter Austin."


Saat Alya ingin bangkit, tangan Ayla yang lemah menahan lengan gadis itu. "Aku tidak papa, jangan panggil dokter Austin," ujarnya dengan terputus-putus.


"Tidak, kondisi kamu sedang sangat tidak baik." Tanpa menunggu jawaban Ayla, Alya segera berlari keluar, menggapai telepon rumah dan menekan satu per satu nomor sang dokter pribadi keluarga Prado.


Di apartemennya, Austin yang mendengar dering ponsel meraba-raba ke atas nakas samping tempat tidurnya. Baru saja ia memejamkan mata setelah melalui shift malam yang melelahkan, namun ada lagi yang tidak membiarkannya tenang sejenak.


"Dokter, cepat ke sini! Ada keadaan darurat," ucapnya setelah panggilan terhubung. Dan tanpa menunggu jawaban dari Austin di seberang sana, gadis itu sudah menutup telepon dan terburu-buru ke arah dapur.


Sementara di tempatnya, Austin seketika melek. "Tadi, bukankah itu suara Alya?" gumamnya sembari mengumpulkan nyawanya yang masih entah terbang kemana.


"Alya? Tadi dia bilang apa? Keadaan darurat?"


Seketika sang dokter melompat dari tempat tidur nyamannya dan meraih sebuah tas berisi alat-alat kedokterannya serta sebuah kunci mobil dan berlari keluar apartemen.


Bahkan ia tidak ingat untuk mengganti pakaiannya yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dan celana pendek berlatar pemandangan pantai.


.


.


.


Kembali ke rumah mewah milik Marvelio Prado.


Terlihat Alya berjalan dengan tergesa-gesa sembari memegang sebaskom air hangat dan sehelai handuk berukuran kecil. Saking tidak fokusnya, ia bahkan tidak menyadari seorang pria tengah berjalan ke arahnya.


"Agya," panggil Genio, memang sulit membedakan kedua saudari kembar itu.


"Aku Alya, ada apa? Aku sedang terburu-buru," sahut gadis itu tanpa berhenti melangkah sedikitpun.


"Kau mau kemana? Hei."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


Othor butuh semangat 😥


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2