Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 45 ~ Menghilang Lagi


__ADS_3

Genio tergesa-gesa berjalan dengan sebuah tongkat kruk. Pria itu baru mendengar apa yang terjadi dari seorang suster, tentang Audi yang dirawat di rumah sakit yang sama dengannya. Entah apa yang terjadi, suster itu juga tidak tahu dengan jelas.


Masuk ke dalam lift, Genio langsung menekan lantai teratas rumah sakit itu. Ya, memangnya di ruang mana lagi keluarga besar Prado dirawat? Tentunya di ruang VVIP lantai teratas, jadi Genio tidak perlu bertanya lagi pada staff rumah sakit yang juga tentunya tidak akan memberitahunya begitu saja.


Ting.


Pintu lift terbuka dan Genio segera keluar dari benda segi bergerak itu. Pria itu melongok, mencari di ruang mana kira-kira sang nona bos dirawat. Ya, nona bos, karena Audi pernah berkata ia tidak dipecat, melainkan setelah sembuh Genio bisa kembali bekerja padanya.


Pria itu terus menyusuri lantai sunyi itu, hingga ia melihat beberapa orang pria tengah berdiri di depan sebuah ruangan. Sontak ia bersembunyi, masih sedikit trauma juga tentang ia yang dibantai habis-habisan beberapa minggu yang lalu. Bahkan baru memikirkannya saja, rasanya tubuh pria itu kembali merasa sakit.


"Lalu bagaimana aku bisa masuk?" gumam pria itu sembari menggigit kuku.


Pria itu kembali mengintip, mencoba mencari celah agar ia bisa masuk ke ruangan Audi. "Siapa itu?" Sebuah suara mengejutkan Genio hingga tubuhnya terlonjak.


"Tidak, bukan siapa-siapa. Hanya kucing saja, miao, miao, miao," balas Genio sembari meniru suara hewan berkaki empat menggemaskan itu, pria itu sama sekali tidak berani menoleh. Di sisi lain, pengawal yang menangkap basah dirinya tengah bersusah payah menahan tawa. Pria satu ini memang tidak berubah sama sekali, masih sama absurdnya seperti beberapa minggu yang lalu.


"Genio, kau sudah sembuh?" tanya sang pengawal setelah berhasil menguasai diri agar tidak terbahak.


"Dia tahu namaku?" batin Genio sembari mengelus tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. Setelah mengumpulkan keberanian akhirnya Genio menoleh dengan pelan namun juga dengan menunduk. Tampak dua kaki panjang tengah berdiri tepat di hadapannya.


"A-aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin menjenguk ...."


"Aku tau," potong pengawal itu seketika membuat Genio mendongak.


"Kau?" Genio hampir tak percaya dengan siapa yang ia lihat.


"Sudah lama tidak bertemu Gen." Pria itu tersenyum kecil yang dibalas dengan senyuman serupa.


"Ya, kau ... ck, ck, ck, kau benar-benar semakin tampan Fred. Aku seperti tidak mengenalimu."


Fredy tertawa kecil, juga sangat mengenal Genio yang jika memuji sudah pasti ada maunya.


"Ayo."


"Hah, kemana?" ujar Genio pura-pura tidak tahu, padahal dalam hati ia sudah kegirangan.


"Jangan berlagak bodoh, Gen. Sebelum aku berubah pikiran."


"Eh, jangan dong, hehe."


Fredy tersenyum tipis. Saat Genio masih menjadi sopir, keduanya memang lumayan dekat karena Genio memang orangnya mudah bergaul. Itulah mengapa ia tidak ikut saat Genio disiksa, ia hanya bisa melihat dari belakang.


Sebenarnya sedih juga karena tidak bisa membantunya temannya itu, tapi ia bisa apa? Lebih baik tutup mata, telinga dan mulutnya jika masih ingin bangun di esok hari.


"Ayo aku bantu." Fredy memapah Genio menuju ke ruangan Audi.


"Haha, aku jadi seperti orang cacat jika seperti ini," ujar Genio dengan tawa kecil namun Fredy tahu bahwa Genio sebenarnya sedih dengan keadaannya.

__ADS_1


"Kau pasti bisa sembuh, Gen." Genio tersenyum, Fredy memang satu-satunya teman dari kalangan pengawal saat ia masih bekerja di mansion Prado.


"Kau yakin mereka tidak akan mengusirku?" tanya Genio kala beberapa pengawal di depan ruangan Audi tampak menatapnya heran.


"Tenang saja, mereka teman baikku," balas Fredy yang membuat Genio mengangguk.


"Genio?" ujar para pengawal dengan tersenyum. Mereka sama sekali tidak terlihat membenci Genio.


Genio tersenyum kikuk, sedikit aneh karena merasa tidak punya hubungan yang baik dengan mereka. Tapi kenapa semuanya menyambutnya dengan baik.


"Hem, kami mau minta maaf karena pernah salah paham padamu. Mata-mata yang sebenarnya telah tertangkap dan kami sangat menyesal karena menyalahkanmu saat itu," ujar salah satu dari mereka.


Genio membulatkan kedua matanya, nampak dari binar itu ia sedikit marah. "Kalian tau seberapa sakit saat kalian memukulku membabi buta? Lihat kondisiku sekarang! Aku bahkan tidak bisa berjalan normal."


Beberapa pengawal itu menunduk, meski pekerjaan menuntut mereka menjadi manusia berdarah dingin. Namun perasaan bersalah tetap muncul di relung hati terdalam saat mereka menyakiti orang yang tidak bersalah.


Hening beberapa saat.


"Haha, tapi aku sudah memaafkan kalian. Tenang saja, aku adalah pria yang hidup tanpa dendam." Genio tertawa garing yang membuat para pengawal menatapnya heran.


Segitu mudahnya pria ini memaafkan? Heran namun tidak jadi, karena Genio memang pria yang ajaib.


"Hem, aku mau menjenguk nona Audi."


"Oh, iya silakan masuk."


Genio tersenyum, melangkah dengan tongkat kruknya. Begitu pintu terbuka terlihat seorang gadis sedang duduk di atas brankar dengan tatapan kosong.


"Genio." Audi langsung menjatuhkan air matanya. Turun dari brankar dan langsung menghambur ke pelukan pria itu. Hingga Genio nyaris ambruk, untung saja ia masih bisa menyeimbangkan diri.


"Gen, a-aku takut sekali," lirih Audi semakin mengeratkan pelukannya pada Genio.


Genio tersenyum, mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Non, aku ...."


"Kau kenapa?"


"Nona terlalu menekan, aku mau ambruk," pekik Genio dan di detik selanjutnya terdengar suara ambruk.


BRUKKK.


"Argh."


.


.


.

__ADS_1


"Di mana istriku?" pekik Marvel setelah sampai rumah sakit tapi ternyata Ayla tidak berada di dalam ambulans yang sejak tadi berjalan di depannya.


"Di mana istriku. Jawab, di mana istriku?" Pria itu menarik kerah seorang perawat yang berjaga di dalam ambulans tersebut.


"Apa maksud Tuan?" tanya perawat itu bingung, pasalnya ia memang tengah mengantar seorang pasien, dan itu sudah pasti bukan istri yang Marvel maksud karena pasien yang ia antar adalah seorang pria tua.


"Sialan! Argh, cepat temukan istriku sekarang juga!" pekik Marvel dengan kedua mata yang memerah. Sungguh ia tidak bisa tenang lagi sekarang. Baru saja ia menemukan sang istri dan sekarang menghilang lagi.


"Lio, kau harus tenang!" ujar Enzo sembari memegang tubuh sahabatnya yang tampak sempoyongan itu.


"Tidak, istriku menghilang dan kau memintaku tenang?" pekik Marvel sembari meronta.


Skala memberi kode pada seorang dokter di sana yang dijawab anggukan kepala.


"Kau!" geram Marvel saat dokter itu dengan lancang menusuknya dengan sebuah jarum suntik.


Lama-lama rontaan pria itu semakin melemah, disusul dengan ambruk tubuhnya dalam pelukan Enzo.


"Lala," gumamnya sebelum memejamkan kedua matanya. Tanpa sadar setetes air mata mengalir dari sudut mata yang tertutup itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


Hallo semuanya. Karena novel ini sebentar lagi mau tamat, aku punya cerita baru lagi nih. Yuk mampir yuk 😁.


Berikut intronya.


Bad boy adalah nama lain dari Boy Listio Laurent. Nakal, suka seenaknya dan tidak bisa diatur adalah ciri khasnya. Bahkan ia sudah bergabung dengan geng motor di usia yang masih terbilang muda.


Bukan tanpa alasan sehingga ia bisa menjadi seperti itu, semua karena ia tidak menerima kasih sayang layaknya anak seusianya.


Namun semua berubah kala seorang gadis hadir di dalam hidupnya. Gabriella Amanda Taslim, adik sahabatnya yang bahkan tidak bisa tersenyum itu berhasil membuat jantungnya berdetak kencang.


"Kau tidak bisa tersenyum?" tanya Boy yang mendapat tatapan datar dari sang gadis.


"Kalau begitu aku akan memberimu," lanjut Boy dengan senyuman lebar.


...****************...


Kelanjutannya?


Cus ke sana.


Judulnya The Smile You Give Me (Amanda × Boy)


Terima kasih semuanya.

__ADS_1


Salam hangat, Joy 🌼.


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2