
Seharian ini Lio terus mengikuti Lala tanpa gadis kecil itu sadari. Meski selalu tersenyum namun sesekali dapat ia lihat Lala mengusap punggungnya.
"Suster," panggil Lio ketika menemukan dimana suster Elisabeth berada.
"Ada apa, Lio?"
"Em, apa suster punya minyak gosok? Tadi aku melihat seorang anak bernama Lala yang tidak sengaja terkena tendangan bola dari Genio. Sepertinya dia sangat kesakitan."
"Benarkah? Kalau begitu bawa Lala kesini, biar suster lihat lukanya."
Lio mengangguk, dengan senang hati ia menjalankan tugasnya.
"Lala," panggilnya ketika melihat Lala duduk seorang diri sembari memandang bintang-bintang yang indah di atas sana.
Lala menoleh, gadis kecil itu tersenyum. "Kakak yang tadi kan?" tanya nya dengan suara imut.
"Iya, panggil saja aku kakak Lio."
"Em, Kak Lio ada apa memanggilku?"
"Ayo ikut aku, luka mu harus di obati."
"Luka? Tapi aku tidak papa, Kak."
"Sstt, ikut saja. Ayo."
Lio menarik tangan Lala, hingga gadis kecil itu mau tidak mau mengikuti langkah anak lelaki tampan itu.
"Suster, ini Lala nya."
"Sini, Nak. Biar suster lihat!"
"Tidak perlu, Suster. Aku baik-baik saja."
"Jangan membantah suster, kalau lukamu semakin parah bagaimana?"
Mendengar itu Lala menjadi sedikit takut, perlahan ia melangkah ke arah suster.
"Ya ampun, pasti sakit sekali. Lebamnya sangat lebar."
"Aww. Suster, sakit," lirih Lala sembari meringis.
Sementara Lio dan teman-teman lainnya berdiri dan memperhatikan di samping. Terlihat di pinggang kiri Lala terdapat sebuah tanda hitam kebiru-biruan, bentuknya seperti bulan sabit.
"Lala, kenapa di pinggangmu ada kotoran?" tanya seorang anak perempuan sembari mengusap tanda hitam itu.
"Ini bukan kotoran, Sayang. Ini tanda lahir," jelas suster sembari tersenyum geli.
.
.
.
Brukkk.
Ayla pingsan dan Genio segera menangkapnya. Ia sandarkan Ayla di sandaran kursi.
"Siapa kau? Berani sekali memperingati ku," ujar Marvel dengan tajam dan dingin. Namun sepasang matanya terus menatap pada tangan Genio yang sedang membenahi rambut Ayla.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya hanya tidak ingin Tuan membunuh orang yang tidak bersalah. Lagian nona ini baru disini, mungkin dia tidak tahu bahwa makanan ini dilarang," jelas Genio berusaha untuk memberanikan diri.
"Dia benar-benar ingin mencari mati," gumam Agya.
"Tuan, dia adalah sopir pribadi nona Audi. Dia juga masih baru disini, jadi sikapnya mungkin agak sedikit lancang ...," ujar seorang gadis cantik yang lumayan mirip dengan Agya, tadi ia berada di dapur dan mendengar keributan jadi langsung kemari untuk melihat.
Namun Marvel tidak menggubris, tatapan beralih pada Agya yang berdiri tidak jauh dari sana. "Agya, kumpulkan semua pelayan dan koki disini. Sekarang juga!"
"Hah? ... baik, Tuan."
"Dan kau, bawa dia ke gudang belakang!"
"Baik, Tuan."
"Selamat," batin Genio. Pria di depannya ini memang mirip Edric, tapi perilakunya sangat berbeda. Pria ini jauh lebih kejam dari mantan kakak sepupunya itu.
Lantas Genio menggendong Ayla ala bridal style dan melewati Marvel begitu saja. Entah apa yang dipikirkan Marvel, namun pria itu mengepalkan tangannya erat seakan mati-matian menahan sesuatu.
5 menit kemudian, semua pelayan telah berkumpul di depan meja makan.
"Tuan, semuanya telah berkumpul disini," lapor Agya. Kurang lebih 15 orang baik itu pelayan maupun koki telah berdiri di hadapan tuannya dengan berbaris menjadi 3 barisan yang rapi.
Marvel mengangguk. Sambil menatap pada semua pelayan disana ia berkata, "Bibi Rachel, pergilah untuk melihat wanita itu! Lihat benar-benar apakah ia sudah mati atau belum."
"Baik, Tuan," jawab Bibi Rachel dan segera beranjak dari sana.
"Barisan di sebelah kiri saya, nomor 3. Maju!" titah pria itu dengan dingin dan datar.
Pelayan yang diminta untuk maju itu pun bergemetar. Rasanya kedua kakinya seakan terpaku dan tidak bisa bergerak untuk memenuhi perintah sang tuan.
"Tidak mau maju sendiri?" tanya Marvel sembari menyeringai. Seringai sebelah kanan yang sangat menyeramkan.
"Ya, Tuan."
"Bereskan!"
Setelah mengucapkan satu kata penuh makna itu, Marvel pergi begitu saja dari sana.
"Kau mau tetap berdiri di sana atau kubuat kau benar-benar tidak bisa pindah dari sana tanpa bantuan orang lain," ujar Ken melanjutkan titah sang tuan.
Dengan tubuh bergetar hebat pelayan itu maju perlahan. Setelah berdiri di depan teman-teman nya, pelayan itu langsung berlutut sembari memegang erat kedua lutut Kendrick.
"Maaf, Tuan," ujarnya bergetar sembari menangis pedih.
"Kau tau apa yang sudah kau lakukan? Kau lupa dengan syarat sebelum kau diterima kerja di rumah ini?"
"Maafkan saya, Tuan. Saya sungguh tidak akan mengulanginya lagi."
"Kau memang tidak akan punya kesempatan untuk mengulanginya lagi." Ken berkata dengan dingin, bahkan seringai pria ini jauh menyeramkan dibanding Marvel.
Dor.
"AKHHH." Para pelayan berteriak histeris. Namun di balik teriakan menggema itu, ada seorang pelayan yang merasa lega karena keberuntungan sedang berpihak padanya.
Sementara di gudang belakang, tidak, tepatnya di gudang yang sudah menjadi kamar Ayla. Gadis itu juga berteriak ketika mendengar suara tembakan yang menggema itu, padahal baru saja ia tersadar dari pingsannya.
Sekelebat bayangan muncul dalam ingatannya. "Aku pernah mati?" batin Ayla sembari mengingat bahwa ia pernah tertembak sampai sekarat.
"Argh," pekik gadis itu ketika merasa sakit di kepalanya.
__ADS_1
"Ay, Ayla. Kamu tidak papa?" tanya bibi Rachel perhatian.
"Ayla?" gumam Genio, entah kenapa ia merasa nama ini cukup familiar.
"Ayla Navara?"
"Ya." Bibi Rachel menjawab sekilas. Karena perhatiannya kembali pada Ayla yang terlihat ketakutan dan cemas.
"Dia benaran Ayla? Aku harus bilang padanya kalau aku Darier," batin Genio merasa senang.
"Ayla ...."
"Ada apa dengannya?" Tiba-tiba sebuah suara dingin hadir di sana. Melihat Ayla yang tampak ketakutan, pria itu lantas mendekat.
Bibi Rachel yang selalu bisa memposisikan diri akhirnya mundur dan keluar dari ruangan itu. Sementara Genio masih terpaku dan berdiri diam disana.
"Sstt, kita keluar dulu," bisik bibi Rachel sembari menarik lengan Genio.
"Tunggu! Namamu siapa?"
"Ge-genio, Tuan."
"Kau pergilah dan hentikan Audi untuk melihat keadaan dapur!"
"Baik, Tuan."
Kedua orang itu pun keluar. Kini hanya tersisa Marvel yang setia menatap Ayla yang senantiasa menunduk dengan tubuh bergetar.
Perlahan pria itu melangkah mendekat, lalu memegang lengan Ayla. "Akhh," pekik Ayla kaget.
Gadis itu mendongak dengan air mata yang mengalir deras. "Kak Edric," lirihnya dan tanpa banyak bicara langsung memeluk pria dihadapannya.
"Lagi-lagi dia memanggilku Edric," batin Marvel kesal sembari ingin mendorong Ayla. Namun niat itu urung ketika melihat wajah teduh gadis itu yang terlihat begitu nyaman berada di dalam dekapannya.
"Aku merindukanmu, kamu tahu? Aku beberapa hari ini seperti mengalami mimpi buruk yang panjang. A-aku takut, Kak."
"Jadi kau menganggap ku sebagai mimpi buruk?" tanya Marvel dengan tatapan garangnya.
Ayla refleks mendongak, mendengar suara dingin itu membuat ia sadar. Ini bukanlah kakak Edricnya yang penuh kasih dan sayang.
"Tu-tuan." Ayla segera bergerak untuk melepaskan diri. Namun Marvel tetap menahannya, bahkan pelukannya semakin erat hingga membuat Ayla sulit bernapas.
"Setelah memanfaatkan ku sebagai orang lain, kau mau lepas tangan begitu saja?" tanyanya sembari memperhatikan perubahan wajah Ayla, gadis itu terlihat takut dan cemas di saat bersamaan.
"Perlu kau ingat! Semua di dunia ini tidak ada yang gratis untukmu. Pelukan ini juga ada harganya," lanjutnya sembari tersenyum smirk. Senyuman sebelah kiri yang membuat Ayla bergidik.
Tidak, ia tidak boleh pasrah. Begitu tekad Ayla di dalam hati. Dan di detik selanjutnya ia menggigit lengan Marvel dan mendorong kuat dada bidang pria itu.
"Argh," pekik Marvel refleks melepas belenggunya pada Ayla. Ayla pun memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari keluar.
Dorrr.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
Halo semuanya, sesuai dengan judul dan tema novel ini. Jadi, Marvel tidak akan bucin semudah itu ya teman-teman. Harap bersabar untuk menunggu waktu indah mereka ☺️
Salam hangat, Joy.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼