Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 16 ~ Dokter Jomblowan


__ADS_3

Flashback On.


"Jelas-jelas yang selamat adalah Ayla Navara," sahut Marvel masih dengan pendiriannya. Pria itu mengusap wajahnya dengan frustasi.


Morgan hanya menjawab dengan menaikkan sebelah alisnya. Sementara Atlas dan Enzo hanya menjadi pendengar di antara mereka. Keduanya menatap Morgan yang diam, seakan bertanya kenapa tidak mengatakannya saja.


Morgan yang menyadari kode itu menarik napasnya. Tangannya terangkat untuk menggeser layar monitor hingga sampai di halaman terakhir.


"Bacalah!"


Marvel pun menurut, beberapa saat kemudian wajahnya semakin datar.


"Sebenarnya kami sudah lama menyelidiki ini untukmu. Berhubung wanita itu sudah sadar, kami baru memberitahu mu. Halaman terakhir itu berisi pengakuan mantan pimpinan perusahaan penyalur tenaga kerja tempat Lala dan Ayla dulu bekerja. Dia mengaku bahwa Ayla adalah satu dari dua orang yang selamat dalam kecelakaan itu. Namun keadaannya sangat parah, bahkan wajahnya tak dapat dikenali. Perusahaan bertanggungjawab penuh, dan mengeluarkan biaya selama pengobatan wanita itu. Termasuk operasi wajahnya," jelas Enzo panjang lebar.


Marvel tertegun, mungkinkah Ayla adalah gadisnya.


"Tapi kau tidak boleh gegabah dulu, masalah ini sama sekali belum jelas. Belum pasti bahwa wanita itu adalah Lala-mu. Tetap jaga pendirian kita, jangan mudah terjebak dalam situasi apapun. Bisa saja dia suruhan musuh," pesan Atlas yang sejak tadi diam. Atlas memang anggota yang paling curigaan, namun karena kehati-hatiannya lah ia dipercaya sebagai leader of Silent Sparta.


Marvel mengangguk, walau ada sedikit harapan di dalam hati. Tapi ia menepis itu, dari kepribadian saja mereka sangat berbeda. Lalanya ceria dan penuh semangat. Sementara Ayla sejak membuka matanya, jarang sekali wanita itu tersenyum.


Flashback Off.


.


.


.


Keesokan harinya.


"What? Mereka tidur di kamar yang sama?" pekik Audi.


Daisy mengangguk cepat. "Iya, Nona. Setelah Nona masuk ke dalam kamar, tuan Marvel membawa wanita itu naik ke lantai tiga."


"Sial, dasar wanita licik. Setelah membunuh kakak keduaku apa dia sekarang berencana untuk menggoda kakak pertamaku juga? Tidak akan aku biarkan," geram Audi sembari mengepalkan kedua tangannya erat.


Gadis itu lalu berbisik ke telinga Daisy. Keduanya pun saling melempar seringai.


.


.


.


Di tempat lain.


Willy baru pulang ke apartemennya pagi ini. Karena sang tuan yang tidak masuk kantor seharian kemarin, jadi ia yang harus kena batunya.


"Huft, lelah sekali," gumamnya sembari membuka pintu kulkas.


Pria itu belum menyadari bahwa ada seseorang yang sedang tidur meringkuk di sofa panjangnya.


Tanpa dirasa-rasa dulu, pria itu langsung menghempaskan pantatnya di sofa yang berisi seseorang itu.


"Aww. Om, kok gak lihat-lihat dulu sih?" pekik Calia sembari mengelus-elus betisnya.

__ADS_1


Sementara Willy yang refleks kembali berdiri, masih cengo dan tampak bingung menatap Calia. "Calia?"


"Ngapain kau pagi-pagi di rumahku?"


"Memangnya tidak boleh? Mulai sekarang aku akan tinggal bareng sama Om."


"What? Serius? Tidak, tidak boleh! Apa kata orang nanti, kau ini seorang gadis anak sekolahan."


"Aku tidak peduli apa kata orang. Pokoknya aku mau ikut tinggal sama Om."


"Tidak boleh pokoknya! Sekarang ayo bangun, aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak mau!" Calia ngotot, ia bahkan meringkuk seperti bola di sofa itu.


Willy yang melihatnya tak habis pikir. Dengan kesal ia gendong gadis kecil sama seperti gaya sang tuan. Menggendong sekarung beras.


"Om, lepasin!" pekik Calia sembari memukul-mukul punggung Willy.


"Diamlah! Nanti orang-orang akan berprasangka yang tidak-tidak."


"Kenapa Om peduli sekali dengan perkataan orang? Aku tidak peduli, pokoknya lepasin aku Om."


"Ada apa ini?" tanya seorang wanita paruh baya, kebetulan unit apartemennya tepat berada di samping unit Willy. Saat ini Willy dan Calia sudah berada di lorong, tinggal menunggu lift terbuka.


Willy tersenyum. "Tidak, Nyonya. Kebetulan keponakan saya ini sedang ngambek dan tidak mau pulang ke rumah."


"Bukan begitu Nyonya. Om ini ...."


"Nah, sebagai Om yang baik tentu saya harus membawanya pulang ke rumah kakak saya dengan selamat."


"Kau!"


Willy mengangguk, sementara Calia melebarkan mulutnya. "Kalau begitu kami duluan ya, Nyonya."


Wanita itu tersenyum dan mengangguk sekilas, kemudian berjalan kembali ke unit apartemennya.


"Tidak ku sangka ternyata panggilan om berguna juga," ujar Willy sembari tertawa kecil. Tangannya bergerak untuk menekan tombol lift lantai berapa yang mereka tuju.


"Om, turunin aku!"


"Ck, bocah ini."


Willy pun menurunkannya. Dengan gerakan cepat Calia menekan tombol lantai terdekat dimana mereka saat ini berada.


"Apa yang kau lakukan?" marah Willy dan berniat untuk menekan kembali tombol tersebut. Namun Calia berusaha menghalangi dengan memeluk pria itu.


"Om, aku mohon. Hari ini saja, besok aku tidak akan kemari lagi," pinta gadis itu dengan lirih. Kepalanya ia benamkan di dada Willy.


Willy tertegun, ingin menolak namun merasa tidak tega. "Janji, hanya hari ini?" tanya Willy yang membuat Calia tersenyum sumringah.


Tanpa sadar gadis itu langsung melompat ke tubuh Willy bagai seorang anak koala. Kemudian melabuhkan sebuah kecupan di pipi yang membuat pria itu kaku seperti patung.


"Cih, kalau mau bermesraan jangan di dalam lift Tuan dan Nona," ketus Austin yang ternyata tinggal di bangunan yang sama dengan Willy.


Kebetulan setelah pulang dari shift malam, ia singgah dulu ke salah satu unit apartemen rekannya untuk mengambil sebuah dokumen.

__ADS_1


Namun malah melihat adegan manis yang menyakiti hati jomblowan sepertinya. Dengan tidak tahu malunya ia ikut masuk dan berdiri di tengah-tengah Willy dan Calia yang telah terlerai pelukannya.


"Kenapa tidak bermesraan lagi? Anggap saja aku tidak ada."


"Em, Om. Tadi itu ...."


"Sudahlah sayang, dia itu dokter jones. Pasti iri dengan kita," ujar Willy sembari mendorong Austin kemudian merangkul Calia.


"Kau!"


"Makanya Om, cari pacar biar gak sendirian lagi," kata Calia tersenyum jenaka. Gadis ini memang suka mencari masalah.


Ting.


"Kalian!"


Pintu lift terbuka dan tujuan Willy Calia telah sampai. Mereka berdua kabur sebelum menerima kemarahan Austin, masih dalam posisi saling merangkul. Keduanya masuk ke apartemen Willy.


"Hmm, Om. Dokter itu kan sudah tidak ada disini."


"Lantas kenapa?"


"Tangan Om."


"Oh, maaf." Willy langsung melepas rangkulannya, membuat suasana di apartemen itu terasa canggung. Tanpa Willy sadari, terlihat Calia mengulum senyum malu-malu.


.


.


.


Di sisi lain, dua orang yang berbeda gender itu terlihat masih betah bergelung di bawah selimut.


Ayla yang duluan mengerjap, merasa ada beban yang melilit tubuhnya membuatnya tidak nyaman. Saat membuka mata, yang ia lihat adalah dada bidang tanpa berbalut kain apapun.


Merasa situasi yang sangat asing, wanita itu ingin berteriak. Namun urung saat Marvel melepas pelukannya dan berbalik ke arah lain.


"Aku harus keluar dari sini sebelum dia bangun," gumam Ayla sembari turun dari tempat tidur pelan-pelan.


Gadis itu pun jalan perlahan ke arah pintu, tidak lagi gegabah. Takut nanti diserang plafon yang aneh itu lagi.


Klek.


Pintu tak bisa dibuka.


Ayla mendengus dengan sebal, kalau begitu bukankah harus menunggu tuan kejam ini bangun dulu?


Melihat ruang kamar yang berantakan karena ulahnya semalam. Seketika ia merasa ada yang bisa dia lakukan selagi menunggu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2