Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 17 ~ Belum Genap Dua Hari


__ADS_3

"Pa, awas! Di depan ada truk," pekik seorang wanita cantik panik, tatapannya beralih pada sang putra yang duduk di belakang.


Ia lepas seatbelt dan merangkak, berpindah ke posisi belakang.


"Ma, apa yang kau lakukan?"


KRIETTT.


Suara gesekan ban dan aspal membuat mereka sempat menahan napas, namun akhirnya mereka dapat bernapas lega karena berhasil menghindari mobil truk itu.


Namun tanpa disangka, setelah berhasil menghindari satu truk. Dari arah depan melaju satu truk lagi yang membuat mobil itu tak bisa mengelak lagi. Kejadiannya terlalu cepat hingga suara saling menghantam terdengar begitu nyaring.


BRAK ... BRAK ... BRAK ...


Mobil keluarga kecil itu terpelanting beberapa kali. Terlihat sangat parah karena telah tak berbentuk. Sopir truk itu turun dan memeriksa kondisi. Jalanan yang sepi dan hari yang sudah malam membuat mereka leluasa.


"Bagaimana?" tanya seseorang di sebrang telepon.


"Aman, Bos. Mereka sudah lenyap," jawab orang itu sembari memeriksa keadaan sepasang suami istri itu. Luka mereka terlihat sangat parah, bahkan sang istri sampai mental ke kursi belakang.


"Bagus. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal!"


Pria itu tersenyum, namun senyumannya lenyap kala menyadari sesuatu. "Bos, anak mereka tidak terlihat ada di dalam mobil."


"Bodoh! Cepat cari dan pastikan dia juga lenyap sama seperti kedua orangtuanya!"


Sementara di semak belukar, terlihat anak lelaki itu sedang tidak sadarkan diri.


"Ma," gumam Marvel masih dengan mata yang tertutup. Napasnya terlihat tidak teratur dengan wajah panik. Ya, anak kecil itu adalah Lio atau Marvel kecil.


...


Ayla yang sedang membereskan kamar merasa seperti mendengar sesuatu.


"Pa," gumam Marvel lagi yang membuat Ayla semakin yakin bahwa suara yang ia dengar berasal dari sang suami.


Perlahan ia menghampiri Marvel yang masih setia dengan mata tertutup rapat, namun wajahnya panik sembari menggeleng dengan menarik berat napasnya.


Refleks Ayla menyentuh lengan pria itu dan mendorongnya perlahan.


"Ma ... Pa."


"Tuan, bangun!" ujar Ayla sembari mendorong lebih keras.


"Akh," pekik Marvel seraya mencekik leher Ayla kuat.


"Ugh, tu-tuan," lirih Ayla yang kehabisan napas.


Marvel masih nampak panik, kesadarannya juga belum kembali. Tangan kanannya semakin menguat kala Ayla melirih.


Hingga gadis itu nyaris kehabisan napas baru Marvel tersadar.


Bruk.

__ADS_1


Marvel mendorong Ayla hingga jatuh terduduk di lantai.


"Hah, hah, hah." Gadis itu menarik napas kuat demi meraup udara yang sempat hilang dalam paru-parunya. Air mata tanpa diminta mengalir perlahan dari kedua sudut mata indah itu.


"Keluar!" teriak Marvel masih dengan napas memburu.


Ayla yang masih diam demi mengumpulkan kembali nyawanya yang nyaris hilang jadi tersentak mendengar teriakan menggema itu.


"Keluar! Atau kau akan aku bunuh."


"Ta-tapi aku tidak bisa membuka pintu kamar ini, Tuan."


Lantas dengan amarah yang memuncak, Marvel meraih lengan Ayla dan menariknya dengan kasar. Menyentuh sesuatu di gagang pintu dan mendorong gadis itu setelah pintu berhasil terbuka.


"Jangan pernah berani masuk ke kamar ini lagi jika kau masih sayang dengan nyawamu!"


Prang.


Suara bantingan pintu membuat Ayla mengerjap. Kejadian ini terlalu cepat hingga membuat ia nyaris tak percaya.


"Apa ini mimpi?" gumamnya sembari menepuk pipi, namun lehernya terasa sakit.


"Hey, tuan kejam. Anda sendiri yang membawaku kemari, ternyata selain kejam kau juga pria tua yang alzheimer ya?"


DOR


"Akhh."


"Dasar pria gila," lirih Ayla dengan tubuh yang kembali bergemetar.


"Turun pakai tangga saja, deh. Nanti kalau aku pakai lift, tuan kejam itu marah lagi," gumamnya sembari turun dengan berpegangan erat pada tangga.


"Ayla." Terdengar sebuah suara yang membuat Ayla menatap pada tangga di lantai dua.


Alya berlari kecil menuju gadis itu. "Astaga, kamu tidak papa?" tanyanya dengan gurat wajah cemas.


"Aku tidak papa, Kak," jawab Ayla sembari tersenyum sendu. Alya tak lantas percaya begitu saja, tubuh Ayla yang bergemetar telah menjadi jawaban bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Terlebih tadi suara ledakan pistol terdengar dengan jelas.


"Ayo, aku bantu turun."


Ayla mengangguk kecil. Keduanya pun turun lewat tangga dengan pelan. Tiba di lantai bawah, Alya membawa Ayla ke sebuah kamar yang tampak nyaman. "Tidurlah!"


"Ini kamar siapa?"


"Ini kamar tamu. Kamu sedang tidak baik-baik saja, jadi butuh tempat yang nyaman untuk beristirahat."


"Tidak, bagaimana jika tuan Marvel tau? Aku tidak ingin merepotkan mu. Lebih baik aku kembali ke kamarku saja ya."


"Tapi ...."


"Baiklah, ayo biar aku antar."


Ayla mengangguk, keduanya pun keluar dari kamar namun Audi berdiri di depan dan menghadang.

__ADS_1


"Alya, kamu dipanggil bibi Rachel untuk membantunya menyiapkan sarapan," ujar gadis cantik itu.


"Baik, Nona. Saya akan mengantar Ayla dulu."


"Kenapa perlu kau mengantarnya? Dia kan punya kaki, jadi bisa jalan sendiri."


Alya menghela napasnya, baru saja mulutnya bergerak untuk menjawab, Ayla langsung menggenggam lengan gadis itu dengan lembut. Ayla menggeleng samar.


"Aku akan berjalan sendiri. Kakak pergilah bantu bibi Rachel," ujarnya sembari tersenyum.


Alya tampak berpikir sejenak, namun melihat sorot Ayla yang bersungguh-sungguh akhirnya gadis itu memilih mengalah. "Baiklah," ujarnya.


Setelah Alya melangkah, Ayla juga turut melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba saja lengannya dicengkeram dengan erat oleh Audi.


"Nona, ada apa?"


"Ada apa? Haha, kau masih bertanya ada apa? Cepat ikut aku!"


Setelahnya Audi menarik gadis itu ke dalam kamar yang sejatinya adalah gudang itu. Tak segan-segan ia menghempaskan tubuh Ayla ke lantai dingin itu. Belum juga sadar dari keterkejutan Ayla kembali dibuat tercengang kala Audi menarik keras rambutnya.


"Beraninya kau menggoda kakakku. Apa tidak cukup kau mengambil kakak keduaku? Sekarang kau juga ingin menguasai kakak pertamaku dengan kecantikanmu ini?" bentaknya di depan wajah Ayla.


Lagi-lagi Ayla tercengang, gadis ini sungguh sangat jauh berbeda dengan Kiara. Kiara sopan dan lembut tutur katanya. Sementara Audi ini malah lebih mirip Sylvia yang kasar.


"Lepaskan aku!" ujar Ayla dengan suara yang dingin dan tatapan menghujam.


Sejenak Audi melebarkan kelopak matanya, tak menyangka gadis ini berani melawan dalam kondisi seperti ini.


"Oke, akan aku lepaskan," jawabnya sembari tersenyum penuh arti.


"Tapi akan aku ganti dengan ini."


Byurrr.


Seember air es tumpah pas sekali di kepala Ayla. Seluruh tubuhnya basah dalam sekejap. Hawa dingin seketika merasuk hingga ke relung hati gadis itu. Memejamkan kedua mata, kedua tangan Ayla terangkat guna mengusap wajahnya.


"Ini pantas untukmu," ucap Audi sembari tersenyum jahat.


Setelah itu ia berbalik dan pergi dari sana, diikuti Daisy yang sebelumnya telah memberikan senyum sinis pada gadis yang duduk meringkuk dengan tubuh basah kuyup itu.


Ditinggal sendiri, Ayla mulai mendongak. Bermaksud untuk kembali menenggak air mata yang mengembun tanpa ia suruh. Namun gagal, air mata itu terlalu banyak untuk bisa disimpan kembali. Pada akhirnya kedua sudut netra indah itu harus mengalir air mata yang perlahan namun pasti.


Untung saja Audi dan pelayan itu telah pergi. Jika keduanya masih di sana, bukankah Ayla akan terlihat seperti gadis lemah, menyedihkan yang mudah ditindas?


Belum genap dua hari ia di rumah ini, sudah banyak kesakitan yang ia terima. Kedua telapak tangan gadis itu terkepal erat, buku-buku jarinya bahkan tampak memutih seakan mewakili emosinya yang terpendam.


Pada dasarnya ia bukanlah gadis yang mudah ditindas. Namun karena dunia asing sialan ini, ditambah tidak ada ingatan yang membantu membuatnya terlihat lemah tidak berdaya. Bahkan tubuh saja lemah.


Lihatlah, sekarang tubuh ini sedang bergemetar hanya karena seember air es.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2