
Keesokan harinya.
Marvel membuka kedua netra kala merasa kosong dalam dekapannya.
"Dimana dia?" geram pria itu saat sudah sadar sepenuhnya.
Kakinya pun mulai menapak di lantai, melangkah ke arah kamar mandi, kemudian beralih ke walk in closet. Namun keberadaan sang istri tak ia temukan.
Hatinya bergemuruh, perasaan takut sang istri akan kabur mulai mendominasi. Menemukannya begitu sulit, dan akan ia belenggu Lala di sampingnya seumur hidup wanita itu.
Segera ia berpakaian seadanya, sebuah kaos berwarna hitam dan celana boxer dengan warna senada menutupi tubuh atletisnya. Dengan kalut pria itu berjalan keluar kamar.
"Ken, Kendrick," teriaknya menggema.
Namun yang dipanggil tak kunjung menampakkan diri. Sepertinya ia lupa sedang berada di lantai tiga. Seorang pengawal yang berjaga pun menghampiri. "Maaf, Tuan. Sepertinya tuan Kendrick sedang berada di paviliun bodyguard," ujarnya sembari menatap takut gurat wajah penuh emosi itu.
"Dimana keberadaan nyonya?"
"Nyonya? Ah, nyonya besar tentu ada di kediamannya, Tuan. Apa perlu saya panggilkan nyonya kemari?" jawab sang pengawal yang memang tidak mengerti kemana arah pertanyaan Marvel. Karena selama ini, Ayla selalu dipanggil dengan sebutan nona atau namanya langsung.
"Aku bilang nyonya kediaman ini, istriku."
"Oh, nona Ayla?"
"Ya, dimana dia?"
"Tadi nona sedang bersama Alya, Tuan. Sepertinya mereka ke arah paviliun pelayan."
"Baiklah."
"Oh iya, mulai sekarang kalian semua harus memanggil istriku dengan sebutan nyonya muda Prado, tanpa terkecuali!"
"Ba-baik, Tuan." Pengawal itu merasa bibirnya keluh, terlebih dengan aura mengintimidasi yang kuat dari sang tuan. Hingga akhirnya ia bisa bernapas lega kala Marvel bergerak menuruni tangga.
"Huft, mimpi apa tuan Marvel sampai bersikap seperti itu."
.
.
.
"Aduh, pelan-pelan Kak," protes Ayla kala Alya tak sengaja menekan luka cambuknya dengan kencang.
"Tuan benar-benar keterlaluan sampai mencambuk mu seperti ini," kesal Alya sembari meringis kecil, melihat luka merah dengan warna biru di tepi-tepinya.
"Tapi ini luka apa?" tanya gadis itu ketika melihat tanda-tanda merah di punggung dan leher Ayla.
"Ah, itu-itu ...."
"Apa yang kau lakukan sampai membuat istriku kesakitan seperti itu?"
__ADS_1
"Tu-tuan." Alya menelan ludahnya kasar kala Marvel menatap seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Sementara Ayla yang sedang berbaring tertelungkup memutar bola matanya malas. "Mau apa lagi iblis ini?" batinnya.
"Tuan, apa pantas untuk seorang majikan menerobos kamar pelayannya?" protes Ayla kesal. Ia bangun pagi-pagi dengan tubuh remuk redam hanya ingin menghindar dari pria ini. Tapi malah Marvel yang datang sendiri mencarinya.
"Oh, kau cemburu?" balas Marvel langsung menghampiri sang istri. Pria itu mengulum senyum kala Ayla mendelik saat ia duduk di samping wanita itu.
"Kau mau apa?" tanya Ayla waspada sembari menurunkan kaos yang sempat ia singkap agar memudahkan Alya mengobati lukanya.
"Tentu saja menjemput istriku pulang."
"Cih, sejak kapan kau mengakuiku sebagai istrimu? Ei, kau mau apa? Lepaskan!" pekik Ayla saat Marvel mengangkat tubuh dan menggendongnya ala bridal style.
"Lepaskan aku pria bajiingan!"
"Apa kau perlu aku hukum lagi agar mulutmu ini bisa lebih sopan?"
"Ck, memangnya sopan tidaknya aku berpengaruh sama kamu? Tidak kan? Kau itu pria kejam yang akan melakukan apapun yang terpikirkan oleh otak busukmu itu."
"Kau begitu memahamiku sayang, aku jadi ingin memakanmu lagi?"
"Oh, tuan muda Prado. Mafia kejam, kau sudah gila ya?"
"Ya, aku gila karenamu?"
"Uwek."
Marvel mendelik saat mendengar suara yang seperti mengejeknya. Di depan sana ternyata berdiri tiga sahabatnya yang tengah memandangnya dengan tatapan jenaka. Eits, minus Morgan si wajah papan tentunya.
"Sejak kapan kau jadi budak cinta seperti ini?" ejek Enzo sembari menghampiri sepasang suami istri itu.
"Halo, aku Enzo Franklin. Sahabat suami tercinta mu ini," sapa Enzo sembari mengulurkan tangannya yang ditepis Marvel sebelum Ayla membalas.
"Aku Ayla Navara," sahut Ayla melepas belitan tangan sang suami dan meraih tangan Enzo sembari tersenyum. Sementara Enzo menaikkan-turunkan kedua alisnya sembari melirik ke arah tangannya yang tengah digenggam Ayla. Seakan membuat api yang bersarang di hati Marvel semakin berkobar.
Baru saja Marvel ingin menarik tangan sang istri, namun Ayla sudah lebih dulu melepas. Wanita itu lalu beralih pada Atlas yang berada di samping Enzo. "Ayla Navara."
"Atlas Wesley."
"Senang berkenalan dengan Anda," ujar Ayla sembari menunjukkan senyum manisnya.
"Dan kau?"
Morgan bergeming, pria itu tak menyambut tangan Ayla yang terulur. "Namanya Morgan Maverick. Jangan mengganggunya karena dia bisa membunuhmu kapan saja, lebih baik mengobrol dengan kami," ujar Enzo.
Ayla menaikkan sebelah alisnya, tatapan yang sempat mengarah pada Enzo kembali pada Morgan yang masih bergeming menatap padanya.
"Bukan kah dingin-dingin lebih menarik?" ujar wanita itu sembari tertawa renyah. Ia raih tangan dingin Morgan dan dengan tersenyum berkata, "Aku Ayla Navara, namamu bagus Morgan Maverick. Seperti wajah datar mu yang tampan ini."
Morgan tertegun, ini adalah pertama kalinya seorang wanita berani menyentuhnya. Biasanya setiap wanita akan ketakutan setengah mati jika berhadapan dengannya. Tanpa sadar ia membalas genggaman Ayla dan menarik sedikit sudut bibirnya tanpa diketahui siapapun termasuk Ayla.
__ADS_1
"Sudah cukup!" teriak Marvel yang sedari telah mengepal kedua tangannya erat.
"Kenapa? Mau mencekikku? Silakan," balas Ayla sembari mendongakkan kepalanya, seakan memberi Marvel ruang untuk mencekik leher yang penuh tanda merah itu.
"Wah, seru sekali," bisik Enzo pada Atlas.
Sementara Atlas menatap dengan seksama. Benar kata Enzo, ini mereka tengah disuguhi film sepasang kekasih yang tengah bertengkar.
"Kau!" geram Marvel. Wajahnya terasa mengerat karena kesal akan kelakuan sang istri yang tiba-tiba berubah. Tidak tahu saja, Ayla memang titisan Alice sang nona muda yang dingin, angkuh dan sedikit arogan. Walau sikap aslinya harus terkubur karena kekangan Marvel selama ini.
Namun sekarang tidak lagi, ia akan mulai melawan pria ini agar dirinya tidak terinjak-injak.
"Apa?" sahut Ayla dengan tatapan dingin dan penuh kebencian.
Deg.
Entah kenapa hati pria itu merasa mencelos kala menyadari tatapan kebencian itu. Tidak, Ayla-nya tidak boleh membencinya. Seketika ia berusaha untuk tersenyum, dengan lembut ia meraih tangan sang istri yang dihempaskan Ayla begitu saja. Dan wanita itu pergi tanpa sepatah katapun.
"Sepertinya kau harus lebih berusaha, Bro," nasihat Enzo sembari menepuk pundak sang kawan.
Marvel menatap datar, kemudian berlari demi mengejar sang istri yang telah menjauh.
"Lala!" panggil pria itu sembari mencekal pergelangan Ayla kuat.
"Aku bukan Lala," tegas Ayla kembali menghempas cekalan itu.
"Kau Lala, kau adalah Lalaku," teriak Marvel penuh emosi. Ya, emosinya yang meledak-ledak tidak bisa ditahan lagi saat wanitanya mengelak tentang identitasnya sebenarnya. Kedua tangan pria itu kini beralih mengguncang kedua bahu Ayla, lalu mencium paksa wanita itu meski Ayla terus meronta.
"Lepaskan, sakit!" lirih Ayla kala Marvel melepas pagutannya, membuat pria itu segera mengangkat kedua tangannya dan beralih memeluk wanitanya dengan sayang.
"Maaf, maafkan aku," bisiknya lembut di telinga sang istri.
Ayla tertegun, sejenak ia seperti tidak bisa berpikir. Benarkah pria kejam ini meminta maaf? Sungguh sebuah keajaiban Marvel bisa berubah dalam satu malam.
"Ayo, aku akan mengobati luka di punggungmu," ujarnya dengan lembut sembari melerai pelukannya dan beralih mengelus pipi kanan Ayla.
"Tidak perlu, aku hanya mau keluar sebentar."
"Mau keluar? Kemana? Biar aku antar."
"Aku ... aku mau melihat keadaan Genio," jawab Ayla, jujur saja ia sedikit takut Marvel akan kembali emosi dan kembali melampiaskan amarah padanya. Dan terbukti, wajah pria itu kini terlihat mengerat dengan kedua mata yang memancarkan kemarahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
Halo man-teman. Othor mau kasi tahu kalau mulai besok novel ini akan slow update karena libur othor udah abis T_T.
Terima kasih yang sudah mendukung, baik itu lewat like, comment, rate 5 bintang maupun hadiah. Apresiasi kalian sangat mengundang semangat othor untuk tetap lanjut menulis di kala sepi seperti ini.
Terima kasih 😘
__ADS_1
Salam hangat, Joy 🌼.
🌼🌼🌼🌼🌼