Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 42 ~ Ledakan


__ADS_3

Ayla mendelik mendengar teriakan Daisy. Terlebih pada pisau yang kini mengacung padanya. Wanita itu berbalik arah dan melangkah, menjauh dari Daisy yang sudah seperti orang gila.


"Mau lari kemana, hah?" ujar Lucio menghadang dengan tawa mengejek. Ayla terhenti sejenak, lalu berlari ke sebelah kiri yang tidak ada orang dengan kaki pincang. Lucio menarik sudut bibirnya, baru sadar bahwa Ayla memang semenarik itu.


"Jaalang, berhenti kau!" pekik Daisy lagi masih terus mengejar.


"Argh," pekik Ayla jatuh kala kakinya yang sakit menginjak sebuah gumpalan tanah yang keras.


"Haha, kau tidak bisa kabur lagi, jaalang." Ayla membalas tatapan mengejek itu dengan tajam.


"Kau masih bisa menunjukkan wajah sombong itu?" Daisy mendekat, sementara Ayla menyeret tubuhnya mundur.


"Bagaimana kalau aku merusak wajah yang selalu kau gunakan untuk merayu pria itu dulu?" tanya Daisy sembari memoles pisau dapur yang ia pegang.


"Ya, mungkin dengan begitu aku tidak akan tertarik padanya lagi," balas Lucio yang sudah berdiri di samping Daisy.


Daisy tertawa sinis, jijik juga dengan pria ini. Lihat saja, setelah membunuh Ayla maka giliran pria ini lah selanjutnya.


Sementara Ayla tengah berpikir keras, wajah wanita itu tegang sekali. Apalagi ketika Daisy sudah mengacungkan pisau yang ia pegang.


"Siap-siaplah, jaalang. Apa ada yang ingin kau kat ... akh, sialan! Tangkap dia Lucio!" pekik Daisy merasakan perih pada kedua matanya.


"Kau kira hanya kau yang kena? Mataku juga masih perih karena debu sialan itu."


"Sial!" teriak Daisy sembari terus mengucek matanya.


.


.


.


Di tempat lain.


Di dalam sebuah mobil, seorang pria tengah menarik sebelah sudut bibirnya. Matanya fokus pada tab yang menunjukkan rekaman di kamar Audi.


"Marvelio Prado," gumamnya sembari terkekeh saat melihat Marvel masuk ke sana dengan tergesa-gesa.


"Hahaha. Aku akan merenggut semua yang kau punya sama seperti saat kau merenggut kehidupanku." Pria itu terkekeh dan mengeluarkan sebuah remote control, lalu menekannya.


"Audi."


"Kakak, aku takut!" Tangis Audi pecah kala melihat sang kakak datang.


"Bagaimana benda ini bisa terpasang di tubuhmu?" Audi menggeleng, ia juga tidak sadar ada benda seperti ini di tubuhnya. Saat sang kakak memintanya masuk kamar, ia langsung tak sadarkan diri ketika seseorang memukul tengkuknya.


"Tuan, waktunya aktif ... 10 detik," ujar Kendrick dengan wajah tegang.


"Shiit, cepat keluarkan semua orang!"


"Tapi Anda dan nona Audi."


"Pergi!"


Kendrick terpaku, sejenak ragu kemudian berlari keluar ketika Marvel melayang tatapan elang.


"Kau harus tenang, oke?" Audi mengangguk, namun tangis tak juga reda kala sang kakak berusaha melepas ikatan bom di tubuhnya yang kini bergetar hebat.


8 detik.


7 detik.

__ADS_1


6 detik.


5 detik.


Marvel masih terus berusaha melepas ikatan itu sementara Audi mulai memejamkan matanya.


"Kak, lebih baik Kakak pergi saja!" ujarnya dengan suara bergetar.


Marvel bergeming, tangannya terus berusaha hingga detik ke-tiga ikatan itu terlepas dan ia melempar bom itu ke tempat tidur sang adik.


DUARRR.


Suara ledakan menggema diiringi teriakan para pelayan.


"Kakak," gumam Alya yang berada dalam pelukan Morgan dengan mata berkaca-kaca.


"Lepaskan saya!" pekiknya sembari memberontak.


"Tidak, kita harus keluar dulu!" tegas Morgan sembari terus menyeret tubuh gadis itu. Saat ini mereka masih berada di dalam mansion lantai satu. Sementara yang lainnya telah berhasil dikeluarkan.


"Tidak, kakak, tuan dan nona Audi masih berada di dalam."


"Mereka pasti selamat."


"Tidak! Lepaskan saya!" pekik Alya dengan mata merah menahan tangis.


"Alya."


"Kakak." Alya langsung melepas belenggu Morgan dan berlari ke arah sang kakak. Keduanya saling berpelukan dan menangis haru dengan penampilan acak-acakan.


DUARRR.


Ledakan kembali terdengar membuat Morgan dan Kendrick menarik kedua kakak beradik itu pergi.


"Tapi, Tuan." Kendrick ingin mengatakan sesuatu namun Morgan sudah berlari ke dalam. Sementara Alya hanya dapat menatap nanar kepergian pria yang selama ini mengganggunya.


.


.


.


Kembali ke dalam hutan, anak buah Marvel tengah mencari keberadaan sang nyonya.


"Nyonya Ayla," teriak para pengawal berulang kali. Ada yang fokus menggunakan teropong, ada juga yang mengendalikan drone.


"Tunggu, apa kau mendengar suara ledakan?" tanya seorang pengawal yang diangguki sang rekan. Baru saja mereka ingin melanjutkan pembicaraan, seseorang datang dan membuat keduanya segan.


"Bagaimana? Apa sudah menemukan jejak?" tanya pimpinan mereka yang dijawab dengan gelengan kepala.


"Kerahkan semua drone yang kita punya!" titah pengawal yang sudah tak muda itu lagi. Ia adalah Harley Shelby, sang kepala pengawal sekaligus ayah si kembar Agya dan Alya.


"Baik, Tuan." Keduanya pun langsung fokus kembali dalam pencarian hingga beberapa saat kemudian terlihat seorang pria berlari menghampiri mereka.


"Tuan," teriak pria itu.


Harley menyipitkan matanya, menatap pria itu tajam.


"Tuan, terjadi ledakan beruntun di dalam mansion." Pria itu terengah, menarik napas dalam-dalam setelah berlari cukup jauh.


"Apa?"

__ADS_1


"Tuan Marvel dan nona Audi masih terperangkap di dalam sana."


Harley mengepalkan tangannya dengan erat. "Sebagian ikut saya kembali, sebagian lagi lanjutkan pencarian nyonya muda!"


"Baik, Tuan."


...


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Ayla berhenti sejenak setelah berlari cukup lama.


"Apa Tuhan memberiku kesempatan untuk kabur dengan cara seperti ini?" gumamnya mengingat bahwa memang tidak mudah bisa keluar dari sarang emas itu seperti sekarang.


Hah, memikirkan itu kenapa ia merasa sedikit tidak rela? Apalagi hari ini ia sama sekali tidak melihat wajah sang suami yang entah kenapa menurutnya semakin tampan beberapa hari belakangan. Lamunan itu buyar ketika sayup-sayup ia mendengar suara ledakan.


"Suara apa itu?" batinnya.


"Ayla Navara! Jaalang sialan, di mana kau, hah?" sebuah teriakan menggema membuat Ayla tersentak.


"Cepat juga mereka sudah sampai ke sini," gumamnya kemudian kembali berlari sembari menengok ke belakang. Tanpa sadar bahwa ia menginjak sesuatu.


Akh, Ayla menutup mulutnya sendiri kala melihat Daisy dan Lucio sampai di tempat berdirinya tadi.


"Sial, cepat juga larinya."


"Ini semua karena kau, andai saja kau tidak terbuai dengan kecantikannya dan bisa menangkapnya, kita tidak akan kehilangan jejak jaalang itu."


"Kau menyalahkan ku sekarang?"


"Ya, semua memang salah mu!"


"Sialan kau ... kau bilang dia ******? Aku rasa kau lah yang jaalang. Kau kira aku tidak tahu, hah? Kau ada main dengan pria lain lagi kan?"


"Ma-mana ada, kau jangan mengada-ada ya!"


Lucio tertawa sinis. "Aku pernah melihatmu bersama seorang pria bertubuh besar. Apa itu bos kita? Haha, tapi itu tidak mungkin, bos kita pasti seleranya tinggi. Bukan jaalang sepertimu."


"Kau! ... Hah, ya aku memang jaalang, dan kau juga menikmati tubuh jaalang ini kan?" Daisy tertawa sinis dan Lucio tertawa tidak percaya.


Sret.


Mata Lucio melebar kala sebuah pisau hampir tertancap di tubuhnya. Untung saja ia berhasil menghindar.


"Sebelum membunuh wanita itu, aku akan membunuhmu terlebih dahulu. Argh." Daisy menyerang membabi buta, menusuk dengan arah acak dan Lucio terus menghindar.


"Jaalang, hentikan atau kau yang aku bunuh!" pekik Lucio sembari berusaha merebut pisau itu.


Jleb.


Ayla menutup matanya rapat menyaksikan pertengkaran itu. Keringat bercucuran di wajah cantiknya dan segera ia lap menggunakan tangan karena tidak ingin keringat itu jatuh menimpa mereka yang berada tepat di bawahnya.


Ya, Ayla terperangkap ke dalam sebuah jaring dan kini tengah bergelantungan di atas sebuah pohon besar.


"Hahaha, lihatlah! Lihatlah Ayla!" teriak Daisy sembari tertawa iblis.


"Kau lihat, bahkan rekanku sendiri tega aku bunuh. Selanjutnya adalah kau, Ayla Navara. Kalau kau keluar sekarang mungkin aku akan langsung membunuhmu dan mengurangi rasa sakit yang harus kau rasakan. Keluar kau jaalang!" lanjut wanita itu berteriak dengan histeris seperti orang gila.


Sementara Ayla masih menutup mulutnya sendiri, tak ingin diketahui keberadaannya oleh iblis wanita itu. Terlihat Daisy bangkit setelah memastikan bahwa Lucio benar-benar tak bernapas lagi. Wanita itu mundur teratur kemudian tanpa sengaja menginjak jebakan yang sama dengan Ayla.


"Akh."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2