
Rumah Sakit Mitra Medistra.
Audi tengah meniup sesendok bubur yang akan ia suapkan pada Genio.
"Aaa," ujarnya sembari mempraktekkan bagaimana mulutnya yang terbuka lebar, seakan meminta Genio untuk melakukan hal demikian.
Namun tak lantas Genio langsung menerima, pria itu menatap sang majikan dengan tatapan aneh. Tidak dapat dipungkiri bahwa ia sedikit terharu, majikan galak dan arogannya ini mau datang bahkan merawat dirinya. Lama-lama ia jadi ingat sosok Kiara lagi.
"Buka mulutmu! Kenapa melihatku seperti itu?" bentak Audi sembari terus menyodorkan bubur yang berada di tangannya.
Genio tersentak, mendadak menjadi melow. Tanpa sadar air mata menetes dari kedua sudut matanya.
"Hei, kenapa malah menangis? Aku tidak melakukan apapun loh?"
Genio menggeleng, mengangkat lengan kanannya untuk menghapus ingus kemudian memasang senyuman lucu kala melihat kepanikan dan ekspresi jijik Audi.
"Kau ini pria atau bukan sih?"
"Tentu saja aku pria," balas Genio tak terima.
"Kalau pria suasana hati mu tidak akan mudah berubah seperti itu."
"Aku memang begitu kalau sedang sakit."
"Haish, sudahlah. Sekarang cepat makan!"
Akhirnya pria itu mau juga membuka mulutnya. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut pria itu hingga kini piring yang berada di tangan Audi telah tandas isinya. Gadis itu lantas tersenyum kecil melihat pacar pura-puranya itu makan dengan lahap.
Namun di balik senyum itu Genio menangkap gelagat aneh. Seperti ada rasa takut-takut dari sorot mata gadis itu.
"Nona sendiri? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Hah? Apa?" Audi terkejut. Pada dasarnya di dalam hati ia memang sedang ketakutan kakaknya akan datang kemari.
"Hem, ti-tidak ada kenapa-napa," elaknya kemudian dengan wajah yang dibuat-buat baik-baik saja.
"Jangan berbohong, Nona. Apa yang sudah terjadi? Nona bisa bercerita pada saya." Entah keberanian dari mana Genio bisa berbicara seperti itu. Namun Audi juga tidak tidak marah-marah seperti biasanya. Justru kedua netra gadis itu mulai nampak berkaca-kaca.
Akhirnya pertahanannya runtuh setelah Genio bertanya dan mengulik masalah terpendamnya. "A-aku sudah melakukan kesalahan," akuinya di antara tangis yang mulai sesenggukan.
Sementara Genio tercengang, tak menyangka gadis yang selalu tampak keras itu bisa menangis deras juga. Pria itu jadi bingung sendiri, bagaimana cara untuk menghibur gadis itu sementara badan ia sendiri saja sulit digerakkan.
"Sudah, Nona. Jangan menangis lagi. Memangnya Nona melakukan apa sampai membuat Nona sesedih itu?" Akhirnya hanya mulutnya yang bisa bergerak leluasa meski ujung bibir yang terbogem pun terasa pedih.
"Aku sudah mencelakai kak Ayla."
__ADS_1
"Apa? Aww," pekik Genio yang tidak sadar langsung duduk tegak sehingga merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Hei, hati-hati. Luka cambuk di punggungmu itu sangat parah," ujar Audi sembari membenarkan kembali duduknya pria itu dengan bersandar pada bantal putih khas rumah sakit. Gadis itu masih sesekali menghapus jejak air mata yang mengalir di kedua sudut matanya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Ayla?" tanya Genio dengan tatapan penuh selidik. Bahkan kini ia berbicara tanpa embel-embel nona lagi.
"Huaa, kenapa kau malah membentakku?"
"Eh, bu-bukan begitu maksud saya."
"Hiks, hiks. A-aku tidak bermaksud membuatnya menjadi seperti itu."
"Memangnya ...."
"Kau dengarkan ceritaku dulu!"
"Baiklah, baiklah," balas Genio sembari duduk diam dengan tatapan lurus pada sang majikan.
"Aku memang ingin dia celaka, aku pikir aku akan puas setelah melihatnya menderita. Seperti saat aku yang sangat kehilangan setelah kakak keduaku meninggal."
Baru saja Genio ingin membuka mulutnya, Audi sudah mendelik. "Sudah aku bilang, dengarkan aku dulu!" ujarnya dengan galak namun air matanya menetes.
Sementara pria itu hanya bisa mengangguk patuh. "Menangis saja masih seperti singa galaknya," batin pria itu.
"Tapi setelah melihat dia dalam keadaan seperti itu, aku merasa bersalah. Sangat bersalah, hiks." Lagi, gadis itu kini menangis semakin deras. Dan Genio bingung, ingin menenangkan dengan cara memeluk ia tidak punya keberanian pada singa wanita ini.
"Memangnya ...."
Genio menarik napasnya, ia sudah sangat penasaran dengan keadaan kawan baiknya itu dan malah tidak diizinkan bertanya. Mana tukang ceritanya setengah-setengah lagi.
"Awalnya aku hanya ingin menggantikan kakak untuk memberinya pelajaran, saat itu kakak harus pergi karena ada pekerjaan tiba-tiba. Aku juga marah karena dia, kau jadi seperti ini."
"Tunggu, saya seperti ini bukan karena nona Ayla loh."
"Diam!"
"Tidak bisa, Nona. Saya harus meluruskan kesalahpahaman Nona terhadap nona Ayla. Lagian kenapa Nona harus marah saat saya terluka?"
Untuk sejenak Audi kehilangan kata-kata. Benar juga, untuk apa ia marah?
"Aku tahu, aku tahu. Aku yang salah. Untuk hal kenapa aku marah, tentu saja aku marah. Kau kan sopirku, aku jadi tidak bebas kemana-mana saat kau sakit seperti ini ... Jadi kau masih mau dengar ceritaku tidak?"
Genio mengangguk. Alasan Audi terdengar masuk akal untuk ia terima, terlebih ia juga masih ingin mendengar kelanjutan cerita gadis itu.
"Kalau begitu diam lah!"
__ADS_1
Lagi-lagi pria itu mengangguk.
"Jadi aku benar-benar meminta beberapa pengawal untuk mengurung kak Ayla di sebelah kandang seekor singa dan seekor macam kumbang."
"Apa? Kau benar-benar gila," ujar Genio tak habis pikir.
"A-aku tidak memikirkan konsekuensinya. Aku pikir aku akan senang jika dia celaka. Tapi saat melihat tubuhnya penuh darah bekas cakaran membuat aku merasa sangat menyesal dan bersalah, hiks."
Audi menangis pilu setelah mengeluarkan seluruh keluh kesah nya. Sementara Genio menatap kosong, khawatir mendera kala memikirkan bagaimana nasib Ayla sekarang. Pikiran pria itu jadi buntu, jujur saja sejak menjadi Genio kembali sifat pecicilannya jadi hilang entah kemana.
Pria itu bahkan tidak menghibur gadis yang sedang sesenggukan dengan tubuh bergetar di depannya. Pikirannya penuh dengan Ayla sekarang.
"Aku harus melihat keadaan Ayla," gumamnya sembari menggerakkan tangannya untuk mencabut selang infus di tangannya.
"Kau mau apa?" pekik Audi menangkap tangan Genio.
"Aku harus melihat keadaan Ayla," bentaknya tanpa sadar.
Sejenak Audi menatap diam. Tak percaya juga sang sopir akan sekhawatir itu pada sang kakak ipar.
"Kau masih belum sehat, setelah kau sehat aku akan membawamu kembali."
"Tidak bisa, aku harus melihat keadaannya sekarang." Genio memberontak
"Dengan keadaanmu yang seperti ini? Bahkan sebelum kau masuk gerbang mansion kau sudah akan tumbang duluan."
Akhirnya Genio berangsur diam, pria itu menarik napasnya kasar. Merasa tak berguna karena tidak bisa melakukan apa-apa. "Aku yakin keadaan kak Ayla baik-baik saja sekarang. Justru aku yang akan tidak baik-baik saja nantinya."
Gadis itu mendongak demi melihat reaksi khawatir serupa yang ditunjukkan Genio. Namun ia harus menelan kekecewaan kala melihat wajah pria itu yang datar.
"Apa kau tidak akan khawatir padaku?" tanya gadis itu sendu.
Genio mengerutkan keningnya. Memangnya apa yang perlu dikhawatirkan dari gadis keras kepala ini? Bahkan melakukan kesalahan seperti apapun, Genio yakin Marvel tidak akan menghukumnya. Karena dapat pria itu lihat bahwa Marvel sangat menyayangi adiknya itu.
Namun pemikiran itu seketika buyar kala pintu ruangannya dibuka dengan kasar. Lebih lagi ketika seseorang muncul dari belakang beberapa pengawal berpakaian hitam itu.
"Audi Azera, pulang sekarang!" ujar Marvel dengan tatapan dingin menghujam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
Halo semuanya, maaf ya othor lama ngga update. Soalnya lagi sibuk di real life dan kemarin juga othor lagi sakit.
Makasih ya untuk yang masih setia pantengin cerita receh ini.
__ADS_1
Salam hangat, Joy 🌼
🌼🌼🌼🌼🌼