Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 13 ~ Silent Sparta


__ADS_3

"Kak Lio," pekik Lala sembari berlari ke arah anak laki-laki yang berjarak beberapa meter di depannya.


Langkah Lio terhenti, begitu juga dengan Genio yang berjalan beriringan dengan anak laki-laki itu.


"Kak Lio, aku mau bilang terima kasih," ujar gadis kecil itu dengan napas terengah-engah. Kedua tangannya terulur dengan satu tangkai bunga dandelion di dalam genggaman.


Lio tersenyum, ia terima bunga dandelion itu dengan senang hati. "Boleh aku bertanya?" ujarnya menatap pada dandelion yang telah berpindah tangan.


"Ya," jawab Lala antusias.


"Kenapa kamu memilih bunga dandelion yang liar, daripada semua bunga indah yang tumbuh di halaman ini?"


"Kakak mau tahu alasannya?"


"Tentu saja, aku juga penasaran." Bukan Lio yang menjawab, melainkan Genio yang sedari tadi berdiri di samping mereka.


Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, bulu-bulu dandelion otomatis berterbangan menerpa mereka. Tak terkecuali dandelion yang berada di tangan Lio.


Para anak-anak terlihat bahagia, ada yang berlari kesana kemari untuk menangkap bulu-bulu itu. Ada yang menghampiri tumbuhan itu untuk ikut meniup bulu-bulunya hingga terlepas sempurna menyisakan batang.


"Hey, lihat bunganya berhamburan semua. Sisa batangnya saja," ujar Genio sembari menunjuk batang bunga dandelion yang digenggam Lio.


Lio menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kamu memberiku bunga serapuh ini?"


Lala tersenyum, angin yang kencang membuat surai cokelatnya terbang ke sembarang arah. Gadis kecil yang sangat cantik.


.


.


.


Waktu terlewati, ternyata butuh waktu lama untuk menjinakkan monster yang menyatu dengan dirinya.


Sampai di tempat tujuan, waktu sudah menunjukkan jam 3 sore. Marvel turun dari mobil kesayangannya. Sebuah mobil limited edition yang hanya ada tiga di dunia. Sempat menjadi mobil paling mahal pada masanya sampai perusahaan yang sama mengeluarkan tipe terbaru yang hanya ada 1 unit di dunia.


Marvel melangkah dengan lebar hingga terdengar suara hentakan sepatu pantofel yang saling bersahutan. Tiba di sebuah pintu, pria itu sedikit menunduk dan otomatis iris scanner memindai kedua iris matanya.


Tit.


Pintu terbuka lebar, namun pria itu masih belum sampai di tempat tujuan. Kedua kakinya masih terus melangkah, hingga beberapa pintu dengan ruangan berbeda terlewati.


Dan tibalah di pintu terakhir sebelum masuk ke ruangan utama. Kali ini ia menekan sebuah kode, lalu memindai sidik jari dan terakhir kembali memindai iris mata.

__ADS_1


Perlahan pintu itu terbuka. Terlihat tiga orang pria telah menunggu di sana. Satu sedang menyesap minuman, satu sedang sibuk dengan laptop, sedangkan satunya berdiri dan menyambut kedatangannya.


Mereka adalah Silent Sparta. Terdiri dari 4 anggota inti, yang merupakan mafia keji dengan kemampuan di bidang masing-masing yang terkenal luar biasa.


Sama seperti nama organisasi mereka, Silent yang berarti diam dan Sparta yang merupakan nama sebuah kota penting yang dalam perkembangannya menjadi sangat kuat dan berkuasa. Mereka adalah empat serangkai yang terkenal pendiam namun tak terkalahkan.


Kembali pada salah anggota yang berdiri dan menyambut kedatangan Marvel.


"Hey, Bro. Butuh waktu lama sekali kau kali ini? Apa mainan barumu itu sangat menarik?" ujarnya sembari merangkul bahu sang sahabat.


Marvel menepisnya. "Tidak perlu basa-basi, aku bosan dengar celoteh kalian."


"Ck, ck, ck." Pria yang bernama Atlas Wesley itu mendecak kesal.


"Kau benar-benar teman laknat yang tidak tahu terima kasih."


"Hahaha, santai Bro," sahut pria yang tadi menyesap minuman, namanya Enzo Franklin.


"Gan, berikan yang dia mau," pinta Enzo pada pria yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.


Pria bernama lengkap Morgan Maverick itu mendongak. Seketika aura dinginnya menguar bahkan lebih-lebih dingin dari Marvel.


"Lihatlah sendiri," ujar pria itu sembari menggeser laptopnya. Marvel lalu duduk di sebelahnya, mengamati dan membaca informasi yang telah Morgan kumpulkan.


"Selama bekerja di perusahaan penyalur tenaga kerja, mereka adalah teman yang baik. Hari itu mereka duduk bersama, masih saling bercanda dengan seisi bus yang memang kenal baik dengan mereka. Hingga bus itu kehilangan kendali dan menerobos lampu merah di persimpangan. Kau tahu sendiri bus itu berakhir menabrak sebuah truk tangki BBM yang menyebabkan ledakan besar hingga seisi bus itu hanya dua orang yang selamat."


Mendengar penjelasan Morgan, Marvel semakin mengepalkan tangannya. "Artinya, Lala ku sudah tiada?" tanyanya dengan pandangan yang masih lurus ke arah laptop.


"Tidak dapat dipastikan, mereka duduk di tempat yang sama," balas Morgan sembari menatap Marvel.


"Jelas-jelas yang selamat adalah Ayla Navara," sahut Marvel masih dengan pendiriannya. Pria itu mengusap wajahnya dengan frustasi.


Morgan hanya menjawab dengan menaikkan sebelah alisnya. Sementara Atlas dan Enzo hanya menjadi pendengar di antara mereka.


.


.


.


Di dalam kamarnya, Ayla sedang meringkuk di kasur tipis yang menjadi tempat tidurnya. Tampak kedua mata gadis itu masih sembab dengan tatapan yang kosong.


"Aku harus pergi dari rumah ini," tekadnya di dalam hati.

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya? Penjagaan rumah ini sangat ketat." Meski memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni ia juga tidak bisa mengalahkan bodyguard sebanyak itu.


Gadis itu lalu mengambil posisi duduk dengan kesal, tatapannya beralih pada makanan yang tadi diantar oleh Alya. Namun ia merasa tidak punya nafsu sama sekali, justru tumpukan kertas HVS yang lebih menarik perhatiannya.


Ia raih tumpukan kertas dan mulai membacanya. Halaman pertama berisi apa saja yang harus dilakukan apabila bekerja di rumah ini.


"Ini untuk pelayan," gumam Ayla miris. Ia tarik napas dan mengeluarkannya. Lalu tertawa kecil. "Memangnya kamu kira akan benaran dianggap sebagai istri? Tentu kamu tidak lebih dari seorang pelayanan, bahkan kamu diberi kamar yang lebih buruk dari seorang pelayan," gumamnya lagi, berargumen seorang diri.


Entah kenapa meski merasa ia tidak butuh diakui, tapi hatinya merasa sakit ketika mengingat ia sama sekali tidak dianggap.


Gadis itu lalu lanjut membaca, satu per satu halaman terlewati hingga tiba di halaman apa saja yang dilarang untuk dilakukan. Termasuk dalam aspek makanan.


"Jagung?" gumam Ayla. Sekelebat bayangan memenuhi pikirannya kala mengingat bahwa ia juga alergi pada jagung, padahal dulunya sup jagung adalah makanan favoritnya.


"Apa dia juga alergi jagung? Tapi kenapa dia tampak baik-baik saja, bahkan masih bisa mengancamku," gumamnya lagi, namun mencoba untuk abai dan melanjutkan untuk membaca.


Tok, tok, tok.


"Ayla, apa aku boleh masuk?"


"Masuklah, Kak!"


"Hey, kenapa kamu tidak makan?"


"Aku tidak lapar, Kak." Ayla terlihat acuh tak acuh, membuat Alya jadi sebal sendiri.


"Letakkan ini, ayo kita keluar untuk makan malam!" ujar gadis itu dengan garang, sembari merebut kertas HVS yang ada di tangan Ayla.


"Tapi ini sisa sedikit lagi aku selesai membacanya."


"Sudah! Nanti saja bacanya. Sekarang kamu makan dulu. Kamu ini baru keluar rumah sakit loh, nanti kalau sakit lagi bagaimana." Mendengar perhatian Alya membuat rasa hangat menjalar ke hati gadis itu.


Dengan patuh dan tersenyum hangat ia mengikuti langkah Alya yang menuntunnya ke arah dapur.


Sementara Audi yang baru saja selesai mandi setelah pulang dari panti asuhan bersama Darier, berniat ke dapur untuk mengambil air minum.


Seketika pandangannya mengarah pada Ayla yang sedang makan bersama Alya dan beberapa pelayan lainnya. Gadis itu lalu tertawa sinis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2