Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 37 ~ Menjadi Chef Untuknya


__ADS_3

Suasana dapur menjadi tegang sejak sang tuan rumah masuk ke sana. Selama ini, Marvel bahkan tidak pernah menginjakkan kaki ke ruang masak di mansionnya sendiri.


"Sebenarnya tuan mau apa?" bisik seorang pelayan pada chef yang berdiri di sebelahnya.


Chef itu hanya mengangkat kedua bahu, tak tahu juga apa alasan sang majikan sampai mau masuk ke area yang paling ia anti itu.


"Katakan bagaimana caranya memasak bubur!" Sebuah titah keluar begitu saja setelah agak lama pria itu menatap peralatan dapur yang benar-benar asing di matanya. Rasanya ia lebih baik disuruh mengidentifikasi jenis senjata api daripada alat-alat dapur yang bentuknya aneh itu.


Awalnya ia juga ingin melakukan semuanya sendiri saja tanpa bantuan orang lain. Namun saat ingin masak bubur untuk sang istri tercinta saja ia tidak tahu harus memulai dari mana.


"Tuan mau bubur? Kalau begitu akan saya buat ...."


"Saya bertanya cara membuat, bukan minta dibuatkan," tegas Marvel sembari memotong perkataan chef pria itu dengan tatapan tajam.


Glek.


Susah payah chef itu menelan ludahnya. Namun ia tetap memberanikan diri untuk mendekati sang tuan.


"Per ... pertama-tama, tuan harus mencuci berasnya terlebih dahulu.


"Berapa beras yang diperlukan?" tanya Marvel yang tetap saja membuat suasana dapur semakin tegang. Pasalnya penampakan ini benar-benar di luar nalar.


"Hei, apa segini cukup?" tanya Marvel sembari menunjuk tempat pencuci beras yang penuh. Hampir saja chef dan beberapa pelayan di sana menyemburkan tawa jika tidak mengingat bahwa sang majikan adalah Marvelio Prado yang tidak boleh disinggung sedikitpun. Jadilah mereka hanya bisa menahan saja, sembari mengamati tingkah lucu sang tuan yang terus bertanya ini dan itu pada sang juru masak.


"Ada apa ini?" tanya Alya yang melihat para pelayan berkumpul di depan dapur.


"Sstt, Tuan Marvel ada di dalam."


"Tuan? Ada di dalam?"


"Iya, tuan sedang memasak untuk nyonya Ayla. Aaa, majikan kita memang sangat tampan," ujar salah satu dari mereka tanpa menoleh pada Alya. Kedua matanya tetap fokus pada Marvel yang sedang serius memasak itu.


"Astaga, colok saja matamu itu. Tuan Marvel itu hanya milik nyonya Ayla saja," ketus Alya yang merasa tidak senang dengan mata jelalatan milik sang rekan kerja.


Mendengar nada suara Alya yang ketus membuat sang rekan menatap takut. Walaupun sama-sama disebut pelayan, tentunya Alya beserta keluarga memiliki derajat yang lebih tinggi. Hal ini yang membuat pelayan lain lebih segan pada mereka, walau ada rasa iri tercipta.

__ADS_1


Setelah rekan-rekannya ia bubarkan, Alya yang sekarang menatap sosok sang majikan yang terlihat sangat ulet belajar masak itu.


"Tuan memang terlihat sangat tampan," gumam lirih gadis itu.


"Tapi semua tentang tuan hanyalah milik Ayla," lanjutnya di dalam hati dengan penuh senyuman. Gadis itu sangat senang karena tuannya mau belajar berubah demi sang istri.


"Kau bilang apa, tadi?" bisik seseorang yang membuat Alya terlonjak kaget.


"Akh, hmm," pekiknya tertahan kala Morgan menutup mulut gadis itu dengan tangan kanannya dan menariknya pergi dari sana. Sementara Marvel yang sekilas melihat itu hanya menggeleng saja, tak menyangka juga ternyata sahabatnya yang paling kaku itu bisa jatuh cinta.


Tapi ia juga tidak bisa menertawakan sang sahabat, karena ia sudah merasakan betapa rumitnya perasaan yang disebut cinta itu.


"Kak," panggilan lirih itu mengalihkan atensi Marvel yang sibuk mengaduk bubur yang sudah hampir jadi.


Pria itu menatap tajam sang adik yang berjalan perlahan ke arahnya. Audi yang sebelumnya telah membulatkan tekad meminta maaf jadi ciut kembali setelah melihat tatapan elang itu.


"Em, Kak."


"Ada apa?" tanya Marvel sembari kembali sibuk pada urusannya. Sekarang ia sedang memotong daging yang akan ia jadikan topping bubur spesial yang tengah ia buat.


"Jika kau di sini hanya untuk membujuk kakak agar membiarkanmu bebas berkeliaran lagi, maka silakan kembali ke kamarmu karena kakak tidak akan memberimu izin," tegas Marvel tanpa menatap sang adik.


Audi menggeleng, ia datang bukan untuk itu. Ia datang untuk meminta maaf pada sang kakak, juga untuk menebus kesalahannya pada sang kakak ipar. Gadis itu sadar, kebenciannya selama ini sebenarnya tidak beralasan. Sekarang malah ia jadi bingung sendiri, kenapa ia bisa sangat membenci Ayla padahal dipikir-pikir kakak iparnya itu juga tidak bersalah dalam pembunuhan kakak ke-duanya.


"Aku bukan mau minta itu, aku hanya mau minta maaf. Pada Kakak dan pada kak Ayla. Aku menyesal, jadi aku mau menebusnya sekarang," lirih Audi sembari memilin jari tangan, gadis itu menurunkan pandangannya kala Marvel menoleh dengan tatapan menghunus.


Marvel menghela napasnya kasar, sebenarnya semua juga bukan sepenuhnya salah Audi. Ia juga turut bersalah karena terlalu memanjakan sang adik, terlebih karena kelakuannya juga terbilang buruk pada Ayla membuat sang adik berspekulasi sendiri bahwa ia pun boleh melakukan hal yang sama.


"Kakak iparmu sedang sakit, jadi kau jangan mengganggunya dulu," ucap pria itu akhirnya. Suaranya juga mulai agak melunak.


"Tapi, Kak. Aku mau minta maaf pada kakak ipar," ujar gadis itu yang memang belum tahu bagaimana keadaan Ayla sekarang.


"Nanti kau ikut kakak. Lihat sendiri bagaimana hasil perbuatanmu yang tidak berpikir sebelum bertindak itu," balas Marvel sembari menyiapkan bubur ke dalam mangkuk. Pria itu bahkan tidak yakin sang istri mau menemuinya atau tidak. Apalagi Audi yang notabene adalah akar penyebab trauma Ayla.


Audi mengangguk senang, gadis itu mengekor di belakang punggung sang kakak sembari terus membatin kata-kata permintaan maaf yang pas untuk sang kakak ipar. Sesekali ia tersenyum, membayangkan jika nanti hubungan mereka yang membaik. Ia akan punya kakak ipar yang menyenangkan.

__ADS_1


Namun bayangan itu buyar sudah saat Marvel membuka pintu kamar Ayla dan baru memanggil Lala, malah sebuah bantal melayang ke arah mereka. Membuat bubur yang sudah susah payah dibuat oleh sang kakak jatuh berhamburan di atas lantai.


"Waduh, berani sekali dia. Kakak pasti bakal ngamuk nih," batin Audi yang sudah siap-siap mau kabur.


Namun niat itu urung saat Marvel mengembangkan senyum dan berjalan perlahan sembari membujuk sang istri yang tengah berteriak serak itu.


"Sayang," panggil Marvel namun juga tak berani berada di posisi sangat dekat dengan Ayla. Takut juga sang istri akan histeris dan malah menyakiti diri sendiri.


Sementara Audi yang takjub masih terpaku di depan pintu kamar. "Luar biasa," gumamnya.


Tapi gadis itu bingung juga, ada apa dengan kakak iparnya yang biasanya tampak dingin itu?


"Pergi ... pergi!" pekik Ayla dengan wajah takut. Air mata terus mengalir dari kedua sudut matanya.


"Sayang, aku mohon maafkan aku," ujar pria itu yang membuat Audi semakin terpanah.


"Tidak, aku bilang pergi!" Kembali Ayla berteriak, sembari terus mundur hingga ke ujung tempat tidur.


Marvel yang melihat itu sontak langsung berlari dan memeluk tubuh sang istri sebelum jatuh mencium lantai.


"Pergi!" pekik Ayla sembari mendorong dan terus memberontak dalam pelukan sang suami yang sepertinya sengaja memeluk dirinya semakin erat.


"Lepaskan aku, pergi!"


Marvel bergeming, jujur saja sikapnya yang otoriter mendarah daging itu tak bisa menerima penolakan ini. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk menunjukkannya, kondisi sang istri saat ini adalah butuh pengertian dan perhatian darinya. Bukan sikap pemaksanya.


Pria itu terus memeluk sang istri, satu tangannya terangkat untuk mengusap lembut rambut Ayla. Sembari membisikkan sesuatu untuk menenangkan sang wanita itu. Namun Ayla tetap saja memberontak.


"Sebenarnya wanita macam apa yang kau nikahi ini, Lio?"


Hingga sebuah suara lantang menginterupsi interaksi mereka. Audi yang terkejut segera menyingkir kala melihat siapa yang berdiri di di belakangnya.


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2