
"Lalaku," batinnya lagi dengan hati bergemuruh.
Bodoh sekali ia bisa lupa akan tanda lahir unik itu. Pegangannya pada cambuk pun melonggar, ia buang begitu saja alat itu di lantai.
Bergerak cepat untuk meraih tubuh ringkih yang sedang memeluk pria lain itu. Sebuah gerakan tiba-tiba yang membuat semua orang di sana membulatkan matanya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" pekik Ayla meronta. Sungguh ia tidak terima dipeluk pria berhati kosong itu.
Namun belenggu pria itu begitu erat, bahkan membuat pelukannya pada Genio terlepas begitu saja. Di detik berikutnya, tubuhnya terasa terseret bangkit. Marvel tersenyum haru kala melihat bekas luka di belakang daun telinga kanan gadis itu.
"Apa yang kau lakukan bajiingan, lepaskan aku! Genio masih terbaring tak berdaya di sana," teriaknya berusaha melawan.
"Bukankah kita seperti sedang live streaming?" ujar Enzo sembari tersenyum jenaka.
Skala mengedik. "Sepertinya menarik."
Sementara Morgan tetap pada aura dinginnya. Sama sekali tak terpengaruh ataupun punya keinginan untuk menimpali ucapan sang kawan.
Ayla meronta, menggerakkan kakinya asal namun tetap dapat pria itu sangkal. Matanya mendelik kala melihat perban di lengan pria itu, tanpa berpikir panjang, tangannya yang bebas bergerak cepat meninju luka itu.
"Argh, kau!" geram Marvel, refleks pula melonggarkan sedikit belenggu tangannya hingga gadis itu bisa melepaskan diri.
"Genio, bertahanlah!" ujar Ayla penuh kekhawatiran, luruh sudah air matanya. Pandangannya beralih pada dokter wanita yang berdiri bagai patung di sana, tampak sorot matanya begitu ketakutan.
"Kau dokter kan? Bagaimana bisa kau membiarkan seseorang sekarat di depan matamu? Cepat selamatkan dia!" teriaknya lagi sebelum tubuh mungil itu kembali terbelenggu sang tuan kejam.
"Kau dokter, ingatlah akan sumpahmu!"
Dokter itu tergerak, kakinya mulai melangkah dengan pasti.
"Sekali kau menyelamatkan hidupnya, maka hidupmu yang akan menghilang," ancam Marvel membuat langkah wanita itu kembali terhenti.
"Kau pria laknat, lepaskan aku! Akhh, lepaskan!" Air mata semakin deras membasahi kedua pipi mulus Ayla.
Marvel mengencangkan belitan kedua tangannya. Membuat tubuh Ayla benar-benar menempel pada dada bidang pria itu.
"Dia akan selamat jika kau menuruti perintahku, Sayang," bisiknya sensual, napas hangat sengaja ia hembuskan ke leher Ayla hingga gadis itu bergidik.
"Bajingan, aku tidak sudi menurutimu!"
Marvel memberi kode pada Kendrick.
Bugh.
"Argh."
"Gen."
"Akh."
Ayla memejamkan matanya, meresapi semua benci pada pria yang tengah memeluknya saat ini. Sementara para pelayan yang melihat pun tak bisa berbuat banyak. Meski Genio baik, tapi nyawa mereka sendiri lebih penting.
"Untung saja Alya bodoh itu sudah ku kurung di dalam kamarnya," batin Agya yang merasa jika adiknya hadir maka akan membuat masalah.
__ADS_1
Bugh, bugh.
"Genn, lepaskan aku! Arghhh. Lepaskann!" Ayla menjerit, sungguh pilu jeritan gadis itu. Air matanya semakin luruh bagaikan sungai yang mengalir.
"Aku akan menurutimu, lepaskan dan selamatkan nyawanya, a-ku mohon." Menyerah, akhirnya gadis itu menyerah. Ia tidak bisa membiarkan pria yang mengisi hari-harinya yang suram selama disini mati begitu saja.
"Kau yakin?"
Ayla mengangguk, tubuhnya lemas karena terlalu banyak berteriak.
"Ja-ngan tu-rut-ti di-a Ay-la," ujar Genio dengan susah payah, kesadaran pria itu sudah nyaris hilang.
"Tugas pertama mu adalah menjadi istriku seutuhnya, kau sanggup?" bisik Marvel lagi.
Deg.
Ayla mengepalkan erat kedua tangannya, pikirannya benar-benar kacau. Melihat keraguan sang istri, Marvel kembali memberi kode lagi dan Kendrick siap melayangkan tendangannya.
"Stop! Ya, a-aku akan menuruti semua yang kau inginkan."
"Baiklah, Sayang."
"Lepaskan mereka, biarkan dokter itu melakukan tugasnya! Panggilkan Austin juga kemari."
Seketika keadaan kembali kondusif dan dokter wanita itu segera menghampiri Genio yang masih tergeletak di lantai. Melihat keadaannya saja, ia sudah bergidik ngeri. Lantas ia memberikan pertolongan pertama dan meminta beberapa bodyguard untuk membantunya membawa Genio ke rumah sakit terdekat.
"Mau kemana? Hem?" tanya Marvel setelah merasakan pergerakan sang istri yang ingin melepaskan diri.
"Aku mau melihat Genio."
Ayla tersentak. "A-apa harus malam ini?"
Marvel menaikkan sebelah alisnya. "Menurutmu?"
"A-aku .... Akh."
Tanpa menunggu jawaban sang pujaan hati, Marvel telah menariknya ke dalam lift. Kini ruang tamu hanya tersisa tiga sahabat Marvel dan beberapa bodyguard.
"Sepertinya kita akan segera mendapat keponakan," ujar Enzo yang memang lebih absurd daripada yang lain.
"Dan kita ditinggalnya begitu saja," balas Atlas sembari bersandar malas di sofa.
"Kenapa kita tidak mencari kesenangan saja? Aku lihat pelayan Lio cantik-cantik. Apalagi si kembar itu," ujar Enzo lagi sembari terkekeh.
"Jangan gila! Kau mau dibunuh ayahnya?"
"Hahaha. Dia tidak akan bisa membunuhku." Tawa Enzo menggema, sementara Morgan memutar bola matanya dengan malas. Pria dingin itu lebih memilih untuk bangkit dan mencari sebuah kamar untuk beristirahat.
"Woi, kau mau kemana?" Enzo berteriak, namun tak Morgan gubris.
"Lihatlah, sepertinya dia benar-benar ingin mencari si kembar."
Atlas mentoyor dahi sahabat sengkleknya itu. "Apa yang akan terjadi pada dunia jika dia sungguh takluk pada seorang gadis ya?" celetuk Atlas, reaksi yang tidak diduga Enzo.
__ADS_1
"Entahlah. Aku rasa gadis itu yang akan sial." Keduanya tertawa.
...
"Tuan, pelan-pelan!" protes Ayla karena pria itu menariknya dengan kencang, belum lagi punggungnya terasa perih karena dicambuk tadi.
Marvel bergeming, telinga pria itu seakan tuli dan sekarang sibuk membiarkan alat pemindai mengenali dirinya.
Kriet.
Pintu kamar terbuka dan Marvel langsung menarik Ayla masuk. Kini Ayla yang bergeming, air mata tak henti-hentinya luruh dari kedua netra cokelat indah itu.
"Kalau kau tidak bisa aku juga tidak akan memaksa," ujar Marvel sembari melepas kancing kemejanya.
Kedua mata Ayla berbinar. "Benarkah?"
"Tentu saja, aku tinggal meminta dokter itu berhenti melakukan tugasnya."
Ayla memejamkan kedua matanya, kedua telapak tangan terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Marvel mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu kemudian menempelkan benda pipih itu di telinga. "Halo, dokter Erin."
"Jangan, a-aku bersedia." Ayla memegang tangan pria itu. Tangan yang masih memakai sarung tangan kulit.
Marvel berhenti, memandang kedua tangan Ayla yang mencengkram telapak tangan kirinya.
"Ma-maaf." Ayla melepas pegangan itu, Marvel tak banyak bereaksi. Pria itu menaruh kembali ponsel ke meja nakas, melepas kedua sarung tangannya dan kemudian kembali menatap gadis di hadapannya. Gadis yang ternyata adalah sang pujaan hati.
Melihat ketakutan Ayla membuat Marvel terkekeh kecil. Namun tak lantas untuk membuat niatnya urung. Justru ia semakin ingin menciptakan belenggu pada gadis ini. Semakin ingin memiliki dan mengikatnya.
Tanpa mengulur waktu pria itu menarik tubuh sang gadis. Mengeratkan hingga keduanya tak lagi berjarak, dapat ia lihat jelas kedua mata cokelat indah yang terus mengeluarkan air mata.
Ia kecup kedua mata itu lembut. Kembali menatap Ayla yang masih ketakutan, tangannya terangkat untuk mengusap lembut sudut bibir yang terluka karena tamparannya lalu mendekatkan wajah dan merasai bibir berwarna pink yang manis itu. Lembut, sangat lembut hingga membuat Ayla hampir terlena jika saja pria itu tak mendorongnya hingga keduanya jatuh di atas tempat tidur king size miliknya.
Kembali Marvel menyerang, kali ini lebih dalam dan menuntut. Tangannya tak tinggal diam, menarik satu per satu kancing piyama tidur yang dikenakan Ayla. Gadis itu bergerak tak sesuai kehendak, ingin mendorong tangan sang suami namun malah berakhir kedua tangannya ditahan di atas kepala.
"Tu-tuan. Panggung ku sakit," ujar Ayla mencoba untuk mencari alasan, sungguh jika ada kesempatan ia akan membunuh pria keji ini.
"Sebentar lagi kau akan melupakan rasa sakit itu sayang, yang ada adalah rasa nikmat yang bahkan bisa membuatmu melupakan dunia."
Ayla bergidik, air mata terus mengalir tanpa diminta.
"Argh," jerit Ayla saat merasakan sesuatu menembus pertahanannya.
Marvel berhenti sejenak, menatap wajah sayu di bawahnya kemudian menarik kedua sudut bibirnya. "Selamat, La. Aku adalah pria pertama untukmu. Begitupun kau yang menjadi wanita pertama untukku."
Malam itu keduanya berlebur menjadi satu, meski Marvel memperlakukannya dengan sangat lembut namun tak serta-merta Ayla menerima begitu saja. Hatinya yang sakit tak akan mudah disembuhkan dibanding luka di punggungnya yang mungkin akan mengering di seminggu ke depan.
"Aku membencimu, Marvelio Prado," batin Ayla dengan tatapan kemarahan yang begitu kental.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼