Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 46 ~ Apa Tidak Ada Yang Tulus Padaku?


__ADS_3

"Siapa kalian?" Suster Elisabeth menatap segerombol pria berpakaian hitam itu dengan tajam. Namun mereka tidak menggubris, melainkan langsung masuk begitu saja ke dalam panti.


Mencari ke sana sini namun tak menemukan apa yang dicari. "Sebenarnya siapa kalian? Kenapa kalian mengobrak-abrik panti kami?" teriak suster Elisabeth yang tidak habis pikir.


Semua anak-anak di sana berteriak ketakutan dan berlari bersembunyi di belakang tubuh para suster. "Katakan di mana anak bernama Marvelio berada!" Salah satu dari mereka akhirnya bersuara setelah cukup lama mencari tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Saya tidak tahu siapa yang Anda maksud. Di sini tidak ada anak yang bernama Marvelio," tegas suster Elisabeth yang memang tidak tahu anak laki-laki yang ia tolong malam itu memiliki nama lengkap Marvelio Prado. Cucu seorang konglomerat yang sudah menghilang cukup lama.


"Suster, apa mungkin maksud mereka itu Lio," ujar Genio yang juga ketakutan. Suster Elisabeth mendelik, membuat Genio seketika bungkam namun telat, karena pria-pria itu sudah mendengarnya.


"Katakan di mana anak yang kau bilang bernama Lio itu!" titah salah dari mereka dengan tatapan yang begitu menakutkan. Genio langsung beringsut namun pria itu menariknya cukup kuat hingga kini ia berada di dalam genggamannya.


"Genio!" pekik suster Elisabeth berusaha merebut Genio namun ia langsung didorong hingga tersungkur.


"Suster," teriak Genio yang mulai menangis kencang.


"Katakan atau aku patahkan leher kecilmu ini!"


"HUAAA. A-aku melihatnya keluar lewat pintu belakang tadi," jawab Genio dengan tangis dan tubuh bergetar.


Pria itu mendorong Genio yang langsung merangkak ke arah suster Elisabeth. "Suster," lirih anak itu sembari menangis.


Sementara suster Elisabeth hanya bisa mengelus punggung anak-anaknya. "Tenanglah semuanya."


...


"Kak Lio, tunggu aku!" pekik seorang anak perempuan sembari berlari mengejar seorang anak lelaki di depannya.


"Lala, kenapa kesini? Kan sudah kakak bilang jangan ikutin kakak!" marah sang anak lelaki namun tetap berlari kembali hanya untuk menggandeng tangan gadis kecil itu.


"Kak, kenapa mereka mengobrak-abrik panti?"


"Mereka menginginkan kakak, karena itu kakak harus pergi."


"Tapi aku mau ikut dengan kakak."


Anak lelaki itu berlutut, mencoba memberi pengertian pada sang gadis kecil.


"Kakak janji akan kembali untuk menjemputmu. Ini, simpan ini baik-baik!" ujar anak lelaki itu sembari memberikan kalung yang ia pakai, kalung dengan liontin bulan dan bintang yang di desain khusus hanya untuknya.

__ADS_1


"Mereka di sana, kejar!" teriak seorang pria kemudian segerombol orang mulai mengarah pada mereka.


Dua anak itu kembali berlari, cukup lama hingga gadis kecil itu jatuh tersungkur, membuat pegangan tangannya seketika terlepas.


"Lala, ayo bangun!" ucap sang anak lelaki sembari membantu gadis kecil itu untuk bangkit.


"Lala sudah capek Kak."


Dari kejauhan, orang-orang tadi telah memantau. Salah satu dari mereka mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada kedua anak itu.


DORRR


Suara pistol menggema, membuat tubuh gadis kecil itu bergetar. "Kak," lirihnya sembari menatap anak lelaki yang sedang memeluknya erat.


"Pergilah!"


"Tidak mau."


"Pergi-lah Lala!" ujar anak lelaki itu terbata-bata.


"Tidak mau," kekeh gadis kecil itu dengan tangis yang telah pecah.


"Pergi atau kakak tidak akan mau bertemu dengan mu lagi."


Anak lelaki itu mendorong tubuh sang gadis kecil. Karena ancaman Kakak Lio nya, Akhirnya sang gadis kecil bangkit namun masih enggan berlari.


"Lala, hiduplah dengan bahagia!"


"Hiks." Lala akhirnya berlari di jalanan yang gelap itu, sesekali ia menoleh demi melihat keadaan kakak Lio nya. Namun tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dan membawanya bersembunyi di balik semak belukar.


"Suster," lirih gadis kecil itu sembari terus menjatuhkan air matanya.


"Sstt, mereka masih mencarimu," bisik suster Erika, seorang suster yang juga bertanggung di panti asuhan Hieronymus.


Di sisi lain, para penjahat itu ingin menghampiri Lio yang telah tergeletak tak berdaya. Namun beberapa mobil dengan kecepatan tinggi berhenti di sana membuat mereka urung. Seorang wanita berumur 30-an keluar dari salah satu mobil.


"Lio," pekik wanita itu sembari berlari dan memeluk tubuh kecil bersimbah darah itu.


"Nyonya, kita harus membawa tuan muda ke rumah sakit," ujar seorang pria, versi mudanya Harley Shelby.

__ADS_1


Chaterine Prado mengangguk, dengan berurai air mata akhirnya ia melepaskan Marvel kecil untuk digendong Harley.


.


.


.


Disebuah ruangan yang cukup besar, seorang wanita tengah terbaring dengan selang infus di tangan. Wanita tersebut adalah Ayla. Ia mengerutkan keningnya resah, sesekali menggeleng kecil kemudian menggeleng dengan cepat.


"KAK LIO," pekiknya dengan napas tak beraturan. Tanpa sadar air mata mengalir dari kedua sudut matanya, tatapannya kosong sampai tidak menyadari bahwa seseorang telah masuk ke sana.


"Ayla, kau tidak papa?" tanya Austin, sudah berbicara dengan nada santai dan lembut.


Ayla mengerutkan keningnya, kenapa ada Austin? Namun itu tidak penting. "Kak Lio di mana?" tanya wanita itu membuat wajah Austin berubah.


Namun setelahnya ia tersenyum, mendekati dan mengelus puncak kepala Ayla yang segera menghindar. Hingga tangan Austin jadi mengusap udara, ia genggam tangan itu dan menatap Ayla yang memandangnya penuh tanya.


"Lio yang meminta ku menjagamu sementara waktu, ia terluka parah karena ledakan bom. Dan saat ini sedang menjalani pengobatan ke luar negeri."


Ayla seketika mematung. Air mata terus mengalir dari kedua sudut matanya. "Tidak, tidak mungkin. Katakan padanya, aku sudah mengingatnya. Aku sudah mengingat semuanya, a-aku yakin dia pasti akan sangat senang mendengar ini. Aku yakin dia akan cepat sembuh," ucap Ayla dengan isak tangis yang menggema.


Wanita itu segera bangkit dari tidurnya, bahkan rasa sakit akibat tembakan di lengan tak ia hiraukan. Kini ia malah ingin mencabut selang infus di tangannya. Untung saja Austin bertindak cepat, pria itu menangkup kedua sisi wajah Ayla untuk menatap dirinya.


"Jangan bodoh, Ayla! Kau kira dengan kau mengejarnya sampai ke luar negeri akan membuatnya langsung sembuh, justru kau akan memperparah keadaanya dengan melihat penampilanmu yang seperti ini. Minimal kau harus sehat dulu, nanti aku akan mengantarmu ke sana."


Ayla terdiam, menatap Austin dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Tapi aku mau melihatnya," lirih wanita itu.


"Aku janji, nanti aku membawamu ke sana," balas Austin dengan wajah yang meyakinkan.


"Sekarang kau istirahat terlebih dahulu ya, aku masih ada pekerjaan. Nanti aku akan kembali lagi." Pria itu membantu Ayla untuk berbaring, memeriksa luka tembak di lengan wanita itu dan memastikan semuanya baik-baik saja.


Setelah itu ia keluar, dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"ARGHH," pekiknya sembari menghempas lampu tidur yang berada di atas meja nakasnya.


"Lio, Lio, Lio. Semuanya hanya memikirkan orang itu, apa tidak ada yang benar-benar tulus padaku?" geram Austin dengan mata merah menahan amarah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2