
"Baiklah, aku akan mengantarmu," ujar Marvel setelah berhasil menekan ego dalam dirinya.
"Tapi aku ingin pergi sendiri."
"Aku yang antar atau tidak sama sekali."
Marvel menatap tajam Ayla yang dibalas dengan tatapan yang tak kalah tajamnya. Ayla mendengus, kalau pria ini ikut tentu ia jadi tidak bebas.
"Aku tidak akan bisa kabur, jadi kau tidak perlu ikut. Lagian bukankah kau bekerja? Apa kerjamu hanya malas-malasan dan tinggal meminta Willy yang menggantikan mu?"
"Aku bos nya, mau pergi atau tidak itu terserah aku. Sudah, jangan banyak protes, atau aku tidak akan mengizinkanmu menjenguk sopir pengkhianat itu."
"Dia bukan pengkhianat."
"Mau pergi atau tidak?" Marvel berjalan lebih dulu, berusaha lembut tapi sang istri malah membuat emosinya semakin tidak stabil. Jika berlama-lama menghadapi keras kepala sang istri ia takut akan berlaku kasar lagi. Jadi lebih baik ia berjalan lebih dulu.
Kesal, Ayla mengikuti langkah sang suami dengan wajah tertekuk.
.
.
.
Di apartemen.
"Kak, kenapa Kakak sibuk banget sih?" tanya Calia sembari mengikuti Willy yang baru pulang tapi akan keluar lagi.
"Ini memang kegiatanku, kebetulan hari ini bos ku tidak masuk lagi. Jadi sebagai asisten pribadi tentu aku harus menggantikan dirinya."
"Tapi kan aku masih rindu sama Kakak," rengek Calia dengan manja. Willy tertawa kecil, seperti sikap manja itu sudah biasa ia hadapi. Pria itu menangkup kedua pipi menggemaskan itu kemudian melabuhkan sebuah kecupan singkat di bibir Calia.
"Kakkk."
"Sudahlah, setelah pekerjaanku selesai aku janji akan pulang lebih awal," hibur Willy masih dengan menatap gadis itu membuat Calia mengangguk meski dengan wajah cemberut.
Cup.
Kembali pria itu melabuhkan sebuah kecupan hingga Calia tersenyum malu. Ya, sebulan lebih tinggal bersama membuat hubungan mereka tak lagi sebatas om menyebalkan dengan bocah pembuat masalah lagi melainkan kini mereka adalah sepasang kekasih.
"Aku berangkat dulu, ya," ujar Willy seperti seorang suami yang berpamitan.
Calia mengangguk, kemudian tersenyum dan melambaikan tangan saat Willy beranjak masuk ke dalam lift.
.
.
__ADS_1
.
"Tuan, aku akan masuk sendiri." Ayla dan Marvel telah berada di depan ruangan Genio.
Marvel tidak menjawab, pria itu lalu menekan kenop pintu dan masuk duluan begitu saja. "Pria menyebalkan, apa aku bunuh saja dia disini ya?" gumam Ayla di dalam hati yang kemudian diiringi gelengan kepala.
"Jangan gila Ayla," batinnya lagi memperingati, setelah itu ia mengikuti langkah sang suami yang sudah masuk ke dalam ruangan.
Namun baru saja melangkah masuk ia sudah disuguhi aura permusuhan. Tampak baik itu Marvel maupun Genio saling menatap tajam, meski dengan Genio yang matanya masih tampak sayu dengan wajah babak belur.
"Gen, bagaimana keadaanmu?" tanya Ayla yang memecah keheningan. Wanita itu mendekati Genio, namun tangannya ditahan oleh Marvel.
"Sudah lebih baik, Lak. Setidaknya aku belum mati," jawab Genio masih dengan tatapan tak bersahabat yang ditujukan pada Marvel.
"Tuan, lebih baik Tuan keluar dulu. Genio tidak nyaman dengan kehadiran Anda," ucap Ayla dengan tatapan memohon.
Marvel mengerutkan alisnya, sungguh pria itu tidak tahan dengan tatapan memelas sang istri. Lantas ia menatap Genio yang terbaring lemah, bisa apa pria ini dengan keadaan seperti itu?
"Baiklah, tapi kau jangan berani macam-macam!" ujar Marvel akhirnya. Lagian ia ingin Austin mengganti perban di lengannya yang ia rasa sakit lagi setelah berolahraga malam dan dilanjut subuh tadi.
Memikirkan kegiatan semalam membuat Marvel tersenyum kecil hingga kedua orang yang melihatnya seketika bergidik. "Ada apa?" tanya Marvel kala menyadari kedua orang itu menatapnya horor.
"Tidak ada, hanya saja kau tidak cocok tersenyum, Tuan." Bukan Ayla yang menjawab, melainkan Genio yang spontan berkata seperti itu.
Mendadak wajah cerah itu kembali suram. Menatap Genio dengan tatapan lurus seperti busur panah yang seakan bisa menembus jantung.
Glek.
"Sepertinya kau menganggap aku memiliki belas kasih karena mengampunimu semalam."
Glek.
Lagi-lagi Genio menelan ludahnya susah payah. Ia memang ingin berusaha melawan pria kejam ini, tapi ia juga tidak ingin wajah dan tubuhnya yang babak belur akan semakin menjadi bahkan bisa saja dijadikan makanan singa. Hiih, membayangkan saja tubuh Genio rasanya sudah bergidik ngeri.
Tok, tok, tok.
"Maaf, Tuan. Jadwal operasi dokter Austin sudah selesai dan saat ini beliau sedang senggang," lapor seorang pengawal yang memang ditugaskan memantau aktivitas Austin.
Marvel mengangguk, lantas kembali menatap kedua orang di depannya dengan mengintimidasi. Lalu menarik tangan Ayla hingga tubuh wanita itu terbentur padanya.
Cup.
Satu kecupan singkat ia labuhkan pada bibir sang istri. "Jangan nakal!" bisiknya kemudian melepaskan belitan tangannya dan menarik syal yang Ayla gunakan hingga kedua mata wanita itu membelalak.
"Kembalikan!"
"Tidak mau, kau tunggu disini. Aku akan segera kembali, Sayang."
__ADS_1
Ayla tergugu, sementara Genio tercengang dengan mulut terbuka lebar. Sampai Marvel keluar dari ruangan itu baru keduanya dapat bernapas lega. "Apa itu? Dia menciummu? Dan apa yang ada lehermu itu?" tanya Genio seperti menginterogasi.
Ayla mengedik, terlalu malas menjelaskan tentang pria yang entah mengapa berubah drastis sejak semalam. Mungkin sudah mendapat apa yang biasanya seorang pria inginkan. Tapi kenapa Marvel tidak membuangnya? Padahal ia sangat mengharapkan hal itu terjadi.
"Kalau begitu ceritanya, aku yang babak belur ini tidak sia-sia dong. Dia bersikap baik padamu sekarang."
"Dasar pria bodoh! Apanya tidak sia-sia, bagaimana jika dia membunuhmu."
"Tidak masalah asalkan kau bisa hidup bahagia."
"Kau bersedia berkorban untukku? Apa kau mencintaiku?" tanya Ayla dengan kesal.
"Entahlah," jawab Genio, wajahnya jadi serius sekarang. Ia tak tau apa yang ia rasakan pada Ayla, yang jelas rasanya ingin terus melindungi wanita ini. Sementara Ayla menatap Genio penuh selidik, sungguh perasaannya pada Genio hanya sebatas sahabat baik.
BRAKKK.
Pintu sedikit terbanting kala seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan itu. "Genio, kau tidak papa?" tanya Audi dengan wajah khawatir.
Tadi ia mendapat kabar dari Deasy tentang Genio yang tertembak karena membela Ayla dan berusaha membantu wanita itu kabur. Dan entah kenapa ia sangat mengkhawatirkan pria itu hingga berlari ke dalam ruangan ini.
"Ini semua karena mu kan?" sentak Audi menatap marah pada Ayla.
Ayla tak menjawab, malas berdebat dengan gadis pemarah itu.
"Hei, aku berbicara padamu."
"Tidak, Ayla tidak salah. Aku yang sudah dituduh sebagai pengkhianat. Justru Ayla yang memohon pada kakakmu untuk mengampuni aku."
"Dan kakakku setuju? Haha, kakakku tidak akan semudah itu ...." Ucapan gadis itu terpotong kala menatap sesuatu yang terlihat aneh di leher sang kakak ipar.
"Dasar jalaang! Kau merayu kakakku?" Audi bergerak maju, ingin menjambak rambut Ayla lagi namun sebelum sempat terealisasi sudah ditahan oleh salah satu pengawal yang Marvel tugaskan untuk menjaga sang istri agar tidak kabur.
"Nona, tenanglah. Ini rumah sakit," sentak pengawal yang memegang tubuh Audi.
"Aku tidak bisa tenang jika dia belum keluar dari ruangan ini."
"Tapi, Nona."
"Aku akan keluar." Ayla membalikkan tubuhnya dengan kesal, berjalan keluar dengan dua pengawal yang tetap setia mengekor.
"Kalian kenapa mengikuti saya?"
"Kami diperintahkan tuan untuk mengawasi Anda agar tidak kabur, Nyonya."
"Nyonya?" gumam Ayla. Entah kenapa panggilan itu membuatnya merinding.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼