
"Akh, apaan ini?" pekik Daisy sembari meronta-ronta dari jaring yang membalut tubuhnya.
"Argh, sial!" Wanita itu menyerah setelah cukup lama bergelut dengan jaring itu, bahkan ia tidak sadar bahwa di sampingnya ada Ayla yang menatapnya datar.
Huft.
Daisy menarik napasnya dengan wajah tertekuk, mau berteriak minta tolong pun rasanya percuma. Karena tidak mungkin ada orang di sini mengingat mereka memang sudah berada di tengah-tengah hutan. Ah, seandainya ia tidak membunuh Lucio. Tapi tidak, ia tidak menyesal karena pria itu memang pantas dibunuh.
Wanita itu lalu mengedarkan pandangan, kedua bola matanya melebar kala melihat Ayla tergantung tepat berada di sampingnya, kurang lebih berjarak satu meter.
"Kau."
Ayla bergeming, menatap Daisy tanpa minat sama sekali.
"Berani sekali kau menatapku dengan tatapan remeh seperti itu? Lihat saja, aku akan membunuhmu seperti aku membunuh pria itu. Kau pasti menyaksikan semuanya bukan?"
Hening, Ayla tetap diam. Dan Daisy semakin geram dibuatnya.
"Kau punya telinga tidak? Atau mau aku potong, hah?"
"Kau bilang mau membunuhku? Sepertinya kau harus keluar dulu dari jaring itu," balas Ayla datar.
"Kau benar, akh sialan! Kenapa aku tidak melihatmu saat di bawah tadi?"
"Eh, kau sengaja diam ya?"
Ayla menaikkan kedua alisnya. "Kau, kau benar-benar ingin mati ya?"
Daisy memberontak, ingin meraih jaring yang menyekap Ayla namun tak bisa tergapai. Sementara Ayla tetap diam saja, wanita itu malah sedang berpikir kenapa menjadi sangat bodoh semenjak menjadi Ayla. Padahal dulu ketika menjadi Alice ia adalah gadis yang pintar.
"Argh, sial," umpat Daisy.
"Kau jangan senang dulu, walau aku tidak bisa membunuhmu tapi kita pasti akan mati bersama di sini." Daisy terkekeh, tidak papa baginya mati asalkan Ayla mati bersamanya. Perempuan yang selalu menjadi racun di hidupnya.
Hening selama beberapa saat. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Ayla dengan pikiran semrawutnya dan Daisy dengan pikiran akan masa lalu.
"Apa kau tidak mau tau kenapa aku sangat membencimu?" Daisy berucap tiba-tiba, wajahnya berubah merah padam, seperti sedang menahan amarah.
Ayla diam, enggan menjawab wanita itu. "Hei."
"Ck, untuk wanita iblis seperti mu tidak perlu alasan untuk membenci seseorang."
"Hahaha, ternyata kau bisa pintar juga. Itulah kenapa aku sangat-sangat membencimu karena aku memiliki alasan untuk itu."
__ADS_1
...
Flashback On.
Tiga tahun yang lalu.
"Sudah saatnya kalian menerima tugas," ucap seorang pria bertubuh gagah dengan pakaian serba hitam lengkap dengan sebuah topeng.
"Siap, Bos."
"Aku tidak perlu memberitahu apa yang perlu kalian lakukan untuk bisa masuk ke sana kan?"
Ketiganya mengangguk. Di antara mereka, hanya ialah yang seorang wanita. Namun ia tidak pernah berkecil hati.
Satu bulan kemudian. Kedua teman lelakinya telah berhasil masuk ke dalam mansion musuh sebagai bodyguard, namun tidak dengannya. Ia sudah berulang kali mencoba melamar sebagai pelayan namun tidak pernah berhasil. Pada akhirnya ia mencoba mendekati tuan muda ke-dua yang terkenal playboy itu.
Dan ya, memang sesuai dengan citranya. Ia disambut baik oleh pria itu dan pada akhirnya bisa masuk ke dalam mansion Prado sebagai kekasih gelap berkedok pelayan. Hubungan itu bertahan cukup lama, bahkan sudah satu tahun lebih sampai Daisy mulai terbawa perasaan dan lupa akan tugas sang bos besar.
Tok, tok, tok.
Mikhael Prado membuka pintu kamarnya. "Tuan, ini minuman yang ...." Ucapan itu terputus kala Mikhael sudah menariknya masuk.
"I need you," ucap Mikhael yang sudah mengendus leher sang kekasih.
"Ayla Navara." Seketika senyuman wanita itu luntur, ia tahu bahwa Mikhael memang tengah mengejar seorang aktris terkenal. Namun Ayla Navara itu tidak pernah menyambutnya, dan di setiap penolakan yang pria itu terima, dia selalu kembali dan melampiaskannya pada Daisy.
Hingga tanpa sadar kebencian sedikit demi sedikit terpupuk di hati Daisy pada seorang perempuan bernama Ayla Navara yang bahkan belum pernah ia temui.
"Sayang," panggil Daisy dengan manja sembari bersandar di dada bidang milik sang kekasih.
"Hem," jawab Mikhael dengan acuh tak acuh. Pria itu sibuk dengan ponselnya seperti sedang bertukar pesan dengan seseorang.
"Sayang, kamu sedang bertukar pesan dengan siapa? Kenapa tidak mengacuhkan ku?"
"Em. Lihatlah, dia menghubungiku. Sudah kuduga, pasti dia hanya jual mahal saja. Dan sekarang terbukti, bahkan dia mengajakku bertemu di apartemen pribadinya," balas Mikhael penuh semangat, bahkan senyum tidak luntur di setiap kata-katanya.
Wajah Daisy langsung muram, kedua tangannya mengepal di bawah selimut. Namun ia coba untuk abai, menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis.
"Sayang, kamu sudah memilikiku. Apa masih mau mencari yang lain?" tanya Daisy dengan suara halusnya, bermaksud untuk mengambil kembali hati pria ini. Namun wajah berseri itu langsung berubah, menatap Daisy dengan tajam.
"Apa kau lupa? Sebelum ku bawa masuk ke sini, kau sudah setuju dengan aku yang tidak cukup dengan satu wanita saja."
Daisy terdiam, bahkan ketika tubuhnya dihempas begitu saja hingga jatuh dari tempat tidur. "Keluar!" titah Mikhael yang membuat Daisy perlahan bangkit, memakai pakaiannya dan berjalan keluar tanpa bantahan.
__ADS_1
Wanita itu kembali ke lantai satu dengan melamun. Hingga beberapa pengawal tampak berjalan ke arahnya, terdapat Lucio yang menarik sudut bibirnya sinis. Namun tak Daisy gubris, mereka memang seperti tak saling mengenal apabila ada orang lain.
...
Beberapa hari kemudian.
"Kamu mau kemana?" tanya Daisy sembari menahan lengan Mikhael yang akan keluar. Pria itu terlihat sangat rapi dan wangi.
"Menemui Ayla," sahut Mikhael sembari menghempas tangan wanita itu.
"Apa aku boleh memintamu untuk tidak pergi?"
"Hah, apa hak mu untuk melarang ku?" Mikhael menatap Daisy remeh.
Kedua mata Daisy mulai berkaca-kaca. "Kalau kamu pergi, maka hubungan kita juga berakhir," ucap Daisy sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Benarkah?" Daisy mengangguk pelan.
"Kalau begitu bereskan semua barang-barang mu dan silakan angkat kaki dari mansion ini!"
Bagai disambar petir di pagi hari, Daisy hanya bisa bergeming. Wanita itu menggigit bibir bawahnya demi menahan air mata yang akan keluar jika ia lengah sedikit saja.
"Kau tidak mau kan? Jadi, tetaplah menjadi Daisy yang selama ini aku kenal. Jangan pernah campuri urusanku!" Setelah berkata seperti itu, Mikhael berjalan pergi tanpa menoleh, namun menorehkan luka yang sulit disembuhkan. Dan makin membuat bencinya kepada Ayla semakin bertumpuk.
Apalagi sejak kepergian Mikhael hari itu, pria itu tidak kembali lagi untuk selamanya.
Flashback Off.
.
.
.
Ayla menatap Daisy dengan tatapan yang entah. Entah hilang kemana iblis wanita yang tanpa perasaan melakukan pembunuhan tadi. Pasalnya wanita itu menangis sesenggukan sembari bercerita tanpa diminta. Dapat Ayla lihat, Daisy memang mencintai pria bernama Mikhael itu dengan tulus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
Ada yang mau othor up tiap hari?
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1