Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 30 ~ Wewangian


__ADS_3

Di tempat lain, di sebuah ruangan tepatnya ruang private sebuah restoran mewah. Seorang pria tambun tengah tertawa terbahak dengan dua orang perempuan di sisi kiri dan kanannya.


Pelayanan yang sangat memabukkan dan memanjakan membuat pria paruh baya itu sangat menikmati sentuhan kedua wanita itu.


Tiba-tiba masuk seorang wanita seksii yang sangat cantik. "Bagaimana penampilanku, Pah?" tanyanya dengan nada manja.


Sang ayah mendongak, wajahnya nampak begitu terkesima. "Kau memang putriku, sangat cantik."


Wanita itu tersenyum senang. Jadi tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang sejak dulu hampir semua wanita idamkan termasuk dirinya.


BRAK.


Baru dipikirkan Marvel sudah membanting pintu dengan keras. "Oh, Tuan muda Prado? jangan marah-marah seperti itu dong?"


Marvel tersenyum smirk, bapak tua ini sudah berani membuat ia kesal. Tapi ia akan lihat sandiwara apa yang akan mereka lakukan.


Melihat dua wanita yang bergelayut di lengan tuan Bob membuat Marvel menatap jijik. Terlebih kedua wanita itu kini menatapnya dengan tatapan lapar.


Dan tuan Bob menyadari itu, lantas ia memberi kode agar dua wanita itu keluar terlebih dahulu.


"Hem," kesal salah satu dari mereka, lalu berjalan keluar dengan menghentakkan kakinya. Sementara yang satunya tidak terlihat kesal, malah tersenyum menggoda lalu berjalan dengan melenggak-lenggok dan dengan sengaja berpura-pura terkilir hingga jatuh tepat pada Marvel yang masih berada di depan pintu.


Pikirnya Marvel akan langsung memeluknya dan terpesona akan kecantikannya, namun hal itu hanya fantasinya belaka. Bukan hanya menghindar, Marvel justru menarik lengannya ke belakang hingga terdengar suara tulang yang retak.


"Akhh, Tuan, sakit. Sa-saya tidak sengaja, Tuan. Ampuni saya," mohon wanita itu, air mata mengalir dengan deras di wajah cantiknya. Jika tahu akan diperlakukan seperti ini, ia tidak akan pernah berpikir untuk menggoda pria kejam ini.


Marvel tersenyum menyeringai, berani menggodanya? Inilah akibatnya. Dengan satu gerakan ia mendorong wanita itu ke arah dua anak buahnya yang yang berdiri di belakangnya.


"Kalian puaskan lah nona ini, sepertinya ia sangat haus akan kasih sayang."


Kedua anak buahnya itu tersenyum senang, namun terlihat sangat menyeramkan bagi sang wanita. Sepertinya ini akan menjadi malam yang sangat menyiksa untuknya, terlebih kedua pria itu kini menyeretnya tanpa peduli pada lengannya yang patah.


Suara raungan memenuhi koridor ruang private itu, restoran ini memang bukan restoran biasa. Banyak orang berkepentingan yang menghabiskan waktunya kemari meski dengan berbagai tujuan. Bahkan ada penginapan yang siap sedia dipakai dalam bangunan megah itu.


Kini hanya tersisa 4 orang di ruangan itu. Marvel, Kendrick, tuan Bob dan putrinya yang seksii. Sepasang ayah dan anak itu menatap Marvel dengan tatapan horor, terlebih sang putri yang langsung bergidik ngeri. Entah menguap kemana keberanian dan kepercayaan dirinya tadi.


Wanita itu jadi berpikir dua kali untuk menggoda pria berdarah dingin itu. Ia menoleh pada sang ayah dengan tatapan memohon, sungguh ia tidak ingin mati sia-sia dengan sukarela menghantarkan diri pada iblis berwujud manusia ini. Namun dengan gerakan bola matanya, tuan Bob memberi kode agar sang putri mendekat pada Marvel.


Wanita itu sedikit menggeleng, memberi tatapan yang menyedihkan hingga Marvel menarik sudut bibir kanannya. "Apa kau akan membiarkanku berdiri di depan pintu seperti ini sampai pulang, Tuan Bob?" tanya Marvel dengan suara dinginnya.


Tuan Bob refleks terkekeh kecil, lalu berjalan menghampiri Marvel yang masih di depan pintu. "Hehe, bu-bukan begitu Tuan muda Prado. Aku hanya sedikit terkejut dengan kejadian tadi, mari, mari duduk terlebih dahulu," ujar tuan Bob sembari memberi jalan.


"Kau tidak perlu terkejut Tuan Bob, itu adalah harga yang pantas bagi orang yang berani menantang ku." Marvel memilih masih berdiri, belum berniat untuk menerima niat baik tuan Bob.


Glek.


Tuan Bob menelan ludahnya dengan kasar. Namun cepat-cepat ia merubah wajah tegangnya itu dengan sebuah senyuman, walau hanya sebuah senyuman kaku.


"Hahaha, An-anda benar Tuan muda Prado. Sekarang, du-duduklah terlebih dahulu."

__ADS_1


"Sayangnya saya tidak punya banyak waktu, Tuan Bob," balas Marvel seraya mengangkat wajahnya sombong.


Pria paruh baya itu pun mengeratkan rahangnya, sungguh sombong bocah ingusan ini. Umur berada jauh di bawahnya, namun sangat berani merendahkannya. Jika saja ia punya lebih banyak sedikit kekuatan, maka ia akan menginjak pria ini sampai berlutut dan memohon padanya.


Namun bayangan itu hanyalah khayalan semu belaka. Nyatanya kini kepalan tangannya telah meregang, lalu wajahnya tersenyum lebar.


"Baiklah, sepertinya Anda sedang terburu-buru, Tuan. Kalau begitu kita bahas lain hari saja, jangan lupa bahwa saya masih memiliki salinan kerja sama kita," ucap tuan Bob sembari menyeringai. Meski ia tidak bisa menghancurkan pria muda sombong itu, tapi ia bisa mengguncang ketenangannya.


Kini giliran Marvel yang mengeratkan rahangnya. Apa pria tua ini pikir bisa mengancamnya dengan masalah kecil seperti itu?


"Saya sudah meluangkan waktu saya yang berharga dan kau meminta saya untuk meluangkan waktu lagi di lain hari? Ternyata kau berani sekali ya, tuan Bob."


Tuan Bob tertawa kecil. "Bukankah Anda terburu-buru, Tuan Muda Prado? Jadi saya hanya memberi solusi saja."


"Oh? Ck, oh ya, terima kasih loh Tuan Bob. Kau sudah mengingatkanku bahwa saya sedang terburu-buru." Marvel tersenyum smirk.


"Maka dari itu ... bereskan sekarang juga!" titah Marvel dan Kendrick langsung bergerak.


"Kau, bajingan kecil. Kau mengkhianati ku?" Tuan Bob terlihat panik kala beberapa anak buah Marvel masuk ke dalam ruangan private itu. Dan di waktu yang bersamaan pintu ruangan itu terkunci dari luar.


Namun di detik selanjutnya ia tertawa keras, sangat keras hingga bergema. Dalam hitungan detik, orang-orang berpakaian hitam keluar dari tempat persembunyiannya. Bahkan lebih banyak dari anak buah Marvel.


Marvel menggeram, pria tua ini sungguh menguji kesabarannya.


Baku hantam pun terjadi, tuan Bob bersama putrinya menonton di sudut ruangan dengan menggunakan masker. Keduanya tersenyum sinis, sangat yakin mereka akan menang dilihat dari jumlahnya saja. Kalaupun memang gagal, ia masih memiliki bom yang lain.


Untuk senjata? Ini restoran, tentu mereka tidak akan gegabah memakai senjata walau ruang private ini kedap suara.


Prang.


Suara kekacauan memenuhi seisi ruangan. Ruang yang awalnya tampak rapi, bersih dan elegan itu kini tak lebih dari penampakan sebuah kapal pecah.


Argh.


Satu per satu anak buah tuan Bob berjatuhan. Senyum kemenangan yang terukir di bibir pria itu perlahan memudar. Dalam balutan masker wajah tegang itu tersembunyi, apalagi melihat tatapan Marvel yang sangat menyeramkan.


Pria paruh baya itu segera berlari ke arah pintu, mendorong dengan kuat namun tak dapat terbuka sama sekali. Putrinya pun melakukan hal yang sama, keduanya kini seperti terjebak permainan sendiri. Padahal awalnya tuan Bob hanya ingin Marvel memberikan dana untuk perusahaannya yang sedang sekarat, beruntung juga bisa menjadikan pria itu sebagai menantu.


"Ka-kau mau apa?" tanya tuan Bob dengan takut-takut. "Ja-jangan lupa kalau aku masih ada ...."


"Masih ada ini?" potong Marvel sembari menunjukkan lembaran kertas di tangannya.


"Kau, dari mana kau mendapatkannya? Aku sudah menaruhnya di tempat yang sangat aman."


Marvel tertawa kecil, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan tuan Bob beserta putri harus mundur dari depan pintu tersebut. Kemudian pintu kembali terkunci.


Bugh.


Seorang pria didorong hingga jatuh berlutut di hadapan tuan Bob. "James, kau?"

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan," ujar pria yang bahkan tak sanggup untuk berdiri lagi itu.


"Kau, kau benar-benar tidak berguna," geram tuan Bob sembari menendang sang asisten pribadi.


Marvel tertawa mengejek, memandang wajah ketakutan pria paruh baya itu. Namun entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Sedikit panas dan sangat tidak nyaman, padahal ruangan itu ber-AC.


Tatapannya mengarah pada tuan Bob, lalu menarik kerah dan melayangkan sebuah bogem mentah hingga masker yang pria tua itu kenakan terputus. "Kau sendiri yang mengkhianati ku? Kau pikir aku tidak tahu kau bekerjasama dengan musuhku? Hah?"


Tuan Bob tertawa kecil.


"Itu karena kau yang memutuskan kontrak kerja sama kita sehingga aku menerima tawaran dari orang asing itu. Tapi musuh sialan mu ternyata hanya memanfaatkan informasi yang aku berikan."


Bugh.


Cuih.


Pria paruh baya itu meludah sembarang. Sementara pikiran Marvel semakin tidak sinkron. Hal itu tidak luput dari pengamatan tuan Bob. Membuat sudut bibirnya tertarik, matanya bergerak agar sang putri mulai mendekati Marvel.


"Akh," pekik putri tuan Bob saat terbentur dada bidang Marvel, wanita itu pura-pura terdorong oleh mereka yang masih beradu jotos.


"Sialan," batin Marvel menyadari bahwa ia telah terjebak. Terlebih wanita tidak tahu malu itu mulai mendekatinya dan entah mengapa wanita yang tadinya biasa saja itu kini menjadi sangat menarik.


"Tuan," desah putri tuan Bob sembari memberanikan diri untuk menyentuh lengan Marvel.


Marvel memejamkan kedua matanya, berusaha menarik kesadaran yang tersisa agar tetap utuh. "Lepaskan!" geramnya.


Namun wanita itu tak mendengar, justru semakin berani dengan mengusap wajah Marvel lembut. Di saat nafsu mulai merambat, tiba-tiba bayangan sang istri memenuhi kepalanya. Seketika ia mendorong wanita itu hingga tersungkur ke lantai.


Semua anak buah Marvel pun menatapnya lapar. Marvel mendengus, menyadari semua orang di ruangan ini telah terkontaminasi wewangian ruangan itu. "Kalian sudah bekerja dengan baik, ambillah hadiah kalian!"


"Apa? Tidak, Tuan. Aku tidak mau, akh," pekik putri tuan Bob.


Tuan Bob mengepalkan kedua tangannya, melihat ada pisau buah yang tercecer di lantai membuatnya menarik dan mengarahkan pada Marvel.


"Tuan, awas!" pekik Kendrick membuat Marvel bergerak cepat, kakinya segera menendang pisau itu. Sementara tangannya bergerak untuk menarik senjata yang terselip di pinggang.


Shut.


Satu bidikan dari senjata api tanpa suaranya berhasil menembus jantung pria paruh baya itu. "Ugh."


Tuan Bob jatuh terbaring di lantai. Sementara para anak buahnya pun telah berhasil dikuasai.


"Tuan, kau tidak papa?" tanya Kendrick seraya menghampiri Marvel, pria itu pun berusaha menekan gelora dalam tubuhnya.


"Kita pulang! Minta anak buahmu yang masih waras untuk membereskan ini!" Marvel keluar duluan, sungguh kini tujuannya adalah sang istri. Hanya Ayla lah yang bisa membantunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2