
"Suster, suster," pekik Genio kecil dengan wajah ketakutan.
"Ada apa Gen?" tanya Suster Elisabeth dengan panik.
"Di luar, di luar."
"Di luar ada apa?"
"A-ada orang, orangnya berdarah-darah."
"Apa?"
Suster Elisabeth pun berjalan menuju pintu depan, menarik sedikit gorden yang terpasang di jendela, ia mengintip di sana.
Terlihat seorang anak laki-laki duduk dengan keadaan berantakan di teras. Kaki berdarah, pakaiannya sobek-sobek tak layak pakai.
"Suster, ayo kita tolong dia."
Suster Elisabeth mengangguk. Perlahan memutar kunci pintu hingga mengalihkan atensi anak lelaki yang duduk di depan.
"Nak, sedang apa disini malam-malam?" tanya Suster Elisabeth dengan lembut.
Lio menoleh, matanya terlihat sayu. "A-aku lapar," lirihnya namun masih bisa didengar oleh Suster dan Genio.
"Lapar? ... Hahaha," suara tawa Genio menggelegar. Ternyata anak laki-laki yang berpenampilan menakutkan ini sedang lapar?
"Ssttt, diam Gen!" Genio pun terdiam. Kemudian berjalan ke arah Lio dan mengulurkan tangannya.
"Ayo masuk! Nanti Suster akan memberi mu makan," ujar Genio sembari tersenyum lebar begitu juga dengan Suster Elisabeth.
Tapi anak laki-laki di depannya ini benar tidak tahu caranya ramah. Bahkan ia tak menerima uluran tangan Genio, melainkan berdiri sendiri dan mengikuti Suster untuk masuk ke dalam.
"Dia tadi sedang tak acuh padaku?" gumam Genio dengan kesal. Ia pun masuk sembari menghentak-hentakkan kakinya.
.
.
.
Kembali ke masa kini.
Satu Minggu sudah sejak Marvel melecehkan Ayla.
Hari itu adalah hari yang cerah. Burung-burung berkicau saling bersahutan. Terlihat orang-orang berlalu lalang, baik itu yang berpakaian biasa, berpakaian pasien maupun yang berseragam kesehatan.
Ayla sedang berjalan-jalan di taman rumah sakit ditemani oleh seorang suster. Menghirup udara segar membuat gadis itu tersenyum sumringah. Sudah lama sejak ia bisa menghirup udara segar ini.
Satu minggu, waktu yang digunakan untuk memulihkan diri. Kini gadis itu sudah sehat sedia kala. Cara jalannya pun sudah lancar walau masih tergolong pelan.
Satu minggu itu juga pria kejam itu tidak kemari. Sejak hari dimana ia dilecehkan, pria itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Apakah Ayla senang?
Jawabannya ya dan tidak. Ia senang karena bila pria itu tidak datang, maka ia tidak perlu merasa was-was. Namun tidak melihat wajah itu selama satu minggu membuat Ayla merasa sedikit hampa.
Bagaimanapun pria itu sudah merubah hatinya yang bagai musim dingin menjadi musim semi yang indah. Ya, pria itu, Edric Nelson. Yang berubah sejak ia bangun dalam tubuh ini, tubuh yang memiliki nama Ayla Navara.
__ADS_1
Kini ia sudah mengerti, tak lagi kekeh dengan statusnya yang adalah Alice Lawrence. Apalagi setiap hari ia meminta sang suster untuk memberinya sebuah cermin yang semakin menyadarkannya bahwa wajah ini bukanlah Alice Lawrence. Melainkan seorang asing yang bernama Ayla Navara.
Ia juga tak lagi menyangka bahwa Marvel adalah Edric. Apalagi sejak kejadian itu, membuat Ayla semakin yakin. Karena Edric tidak akan pernah berbuat kurang ajar padanya meski mereka telah bertunangan.
Sempat terpikir untuk kabur, namun apa daya pintu ruangan selalu dijaga ketat. Sekarang saja para pengawal itu masih mengawasi di belakangnya. Sementara lewat balkon ia tidak ingin mati secepat itu dengan terjun bebas dari lantai 10.
"Huft," desahnya sembari menatap langit biru di atas sana.
...
"Keadaan kamu sudah stabil. Sore ini kamu sudah boleh pulang," ujar Austin setelah selesai memeriksa Ayla. Saat ini gadis itu sudah kembali ke kamar rawatnya.
"Terima kasih, Dok," jawab Ayla sembari tersenyum.
Austin mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu ya."
Ayla pun balas mengangguk. Dalam hati ia sedang berpikir untuk pergi diam-diam saja.
"Nona." Sebuah panggilan berhasil memusnahkan pikiran Ayla itu.
"Malvin? Eh ...."
"Willy, Nona."
"Ya, Willy." Ayla tersenyum hingga berhasil membuat Willy tertegun sejenak.
"Hmm, Nona. Saya diminta oleh tuan Marvel untuk menjemputmu."
"Tidak, aku tidak mau pulang ke rumahnya lagi."
"Apa maksudmu? Apa aku harus terkurung selamanya? Aku artis yang terkenal, aku pasti punya rumah sendiri."
"Semua aset Anda sudah ludes, Nona. Untuk menutupi semua kerugian yang Nona alami akibat skandal itu."
"Apa? Tapi aku tidak mau pulang ke rumah iblis itu."
"Nona, aku akan memberikan sedikit nasihat. Anda belum terlalu mengenal tuan Marvel. Jadi selama ia belum menunjukkan wujud aslinya, sebaiknya Nona menuruti apa perintahnya," balas Willy dengan tatapan dingin.
Ayla meneguk ludahnya dengan kasar, belum pernah ia melihat wajah Willy yang sangat datar dan kelam itu.
"Ayo, Nona. Semakin cepat, akan semakin bagus. Saya sudah mengurus kepulangan Nona."
"Tapi ini belum sore."
"Sore ataupun sekarang adalah sama saja. Nona tetap akan pulang."
Pada akhirnya Ayla hanya bisa menurut. Lagi pula ia tidak mengenal siapapun disini. Maka tidak ada yang bisa dijadikan tujuan selain ikut dengan pria ini. Setidaknya ia masih punya tempat untuk berteduh, walau gadis itu tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
.
.
.
"Willy, ini rumah siapa?" tanya Ayla setelah keluar dari mobil. Pasalnya Willy tak membawanya ke rumah sederhana waktu itu, melainkan ke sebuah rumah mewah berlantai tiga. Tidak, rumah ini tidak sekedar mewah, tapi lebih seperti sebuah istana.
__ADS_1
"Ini mansion tuan Marvel, Nona."
"Nona, mari masuk," lanjut Willy setelah beberapa saat melihat Ayla yang memasang wajah bingung. Bingung melihat begitu banyak orang berpakaian hitam yang berjaga.
Gadis itu pun melangkah perlahan memasuki rumah mewah ini. Sepi, adalah kesan pertama saat Ayla menginjakkan kaki di ruang tamu.
"Kenapa sepi sekali, Wil?" tanya Ayla sembari mengernyit, di luar banyak pengawal. Tapi di dalam bagai sebuah rumah kosong.
"Jam segini memang sepi, Nona. Karena para pelayan sedang menyiapkan makan siang di dapur." Ayla hanya manggut-manggut mendengarnya.
Hening.
Willy masih menunggu kedatangan sang tuan yang katanya berada di lantai tiga, di kamarnya.
"Hmm, Willy. Sebaiknya kau jangan memanggilku Nona. Panggil saja aku Ayla," ujar Ayla sembari tersenyum hangat.
"Kalau begitu aku tidak akan sungkan, Ayla," balas Willy dengan senyum yang tak kalah hangat. Menciptakan keduanya yang saling memandang dalam senyum itu.
Sementara seseorang yang berada di atas tangga menyaksikan semuanya. Entah apa yang ada di pikirannya. Yang pasti pria itu memasang wajah yang bahkan lebih datar dan dingin dari biasanya.
"Hemm." Sebuah deheman keras berhasil mengalihkan perhatian Ayla dan Willy.
"Tuan," sapa Willy sembari menundukkan kepalanya hormat.
Marvel mengangguk, sedangkan Willy pun undur diri. Menurutnya Marvel tidak akan berlaku macam-macam di rumah ini karena dihuni oleh banyak pelayanan. Selain itu ada adik sepupu Marvel yang banyak bicara itu, gadis itu pasti tidak akan membiarkan seseorang disiksa di depannya.
"Bik, Bik Rachel," teriak Marvel menggelegar. Sama sekali tak memandang Ayla yang berdiri tepat di sampingnya.
Seorang wanita paruh baya terlihat tergopoh-gopoh datang dari arah yang Ayla anggap dapur.
"Iya, Tuan."
"Bawa dia ke kamar yang sudah aku minta siapkan."
"Baik, Tuan." Pelayan itu mengangguk, lantas tersenyum pada Ayla dan membawanya pergi. Ayla pun hanya bisa menurut.
Sementara beberapa pelayan yang mengintip sedang berkasak-kasuk.
"Bukankah itu Ayla Navara?" Yang lain pun mengangguk sebagai jawaban.
"Dia itu istri tuan kan? Kenapa dibawa ke arah gudang?" bisik satunya lagi ingin tahu.
"Kau tidak dengar gosip yang beredar? Tuan hanya memanfaatkannya agar nyonya besar tidak memaksanya menikah dengan Sierra."
"Benarkah? Apa artinya kita boleh semena-mena dengan Ayla?"
"Tentu saja. Kamarnya bahkan diberi gudang, padahal kita yang pelayan saja diberi kamar yang nyaman di paviliun sebelah. Tuan Marvel pasti tidak akan memperlakukannya dengan baik."
"Yes, akhirnya aku bisa menyiksa antagonis murahan itu. Berani sekali dia membunuh tuan muda kedua," batin seorang pelayan sembari mengepal kedua tangannya erat.
"Apa yang kalian lakukan?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼