Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 44 ~ Kak Lio?


__ADS_3

Dua mobil saling nyusul menyusul di jalan beraspal dengan kecepatan tinggi. Seakan-akan tak ada hari esok untuk mencapai tempat tujuan. Cukup lama hingga kedua mobil berbelok ke arah sebuah mansion yang baru setengah jam lalu mereka tinggalkan. Mansion yang masih megah waktu itu kini telah hancur di bagian lantai atasnya.


Skala dan Enzo berlari menuju Morgan yang sedang memapah Audi. "Dimana Lio?" tanya Skala dengan tatapan khawatir.


Morgan menggeleng, ia hanya menemukan Audi yang tidak sadarkan di dalam terowongan rahasia mansion ini. "Dia pasti pergi mencari istrinya," balas Enzo sembari menepuk bahu sang kawan. Ketiganya saling menatap.


.


.


.


"Aku tidak mengingat apapun," akui Ayla setelah Daisy cukup tenang.


Daisy menatapnya. "Aku tidak peduli kau ingat atau tidak, bagiku walau kau bukan pembunuhnya, tetap saja dari awal kau lah tujuannya ke sana. Secara tidak langsung kau lah yang bertanggungjawab atas kematian Mikhael."


"Tapi dengan pemikiran seperti itu, kau memupuk kebencian tanpa tahu kejelasan," sarkas Ayla sedikit geram dengan wanita ini.


"Tanpa kejelasan?"


"Hah, haha, hahaha. Bukankah sudah kubilang? Aku tidak peduli dengan apapun. Yang aku tahu, kau lah yang merusak hubungan kami."


Ayla memutar bola matanya, merasa Daisy memang sakit jiwa sampai tidak pernah berpikir untuk menerima kenyataan dan tetap terperangkap keyakinan diri sendiri yang salah.


"Kau hanya membuat dirimu terjerumus dalam dendam tak berdasar hingga kau sendiri yang menjadi korbannya."


"Korban? ...."


Daisy terdiam sejenak, namun sedetik kemudian langsung menarik sudut bibirnya sinis. "Aku tidak masalah harus mati, lagian kau akan menemaniku di sini. Hahaha."


DORRR.


"Akhh." Ayla menutup kedua telinganya yang terasa berdengung. Kedua matanya membelalak, menatap tubuh Daisy dengan pandangan kosong. Di wajahnya mengalir cipratan darah yang membuat udara yang terhirup terasa amis dan menakutkan.


...


"Kau dengar suara tembakan?" tanya salah seorang pengawal pada sang rekan.


"Iya."


"Suara tembakan siapa itu?" Sebuah suara berat yang khas di pendengaran mereka tiba-tiba menyela.


"Tuan? ... Anda selamat?" tanya anak buah tersebut dan seketika semuanya berkumpul demi melihat sang tuan yang kembali dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Semuanya tampak bahagia walau hanya binar mata yang terlihat, karena kebanyakan wajah mereka tetap dingin dan datar.

__ADS_1


"Fokus pada pencarian istriku! Jangan pedulikan yang lain!" tegas Marvel dengan langkah tertatih.


"Aku tidak tahu apa saja yang kalian lakukan hingga sampai sekarang belum menemukan keberadaan istriku sama sekali." Marvel menatap mereka tajam hingga para anak buahnya terdiam, tak ada yang berani membuka mulutnya. Sedangkan salah seorang pengawal mengeratkan kedua tangannya.


"Terbangkan drone ke seluruh penjuru hutan. terutama tempat di mana jebakan paling banyak dipasang!" titah Marvel sembari mengambil sebuah remote control dan mulai mengendalikannya.


"Dan hubungi pimpinan para sniper, karena aku tidak ingin mereka salah sasaran dan menyakiti istriku!"


"Baik, Tuan."


"Tuan, kami menemukan keberadaan nyonya. Tembakan tadi berasal dari seorang penembak jitu kita."


"Minta mereka berjaga di sana sampai kita tiba." Marvel mengambil remote control itu dan menatap layarnya. Tampak sang istri yang seperti tengah ketakutan dengan cipratan darah memenuhi wajah cantik itu. Marvel mengusap pelan layar itu namun seketika rahangnya mengerat kala melihat bahu Ayla yang terluka. Pria itu langsung berlari tanpa peduli lagi pada kaki dan tubuhnya yang masih sakit.


Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke sana.


"Lala," pekik Marvel sembari menarik senjata yang selalu terselip di pinggangnya. Pria itu langsung membidik tali yang menggantung.


Sementara seorang anak buahnya semakin mengepalkan tangan dengan erat. Berapa tidak? Keduanya rekannya mati mengenaskan di depan matanya sekarang. Lucio tergeletak tak berdaya di atas tanah dan Daisy juga tergantung di atas pohon dengan berlumuran darah.


Shuttt.


Grep.


Marvel berhasil menangkap tubuh sang istri yang nampak lesu. Bibirnya tersenyum tipis saat bisa memeluk wanitanya lagi. Sementara Ayla juga bisa merasakan pelukan hangat itu, antara sadar dan tidak wanita itu membuka matanya sejenak dan menatap wajah Marvel dengan lekat. "Kak Lio?" gumamnya.


Melihat sang tuan yang sepertinya tengah terharu, rekan Lucio dan Daisy tadi mulai bergerak mundur. Ia tidak mungkin bertahan di sini karena kedua rekannya telah ketahuan. Tinggal sama saja dengan menghantarkan nyawa.


Usahanya hampir berhasil jika saja teman-teman Marvel tidak datang. "Tangkap dia! Jangan biarkan dia kabur!" titah Skala pada anak buahnya yang langsung bergerak dan mengepung pria itu.


"Eh, a-apa yang terjadi? Kenapa Anda menangkap saya? Saya adalah anak buah tuan Marvel."


Skala hanya membalas dengan tatapan dinginnya. Tak menggubris teriakan pria itu yang sudah menjauh.


Di tempat lain, seorang pria tengah membanting apapun yang berada di atas mejanya. "Sialan, ternyata nyawamu besar juga Marvelio Prado."


"Tapi kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Hahaha."


...


"Lio, aku akan membantumu menggendong Ayla," ujar Enzo sembari mengulurkan tangannya.


"Jangan berani-berani menyentuh istriku," balas Marvel dengan memeluk Ayla semakin erat, seakan Enzo akan merebut sang istri dari sisinya.

__ADS_1


"Hahaha, kau seperti anak kecil yang takut kehilangan permen," ejek Enzo yang membuat Marvel mendelik.


"Oh, ayolah Lio. Kondisimu tidak memungkinkan untuk membawa istrimu kembali. Lihatlah, di lengannya terdapat luka tembak yang harus segera diobati," bujuk Skala yang baru menghampiri.


Marvel bergeming, pria ini malah mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tubuh sang istri. Dan berhasil, ia bisa menggendong Ayla ala bridal style tapi itu hanya sesaat karenanya kakinya yang mungkin patah karena harus lompat dari lantai dua itu tidak kuat hingga ia jatuh tersungkur dengan memeluk sang istri erat.


"Dasar keras kepala," sarkas Enzo.


"Aku bisa, aku bisa menggendong istriku sendiri."


"Jangan bodoh, Lio! Dengan kau seperti ini, istrimu bisa saja tambah terluka."


Marvel terdiam, memikirkan kata-kata Skala membuat pria itu menyerah. Namun, ia tetaplah seorang posesif, meski membiarkan Enzo menggendong sang istri, pria itu tetap berjalan bersisian walau sedang dipapah Skala.


"Kau ini sangat mengganggu, aku jadi tidak leluasa berjalan kalau begini," ujar Enzo dengan kesal karena Marvel terus menempel pada Ayla. Namun tentu saja pria itu bodo amat, seakan ucapan Enzo hanyalah angin lalu saja. Membuat Enzo memberi kode pada Skala.


Skala menghela napasnya, kemudian menjauhkan Marvel dari sang istri.


"Eh, tidak. Lala." Marvel memberontak.


"Kau dan istrimu itu harus segera diobati jadi simpan dulu sifat kekanakan mu ini!" ucap Enzo membuat Marvel terdiam, akhirnya mereka bisa kembali dengan tenang walau kedua mata Marvel tetap mengawasi Ayla.


...


"Dokter Austin? Kau kemari?"


"Ya, tadi dokter yang menangani Audi menghubungiku. Jadi aku segera datang, mari bawa mereka masuk ke dalam ambulans. Mereka butuh pertolongan pertama," ucap Austin dengan terburu-buru.


Enzo mengangguk, kemudian menidurkan Ayla di atas brankar. "Aku akan ikut di mobil yang sama," ujar Marvel.


"Tidak, kau juga membutuhkan pengobatan," ucap Austin sembari memandu Marvel ke ambulans satunya.


"Tapi."


"Tidak ada tapi-tapian. Ayla akan baik-baik saja bersamaku."


"Dokter Austin benar, Lio. Kami juga akan mengikuti kalian dari belakang," ujar Skala yang membuat Marvel menyerah. Mungkin benar dengan tidak ikut masuk ke ambulans yang sama dengan sang istri, petugas medis akan lebih leluasa melakukan tugasnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


Yuk tebak siapa pria yang menjadi musuh Marvel 😌.


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2