Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 41 ~ Bom Waktu Beruntun


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan, hah?" Teriakan Marvel menggema di mansion Prado. Bahkan Audi yang berada di dalam kamar pun berlari keluar ketika mendengar teriakan sang kakak.


"Ma-maaf, Tuan. Kami tidak menyangka Daisy akan berkhianat."


"Sekarang lacak keberadaannya dan Lucio! Dan temukan istriku secepatnya!" titah Marvel yang langsung diangguki para pengawal di sana.


"Kak Ayla menghilang? Apa karena surat dariku?" batin Audi.


"Mau kemana kau?"


"Aku mau ikut mencari kakak ipar."


"Tidak! Masuk kembali ke kamarmu dan kunci pintunya, kau tidak boleh kemanapun hari ini!"


"Tapi, Kak!"


"Dengarkan kata kakak!" tegas Marvel yang membuat Audi cemberut. Lantas gadis itu kembali ke kamarnya dengan tak ikhlas hati.


Seperginya Audi, Marvel menghela napasnya dengan berat. Lalu hendak pergi mencari sang istri.


"Lio," panggilan Enzo membuat Marvel menoleh namun tak menghentikan langkahnya. Sehingga ketiga temannya itu mau tidak mau menyusul di belakang.


"Terakhir kali Ayla terlihat ada di taman belakang," ujar Morgan sembari mengikuti langkah Marvel.


"Taman belakang? Untuk apa istriku ke sana?"


"Mengikuti Daisy."


"Sialan, seharusnya aku membunuh mereka sejak awal dan tidak mengikuti rencana bodoh kalian."


"Jaga emosimu Lio! Saat ini bukan waktu yang tepat untuk meluapkan kekesalanmu. Kita harus mencari istrimu. Sedangkan pelaku utamanya bahkan belum tertebak siapa dia. Istrimu dalam bahaya." Skala menatap tajam pria itu, sebagai ketua tentunya ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan semua anggotanya termasuk Lio si keras kepala ini.


Mendengar pencerahan dari Skala, Marvel kembali menarik napasnya. Ya, ia harus tenang.


Pria itu memejamkan matanya, mencoba berpikir kemanakah sang istri jika pergi melalui taman belakang.


"Dia tidak akan bisa membawa Lala melewati gerbang dengan deteksi keamanan itu. Berputar ke gerbang depan juga terlalu jauh, kalaupun iya keamanan di sana juga terjamin. Sedangkan di sebelah selatan ada perkebunan apel dan tidak mungkin untuk bersembunyi di sana karena banyak pekerja yang akan melihat kecuali ...." Pria itu membantin dan membuka matanya.


"Hutan utara," gumamnya diikuti umpatan.


"Brengsek!" Pria itu berlari keluar diikuti ketiga sahabatnya.


"Kalian jangan mengikutiku, tetap pantau markas dan bantu aku untuk memastikan keadaan mansion ku," pinta pria itu sebelum berlari keluar mansion kemudian mengumpulkan sebagian pengawalnya untuk membantu.


"Ikuti saya untuk masuk ke hutan utara dan temukan nyonya kalian dalam keadaan hidup! Lalu ... jaga diri kalian baik-baik, kalian tahu sendiri di sana terdapat banyak jebakan untuk musuh."


"Baik, Tuan." Serentak para pengawal itu menjawab.

__ADS_1


Dari kejauhan, Willy yang sedang mengemudi mengernyit aneh. Untuk apa pengawal sebanyak itu dikumpulkan? Lantas ia segera tancap gas, sampai ke hadapan sang tuan lebih cepat.


"Tuan," pekik pria itu yang langsung dihadiahi tatapan maut sang tuan.


Glek.


Willy menelan ludahnya kasar, sepertinya kondisi di sini tidak lebih baik daripada di perusahaan. Tapi kondisi perusahaan benar-benar genting dan ia harus menyampaikannya.


"Tuan, kondisi perusahaan saat ini sangat buruk. Di luar beredar berita bahwa pemilik perusahaan tidak bertanggungjawab dan memperlakukan istrinya dengan sangat buruk, bahkan mereka memiliki bukti bahwa tuan menyiksa nyonya Ayla. Saat ini saham Prado Corp terus anjlok dan sudah mengalami penurunan sebesar 10 persen."


Willy menarik napas lega setelah menyampaikan berita itu. Namun napasnya langsung tercekat kala melihat tatapan sang tuan.


"Tuan, ada bom yang terpasang di tubuh nona Audi," teriak Kendrick.


Marvel mengeratkan rahangnya, siapa dia yang berani sekali menyerangnya dari berbagai arah seperti ini. Lihat saja, setelah ia menemukan Lala, siapapun itu dalangnya akan ia habisi saat itu juga.


"Cepat bawa semua orang keluar! Dan kalian, tetap masuk ke hutan dan temukan istriku bagaimanapun caranya!" titah Marvel sembari berlari masuk kembali ke dalam mansion.


.


.


.


Di dalam hutan.


"Bodoh! Seharusnya aku sadar kalau ini jebakan. Tidak mungkin aku semudah itu lolos dari perhatian para bodyguard pria itu," batin Ayla sembari terus menyeret kaki kanannya yang terluka. Sesekali ia meringis kecil, ia yakin di hutan belantara ini akan lebih banyak jebakan yang siap melahapnya jikalau ia tak berhati-hati.


Di balik semak-semak, Daisy tengah tertawa kecil. "Aku tidak menyangka ternyata dia sebodoh itu."


Lucio yang juga berada di sana tersenyum smirk. "Kau tau? Karena dia aku harus menerima amukan mafia itu. Sekarang semuanya akan terbayar, wanita ini pasti akan mati oleh jebakan yang banyak ini. Dan suami bodohnya itu akan menyalahkan diri sendiri karena memasang jebakan itu, hahaha."


"Sstt, diam lah. Nanti kita ketahuan." Daisy menutup mulut pria itu, membuat Lucio tersenyum penuh arti.


"Apa kau mau mencoba di tempat terbuka seperti ini?" bisik Lucio membuat Daisy mendelik.


"Gila, kita sedang melaksanakan tugas di sini."


"Oh ayolah, kalau bisa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, kenapa tidak?"


"Tidak, aku tidak mau."


"Daisy."


"Tidak."


"Ck, baiklah. Ayo kita pergi dari sini."

__ADS_1


"Kau yakin dia tidak akan selamat? Bagaimana jika dia bertahan? Lagian kenapa bos meminta kita agar tidak menyakitinya?" kesal Daisy yang tak habis pikir dengan perintah sang bos besar.


"Entahlah. Tapi aku yakin dia tidak akan selamat, di sini terdapat banyak jebakan. Bahkan di belakangmu ada."


"Apa?" Daisy langsung kaku, tak berani bergerak sama sekali.


"Hahaha."


"Kau bohong ya?" geram Daisy.


"Hehehe." Lucio terkekeh membuat Daisy menatapnya masam.


"Baiklah, bagaimana kalau kita bunuh saja dia." Lucio memberi ide, takutnya nanti Ayla bisa-bisa beneran selamat.


"Tapi bos meminta kita agar tidak melakukan apapun padanya."


"Bodoh, di sini ada banyak jebakan. Bilang saja wanita itu mati karena diserang jebakan buatan suaminya sendiri."


Daisy mengangguk, setuju dengan pendapat Lucio. "Kau benar, kalau begitu ayo! Aku tidak sabar untuk mencabik-cabik tubuh wanita murahan itu."


"Oh, apa kau masih menyimpan dendam karena kematian tuan muda kedua itu?"


"Eh, tentu saja tidak. Aku hanya tidak suka karena dia sok kecantikan saja."


"Benarkah?" Daisy mengangguk mantap.


Keduanya pun keluar dari balik semak belukar dan menghampiri Ayla yang terus berjalan menjauh. Sepertinya wanita itu tidak tahu arah yang mana yang benar.


"Hei, wanita bodoh," pekik Daisy membuat Ayla langsung menoleh.


"Hahaha, aku tidak menyangka kau sebodoh itu sampai masuk ke dalam jebakan kami," lanjutnya dengan wajah penuh ejekan.


"Kalian pengkhianat!" geram Ayla.


"Hahaha, baiklah. Sebelum kau mati, kami akan mengaku padamu. Ya, kami adalah pengkhianat. Dari awal kami memang bukan anjing-anjing suami mu. Suami mu saja yang bodoh sampai tidak menyadarinya. Hahaha." Tawa Lucio menggelegar.


Ayla mengeratkan kedua tangannya. Ingin sekali ia menendang mulut pria itu.


"Oh, kau mau apa? Wajahmu galak sekali? Tapi aku tak bisa bohong, galakmu itu sangat enak dipandang," ucap Lucio dengan seringai.


Daisy menatap pria itu tak percaya. Tadi pria ini masih menggodanya dan sekarang apa? Wanita itu jadi semakin geram pada Ayla, kemudian memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku.


"Matilah kau, wanita jaalang!" teriak Daisy sembari mengeluarkan sebuah pisau dapur dari saku jaketnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2