
Ayla bergidik kala melihat bangunan besi dihadapannya. Tingginya sekitar lima meter dan lebar per kandang kira-kira tiga meter, keadaan gelap remang-remang walau tempat tersebut terlihat bersih dan terawat.
Wanita itu menarik napasnya dengan berat, menetralisir rasa takut yang sempat membara. Lalu melirik kedua laki-laki yang tengah membuka kandang besi yang terletak di tengah-tengah, antara seekor singa jantan kekar besar yang Ayla yakini sebagai Leo dan seekor macam kumbang hitam yang tampak menyeramkan.
Glek.
Ayla menelan ludah kasar saat melihat kegagahan kedua binatang buas itu. Bagaimana jika mereka menggila? Bagaimana jika mereka mencabik-cabik tubuhnya dan memperebutkan daging-dagingnya?
Lamunan mengerikan itu lenyap kala salah seorang pengawal membuka suara walau dengan berbisik. "Nyonya, silakan masuk!"
Ayla tidak menyahut, berjalan dengan perlahan hingga ke depan pintu kurungan besi itu. "Nyonya, sebaiknya Anda tidak berisik dan membangunkan kedua binatang ini."
Ayla mengangguk sekilas, lalu melanjutkan langkah dan masuk ke dalam kurungan itu. Dengan tubuh sedikit gemetar wanita itu duduk di tengah-tengah kandang. Itu adalah posisi paling bagus untuk menghindar dari kedua binatang buas itu.
Setelah memasukkan sang nyonya ke dalam kurungan, kedua pengawal itu beranjak pergi. Meninggalkan Ayla sendirian disana bersama dua predator yang bisa menerkam kapan saja.
Sementara wanita yang ditinggal hanya bisa duduk diam, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun yang bisa membangunkan singa dan macan lapar.
.
.
.
Di tempat lain, Alya masih berjalan kesana kemari. Ingin menyusul sang nyonya, namun banyak pengawal yang ditugaskan Audi untuk mengawasinya.
"Bagaimana ini?" gumam Alya yang kini terkurung di dalam kamarnya. Ia membuka pintu sedikit dan sudah terlihat dua orang pengawal yang sedang mengobrol.
Gadis itu menarik napasnya kasar. Sungguh ia khawatir pada keadaan Ayla. "Ayla pasti sangat ketakutan di sana, bagaimana jika Leo mengamuk? Tidak, tidak, bagaimana kau bisa memikirkan hal bodoh seperti itu Alya?"
"Sekarang lebih baik pikirkan cara agar bisa menyelamatkan Ayla."
Ia duduk di sudut tempat tidur. Bagaimanapun berpikir ia tidak bisa membantu Ayla seorang diri. Ya, ia harus mencari seseorang yang bisa membantunya.
Namun dipikirkan bagaimanapun lagi, tetap saja ia tidak menemukan siapapun yang dapat membantunya. Tidak sang ibu, sang ayah maupun sang kakak apalagi yang lainnya.
Tiba-tiba wajah seseorang terlintas di kepalanya. "Tuan manekin," batinnya seakan menemukan setetes air di gurun Sahara.
Wajahnya cerah seketika kala mengingat seorang pria yang menginap di mansion utama semalam. "Semoga saja pria itu masih ada di mansion dan belum pergi."
Dengan teguh dan hati yang mantap, wanita itu membuka pintu kamar dengan lebar.
Klek.
Kedua pengawal yang mengobrol tadi tampak menatapnya tajam, lalu berjalan mengejar Alya yang berlari terburu-buru.
"Hei, kau mau kemana?" tanya salah satu dari mereka namun tak gadis itu jawab.
Lantas mereka meningkatkan kecepatan dan berhasil menyusul gadis itu. "Kau mau kemana?"
"Aku sedang mau ke toilet, perutku sakit, kalian mau mengikuti ku juga?"
Kedua pengawal itu saling memandang, sementara Alya menampilkan wajah yang seperti sedang menahan panggilan alam. "Aduh, aku tidak tahan lagi."
__ADS_1
"Baiklah, tapi kau harus kembali ke kamarmu jika sudah selesai. Lebih baik kau tidak membuat masalah yang akan menyulitkan dirimu sendiri." Setelah memberi nasihat, kedua pria itu melepaskan Alya.
Alya mengangguk patuh saja, setelah itu kembali berlari ke toilet yang terletak di sebelah dapur. "Huft." Desah napas langsung ia keluarkan setelah berhasil mengelabui dua pengawal sialan itu.
Gadis itu menempelkan telinga di pintu toilet dan menguping pembicaraan dua orang itu. "Apa kita harus menunggunya disini?"
"Tentu saja, bagaimana jika dia membohongi kita."
Tiba-tiba terdengar suara menjijikan yang berasal dari dalam toilet, diikuti gumaman puas Alya yang lumayan nyaring.
Wajah kedua pengawal itu langsung berubah, tidak menyangka Alya yang meski seorang pelayan tapi cantik dan elegan itu bisa semenjijikan itu.
"Bagaimana? Masih mau menunggu?" tanya pria tadi yang tidak dijawab rekannya, justru ia langsung berjalan pergi dengan wajah menahan muntah.
Sementara di dalam toilet Alya tersenyum menyeringai, menatap ponselnya kemudian berbisik, "Terima kasih."
Ia lalu mematikan suara yang merusak reputasinya itu dan membuka pintu perlahan. "Tidak ada orang, yes," batinnya sembari menutup kembali pintu toilet dengan pelan kemudian mengendap-endap ke arah pintu belakang.
"Sial," batinnya kala melihat ada pengawal lain yang menjaga di sana.
"Bagaimana ini?" gumamnya sembari menggigit jari.
"Kau ngapain?" bisik seseorang di belakang gadis itu.
Deg.
"Kakak?"
"Eng-enggak, aku cuma agak risih aja lihat pengawal ada di mana-mana."
Tiba-tiba Agya mentoyor jidat sang adik. "Bodoh, sejak kapan kau bisa membohongiku?"
"Sakit tahu, Kak." Alya mengusap dahinya.
Agya tersenyum kecil, sudah sejak lama hubungan ke duanya menjadi dingin dan kini ia seperti menemukan adik kecilnya kembali.
"Kau pasti mau menyelamatkan nyonya kan?" tanya Agya yang tepat sasaran.
"Ti-tidak...."
"Sstt, jangan berbohong lagi. Sekarang kamu tetap disini, aku akan pergi mengelabui mereka.
"Hah?" Belum sempat Alya bertanya, sang kakak telah berjalan meninggalkannya dan berjalan mengendap-endap namun tetap dapat dilihat oleh pengawal yang berjaga di pintu belakang.
"Lihat itu! Dia Agya atau Alya?" tanya salah satu dari mereka pada rekannya.
"Itu Agya."
"Tidak, itu Alya. Kalau Agya tidak akan berjalan dengan mengendap-endap seperti itu.
"Kau benar juga."
"Ayo kita lihat dia mau kemana."
__ADS_1
"Kau pergilah, aku akan berjaga disini."
"Baiklah."
Salah satu pengawal itu kemudian berlalu pergi, sementara satunya tetap berjaga di sana. Sebenarnya Alya bisa saja mengerahkan jurus bela diri nya, namun hal itu akan menarik perhatian yang lain.
Setelah berpikir beberapa saat dan memutuskan akan melawan satu pengawal yang tersisa apapun hasilnya, tiba-tiba terdengar suara dari arah Agya pergi tadi.
ARGH.
Teriakan yang menggema di paviliun itu berhasil mengalihkan atensi sang rekan yang masih berjaga di depan pintu. Lantas tanpa berpikir panjang pria itu segera berlari menuju sumber suara.
"Yes ... Kakak, aku berhutang padamu," gumamnya, setelah itu segera melarikan diri melewati pintu belakang.
Gadis itu berlari dengan kencang, tujuannya hanya satu. Memasuki mansion dan menemukan pria berwajah dingin itu atau siapapun yang bisa memberinya bantuan.
"Hah, hah, hah." Gadis itu menarik dan mengeluarkan napasnya dengan berat. Kini ia telah berada di depan pintu kamar pria yang kemarin. Untung saja keadaan mansion sedang sepi dan para pengawal tidak menghalanginya memasuki mansion.
Pikir mereka jika memasuki mansion, tentu Alya memiliki pekerjaan dan tidak akan aneh-aneh.
Gadis itu lalu memberanikan diri. Mengangkat tangan kemudian mengetuk pintu yang tertutup rapat itu. Semoga saja tuan manekin itu masih berada di dalam sana.
Tok, tok, tok.
Tidak sahutan dari dalam, hingga Alya semakin menggedor pintu itu.
Tok, tok, tok.
"Tuan, maaf mengganggu waktunya. Sa ...."
Belum sempat Alya melanjutkan perkataannya, pintu itu telah terbuka. Menampilkan seorang pria dengan dada bidang yang telanjaang. Refleks saja Alya menutup kedua matanya.
"Ada apa?" tanya Morgan tanpa basa-basi. Pria itu baru saja mandi dilihat dari rambutnya yang basah.
Alya jadi gelagapan. Meski wajahnya seperti manekin yang tidak bisa berekspresi tapi Morgan sangat tampan dan berhasil membuat hatinya berdegup kencang.
Tidak mendapat respon dari wanita di hadapannya, membuat Morgan ingin menutup pintu kembali.
"Eh, Tu-tuan. Saya ingin meminta bantuan Anda," ujar Alya cepat sembari menarik lengan Morgan yang ingin masuk ke dalam kamar.
Morgan menatap tajam tangan Alya. Luar biasa sekali, dalam dua hari ia bisa menemukan dua wanita yang berani berkontak fisik dengannya. Jika Ayla punya Marvel sahabatnya, seharusnya pelayan muda ini tidak memiliki pasangan kan?
Diam-diam Morgan menyeringai, seringai yang membuat Alya menelan ludahnya dengan kasar.
"Apa yang bisa saya dapatkan jika membantumu?"
"Apa? ... eng, Tu-tuan bisa meminta saya melakukan apapun yang mampu saya lakukan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1