
"Kamu sakit!" Ucap Alinda dengan mengerutkan alis nya.
"Dan itu virus dari aku semalam kan? Kembalikan!" Gadis itu dengan mengalungkan kedua tangan nya di leher Krisna dan kaki yang berjinjit berusaha mencium bibir Krisna.
Berusaha melindungi gadis nakal itu agar tidak terkena flu nya, Krisna mendorong wajah Alinda dengan telapak tangan nya dan tubuh gadis itu sampai terhuyung kebelakang namun tangan yang melekat pada leher Krisna tak sengaja menarik kerah baju remaja tampan itu.
DHUBRAK!!
Alhasil kedua nya jatuh dengan posisi Krisna yang menindih Alinda, bahkan tak sengaja bibir kedua nya menyatu.
Terpaku dengan netra yang membulat bahkan enggan untuk berkedip, kedua nya terdiam hingga suara derap langkah kaki berhenti di ambang pintu kamar Krisna.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara itu membuat Krisna dan Alinda melihat ke arah sumber suara.
"Mama?"
"Tante?"
Lirih kedua nya dengan segera berdiri dan menghadap ke arah kedua orang tua itu.
"Ekhem... Papa juga ada di sini loh!" Bernada datar Hermawan menyatakan diri nya juga di sana, dan itu membuat suasana menjadi canggung, ingin tertawa karena orang tua itu ingin di akui keberadaan nya, tapi kok tidak pantas, tidak tertawa tapi sungguh kata-kata Hermawan sungguh menggelitik.
Terlihat ketiga nya menatap ke arah Hermawan, namun pemimpin utama dari Awan Group itu segera mengembalikan topik awal pembicaraan.
"Sedang apa kalian di lantai? Kalian itu sudah sama-sama besar, bukan anak kecil lagi!" Ucap Hermawan yang membuat Riana atau sang istri juga mengalihkan pandangan nya ke arah dua remaja yang tengah menundukkan wajah nya.
"Krisna tidak sengaja tersandung dan menabrak Alin," Sahut Krisna berbohong.
Hermawan menaikan salah satu alis nya dan bertanya kepada Alinda, si gadis yang tidak pandai berbohong itu.
"Benar begitu Alinda?" Tanya Hermawan yang membuat Alinda sekilas melirik ke arah Krisna.
"I... iya om," Tergagap Alinda menjawab, melihat kedua remaja itu masih menundukkan wajah nya Hermawan dan Riana mampu mengendus kebohongan yang tercipta di antara bocah-bocah remaja itu.
"Ooohh begitu, baik karena Krisna yang salah maka hukuman ini... "
"Tunggu om! Alin yang salah kok!" Sela gadis remaja itu, yang membuat Hermawan dan Riana tersenyum bersamaan.
"Apaan sih lo?!" Bentak Krisna dengan menatap Alinda, dan kali ini gadis itu tertunduk tak membalas tatapan Krisna seperti biasanya.
"Mana nih yang benar? Alin apa Krisna? Atau jangan-jangan kedua nya?" Riana sengaja memancing suasana.
"Krisna yang salah mah," Tegas Krisna.
"Nggak kok tante, Alinda yang salah," Kekeuh Alinda tak mau mengalah.
"Apaan sih lo Lin?!" Geram Krisna menghadapi gadis yang tidak pernah tau kalau diri nya tengah membela nya.
"Kan emang bener gue yang narik lo tadi!" Kali ini Alinda berucap dengan menatap Krisna.
"Ya itu kan karena gue yang dorong lo!" Bantah Krisna.
__ADS_1
"Iya, lo dorong gue karena lo nggak mau gue cium lo kan?" Ceplos Alinda yang masih tidak sadar dan Hermawan juga Riana masih menjadi pendengar setia.
"Bukan begitu! Gue flu, gue takut lo ntar sakit!" Bentak Krisna tak kalah tinggi nada nya, hingga membuat kedua orang tua nya menggelengkan kepala nya, ya tidak biasanya Krisna terlalu berekspresi seperti ini.
"Lo flu juga karena semalam lo cium paksa gue kan?!" Masih dengan ngotot Alinda berucap, sedangkan Krisna terdiam, ia mengusap raut wajah nya frustasi.
"Ekhem... Jadi udah nih perdebatan nya?" Tanya Hermawan yang masih ada di sana.
Dheg!!
Kedua remaja itu bersamaan menoleh ke arah Hermawan dan Riana yang masih setia mendengarkan percekcokan itu.
"Jadi, siapa yang salah?" Tanya Hermawan, dan itu membuat Krisna dan Alinda sama-sama menjawab, "DIA!!"
Bersamaan saling menuding.
"Kalian ini sebenar nya saling suka tapi gengsi atau gimana sih?" Tanya Hermawan dengan raut serius.
"Papa apaan sih?! Jangan aneh-aneh deh kalau ngomong!" Sentak Krisna yang langsung berjalan menuju koper nya yang sudah rapi.
"Kris!" Alinda berbalik dan mengejar remaja tampan itu.
Drrrrtttzzzz...
Drrrrtttzzzz...
Drrrrtttzzzz...
Dering gawai canggih yang ada di atas meja membuat Krisna mengacuhkan panggilan dari Alinda, fokus nya teralihkan ke arah gawai tipis yang tengah mencuri perhatian nya.
"Kamu ada janji dengan Nafiza?" Tanya Alinda yang sudah pasti dapat dilihat siapa saja bahwa gadis itu tengah cemburu.
Hermawan dan Riana pun lebih memilih meninggalkan kedua remaja itu.
Tak menjawab pertanyaan dari Alinda, Krisna malah meraih gawai pipih yang sedari tadi meminta perhatian nya, di gesernya tombol hijau yang ada pada layar.
π"Halo Kris! Lama banget sih!" Terdengar samar-samar rengekkan manja dari balik sambungan telfon itu membuat, gadis yang kini berdiri di belakang punggung Krisna merasakan sesak di dada nya.
"Gue lagi siap-siap, ada apa?" Datar dan dingin itulah ciri khas Krisna.
π"Kata ibu ntar lo suruh jemput gue, soal nya ibu dari sekolah mau langsung ke bandara" Suara itu semakin membuat Alinda sesak dan entah sejak kapan bulir bening menetes dari pelupuk mata nya.
Mendengar nafas panjang yang di tarik Alinda, Krisna sedikit menoleh ke arah gadis itu.
"Sorry gue sibuk!" Tanpa menunggu lama Krisna segera mengakhiri panggilan itu kemudian berbalik dan menatap gadis yang masih menundukkan wajah nya.
"Hey?" Tak tega Krisna melihat kesedihan Alinda, si gadis yang sangat jail dan menyebalkan itu nyata nya berhasil merenggut sedikit perhatian dari tetangga tampan nya itu.
Memegang kedua pundak Alinda Krisna sedikit menunduk hingga wajah kedua nya sejajar.
"Lo nangis?" Pertanyaan bodoh dan memalukan itu keluar dari mulut Krisna bahkan dengan ekspresi datar nya.
__ADS_1
Balik menatap Krisna, Alinda dengan mata sembab dan bibir mleyot nya membuat Krisna semakin gemas, ia menarik gadis itu ke dalam pelukan nya.
"Dah nggak usah nangis, masa hari terakhir ketemu gue lo mau nangis?" Ucap Krisna dengan mengelus pucuk kepala Alinda.
"Lo... beneran mau berangkat ke New York sekarang?" Bertanya di tengah isak tangis nya Alinda tak berani sedikit pun melihat wajah Krisna.
Terdengar Krisna menghela nafas, "Iya, lagian mumpung ada kesempatan,"
"Sama Nafiza?" Tanya Alinda.
"Iya, kan bu Kepsek sendiri yang bagi team nya, harus nya ada Sendy juga sih, tapi karena dia belum sembuh, mungkin dia bisa ikut gelombang selanjut nya" Jelas Krisna.
"Terus ntar kalau ada ulangan, siapa yang ngajarin gue? Siapa yang bakal temenin gue curhat kalau mama nggak pulang-pulang? Terus siapa yang bakal belain gue kalau gue di hukum? Gue nggak... "
"Lo bisa! Lo harus bisa, belajar sendiri, memecahkan masalah lo sendiri, dan gue tunggu lo di New York" Sela Krisna dengan mensejajarkan kembali wajahnya dengan wajah Alinda.
"Tapi lo nggak satu apartemen sama Nafiza kan?!" Masih seputar gadis lain yang memenuhi otak Alinda.
"Lo pikir gue nggak bisa beli apartemen sendiri? Sampai gue harus numpang sama Nafiza?!" Jawaban tak pasti itu membuat Alinda sedikit merasa tenang.
Kembali gadis nakal itu memeluk tubuh Krisna dengan sangat erat, "Gue bakal rindu banget sama lo,"
"Maka nya belajar yang bener, ntar kita ketemu di lagi di New York, ok!" Krisna meyakinkan gadis yang tengah ada dalam pelukan nya.
"Tapi lo nggak bakal menjalin hubungan sama Nafiza kan?!" Melepas pelukan nya Alinda melontarkan pertanyaan itu
"Apaan sih?! Udah deh lo tu terlalu banyak mikir, maka nya pelajaran gak ada yang masuk di otak lo! Jangan dewasa sebelum waktunya bisa!" Gertak Krisna.
"Tapi gue su..."
"Ssshhhttt diam! Gue nggak mau denger kata nggak penting itu! Yang gue mau lo mulai sekarang harus serius belajar dan kita akan ketemu lagi di New York! Paham!" Ucap Krisna dengan tatapan tajam nya, pasrah Alinda hanya menganggukkan kepala nya.
...ββββ...
Akhir nya tepat pukul satu siang bakda Dzuhur Krisna di antar kedua orang tua nya ke bandara, bahkan Alinda ikut bersama nya.
"Alin mau ikut ke New York sayang?" Tanya Riana yang duduk di depan di samping Hermawan yang tengah fokus dengan jalanan di depan.
"Eh nggak kok tante, mana nyampe otak kecil Alin buat ke sana" Jawab Alinda asal dan itu membuat Krisna melempar tatapan tajam ke arah nya, Alinda menelan saliva nya susah payah mendapati tatapan tajam itu, ia teringat beberapa jam yang lalu diri nya berjanji untuk berjuang dan berusaha meraih beasiswa itu.
Hening seketika tak ada perbincangan antara Alinda dan Krisna, karena Riana kembali sibuk berbincang dengan suami kesayangan nya.
Setiba nya di bandara, dengan berat hati ia melepaskan tetangga tampan nya itu untuk pergi menuntut ilmu ke negeri seberang. Kini Krisna dan Nafiza tengah berjalan dengan mendorong koper masing-masing.
"Lihat mereka betapa serasi nya, gadis dan juga perjaka yang sama-sama berotak genius dan encer, pasti akan cocok jika di jodohkan" Ucap seorang wanita dengan pakaian elegan nya, ya itu adalah ibu Kepala sekolah yang mana ibu dari Nafiza.
Alinda terdiam tak menyahuti tapi Riana yang paham dengan perasaan gadis itu segera berucap, "Maaf bu, saya tidak berpikir jauh ke sana, putra saya memang genius tapi tidak akan saya jodohkan di usia yang masih harus meraih cita-cita nya ini" Ucap Riana yang segera berjalan mendekati Krisna kemudian menarik anak tampan nya itu agar menjauh dari gadis yang ada di sampingnya.
"Sayang, anak mama sudah besar, di sana nanti jangan nakal, belajar yang bener, awas sampai mama dengar kamu ada hubungan dengan wanita, mama cabut semua fasilitas kamu! Kamu calon penerusnya papa kamu!" Wejangan itu Riana berikan kepada Krisna.
Dan bocah remaja tampan itu sudah terbiasa menuruti semua nasihat dari mama nya.
__ADS_1
Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya tiba juga saat nya Krisna berangkat, dan meninggalkan keluarga juga gadis nakal nya.
"Jaga diri baik-baik, aku tunggu kamu di New York!" Bisik Krisna ketika memberikan peluk perpisahan kepada Alinda.