
Menjalani tidaklah mudah seperti mengucapkan, namun apa boleh buat kehidupan ini harus terus bergerak.
Tak ada yang akan setia melainkan Tuhan kita, para makhluk nya hanya akan silih berganti, datang dan pergi.
Begitulah sistematika kehidupan, jika dia datang maka suatu saat pasti akan pergi, seperti sang surya yang pernah terbit dan akan pula tenggelam pada saat nya, dan tak lain hal nya dengan air laut yang pasti akan ada masa nya pasang dan surut.
Juga kehidupan ini suatu pertemuan yang bermula dengan perkenalan dan pasti akan muncul rasa nyaman, itu pun juga akan berpisah jika sudah sampai pada waktu nya.
Sama hal nya dengan Alinda kini gadis itu merasa kan kehilangan yang begitu mendalam, tapi masih ada secercah harapan untuk diri nya kembali bertemu dengan tetangga yang sangat ia idolakan.
"Haaaahhh... Lo lagi ngapain sekarang? Bagaimana kabar lo?" Gumam gadis cantik itu dengan memandang ke arah jendela kamar tetangga sebelah nya.
Senyum getir ia tampilkan tatkala netra indah itu memandang sebuah bingkai yang teronggok di atas meja belajar nya, ya di sana ada foto diri nya dan Krisna saat masa mereka masih sekolah dasar.
Sudah berhasil dengan pencapaian loncat kelas kini Alinda meninggalkan teman-teman sekelas nya.
Ya dengan niat dan tekat yang sudah bulat gadis nakal yang terkenal sering bolos bahkan tidur di dalam kelas itu kini menjadi ahli perpustakaan, tak ayal ada yang menyebut nya danyang nya perpustakaan.
Ya ini adalah hari tes beasiswa yang menjadi tujuan utama Alinda gadis itu masih serius dengan buku-buku nya di dalam kamar nya, ya walau pun terkadang mata nya menatap ke arah jendela yang tertutup milik tetangga samping rumah nya.
"Tunggu aku sebentar lagi!" Gumam nya dalam lamunan, sampai terdengar pintu kamar nya yang di ketuk oleh seseorang.
TOK... TOK... TOK... TOK...
"Dek Al? Udah belum? Kakak ada meeting ini bentar lagi!" Ya suara Cakra yang mengajak gadis nakal yang sudah tobat karena cinta itu untuk segera keluar dari dalam sangkar nya.
Tak mau menyulut api emosi pagi-pagi, Alinda segera mengemasi buku nya dan beranjak dari duduk nya.
Gadis itu bersama dengan kakak kandung nya berangkat ke sekolah.
...❄❄❄❄...
Di dalam ruangan tes, terlihat pemuda tampan tengah berdiri di ambang pintu, ia terlihat sedikit cemas.
"Lo nunggu siapa sih Sen?" Tanya Fraya yang saat itu juga mengikuti tes beasiswa, ya Alinda mengikuti kelas Akselerasi tidaklah sendirian, ada Fraya dan Sendy yang selalu setia mendampingi bocah yang terkadang masih khilaf dan inging saja bolos dan menyerah.
"Alin kok belum nyampe-nyampe sih? Lima menit lagi loh gurunya datang, " Gerutu Sendy dengan menilik arloji yang melingkar macho di lengan kiri nya.
__ADS_1
"Coba gue telfon deh!" Fraya segera mengeluarkan gawai pipih nan canggih itu dari dalam saku nya kemudian dengan segera melayangkan panggilan kepada sahabat sebestinya itu.
Tak lama panggilan itu tersambung ternyata Alinda tengah berlari mendekati kedua teman nya itu.
"Gila lo! Dateng mepet banget, gue kira lo bolos!" Ucap Sendy dengan menampol kepala Alinda.
"Hehe ya sorry," Terkekeh gadis itu menunjukkan barisan gigi putih nya itu.
Tak lama kemudian guru pun datang, dan tes berlangsung selama kurang lebih dua jam.
Terlihat keseriusan dari raut wajah para siswa berotak encer itu.
"Sudah selesai?" Tanya Guru yang mengawasi berjalan nya tes itu.
"Sudha bu!" Serempak mereka menjawab.
"Baiklah, silahkan tinggalkan kertas kalian di atas meja dan silahkan keluar, " Titah guru itu dengan membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit merosot.
Seperti berharap yang terbaik, Alinda mencium kertas lembar jawab nya dengan merapal do'a semoga Tuhan nya tidak mempermainkan usaha nya telah ia jalani susah payah itu.
"Gila lo, itu lip tint lo berbekas loh!" Bisik Fraya dengan mentoel lengan Alinda.
"Lo nggak keluar Sis?" Tanya Fraya ke gadis yang masih duduk di meja dengan kertas lembar jawab nya.
"Duluan aja, gue belum selesai," Ucap gadis yang bernama Siska, Alinda dan Fraya sling memandang kemudian mengendikkan bahunya bersamaan.
"Ya udah kita duluan ya?" Ucap Fraya dengan menggandeng lengan Alinda, Siska hanya mengangguk tanpa menjawab.
Alinda bersama Sendy dan Fraya menuju kantin untuk mengusir team keroncong yang menghebohkan perut mereka.
...❄❄❄❄...
Jam yang di gunakan untuk bersantai pun telah berakhir, ketiga siswa pengejar beasiswa itu kini tengah berjalan kembali menuju kelas tes.
"Gue deg-degan nih, ntar kira-kira nilai gue, nyampe nggak ya?" Ucap Alinda yang untuk pertama kali nya perduli soal nilai.
"Haha tenang aja, tes-tes kemarin yang buat loncat kelas aja lo berhasil ini kan udah tes ketiga" Sahut Sendy dengan mengelus pucuk kepala junior yang kini setara dengan nya.
Fraya hanya tersenyum melihat kedua nya, tak dapat di pungkiri diri nya sendiri pun merasa gugup, apakah nilai nya akan lolos.
__ADS_1
Ketiga nya sudah duduk di dalam bangku masing-masing dan tak lama kemudian guru datang dan mulai memberikan pengumuman barang siapa yang lolos maka akan segera berangkat ke New York City, Columbia University di Manhattan lah tujuan mereka.
Debar jantung tak dapat membohongi, sungguh ini adalah detik-detik paling menegangkan bagi para siswa pengejar beasiswa luar negeri itu.
Satu persatu nama siswa yang lolos terpanggil tak terkecuali Fraya dan Sendy, tapi sampai di akhir nama Alinda Frankista tidak tersebut dalam catatan lolos tes.
DEGH!! bagai tersambar petir di siang bolong Alinda termangu di tempat, rasa sesak mulai menjalari dada nya, netra cerahnya kini mulai terasa memburam karena di penuhi oleh cairan bening yang mengisi pelupuk mata indah nya.
Seolah bayangan segera bertemu dengan pujaan hati pupus seketika, tubuh nya lemas tapi tak mau merasa malu senyum tipis ia suguhkan.
"Apa ada yang belum terpanggil nama nya?" Tanya bu Yuli dengan membenarkan kacamata nya yang melorot.
Terdiam seolah menyerah dengan keadaan Alinda merasa payah merasa gagal kali ini.
"Maaf bu! Alinda Frankista, dia belum terpanggil" Lagi-lagi Sendy yang membela nya, sedangkan Alinda hanya tertunduk malu, apalagi saat bu Yuli mengatakan bahwa yang nama nya tidak di sebutkan itu gagal tes.
Seolah kehidupan berhenti sampai di situ saja, Alinda sudah tidak dapat lagi berpikir, hancur sudah harapan nya untuk terbang ke New York City guna menyusul sang pujaan hati.
Bu yuli mulai memanggil satu persatu siswa-siswi yang mengikuti tes itu untuk memberikan hasil nilai mereka yang ada di lembar jawab nya untuk di beritahukan kepada orang tua nya sebagai bukti mereka lolos atau tidak lolos.
"Alinda Frankista" Panggil bu Yuli, gadis dengan tatapan kosong dan langkah yang lunglai melangkah maju.
"Alinda kamu yang sabar ya, mungkin tahun depan kamu bisa ikut lagi" Bu Yuli berusaha memberi semangat dengan memberikan lembar jawab kepada Alinda.
Gadis itu menerima dan melihat nilai nya yang sangat anjlok itu, nilai apa ini 50, padahal dia sangat serius dalam mengerjakan setiap soal nya.
Dan lagi ia teringat sesuatu, "Maaf bu ini bukan punya saya!" Tegas Alinda dengan menatap bu Yuli.
Semua siswa-siswi pun terperanjat, bagaimana bisa soal itu bukan punya Alinda kalau nama nya saja jelas-jelas tertulis Alinda Frankista.
"Apa maksud kamu Alinda?" Bu Yuli yang merasa di tuduh melakukan kong kali kong itu mendadak meninggikan suara nya.
Fraya yang tak terima protes teman nya di sangkal berjalan ke depan dan melihat lembar jawab yang ada di tangan Alinda.
"Maaf bu, bukan nya saya lancang, tapi benar ini bukan lembar jawab Alinda," Fraya menimpali karena merasa itu tidak adil jika Alinda tidak bisa menemukan lembar jawab asli nya.
"Apa maksud kalian? Jelas-jelas ini ada nama Alinda" Sahut Bu Yuli lagi.
"Milik Alinda ada noda lip tint yang di gunakan nya! Saya rasa ada yang bermain curang di sini!" Ucap Fraya yang mengingat kelakuan konyol Alinda yang mencium lembar jawab nya barusan.
__ADS_1
"Baiklah tolong, kalian kumpulkan kembali lembar jawab yang sudah saya bagikan!...