
Setelah hari mulai menjelang petang dan sang mentari mulai berpamitan dengan menunjukkan sinar-sinar cantiknya yang berwarna jingga.
Krisna pun ikut berpamitan dengan Frans dan juga keluarga tak terkecuali sang kekasih hati yaitu Alinda.
"Sampai jumpa lusa, gue besok nggak ada kelas soal nya hehe..." tawa gadis cantik itu, Krisna hanya tersenyum dengan mengacak pelan pucuk kepala Alinda.
Keduanya kini berada di teras depan, Alinda mengantarkan Krisna.
"Baby..."
"Sshhhttt..." Alinda melotot dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Krisna, kemudian gadis itu menoleh ke kanan dan kiri.
"Kalau Cakra denger gimana coba?" mengerutkan alis Alinda mengingatkan kalau hubungan kedua nya masih Secret.
"Hehehe, lihat itu Cakra!" ucap Krisna hingga membuat Alinda menoleh, dan CUP!!
Satu kecupan mendarat di pipi Alinda, gadis itu terlihat sedikit syok.
"Krisna!" dengan suara tertahan Alinda ingin rasa nya marah karena terkejut.
Krisna hanya menaikkan salah satu alis nya, "Besok ada aku pertandingan, biasa jam tiga sore." ucap Krisna.
"Terus gue harus dateng?" cuek Alinda masih merasa kesal dengan kecupan dadakan yang sungguh tak aman bagi jantung itu.
Krisna mengedikkan pundaknya, "Ya... terserah, datang ya syukur, nggak ya udah nggak papa."
Diakhiri dengan senyum manis pertemuan kedua remaja hari ini.
Melambaikan tangan Alinda ketika mobil yang di tumpangi Krisna melaju keluar dari halaman rumah nya.
Gadis cantik itu kembali masuk ke dalam rumah, berniat untuk beristirahat, namun tak sengaja ketika ia hendak menaiki tangga, ekor mata Alinda mendapat pemandangan yang sangat langka di samping mini bar yang terdapat didekat pintu dapur.
Ya... dari sana terlihat ekor mata Alinda mendapati kakak kandung nya tengah mengungkung seorang cewek yang tak lain adalah Helen.
"Sedang apa mereka?" Penasaran gadis nakal itu mengurungkan niat nya untuk menaiki tangga, ia malah berjalan menuju ke dapur.
"Duh kok haus sih!" Sengaja Alinda bersuara lantang, dan terlihat kedua insan yang ada di samping meja mini bar itu seperti salah tingkah, mendadak Cakra memberi jarak dan kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Eh kak Helen, lagi apa kak?" basa-basi Alinda bertanya setelah Cakra benar-benar pergi dari ruangan itu.
"Eee... saya mau ambil minun non." ucap Helen dengan sopan.
"Ooo... Ok deh, kalau gitu Alin duluan ya!" Setelah menenggak minuman yang baru saja ia tuang ke dalam gelas, gadis itu segera berbalik dan berjalan menunju kamar nya.
Di dalam kamar Alinda...
Gadis itu terlihat tengah duduk di atas kursi belajar nya, namun bukan memikirkan pelajaran, melainkan otak kecil itu tengah bergulat dengan pemikiran hasil dari pemandangan yang menggoda iman barusan.
"Siapa memang nya kak Helen? Atau jangan-jangan Cakra ada something sama dia? oh no no no no... Nggak mungkinkan Cakra mau pacaran, Hah jangan-jangan, dia mulai normal?" Menerka-nerka gadis itu dengan memandang bayangan diri nya dari pantulan cermin di hadapan nya.
__ADS_1
Tak lama kemudian...
"Nah bagus dong!" ucap nya dengan setengah bersorak, "Jadi kalau dia udah ada gebetan, kan, otomatis hubungan gue sama Krisna mulai bisa terbuka dong." Alinda memasang senyum lebar nya.
...❄❄❄❄...
Pagi hari...
Mentari pagi yang semalam berganti purnama, kini telah muncul kembali membawa sinar hangat yang ia pancarkan ke sebagian dunia yang ter sinari.
Terdengar suara dentuman musik DJ yang membuat tubuh terasa ingin mengikuti alunan lagu, walau pun hanya dengan sekedar geyal-geyol.
Terlihat dengan semangat nenek cantik bernama Friska bersama dengan instruktur senam barunya ya itu Helen sudah bersama mencari keringat sehat.
Kedua manusia berbeda generasi itu tengah melakukan senam pagi di teras belakang.
Alinda yang juga mendengar musik DJ yang sangat asik untuk di ikuti itu segera keluar dari dalam kamar hangat nya.
Tak perlu waktu lama Alinda kini sudah bergabung dengan gerakan Aerobik tipis-tipis itu.
Pagi ini sungguh beda dengan pagi-pagi yang lain nya, biasa nya penghuni rumah mewah itu akan sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa kegiatan menyenangkan dan menyehatkan seperti pagi ini.
Frans hanya melihat sekilas dari dalam rumah, "Ayo Frans! Kita senam pagi bareng, biar tubuh kita sehat!" ajak Friska dengan melambaikan tangan yang mulai mengeriput itu kepada anak tunggal nya.
"Hahaha... No Mom, Frans harus kekantor pagi ini, Mommy hati-hati awas encok!" Teriak Frans dengan tawa nya.
Frans hanya tertawa dengan melangkahkan kaki nya mulai menjauh.
"Ayo nek semangat!" teriak Helen memimpin gerakan aerobik itu.
"Yok! kanan-kanan, kiri-kiri." gadis dewasa itu dengan lihai nya membimbing setiap gerakan senam pagi itu.
Alinda dan nenek Friska mengikuti dengan sesekali tertawa, cekikikan kedua nya karena sesekali salah gerakan.
"Haaaahhh... Haaaaahhhh... Haaaahhhh... Kita istirahat sebentar ya, capek!" keluh Friska dengan keringat yang sudah bercucuran.
"Ok nek." Helen mematikan musik, ketiganya kini duduk di kursi taman belakang dengan sinar hangat sang mentari yang membelai nyaman di permukaan kulit mereka.
"Pokok nya ini masih rumah aku ya mas! Aku nggak mau kita cerai!" Tak lama kemudian, Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam rumah.
"Siapa itu?" Friska bertanya dengan menegakkan posisi duduknya, bahkan kepala ia tolehkan ke arah sumber suara.
Menggeleng Alinda sambil menjawab, "Entahlah nek, coba kita lihat!" ajak Alinda dengan meraih lengan Friska untuk di gandeng nya.
Helen yang tak tau apa-apa pun hanya ikut melangkahkan kaki nya mengikuti kedua tuan rumah itu.
Tapi ketika Alinda dan Friska masuk ke ruang tengah, tangan Helen ditarik oleh seseorang hingga gadis dewasa itu masuk ke dalam gudang.
...❄❄❄❄...
__ADS_1
Di teras depan...
Frans baru saja melangkahkan kaki nya keluar dari pintu hunian mewah miliknya itu, namun langkah kaki nya hari terhenti karena seorang wanita muda dengan pakaian glamournya menghadangnya.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Frans dengan raut datar nya.
"Pokok nya ini masih rumah aku ya mas! Aku nggak mau kita cerai!" ucap wanita itu yang tak lain adalah Nita.
"Tidak! Rumah ini akan menjadi rumah Cakra! Bukan rumah mu, lebih baik kau pergi dari sini, dan urusi saja pacar baru mu itu! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, sejak aku menalak mu dua bulan yang lalu!" Tegas Frans menolak Nita.
Friska dan Alinda kini sudah sampai ambang pintu utama, Nita menatap nyalang kearah pintu dimana ada Alinda berdiri di sana.
"Oh jadi belum sah kita bercerai kau menampung wanita lain di rumah kita mas?!" Dengan suara lantang nya Nita berucap.
"Jaga ucapan mu wanita tidak tau diri! Dia ini cucu ku!" Sentak Friska tak kala emosi nya dengan Nita kala itu.
"Bukan kah kau yang malah bersama laki-laki lain!" semakin menyudutkan ucapan yang Friska lontarkan.
"Tante, maaf, jika kesetiaan Papa tidak bisa anda balas, maka lepaskan lah saja, carilah laki-laki lain yang lebih banyak duit nya, aku yakin masih banyak laki-laki berduit yang bisa membayar satu malam dengan tante." Alinda tanpa rasa malu berucap.
"Anak kecil tau apa kamu?!" ucap Nita mendekat ke arah Alinda dengan tangan yang hendak menjambak rambut gadis itu.
Tapi dengan sigap Alinda menangkap tangan Nita, tatapan tajam Alinda berikan, "Saya memang anak kecil, tapi setidak nya tau bagaimana cara nya bekerja keras, juga menghargai sebuah kesetiaan!" cecar Alinda dengan menghempas kasar lengan Nita.
"Anak tidak sopan! Begini Kah ibu mu mengajarimu?!" sindir Nita.
"Sudahlah Nit! Pergilah dari sini, aku sudah terlambat ini!" Hardik Frans yang dengan segera berjalan menuju mobil pribadinya.
Dengan amarah yang masih memuncak, terpaksa Nita meninggalkan hunian mewah itu.
Setelah Frans bersama dengan sopir nya melaju meniggalkan rumah nya, Alinda dan Friska saling pandang, terbesit pikiran yang sama diantara kedua perempuan beda generasi itu.
"Dimana Helen?" tanya Friska dan itu juga yang tengah di pikirkan Alinda.
"Mungkin masih dibelakang." sahut Alinda dengan melangkahkan kaki nya menuju teras belakang, Friska membuntuti cucu cantiknya itu.
"Maaf tuan, tapi saya juga tidak tau kalau ini rumah anda." Terdengar sedikit perdebatan dari dalam gudang.
Alinda berhenti dan menajamkan pendengaran nya, netra bulat nya memandang ke arah nenek yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Friska dengan suara berbisik, seolah tau kalau Alinda sedang mendengarkan sesuatu. Alinda menempelkan jari telunjuk nya di bibir mengkode Friska agar tidak bersuara.
"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan mu itu!" Kini terdengar suara laki-laki yang mirip dengan suara Cakra yang berucap.
"Terserah Tuan saja, yang penting saya sudah mengatakan apa adanya dan juga Tuan tenang saja, jika pun saya hamil, sedikit pun saya tidak akan meminta tanggung jawab dari anda!" Jelas sekali itu suara wanita.
Alinda tak tahan hanya berdiam diri di luar pintu gudang, gadis itu dengan segera mengambil ancang-ancang dan...
DHUBRAK!!!
__ADS_1