Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Hamil


__ADS_3

"Nafiza?" lirih Alinda dengan mengerutkan kedua alisnya, dan ya gadis itu menoleh dan benar saja dia Nafiza.


"Mau apa lo kesini?!" berubah ketus gadis yang baru saja ceria itu.


"Gue ada perlu sama Krisna, bukan sama lo!" sahut Nafiza tak kalah dingin.


"Kris..." ucap Nafiza dengan memegang pundak Krisna, namun dengan segera Krisna menepis tangan itu.


"Udah deh Za, langsung ke intinya aja! Lo mau apa?!" Tak mau berbasa-basi, karena Krisna sudah menyadari perubahan Alinda yang membuatnya segera mengaktifkan mode siaga satu nya.


Ya... Gadis nakal yang tadinya ceria itu kini menjadi dingin dengan memasang raut wajah yang sama sekali tak enak di pandang, bahkan kedua tangan Alinda kini sudah bersedekap dada.


"Gue... gue..." tergagap Nafiza berucap dengan menundukkan wajahnya.


"Lama gue tinggal nih!" dingin Krisna berucap dengan memegang handel pintu apartemennya.


"Ok... ok... ok... gue ngomong!" Nafiza memegangi lengan Krisna, sejenak Nafiza menghela nafas.


"Gue hamil..." lirih Nafiza yang membuat Alinda dan Krisna membelalakkan mata nya secara bersamaan.


"Apa?! Hamil? Kok bisa?!" teriak Alinda dan juga Krisna secara bersamaan.


"Beib?! Bukan lo kan?!" melotot Alinda mengintrogasi langsung kekasih nya itu.


Lagi pula siapa yang tidak curiga, berjauhan bahkan kontak fisik keduanya sangatlah jarang, apa lagi Nafiza mengetahui alamat apartemen Krisna, itu semakin membuat Alinda berpikir yang tidak-tidak.


"Baby? Kamu kok nanya nya gitu?" tanya Krisna yang lebih terdengar seperti protes.


"Ya tinggal jawab aja apa susah nya sih?!" semakin nge-Gas Alinda melontarkan pertanyaan selanjutnya.


"Astaga!" Krisna mengusap wajahnya kasar, sangat terlihat jelas bahwa pemuda tampan itu sangat frustasi saat ini.


"Bukan aku sayang, sedikit pun aku tidak pernah menyentuh nya." jelas Krisna dengan memegang kedua pundak Alinda.


"Terus buat apa dia ngomong sama lo?!" Alinda berucap masih dengan alis yang berkerut.


"Astaga... Baby nggak percaya sama aku?" tanya Krisna masih dengan posisi yang sama.


"Lo juga Za! Kenapa lo nyari gue?" Krisna beralih menatap Nafiza.


"Ya gue mau minta tolong sama siapa lagi coba? Kan yang gue kenal baik cuma lo." sahut Nafiza.


"Iya tapi... " terlihat Krisna bingung mau berkata bagaimana.


"Ya udah Kris, gue pulang aja, selesain masalah kalian!" ucap Alinda yang mulai geram dengan ketidak pastian jawaban Krisna, gadis itu berjalan meninggalkan Krisna dan Nafiza.


"Tunggu Yank! Jangan main pergi aja dong!" Krisna berhasil menahan lengan Alinda.

__ADS_1


"Terus gue harus apa? Gue harus diem kayak kambing congek gitu, liat kalian berdebat?" tanya Alinda dengan nada tinggi.


"Kita ngomong baik-baik ya, aku nggak mau kita marahan gegara masalah siapa ini loh!" bujuk Krisna dengan tatapan yang terlihat sangat tulus.


Alinda masih bergeming, gadis itu masih berusaha mengalahkan egonya yang terasa ingin saja meledak-ledak.


"Baby... " panggil Krisna dengan memegang dagu Alinda agar netra indah itu menatap wajah tampan yang ada di hadapan nya saat ini.


"Adakah kebohongan yang terlihat di dalam mata ku?" tanya Krisna.


Alinda menggeleng, dengan mata yang mengembun, gadis itu menghela nafas, "Gue nggak mau di madu."


"Astaga!" ucap Krisna dengan menutup wajah nya dengan satu tangan, terlihat pemuda tampan itu tertawa tanpa suara.


"Kok ketawa sih?" mengerucut bibir


Alinda berucap dengan satu kaki yang di hentakkan nya seperti anak kecil.


"Ya habis, kamu lucu." sahut Krisna dengan mencubit hidung bangir Alinda.


"Gini Yank, sesama warga Indo, baik nya kita saling menolong, kamu nggak kasihan kalau sampai bayi yang ada di dalam kandungan Nafiza itu tidak mendapatkan kasih sayang?" tanya Krisna berusaha membuka pikiran Alinda.


"Yakin mikir baby nya? Bukan Mommy nya kan?" kembali meleyot bibir pink natural itu menyahuti ucapan Krisna.


"Lin, sayang... percaya deh sama aku, emm... gini aja deh, kamu masih ingat waktu kita detektif-detektifan?" tanya Krisna.


"Jangan diingat percuma nya, coba ingat-ingat kerja sama nya." Masih dengan sabar Krisna menjelaskan.


"Maksud lo, di kasus Nafiza ini kita juga mau kerja sama?" tanya Alinda yang terdengar seperti tebakan.


"Nah itu tau." senyum terkembang kala Krisna mendengar jawaban dari kekasih hati nya itu.


"Woy! Jadi gue di sini jadi obat nyamuk nih?" teriak Nafiza yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu apartemen Krisna.


Alinda dan Krisna pun segera berjalan mendekat, "Cemburuan amat sih jadi cewek." cibir Nafiza.


"Lo!" nge-Gas Alinda menunjuk wajah Nafiza, namun dengan segera Krisna menghentikannya.


"Udah Yank udah, ingat ada makhluk kecil yang singgah di sana." ucap Krisna dengan menunjuk Nafiza.


Masih dengan nafas yang tak beraturan, Alinda mengurungkan niat nya, gadis itu masih menatap tak suka kepada Nafiza.


"Jadi, kita ngomong di dalam aja, dan lo Za! To the point aja nggak usah berbelit-belit!" sekali lagi Krisna mengingatkan Nafiza.


Kini ketiga remaja itu sudah ada di dalam unit apartemen Krisna, Alinda masih dengan tampang tak bersahabatnya.


Sedangkan Krisna berusaha menengahi, Nafiza terlihat diam menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan agar tidak memicu kesalahpahaman di antara Alinda dan Krisna.

__ADS_1


"Ok deh, gue ngomong sama kalina berdua biar lo nggak salah paham Al." sedikit ketus Nafiza berucap, ya mau bagaimana lagi yang di baik in masih bertampang judes.


Ya... Alinda sedikit pun belum menampakkan kecerahan raut wajah nya walau begitu, Alinda duduk dengan bersandar pada pundak Krisna.


"Jadi gue hamil anak nya Kenan." Semakin terkejut kedua sejoli yang saat ini tengah terlihat mesra itu.


Tapi kemudian mereka mengingat kedekatan Kenan dan Nafiza beberapa waktu yang lalu.


"Terus kenapa lo malah kesini?" dingin Krisna bertanya.


"Gue takut kalau Kenan nggak mau tanggung jawab." sahut Nafiza.


"Ya tuntut aja udah selesai!" Ketus Alinda berucap.


"Ya... kalau aja masalah nggak serumit ini, udah gue tuntut dari kemarin-kemarin sih." Nafiza menyahuti.


"Maksud lo?" Alinda mulai mau mendengarkan alasan yang akan keluar dari mulut Nafiza.


"Gue baru tau kalau gue hamil, setelah gue sama Kenan putus." lirih Nafiza.


"Lah lo sadar nggak sih pas melakukan perbuatan haram itu?" tanya Alinda dengan berdiri dari duduk nya.


"Ya..."


"Terus lo mau aja putus setelah lo di cicipin gitu? Bego banget dimana sih otak lo Za?!" Geram Alinda kelepasan menoyor kepala Nafiza dengan jari telunjuk nya.


"Sayang, stop! Nggak perlu emosi, ini bukan masalah kita, sayang-sayang nanti malah percuma lagi hasil perawatan yang kita lakukan hanya gegara emosi." ucap Krisna yang sebenar nya juga menahan diri.


"Baby? Lo cowok juga perawatan?" Alinda mengalihkan pandangan nya ke arah Krisna.


"Mandi juga termasuk perawatan sayang, kan kasihan sabun nya udah bersihin tubuh kita eh hati kita malah dengan mudah di buat emosi dengan hal yang nggak penting!" celetuk Krisna yang secara tidak langsung menyindir perbuatan bodoh Nafiza.


"Ok, jadi, lo mau gimana? Mau gue bantu agar Kenan mengakui kesalahan nya?" tanya Alinda dengan kembali duduk di atas permukaan sofa yang halus.


"Tapi apa dia bakal percaya?" tanya Nafiza.


Senyum seringai muncul di wajah Krisna dan Alinda, terlihat menyeramkan tapi masih untung keduanya adalah orang baik.


"Itu masalah gampang." Sahut Alinda.


"Lo kasih tau dimana tempat lo melakukan perbuatan itu, semua bakal clear." imbuh Krisna dengan enteng nya.


"Tapi..."


"Tapi apa lagi sih?! Mau di bantuin nggak?!" kembali nge-Gas Alinda berucap.


"Ya... mau sih, tapi...nggak cuma di satu tempat." sahut Nafiza dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


"What?!...


__ADS_2