Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Gangguan


__ADS_3

"Kenapa nggak? Lo boleh kok pakai dulu Alinda, gue rela dapet bekas lo." seringai tipis Kenan membuat Krisna semakin geram saja.


"Tapi gue nggak sudi! Gue nggak akan pernah memberikan Alinda untuk laki-laki bejat kaya lo!" berdiri Krisna setelah berucap kemudian...


BRUGH!!!


Bogem Krisna kembali menghantam wajah tampan Kenan, "KRISNA STOP!!" teriak Alinda dengan berdiri dan berusaha melerai kedua sahabat yang tengah baku hantam itu.


Masih tak mau mengalah dengan sang adik Kenan menonjok pipi Krisna bagian kiri, tapi Krisna dapat menghindarinya, bahkan lagi-lagi kepalan tangan Krisna dengan sangat keras mendarat di pipi kiri Kenan.


BUGH!!


Terhempas ke sofa empuk Kenan kembali berdiri dan melayangkan kepalan tangan nya untuk menghajar saudara kandungnya itu namun meleset dan...


BUGH-BRUGH!!


Alih-alih menonjok Krisna, tangan Kenan malah mengenai pelipis Alinda, dengan tenaga yang tidak main-main itu Alinda pingsan ambruk di sofa yang tadi di duduki nya.


"Alinda!" teriak semua yang ada di sana.


Krisna segera berbalik dan merengkuh tubuh kekasihnya yang tak sadarkan diri itu.


"Lin, sayang, bangun baby!" Krisna menepuk-nepuk pipi Alinda dengan pelan.


"Alinda, bangun Al, gue nggak sengaja, gue mohon bangun Al." cecar Kenan dengan menggenggam tangan Alinda.


Krisna yang tidak terima dengan kondisi Alinda pun menepis kasar tangan saudaranya yang menggenggam tangan kekasihnya itu.


PLAK!!


"Awas lo minggir! Lo nggak ada hak buat nyentuh Alinda! Pergi lo! Gue nggak mau liat lo!" teriak Krisna dengan mendorong dada Kenan.


"Kris gue nggak sengaja, Kris... gue..."


"Banyak bacot lo! Sekarang Alinda kaya gini gara-gara siapa? Gara-gara lo!" sela Krisna yang segera kembali mengangkat tubuh Alinda dan di posisikan nya tubuh gadis cantik itu agar nyaman.


"Krisna, panggil dokter sayang!" ucap Riana dengan mengusap punggung putra bungsunya.


"Iya, Mah." sahut Krisna yang segera mengeluarkan gawai canggihnya.


"Tunggu! Biar nenek saja!" ucap Herma menghentikan Krisna yang baru memegang benda pipih juga canggih itu.


"Tidak apa-apa nek biar Krisna saja." tolak Krisna dengan sopan.


"Memang nya dokter mana yang akan kau panggil? dari Manhattan sana? Hah?" terdiam Krisna, kemudian ia mengiyakan ucapan Herma.


Menunggu hampir setengah jam, akhirnya seorang dokter dengan jubah putihnya tiba di kediaman Herma itu, ia segera memeriksa kondisi Alinda.


Di luar kamar Krisna dan Kenan terlihat saling berdiam diri, sedikit pun Krisna tak mau mengajak saudaranya itu berbincang.

__ADS_1


Setelah dokter keluar dari kamar tamu yang digunakan untuk memeriksa Alinda, Krisna segera mendekati dokter itu.


"Bagaimana keadaan Alinda dok?" Belum sampai dokter menjawab, Krisna melihat Kenan langsung menerobos masuk ke dalam kamar, ia pun berteriak.


"KENAN STOP!" teriak Krisna dengan mengejar Kenan, dua saudara itu berebut untuk masuk lebih dulu.


"Awas gue mau masuk!" Krisna dan Kenan berada di ambang pintu, Kenan menghalangi Krisna dengan tangan nya yang berpegangan pada kusen pintu, sedangkan Krisna menghalangi Kenan dengan kakinya yang menghadang di depan nya.


"Gue juga mau masuk!" gertak Kenan, yang masih ngeyel, "Gue duluan!" Krisna menggigit lengan Kenan, "AW!!!" teriak Kenan dengan melepaskan kusen pintu yang di cengkeramnya.


Tak mau membuang kesempatan Krisna segera berlari mendekati Alinda yang sudah sadar.


"Kamu sudah sadar?" tanya Krisna dengan duduk di tepi ranjang.


"Ya orang kalian berisik begitu, gimana gue bisa tenang di alam mimpi?" cetus Alinda.


Kenan berjalan mendekat dengan memegangi lengan nya yang masih terasa berdenyut karena di gigit oleh adik kandungnya itu.


"Alin nya masih sakit, awas kalian jangan berantem, Mama tinggal ke dapur dulu, ambil makan." ucap Riana memperingatkan kedua putra nya.


"Nggak usah repot-repot tante!" ucap Alinda.


"Nggak repot sayang, Alin kan udah kaya anak tante sendiri." ucap Riana dengan mengusap pucuk kepala Alinda.


"Al sorry gue tadi nggak sengaja." ucap Kenan yang hendak duduk di tepi ranjang tapi Krisna mendorong nya, hingga pantat Kenan meleset dan BRUGH!!


Terjatuh lah laki-laki tampan itu di lantai, dengan meringis kesakitan Kenan kembali berdiri, "Lo apaan sih Kris?!" geramnya masih dengan meringis juga mengelus pinggangnya yang juga terasa sakit.


"Calon istri apanya? Lo pikir Alinda mau sama lo? Dia tu baru pertama kali ketemu sama gue udah speechless, udah kagum." menyombongkan diri Kenan berucap dengan percaya diri tingkat dewa.


"Itu karena dia pikir lo itu gue!" dengan nada tinggi Krisna menyentak ucapan kakaknya.


"Lagi-lagi lo, kenapa sih?" gumam Kenan.


"Kak Kenan maaf ya? aku sama Krisna, punya hubungan udah lama, dan mending kakak lanjutin aja hubungan kakak sama Nafiza, dari pada ntar kakak nyesel loh nggak bisa ketemu sama darah daging kakak." ucap Alinda.


Terdiam Kenan, sepertinya laki-laki itu menyerap kata-kata yang diucapkan Alinda barusan.


"Tapi, apa nggak papa? Gue yang udah mutusin dia, tapi gue yang minta balikan?" tanya Kenan yang sepertinya masih ada sedikit rasa gengsi di dalam hatinya.


"Nggak papa lah kak, kan lebih baik bertanggung jawab dari pada lari dari tanggung jawab." ucap Alinda dengan senyum tipis nya.


Setelah Kenan setuju, mereka merencanakan kencan Kenan dengan Nafiza.


Tiba di hari H, Krisna dan Alinda berbagi tugas, Krisna yang menghubungi Nafiza, memastikan agar Nafiza benar-benar menunggu Kenan di cafe yang direncanakan.


Sedangkan Alinda bersama dengan Kenan, seolah menuntun agar motor yang Kenan kendarai menuju cafe yang mereka rencanakan.


Setibanya di cafe dua pasang muda-mudi itu seperti mengadakan double date, lancar jaya usaha Krisna dan Alinda untuk menyatukan Nafiza dan Kenan kembali.

__ADS_1


"Ya udah kalian nikmati kencan malam ini kita balik duluan ya!" ucap Krisna.


"Loh loh loh kok gitu?! Lo tega Kris biarin gue di sini sama Kenan? terus ntar gue pulang naik apaan?" protes Nafiza yang melarang Krisna agar tidak pergi.


"Lah kan ada Kenan!" sedikit rasa geram membumbui nada Krisna.


"Ya kali gue hamil muda mau di ajak naik motor?!" Alinda menggeleng mendengar ucapan Nafiza yang seperti memanfaatkan kehamilannya.


"Ya udah, kita bawa motor kak Kenan aja, tuker kunci nya beib!" ucap Alinda memberikan ide.


Tak mau berlama-lama Krisna segera memberikan kunci mobil kepada Kenan dan meminta kunci motor Kenan untuk dibawanya.


Kini Krisna dan Alinda tengah menyusuri jalanan kota Manhattan, suasana malam ini mendung, tapi tetap indah dengan cahaya lampu-lampu kota.


BLEDHARRRRR!!!


Suara petir dengan kilat putih nya begitu mengejutkan siapapun yang mendengarnya, "Yah mau hujan ini kayak nya." gumam Krisna dengan tangan kirinya menengadahkan tangan nya ke atas memeriksa apakah benar gerimis mulai datang.


"Cari tempat berteduh aja beib!" ucap Alinda, namun belum ada tempat buat mereka berteduh hujan deras sudah mengguyur keramaian kota Manhattan malam itu.


"Kita ke apartemen ku aja ya? yang lebih deket dari pada ke rumahmu!" teriak Krisna yang bersahutan dengan derasnya suara hujan.


"Iya!" Setelah Alinda setuju, kedua remaja itu menuju apartemen Krisna, dengan kondisi basah kuyup Krisna dan Alinda memasuki basement, keduanya segera turun dari motor dan berjalan menuju lift.


Setibanya mereka di dalam apartemen Krisna, Alinda menggigil kedinginan, bahkan bibir gadis itu sudah membiru.


"Kau mandilah dulu!" titah Krisna yang segera dituruti oleh Alinda.


Alinda dengan segera masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandinya. Sedangkan Krisna melepas pakaian basahnya dan hanya mengenakan boxer kering yang baru saja ia ambil dari lemari pakaian.


Setelah Alinda selesai mandi, gadis itu lupa kalau dirinya tidak membawa baju kering ke dalam kamar mandi tadi, alhasil ia melilitkan handuk kecil milik Krisna di tubuhnya.


Jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, namun saat itu Alinda masih kecil masih belum punya rasa malu, tapi sekarang, gadis itu sudah tumbuh menjadi remaja yang tau etika.


CEKLEK!!


Terbuka pintu kamar mandi membuat Krisna menoleh, dan didapatinya gadis dengan rambut panjang yang basah terurai tengah berdiri di depan pintu kamar mandi, hanya menggunakan handuk kecil.


Lekuk seksi itu semakin terlihat menggoda dengan raut wajah yang memerah karena malu, juga tangan Alinda yang sebelah kanan menutupi bagian dada sedangkan yang sebelahnya menutupi paha tengah teng terekspos.


Termangu Krisna mendapati pemandangan indah yang sudah lama tak ia jumpai, bukan berpikiran mesum, tapi Krisna juga laki-laki normal yang pasti akan merespon pemandangan indah di hadapannya itu.


Langkah kaki Krisna semakin mendekat, sedangkan Alinda masih menunduk menyembunyikan rasa malu.


Krisna mencubit dagu Alinda dan sedikit mengangkatnya, dipangkasnya jarak antara kedua wajah itu.


Semakin dekat hingga deru nafas Alinda dapat di rasakan nya, fokus Krisna kini tertuju pada benda kenyal yang masih membiru itu.


1cm jarak diantara kedua bibir itu, namun tiba-tiba, TOK-TOK-TOK... suara pintu di ketuk oleh seseorang membuat Krisna tersadar dan menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menyuruh Alinda untuk segera memakai bajunya.

__ADS_1


CEKLEK!!!


"Ngapain lo kesini?...


__ADS_2