Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Laki-laki Idaman


__ADS_3

Alinda menggelengkan kepala nya, gadis itu beranjak dari duduk nya meninggalkan Frans sendiri di sana.


"Kris kita pulang!" ucap Alinda dengan menggandeng lengan Krisna, sedangkan pemuda tampan itu hanya menurut saja.


Frans masih terdiam di tempat, setiap ocehan anak gadisnya diam-diam meresap ke dalam setiap rongga-rongga otak nya.


Sementara itu Alinda masih dengan wajah yang di tekuk berjalan keluar dari dalam kafe, tangan nya masih setia dengan menggenggam tangan Krisna.


Bukan ke parkiran melainkan ke taman dekat kafe, gadis itu akhirnya berhenti dengan dada yang naik turun tak beraturan.


"Mau sampai kapan?" tanya Krisna dengan berbisik di samping telinga Alinda.


Sedikit tersentak Alinda karena merasakan nafas hangat Krisna yang menerpa telinga juga ceruk lehernya.


"Iiiihh... Sana an ah!" Merengut gadis itu mendorong pipi Krisna agar menjauh dari leher nya.


"Kenapa?" Berusaha tersenyum semanis mungkin, Krisna menggoda Alinda, Krisna berniat agar gadis yang tengah tenggelam dalam kegalauan juga kegundahan itu kembali tersenyum dan ceria.


"Apaan si Kris? Gue lagi nggak mau bercanda." gerutu Alinda dengan mengalihkan pandangannya.


Menarik nafas dalam-dalam Krisna kemudian menghembuskan nya perlahan, "Ikut gue!" Krisna menarik lengan Alinda.


Pasrah dengan langkah gontai, gadis itu mengikuti langkah kaki Krisna, "Masuk!" singkat Krisna berucap setelah ia membukakan pintu mobil nya.


Tak mau berdebat Alinda masuk ke dalam mobil, dan duduk dengan benar, sedangkan Krisna dengan sedikit berlari memutari mobil kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi.


Ya... Kedua nya gagal lagi makan di Kafe, team keroncong mulai merajalela hingga menciptakan emosi yang sangat tak masuk akal, seperti saat ini, Alinda bermasalah dengan ayah biologis nya namun malah Krisna yang menjadi sasaran nya.


Berusaha bersabar, hanya itu yang dapat Krisna lakukan, tak ada sedikitpun perbincangan, pemuda itu sudah paham betul bagaimana kondisi dan situasi saat ini, jika saja dirinya mengucapkan kata yang tidak tepat maka itu pasti akan memicu suatu permasalahan baru lagi, maka ia lebih memilih untuk diam.


Setiba nya di basement, pemuda tampan itu turun dari mobil, dan dengan cepat membukakan pintu untuk gadis kesayangan nya.


Tak banyak bicara Alinda segera turun, dan Krisna segera menggandeng lengan Alinda untuk di bawa nya memasuki gedung apartemen itu.


Sedikit pun tak ada pembicaraan diantara kedua nya, hening memang yang tercipta diantara kedua nya.


Setiba nya di unit apartemen Krisna, pemuda tampan itu meninggalkan Alinda yang tengah duduk di meja makan dengan segudang pikiran di dalam otak kecil nya.


Sibuk dengan perkakas dapur, Krisna terlihat membuka bungkus mie instan.


Tak lama kemudian mulai tercium aroma sedap yang membuat cacing perut semakin meronta, Alinda menilik ke arah dapur, dimana Krisna sibuk sendiri dengan perkakas dapur nya.


"Kris, ada yang bisa gue bantu nggak?" tanya Alinda dengan berdiri di belakang Krisna, dan memiringkan tubuh nya sedikit agar ia dapat melihat wajah tampan pemuda yang sibuk di hadapan nya itu.


Krisna melirik wajah imut yang terlihat di samping nya itu, "Nggak usah, duduk sana." ucap Krisna dengan mencolek hidung bangir Alinda.


Mencebikkan bibirnya Alinda berjalan menuju meja makan, gadis itu menopang dagu menggunakan tangan kanan nya, sedangkan tangan kiri ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja du hadapannya itu.


Klotak!! Sebuah mangkuk kaca mendarat di atas meja makan, aroma lezat bersamaan dengan mengepul nya asap panas keluar dari dalam mangkuk kaca yang berisi hidangan mie instan lengkap dengan potongan sawi, bok choy, juga beberapa cabai rawit yang di cincang kecil, bahkan kuah nya terlihat ada campuran telur rebus tanpa kulit.


"Hemmmm..." Menghirup aroma masakan instan itu Alinda memejamkan mata nya dengan bibir yang sedikit menyunggingkan senyuman.


"Ayo makan." Krisna duduk di samping Alinda dengan memasukkan dua pasang sumpit.


Ingin nya protes karena hanya ada satu mangkuk mie instan, tetapi Alinda mengurung kan nya, "Bodolah mau berapa mangkuk yang penting, cacing gue tenang dulu lah nggak konser mulu." batin Alinda.


Kedua nya makan dengan lahap walau pun berbagi mie instan dalam satu mangkuk, hingga tak terasa Alinda melahap mie yang masih memanjang itu, sedangkan Krisna melahap sisi sebelah nya.


SSRRRUUUTTT!!!

__ADS_1


Kini mie panjang yang tadi nya melengkung itu menjadi lurus dengan ujung kanan berada di dalam mulut Alinda sedangkan ujung kiri berada di dalam mulut Krisna.


Terdiam keduanya mendapati hal itu, ingin nya dilanjutkan menyeruput akan tetapi rasa malu mulai menggerayangi, ingin nya di sudahi tetapi sayang tinggal sedikit lagi.


Terdiam cukup lama sampai akhir nya sebuah lalat hinggap di tengah-tengah, diantara kedua nya.


Terkejut kedua nya memelototkan netra nya membulat, sontak dengan segera tangan masing-masing memutus mie panjang itu dan terjatuh lah mie instan yang sempat disayangkan itu.


"Ekhem... Mau lagi?" tanya Krisna dengan sedikit canggung.


Alinda menggeleng, "Nggak gue udah cukup kenyang." sahut nya.


Saat Krisna hendak mencuci mangkuk bekas mie instan itu, Alinda dengan segera berdiri dan meraih nya, "Biar gue aja Kris."


Dengan cepat Alinda berjalan menuku wastafel dan mulai mencuci mangkuk yang kini ada di tangan nya itu.


Selesai mencuci.


"Adududududuh... Aduh... Duh... Aduh..." Merintih kesakitan, tiba-tiba Alinda meringkuk di lantai dapur, saat itu Krisna berjalan ke dapur dan mendapati Alinda yang meringis kesakitan.


"Kenapa? Kamu sakit?" Mendadak panik juga Krisna di buatnya.


"Perut gue sakit." lirih Alinda, mendengarnya Krisna jadi merasa bersalah, "Karena makan mie?"


Alinda menggeleng, perlahan gadis itu berdiri dengan di bantu Krisna, dan ketika kaki Alinda melangkah ada darah yang mengalir di di kaki gadis itu.


"Sayang, kamu berdarah?" Semakin panik Krisna mendapati darah yang mulai berceceran di lantai, khusus nya di tempat Alinda duduk barusan.


"Hah? Astaga ini tanggal berapa?" Menepuk kening nya Alinda terlihat malu.


"Tanggal? Kau sakit kenapa harus bertanya tanggal?, dasar kau ini." Krisna hendak menggendong tubuh sintal itu, "Tunggu-tunggu! Gue bukan nya berdarah karena sakit, tapi gue..." terdiam sejenak gadis itu menunduk malu.


"Apa? Datang... Oh astaga! Haaaahhh..." Berhembus lega mendapati gadis kesayangan nya itu tidak menderita sakit seperti yang ada di dalam otak nya.


"Tapi apakah di bagain sana sakit? Itu kamu berdarah banyak banget loh." Alinda hanya menggeleng kan kepalanya. Masih mengkhawatirkan Alinda, Krisna tak kunjung mengajak gadis itu pergi dari tempat nya berdiri, ya... Mereka masih di dapur.


Terdiam kedua nya, cukup lama hingga darah yang semula cair itu sebagian mengental.


Sungguh rasa tidak nyaman mulai dirasai oleh Alinda.


"Kris..." Setengah berbisik Alinda memanggil Krisna yang juga masih berdiri di depan nya.


"Hem, apa?" Antusias Krisna menjawab, takut sungguh pemuda tampan itu takut jika Alinda merasa sakit.


"Bisa minta tolong?" Malu sungguh malu, wajahnya memerah bak kepiting rebus, Alinda mengumpulkan segala keberanian nya.


"He'em, apa? Bilang aja." Krisna sedikit menundukkan wajah nya hingga sejajar dengan wajah Alinda.


"Tolong... Beliin... Pembalut dong?" sungguh malu yang tertahan mampu memerahkan wajah Alinda saat itu, Krisna yang sudah terlanjur memperlihatkan ke siagaan nya pun menganga.


"Tapi..."


"Lo malu ya beli pembalut? Sorry... tapi gue butuh banget ini." ucap Alinda dengan memegang lengan Krisna.


Melihat kondisi Alinda yang tidak memungkinkan untuk keluar, akhir nya Krisna menganggukkan kepala nya setuju.


...❄❄❄❄...


Pemuda tampan dengan kacamata hitam yang tersemat di atas hidung bangir nya tengah memasuki sebuah toko.

__ADS_1


Menengok kanan dan kiri seolah mencari sesuatu, salah satu petugas toko seumuran ibu-ibu mendekati nya.


"Permisi tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas toko itu, ya tertempel di dada kiri nya, nama nya bu Irma.


"Oh bu Irma sudah lama tidak bertemu, apa kabar ibu?" Basa-basi Krisna dengan merangkul pundak bu Irma dan di ajak nya memasuki lorong rak yang tinggi-tinggi.


"Maaf saya tidak mengenal anda." Bisik bu Irma mulai takut.


"I'm Sorry, Saya butuh bantuan anda, untuk mencari sesuatu, em... ah iya, pembalut dengan panjang 24cm satu, dan yang 39cm satu." Dengan wajah yang memerah bahkan telinga Krisna terlihat sangat merah padam saat ini, hanya mengatakan itu.


"Ah ya ampun, anda ini..." Bu Irma terlihat seperti mengintimidasi penampilan Krisna.


"Oh no, no, no, no... eee... ini untuk istri saya." Terpaksa mahasiswa tampan itu berbohong.


Bu Irma terlihat menganggukkan kepala nya mengerti, "Baik tunggu di sini, saya carikan dulu."


Dengan berlalu nya bu Irma, otak Krisna berpikir keras dan saat ia melihat ada keranjang belanjaan di sana lah pemuda tampan itu menemukan ide.


Di ambil nya keranjang itu dan dengan segera mengisi nya dengan beberapa bungkus mie instan.


Tak lama kemudian bu Irma menghampiri nya lagi, "Ini dua bungkus beda ukuran ya." ucap bu Irma.


"Thank you very much." ucap Krisna.


"You'r welcome." Setelah itu kedua nya berpisah di sana.


Demi menyembunyikan barang itu, Krisna menutup nya dengan beberapa mie instan yang ia masukkan kedalam keranjang belanjaan tadi.


Mengantri di depan kasir bersama beberapa ibu-ibu yang tengah asik bergosip, akhir nya tiba saat nya Krisna membayar.


"Sudah kak? Apakah ada tambahan? Ada kartu member nya?" tanya Kasir dengan ramah.


"Em... Tidak kak." sahut Krisna dingin.


"Ok jadi mie rebus, goreng 5 kuah 5 ya kak juga pembalut siang 1 dengan pembalut malam 1." Licin sekali kasir itu berucap seperti mulut nya licin dengan oli samping motor dua tak, hanya saja suara kasir itu lebih enak di dengar.


Tapi tidak dengan suara ibu-ibu kang gosip yang mengantri di belakang dan kanna kiri Krisna.


"Mas nya beli pembalut? Buat siapa? ih jangan-jangan, itu lo jeng yang suka koleksi barang-barang wanita."


Sungguh suara panas itu membuat Krisna menarik nafas dalam-dalam dan perlahan menghembuskan nya.


"Untuk istri saya buk." Sahut Krisna membuat ibu-ibu kang gosip itu melongo.


Namun kasir sudah memanggil Krisna untuk melakukan pembayaran, alhasil Krisna harus meninggalkan toko itu dengan segera.


"Saya permisi." Ucap Krisna.


"Ooooohhh ya ampun jeng, itu laki-laki idaman banget deh"


"Apaan sih jeng masih berondong juga!"


"Nggak lo jeng bukan itu nya, mau beliin barang kebutuhan istrinya segala pembalut di beli ya ampun jeng."


"Biasa aja deh jeng, palingan cuma pencitraan."


"Eh jeng, emang laki mu mau pencitraan dengan beli pembalut? Bilang aja kamu iri."


Krisna sedikit menahan tawa mendengar pergunjingan itu, tapi segera ia meninggalkan toko dan menuju unit apartemen nya...

__ADS_1


__ADS_2