Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Gara-gara Chatingan


__ADS_3

..."Pokok nya gue nggak setuju mereka nikah kalau sampe akhir nya harus berpisah"...


...❄❄❄❄...


Malam semakin larut setelah ide gila yang Sendy ucapkan barusan, Alinda bersama dengan Fraya, Cakra, dan Frans kembali ke unit apartemen sebelah, sedangkan Sendy menemani Krisna di apartemen nya.


Mungkin hampir semua netra mulai terpejam karena udara yang semakin mendingin juga rasa kantuk yang mulai menjalari.


Namun tidak bagi kedua insan beda gender juga beda ruangan itu, ya Alinda dan Krisna masih dengan mata terjaga nya, kedua nya masih saling berbincang melewati gawai canggih, ya kedua remaja itu masih chatingan bahasa gaul nya.


πŸ“€ [Kris, lo udah tidur? ]


Satu pesan dengan pertanyaan singkat itu terkirim, harap-harap cemas gadis cantik itu menunggu dengan duduk di atas ranjang sedangkan di sampingnya ada Fraya yang sudah larut ke dalam alam mimpi nya.


TING! Sebuah notifikasi pesan masuk membuat gadis remaja itu mengindahkan gawai canggih yang tak lepas dari genggaman nya itu.


πŸ“₯ [Belum, ada apa? ]


Terbaca oleh netra indah itu jawaban Krisna membuat Alinda berdecih, "Cih... Dasar kulkas, jawaban nya singkat bener."


πŸ“€ [Gimana menurut lo? Apa kita memang harus menikah? Atau ada cara lain? ] Alinda.


πŸ“₯ [Gue sih ok aja, lah lo gimana? Lo siap nggak hidup sama gue? ] Krisna.


πŸ“€ [Siap sih tapi, gue kok takut ya Kris... ] Alinda.


πŸ“₯ [Takut apa sayang? ] Krisna.


Membaca ada tulisan SAYANG di sana dan itu adalah ketikan asli dari jari Krisna membuat gadis remaja itu tak sengaja berteriak.


"UWAK!!" Spontan Alinda segera menutup mulut nya, tapi ternyata terlambat karena kini Cakra dan Frans yang sebenar nya masih terjaga sudah menilik nya.


"Ada apa sayang?" Tanya Frans yang khawatir jika terjadi sesuatu dengan anak gadis nya itu.


"Em... Tidak Pah, tidak ada ada apa-apa." sahut Alinda dengan mendekap gawai tipis di dada nya.


Cakra mengerutkan alis nya, mungkinkah ia curiga? Dan ternyata benar, kakak kandung yang terlalu mengkhawatirkan adik perempuannya itu saat ini tengah berjalan mendekati Alinda.


"Berikan!" Tangan Cakra menengadah, meminta agar gawai pipih itu berpindah tangan pada nya.


"Apaan sih?" Masih bertanya dengan nada yang terbilang bercanda.


"Gue lagi nggak bercanda ya Lin saat ini!" Dengan paksa Cakra merebut gawai tipis itu, dan ya... Cakra berhasil merebut gawai itu.

__ADS_1


"Cak, lo apaan sih?! Nggak sopan!" Teriak Alinda tak suka, namun Cakra tak memperdulikan nya, ia membuka isi chatingan adik kesayangan nya itu dan itu berhasil membuat nya mendidih kembali.


"Lo baru anak kemarin sore aja udah berani bahas pernikahan?!" Penuh penekanan Cakra berucap dengan menunjuk Alinda yang berdiri di hadapan nya saat ini.


"Sssttt... Cak, lo bisa nggak jangan marah-marah di sini?!" ucap Alinda dengan menoleh ke arah Fraya yang masih asik dengan dunia mimpi nya.


"Kasihan kalau Fraya kebangun!" imbuh gadis itu.


Tak mau menahan omelan yang siap memberondong, akhir nya Cakra menarik paksa lengan Alinda agar gadis itu turut keluar dari dalam kamar nya.


"Cak, jangan kasar sama adik mu!" Frans memperingatkan putra sulung nya.


Sedikit pun Cakra tak mengindahkan peringatan yang di ucapkan papa nya.


"Lo di sini sama gue, sama Papa! Jadi tanggung jawab gue juga tanggung jawab Papa! Ngerti lo?!" Geram Cakra dengan adik nya yang memang nakal itu.


"Tapi Cak... "


"Diem! Orang tua masih ngomong!" Dengan emosi yang membeludak Cakra membentak Alinda, jujur gadis itu baru melihat kemarahan kakak kandung nya segitu marah nya sampai...


TING!


Satu notifikasi pada gawai tipis Alinda membuat Cakra melihat ke arah gawai canggih itu, tanpa permisi Cakra membuka pesan singkat itu.


Pesan ucapan selamat malam dari Krisna mampu sudah menggenapi emosi yang ada dalam diri Cakra saat ini.


PRANK!!


Di banting nya gawai mahal itu hingga berkeping-keping wujud nya, Alinda hanya mampu menganga dengan air mata yang menetes tanpa permisi.


"Hp gue..." Terduduk di lantai gadis remaja itu memunguti pecahan-pecahan benda canggih yang selama ini ia gunakan untuk berbagai keperluan nya.


"Cakra, tidak perlu sampai semarah ini nak! Masih dalam batas wajar nakal nya adik mu..."


"Papa pikir, kalau tadi kita tidak datang tepat waktu, mau jadi apa dia? Mau jadi wanita gratisan pem*uas nafsu?" sela Cakra, masih dengan nada tinggi, kakak dari Alinda itu berucap pada papa nya.


"Bukan begitu Nak, jangan berkata seperti itu, dia adik mu, kata yang terucap adalah sebuah do'a." Masih dengan tingkat kesabaran orang dewasa Frans memperingatkan putra sulung nya agar tidak berlebihan.


"Alin, sayang, besok kita beli lagi ya, yang ini sudah rusak, biarkan saja, nanti Papa yang bereskan." Ucap Frans dengan berjongkok di samping putri bungsu nya yang saat ini tengah menangisi hancur nya barang yang sangat penting bagi nya itu.


"Papa terlalu memanjakan anak nakal ini! Dia itu sudah berbuat salah Pah! Biarkan saja sementara waktu tidak usah menggunakan ponsel!" ketus Cakra berucap.


Terdiam Alinda, masih dengan tangan yang memunguti serpihan-serpihan ponsel nya, dengan air mata yang masih mengalir membasahi wajah ayu nya.

__ADS_1


"Cakra! Tidak semua orang bernasib buruk seperti hubungan mama sama Papa nak, jangan kau anggap semua ini sama! Alinda akan punya kehidupan nya sendiri, menulis jalan cerita nya dengan jodoh nya nanti, hidup bersama, menua bersama!" Frans berdiri dan menghadap ke putra sulung nya yang masih tersulut emosi itu.


"Lalu jika suatu saat Alinda di tinggalkan Krisna, atau mereka masih memilih ego masing-masing seperti kalian! Mau jadi apa adik ku? Mau jadi janda kembang di usia belia nya?" Terdiam sejenak Cakra setelah melontarkan kata-kata sarkas nya.


"Tidak Pah! Cakra tidak mau kejadian yang Papa alami itu terulang untuk Cakra atau pun Alinda!" Tegas putra sulung Frans, setelah nya tubuh tegap itu memasuki kamar yang biasa Sendy gunakan untuk tidur.


Menghela nafas berat, Frans terlihat sangat terpukul dengan ucapan putra sulung nya itu.


Alinda yang sudah selesai mengumpulkan pecahan gawai rusak nya itu berdiri, "Pah ini sudah larut, Papa besok bekerja, Papa buruan tidur gih, Alin juga ngantuk, mau tidur." Ucap gadis remaja dengan wajah yang masih berhiaskan air mata itu.


Frans memeluk tubuh anak gadis nya itu, "Maafin Papa ya Nak, tapi benar apa yang baru saja di ucapkan kakak mu, usia mu masih muda, kau harus menggapai cita-cita mu lebih dulu, jangan kau bermain-main dengan hal yang tidak penting, jika kelak kau sudah sukses maka terserah." Wejangan itu terucap dengan jelas kala gadis itu berada di dalam pelukan sang ayah.


"Iya, Pah." Sahut Alinda, sedikit pun gadis itu tak membalas pelukan papa nya, ya karena tangan nya masih memegangi gawai yang sudah rusak itu.


Kemudian Alinda berjalan menuju kamar nya sedangkan Frans menyusul, putra sulung nya yang sudah lebih dulu masuk kamar.


...❄❄❄❄...


Kehidupan memang tidak semulus pipi IDOL dan tidak selancar jalan TOL, pasti akan ada kerikil-kerikil kecil atau bahkan batu sandungan yang menghiasi setiap jalan yang berbentuk tanjakan dan juga belokan, namun tetap percayalah setelah semua hiasan yang tak bisa di bilang indah itu pasti akan ada ujung yang indah.


Seperti kata pepatah, pasti akan ada pelangi setelah badai.


Yah... Hanya pepatah itulah yang mampu membuat Alinda bertahan dengan hubungan nya yang bisa di bilang seumur jagung.


Bagaimana tidak? Baru saja kedua nya mengungkapkan perasaan masing-masing, namun secara tiba-tiba, kedua nya harus berpisah bahkan berpura-pura untuk tidak mempunyai hubungan.


Sampai kapan? Sampai kedua nya siap untuk berkomitmen dan siap secara mental, untuk mengakui semua nya...


Ya pagi ini sinar mentari menunjukkan kecerahan dan kehangatan nya, namun tidak dengan suasana hati Alinda.


Gadis itu harus mengemasi barang nya walau dengan wajah masam yang di tekuk.


"Fraya mau ikut Alinda tinggal di rumah om atau mau di sini saja?" Tanya Frans menawarkan kebaikan.


"Terimakasih om, Fraya di sini saja, lagi pula Fraya mengikuti banyak kegiatan di kampus." sahut gadis itu dengan sopan. Frans hanya mengiyakan menyetujui keputusan sahabat Alinda itu.


Setelah selesai dengan barang-barang bawaan nya, Alinda bersama dengan keluarga nya keluar dari unit apartemen itu dan...


"Lin lo mau kemana?" Tanya Krisna yang saat itu kebetulan juga baru keluar dari dalam kamar nya.


"Gue... "


"Lo bukan mau pulang ke Indo kan?...

__ADS_1


__ADS_2