
Setelah sedikit perseteruan sore itu Krisna mengajak Alinda untuk segera pulang, sedari di dalam mobil gadis itu terdiam tak mengeluarkan sedikit pun suara.
Suasana hening itu masih memberikan batasan untuk dua remaja yang kini baru saja keluar dari dalam lift.
Alinda berjalan lurus ketika Krisna berhenti di depan pintu apartemen nya, "Lin?" lirih Krisna, dan gadis itu berhenti tanpa menoleh sedikit pun.
"Ikut gue sebentar, ya?" ucap Krisna dengan memegang lengan Alinda.
"Gue capek, sorry," Tak sedikit pun Alinda memandang pemuda idaman nya itu, bahkan tangan Krisna yang melekat pada lengan putih nya pun di tepis begitu saja.
Tak mau menunggu lebih banyak ucapan Krisna yang akan menggoyahkan hati nya, Alinda segera masuk ke dalam unit apartemen milik nya, tak dapat berbuat apa-apa Krisna ketika ia mendapati pintu apartemen itu tertutup di depan indera penglihatannya.
"Woy! Ngapain berdiri di sini?" Sendy menepuk bahu Krisna yang saat ini tengah termangu di depan pintu apartemen yang tertutup.
"Hah? Nggak, gue nggak ngapa-ngapain, ok, gue balik dulu." Dengan menepuk lengan Sendy, Krisna berjalan menuju unit apartemen nya.
Di dalam kamar Alinda duduk dengan memainkan ponsel nya, walau jari terlihat sibuk menscrooll layar ponsel, namun tatapan gadis itu terlihat sangat kosong.
Pikiran nya melanglang buana entah kemana, Fraya dan Sendy tengah berdiri di depan pintu kamar itu, "Kenapa lagi? Perasaan setelah tiba di sini galau-galauan mulu deh." bisik Sendy dengan memandang Fraya kemudian kembali memandang Alinda.
"Entahlah, bukannya seneng karena bisa ketemu sama pujaan hati, kok malah galau-galauan nggak jelas sih?" Sahut Fraya dengan suara kecil pula.
Terdiam sejenak kedua nya memikirkan perasaan Alinda, apa yang membuat gadis seceria Alinda menjadi muram dan sering galau?
"Krisna!" Ucap Keduanya dengan nada berbisik.
Fraya menarik lengan Sendy agar menjauh dari pintu kamar, "Gimana kalau kita coba bagi tugas?" Ide brilian muncul begitu saja dari dalam otak Fraya.
"Maksud lo?" Memicingkan mata Sendy terlihat mengintimidasi gadis yang ada di depan dada nya itu.
"Ya kita bagi tugas, gue coba ngobrol sama Alin, lah lo coba ngobrol sama Krisna, jadi ya gimana baik nya supaya temen-temen kita ini nggak nunjukin lagi tampang galau nya lah!" Fraya mengucapkan saran nya.
Sejenak Sendy terdiam, namun kemudian ia bergumam, "Berati bener Alin galau itu gegara Krisna?"
"Ya mana gue tau," sahut Fraya sambil menengadahkan kedua tangan nya dengan mengendikkan bahu nya.
"Awas aja kalau sampe tu kulkas yang bikin Alin jadi galau, bakal gue becjek-becjek tu anak!" gerutu Sendy dengan melangkahkan kaki nya menuju pintu keluar.
"Dasar kang emosian!" gumam Fraya dengan berjalan menuju kamar Alinda.
"Al, gue masuk ya?" Meminta izin gadis itu melongokkan kepala nya.
"Masuk aja Fray, ini kan kamar lo juga," Masih dengan duduk memandangi langit senja yang kian menggelap, Alinda menyahuti ucapan Fraya.
__ADS_1
Perlahan gadis itu masuk dan duduk di samping sahabatnya, dengan mengumpulkan segenap keberanian dan juga keteguhan hati, saraf, otak, dan dan kata-kata pasti nya.
Terdengar Fraya menarik nafas panjang dan membuang nya secara perlahan, "Ok Fray lo pasti bisa, ini demi teman lo!" Batin Fraya setelah menghembuskan nafas nya.
"Eee... Al, lo kenapa sih?" Tanya Fraya dengan mere-mas ujung baju nya, takut gadis itu jika sampai kata-kata nya menyentil perasaan yang terlihat kalut itu.
"Gue... " Terdiam sejenak Alinda menundukkan kepala nya, "Gue bingung Fray, gue bimbang dengan perasaan gue," Masih menundukkan kepala Alinda berucap.
"Al, ada gue disini, lo bisa cerita semua keluh kesah lo sama gue, ya kalau biasa nya lo selalu cerita sama Kak Krisna, itu karena dulu kan kalian masih sama-sama kecil, masih sering ketemu juga, sekarang lo ngerasa canggung ya, setelah dua tahun nggak ketemu?" Tebakan yang sangat tepat itu membuat Alinda menatap Fraya dengan sorot mata sendu nya.
"Bestie... Cerita sama gue, nggak baik memendam suatu masalah sendirian, kan?" Fraya memegang kedua pundak Alinda.
Terlihat Alinda menghela nafas panjang dengan netra yang berkedip beberapa kali, seolah melarang sesuatu agar tidak meluncur di saat yang tidak tepat.
"Gue... Gue, bingung, gue inget kalau dulu gue suka sama Krisna, tapi setelah ketemu gue ngerasa kayak benci banget gue, sama diri gue sendiri," Jelas Alinda bersamaan dengan menetes nya bulir bening dari pelupuk mata nya.
"Maksud lo? Lo benci sama diri lo sendiri, gimana?" Fraya dengan sabar meminta penjelasan yang lebih detail.
"Jadi pas hari pertama di sini, gue ketemu sama cowok, dia mirip banget sama Krisna, bahkan aroma parfum nya juga plek banget, sama, udah pokok nya kaya, lo tau novel bajakan? Novel-novel hasil plagiat, iya udah gitu banget pokok nya." Ujar Alinda.
"Terus? Lo nggak mungkin salahkan ngenalin cowok idola lo?" Tanya Fraya.
"Nah itu goblok nya gue, gue kira dia Krisna." Alinda menundukkan wajah nya, sungguh gadis itu terlihat sangat menyesali kekeliruan nya itu.
"Ish, nggak lah, gue bukan tipe cewek agresif ya!" ketus Alinda dengan mengusap air mata nya yang masih tersisa di pipi.
"Haaaahhh... Syukurlah, gue kira kan kaya yang di sinetron-sinetron itu," Sahut Fraya.
"Tapi gue udah marah, udah cuek in dia, udah diem in dia, padahal gue yang salah orang, terus... " Sejenak Alinda terdiam, gadis itu menggigit bibir bawah nya.
"Terus apa?" Fraya memegang lengan Alinda.
Alinda menatap Fraya, "Krisna... Dia bilang dia sayang sama gue," Ucap Alinda, tapi sorot mata nya menunjukkan kalau gadis itu tengah dilanda rasa bersalah.
"Terus lo juga ngungkapin perasaan lo, kan?" Fraya menggoncang lengan sintal Alinda.
Menggeleng pelan gadis itu membuat Fraya menepuk kening nya, "Padahal itu kesempatan lo buat lebih deket lagi sama kak Krisna loh Al, lo kok kelewat bego sih?!" Geram Fraya melihat teman nya yang tak segesit dulu soal masalah hati dan perasaan.
Alinda masih terdiam, di tengah ocehan teman sekamar nya itu, "Asli, lo nggak asik Al, Alinda yang dulu itu nggak meletoy, nggak gampang ditindas, nggak gambang nangis kek gini, kalau reader pada kecewa sama sifat lo gimana coba?!" Geram Fraya.
"Ya udah sih, salahin aja Marlin! Kan dia otak dari semua ini!" Fraya menepuk kembali kening nya.
Di sisi lain...
__ADS_1
Sendy saat ini tengah duduk di sofa dengan Krisna, kedua pemuda tampan itu tengah bermain game di gawai masing-masing, kalau kata anak muda sih MABAR.
"Kris, lo nggak ada niatan buat nembak Alin gitu?" tanya Sendy di tengah-tengah keasikan kedua nya, terkejut Krisna mendengar pertanyaan itu hingga ia salah menyerang Sendy yang notabene nya adalah kawan bukan lawan.
"Loh loh loh loh, Njir bangsat lo Kris! Ngapa lo bunuh gue?!" Emosi mendadak menguasai Sendy yang saat itu team mereka kalah, dan akhir nya kedua nya memilih untuk berhenti bermain game.
"Sorry," Lirih Krisna dengan memejamkan matanya dengan menengadahkan kepala nya, punggung nya ia sandarkan di sandaran sofa yang nyaman.
"Lo kenapa sih? sedari tadi kek banyak pikiran aja? Udah kaya yang di kejar-kejar rentenir aja lo," Sendi berucap dengan menyandarkan punggung nya di sandaran sofa di samping Krisna.
"Nggak papa," Singkat, begitulah Krisna menyahuti nya.
"Lo ditolak Alin?" Ceplos Sendy yang membuat Krisna membuka netra tajam nya kemudian menatap Sendy.
"Lo ngasih tau apa nanya?" Krisna menatap Sendy dengan tatapan penuh rasa penasaran.
"Ya gue nanya, dan lo harus kasih tau ya!" Sahut Sendy yang membuat Krisna menghela nafas lega.
"Berati bener lo udah nembak tu anak?" Tanya Sendy penasaran.
"Apaan sih lo!" ketus Krisna menyahuti, kemudian pemuda itu beranjak dari duduk nya dan mendekati lemari es yang ada di samping mini bar yang ada di sana.
Krisna meneguk jus jeruk langsung dari botol kaca nya, "Apa jangan-jangan lo, malah udah main lebih dalem lagi sama Alin?"
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Terbatuk-batuk Krisna mendengar tuduhan dari Sendy.
"Heh... batuk, berati tanda nya iya dong, dan gue pastiin saat ini lo lagi nggak dapet jatah, makanya lo udah kek cacing ke panansan, galau tanpa alasan begitu" Tuding Sendy dengan menaikkan salah satu alis nya.
"Nglantur apa ngantuk lo? tidur sono!" Ketus Krisna dengan mengembalikkan botol minuman ke dalam lemari es.
"Hieleh... ngomong aja kenapa sih? Gue mah udah paham kehidupan di sini, lo pasti udah terkontaminasi kan selama dua tahun ini?" Masih ngeyel Sendy menuding sahabat nya itu.
"Bacot lo Sen! Pulang sono lah! Gue mau tidur!" Ucap Krisna melempar bantal sofa dan dengan cepat Sendy menangkap nya.
"Yakin, lo nyuruh gue pulang? Nggak takut kalau ntar Alin gue makan, lagi pula body Alin boleh juga sih," Ucap Sendy dengan Mengelus-elus dagu nya, seperti diri nya tengah membayangkan sesuatu.
Menarik nafas dan menghembuskan nya dengan kasar Krisna keluar dari unit apartemen nya dan di saat itulah tanpa di rencanakan gadis yang baru saja menjadi topik pembicaraan nya tengah berdiri di depan pintu unit apartemen nya.
"Eh... Ha... Hai Lin... " Tergagap Krisna menyapa gadis itu, berusaha menutupi rasa canggung nya.
"Hai... " Sahut Alinda dengan menatap Krisna dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan gadis itu berhenti di celana training selutut yang di pakai Krisna.
Krisna mengikuti arah tatapan mata Alinda dan kemudian ia melotot, dan BRAK!! pintu tertutup, bahkan Alinda tersentak hingga kedua pundak nya terangkat...
__ADS_1