
"Kenapa lo yang jemput gue? Emang nya di apartemen lo ada siapa?" pertanyaan bernada ketus keluar dari mulut Alinda.
Krisna terlihat menghela nafas, mendapati kekasih hati nya begitu ketus menyambut nya.
"Nggak ada siapa-siapa kok." sahut Krisna dengan berjalan mendekati Alinda.
Masih terdiam Alinda terlihat tak percaya, gadis itu aslinya tengah bergelut dengan pikiran negatif nya sendiri.
"Udah dong, jangan cemberut, kita jemput mama kamu, ya!" ajak Krisna dengan meraih jemari lentik yang tadi nya bersembunyi dengan bersedekap.
Alinda mengangguk, "Pah, Alin mau jemput mama!" teriak Alinda dengan suara lantangnya.
"Iya sayang, hati-hati." terdengar sahutan dari dalam hunian mewah itu.
Alinda dan Krisna segera masuk ke dalam mobil tentu nya Krisna yang berada di balik kemudi, setelah siap kedua nya meluncur membelah jalan raya, bandara lah tujuan utama kedua nya.
Fokus menyetir, Krisna masih sesekali mencuri pandang ke samping, dimana gadis kesayangan nya itu duduk masih dengan raut yang cemberut.
"Baby?" panggil Krisna dengan menatap sekilas wajah Alinda, kemudian ia kembali fokus ke jalanan.
"Hem?" Alinda menyahutinya dengan singkat, tapi sedikitpun ia tak memandang Krisna.
"Baby, kita baru saja mendapat restu dari Cakra dan papa mu, aku nggak mau ya kita diem-dieman begini." akhir nya Krisna mengatakan ganjalan di hati nya sedari ia sampai di rumah Alinda beberapa menit yang lalu.
"Au ah gue capek!" gerutu Alinda.
"Baby capek kenapa?" masih bernada sabar Krisna berucap.
"Gue nggak suka lo ngurusin cewek lain terus!" datar Alinda menjawab.
"Sedikit lagi aja Beib, lagi pula aku nggak ada deket sama Nafiza, terakhir kontekan juga pas sama kamu itu loh, ya dia kasih tau dimana aja tempatnya itu." jelas Krisna dengan tatapan lurus fokus dengan jalanan di depan.
"Emang nya siapa yang tau kalau lo bo'ong?" Alinda masih saja tak mempercayai Krisna.
"Astaga Beib, sejak kapan aku bohong sama kamu?" kini Krisna berucap dengan menatap Alinda.
Ya... mobil keduanya sudah sampai di parkiran makanya Krisna sudah dapat fokus menatap kekasih hatinya itu.
__ADS_1
"Alinda! Lihat aku!" menangkup kedua pipi Alinda, Krisna berucap, di tatapnya netra indah di hadapan nya itu dengan lekat.
Alinda balas menatap Krisna, "Apa masih ada keraguan atau kebohongan di dalam mata ku?" sedikit pun Krisna tak mengalihkan tatapan matanya.
Menggeleng pelan Alinda menyahutinya, "Lalu apa yang membuat mu tidak mempercayaiku? ingat Beib, dasar dari sebuah hubungan adalah kepercayaan." ucap Krisna.
"Maaf..." lirih Alinda dengan menundukkan pandangannya, namun Krisna segera mengangkat sedikit dagu gadis cantik di depan nya itu dan Cup!!!
Mendarat sebuah kecupan singkat di bibir yang berwarna pink nude itu.
"Please, jangan marah-marah terus, aku nggak mau hubungan kita renggang hanya karena masalah sepele." lirih Krisna dengan menyatukan kening kedua nya.
Terasa kepala Alinda mengangguk pelan tanda ia setuju. Mereka segera turun dari mobil untuk menjemput Kista dan keluarga Helen.
Menyambut ibunda tercinta tangan Alinda membentang lebar dengan berlari dan menghambur ke dalam pelukan Kista.
"Alin rindu mama." lirih Alinda di dalam pelukan Kista.
"Ow sayang, mama juga merasa sepi nggak ada kamu di rumah." sahut Kista dengan membelai pucuk kepala Alinda.
Membelalak bahagia netra cantik wanita berumur hampir 40 tahunan itu.
"Waaaahhh kamu datang sama Krisna?" tanya Kista dengan senyuman nya.
"Memang nya Alin bisa jauh dari Krisna Tan? Nggak bisa, hehehe..." Candaan ringan mereka ucapkan, dengan sesekali Alinda menggerutu malu.
Kini rombongan itu tengah menuju kediaman Frans, di tengah perjalanan tak henti-hentinya Alinda menggoda ibu kandung nya itu.
"Mama yakin nggak ada perasaan dag dig dug gitu? Mau ketemu papa lo ini." Alinda yang duduk di kursi depan mendapat cubitan di lengan kiri nya dari Kista yang duduk tepat di belakang kursi nya.
"Auwh... Sakit Mah! Hahaha..." keluh Alinda dengan dilanjut tawa renyah oleh seluruh penumpang mobil itu.
"Makanya punya mulut di jaga, aku ini emak mu lo." Berpura-pura memasang tampang cemberut Kista membenarkan duduk nya.
"Hehehe... iya deh maaf, tapi Mama yakin nih nggak ada nervous-nervous dikit gitu?" sengaja menggoda ibu tercinta gadis itu mengulangi membuat pipi Kista merona bak kepiting rebus.
"Coba, di ulangi lagi!" perintah Kista dengan mengepalkan tangan kanan nya.
__ADS_1
"Ahahahaha... Ampun-ampun-ampun..." ucap Alinda dengan menyatukan kedua telapak tangan nya di depan dada.
Begitulah keseruan ibu dan anak yang hampir sama-sama somplak nya itu.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi itu berbelok memasuki gerbang besi tinggi dan Krisna dengan hati-hati memarkirkan mobil itu di halaman depan sebuah hunian mewah.
"Mari Om, Tante, masuk!" ajak Alinda dengan sopan kepada orang tua Helen.
Tersenyum dan mengiyakan ajakan Alinda calon mertua Cakra itu segera turun dari mobil dan mereka semua memasuki hunian mewah yang sudah berisi orang-orang yang sibuk membersihkan hunian besar itu untuk di dekor keesokan hari nya.
"Selamat datang, silahkan duduk dan beristirahat dulu, mari!" seorang pelayan dengan sopan mengajak semua tamu itu untuk menuju ruang tengah.
Krisna dan Alinda berjalan keluar, setelah berpamitan pemuda itu diantarkan Alinda ke teras depan.
"Baby, aku pulang dulu ya?" ucap nya masih dengan nada yang lembut.
"Beneran pulang, kan?" sedikit merengut Alinda bertanya.
"Baby jangan mulai lagi deh." Krisna mencubit hidung bangir Alinda pelan.
"Hehehe... iya deh iya, ya udah hati-hati." ucap Alinda. Kedua remaja itu pun berpisah di sana.
Alinda segera kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang ditumpangi kekasihnya itu menghilang dari pandangannya.
Di dalam rumah terlihat Frans yang baru saja keluar dari dalam kamar nya menemui para tamu nya.
Alinda ikut bergabung dengan pembahasan rencana pernikahan itu, Frans menceritakan semuanya, juga meminta maaf atas kelancangan anak laki-laki nya.
Sore itu memang Cakra tidak ada di rumah pria itu masih mengurus pekerjaan nya di kantor, tak lupa Frans pun menyampaikan maaf atas ketidak hadiran putra sulung nya sore itu.
"Sudah terlanjur begini Pak, Bu, mau bagaimana pun ini juga bukan hanya salah nak Cakra, kalau Helen putri kami bisa lebih menjaga diri pasti kan juga tidak akan terjadi hal seperti itu." dengan berlapang dada Valeno atau bapak dari Helen berucap.
"Ya, yang penting kita nikahkan saja mereka, biar mereka yang menanggung bagaimana selanjutnya saja, saya juga tidak bisa membiarkan putra saya tidak bertanggung jawab, lagi pula masa depan nak Helen itu masih panjang." sahut Frans.
Terlihat kedua besan itu saling cocok untuk menikahkan Cakra dan Helen.
Di samping itu Alinda bahagia karena tidak ada alasan lagi untuk Cakra melarang diri nya untuk tidak menjalin hubungan dengan Krisna.
__ADS_1