Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Berani? Berani!


__ADS_3

Dengan tanaga yang tidak lagi main-main, Alinda mendobrak pintu gudang yang tertutup itu.


DHUBRAK!!!


Pintu itu terbuka dengan paksa bahkan ada dua engsel yang terlepas karena Alinda mengerahkan semua tenaga nya.


Nafas terengah-engah menahan amarah, kini netra gadis remaja itu mendapati kakak kandung nya tengah mengungkung seorang gadis dewasa.


Tunggu! Bukan sekedar mengungkung, Cakra lebih terlihat melindungi gadis yabg ada di hadapan nya dari pintu yang terlihat akan ambruk menimpa kedua nya.


"Lo gila Lin!" teriak Cakra ketika melihat Alinda lah yang membuka paksa pintu itu.


"Lo yang gila! Lo main sama cewek ini kan?! terus kenapa lo nggak kasih restu buat hubungan gue sama Krisna?!" cecar Alinda dengan menahan bulir bening yang mulai memburamkan netra bulat nya.


"Kakak udah di apa in sama pecundang ini?" tanya Alinda kepada Helen, Cakra membelalakkan mata nya ketika mendengar adik kandung nya menyebut dirinya sebagai pecundang.


"Jaga mulut lo ya!" Gertak Cakra dengan menunjuk wajah Alinda menggunakan jari telunjuknya.


"Emang bener, kan lo pecundang! Memang nya mau di sebut apa?! Laki-laki yang sudah meniduri wanita tapi tidak berani bertanggung jawab, kalau bukan pecundang?!" dengan mendongakkan wajah nya demi menatap kakak kandung nya, Alinda mendebat Cakra.


"Sudah-sudah kalian jangan pada ribut, memang nya kalau nasi sudah menjadi bubur mau di apakan lagi?!" Kini Helen menengahi kedua nya.


Alinda beralih menatap Helen, "Kak, hati mu itu terbuat dari apa? Bahkan kau tidak menuntut nya! Aku sudah mendengar semuanya dari luar, kalau kalian membahas masalah keintiman, maaf sebelum nya, tapi aku sebagai adik nya Cakra tetap akan memaksa si pecundang ini untuk bertanggung jawab."


"Tidak, tidak, aku tidak butuh itu, lagi pula tidak ada ikatan cinta, akan kemana hubungan rumah tangga kami nantinya?" sahut Helen dengan penolakan.


"Lalu jika sampai ada baby yang tumbuh di dalam perut mu, apakah kau akan dengan kejam memisahkan baby kecil itu dengan keluarga kami?" memutar balikkan ucapan Alinda adalah jago nya.


"Alin! Nggak usah sok dewasa deh lo! Lo cuma mau kalau gue nikah lo bisa resmi pacaran sama Krisna kan?! Nggak akan!" Tegas Cakra.


"Ya... itu salah satu nya! Tapi setidak nya gue nggak munafik, gue suka ya bilang suka, gue nggak kek lo!" mendongak dengan tatapan tajam Alinda menatap kakak kandungnya itu.


Wajah Friska terlihat memucat mendengar perdebatan diantara kedua cucunya itu, perlahan tubuh yang sudah menua dengan kulit yang mengeriput itu duduk di lantai dengan meluruskan kakinya, perlahan nafas panjang dihirup oleh nenek dua cucu itu.


Alinda menoleh ke belakang, "Astaga, Nenek!" Dengan segera Alinda mendekat ke arah nenek nya.


Cakra yang tak kalah panik pun juga berjongkok di samping nek Friska, "Tuan cepat anda gendong Nenek dan bawa ke dalam kamar! Bisa jadi dia syok." ucap Helen, yang langsung di lakukan oleh Cakra.

__ADS_1


Mereka mengikuti langkah besar Cakra, Alinda berlari menuju telfon rumah yang teronggok di ruang tengah, sedangkan Helen masih melanjutkan langkah nya mengikuti Cakra.


Alinda dengan cepat menelfon Frans, mengabarkan bagaimana kondisi nek Friska saat ini.


Di dalam kamar Friska...


Helen dengan hati-hati membantu Cakra menurunkan Friska di atas ranjangnya.


Setelah memastikan nenek tua itu tidur dengan posisi yang nyaman, Helen segera berlari keluar, sedikit pun Cakra tak peduli kemana gadis itu pergi.


Di ruang tengah...


Alinda yang baru selesai menelfon Frans segera berjalan menuju kamar Friska, berpapasan dengan Helen, Alinda bertanya, "Bagaimana nenek?"


"Masih sama saja." sahut Helen tanpa menghentikan langkah kaki nya.


"Kakak mau kemana?" tanya Alinda, dengan menahan lengan Helen.


"Bikin teh hangat, buat nenek." sahut Helen kali ini gadis dewasa itu berhenti dan menatap Alinda.


Alinda melepaskan lengan Helen, "Ok kak, biar ku bantu."


Alinda mengangguk, tak biasa nya gadis nakal itu menurut dengan mudah tanpa mendebat sedikitpun.


Di dalam kamar Friska...


"Nenek?" Lirih Alinda dengan berjalan mendekati ranjang tidur wanita tua itu.


Friska tersenyum melihat kedua cucunya berada di samping nya.


"Kalian sudah besar, jangan lagi berdebat seperti anak kecil." wejang Friska mengingat kan, bahwa Alinda dan Cakra tidak lagi kecil.


"Tapi nek..." sela Cakra yang langsung pinggangnya di cubit oleh Alinda.


"Iya Nek, kita minta maaf." sela Alinda dengan tangan yang masih bertengger di pinggang kakak kandungnya itu.


"Dan kamu Cakra kamu itu genius, tapi jangan jadi laki-laki munafik, lengkap nya laki-laki ya jika mempunyai wanita yang baik, selesaikan lah apa yang sudah terlanjur kau mulai, jangan jadi manusia tidak bertanggung jawab." ucap nek Friska panjang lebar.

__ADS_1


"Iya nek." sahut Cakra yang akhirnya Alinda melepaskan cubitan di pinggangnya.


Tak lama kemudian Helen masuk dengan membawa segelas teh hangat. Gadis dewasa itu dengan telaten memberikan teh hangat itu kepada Friska.


"Mommy, Mommy, apa yang terjadi?" Teriak Frans yang panik dengan berjalan mendekati Friska.


Semua mulai membaik, bahkan Friska dan Alinda menceritakan masalah yang saat ini tengah di hadapi oleh putra sulung Frans.


Mau tak mah Cakra menyetujui pernikahan dadakan nya.


Ya... takut nya jika sampai terjadi sesuatu kepada Helen, kasihan gadis yang hanya menjadi korban itu.


Bahkan Kista Farah sudah di beri kabar bahwa seminggu lagi akan di adakan acara pernikahan untuk putra sulung nya.


Setelah selesai dengan masalah keluarga yang sangat membelit itu akhirnya kini Alinda tengah berada di dalam taksi.


Mau kemana lagi gadis nakal itu kalau bukan ke kampus, demi melihat pertandingan sang kekasih hati nya, ya walau pun sudah telat setengah jam.


...❄❄❄❄...


Di kampus...


Pertandingan akan segera di mulai tapi sedikit pun Krisna tak melihat batang hidung Alinda.


"Apa dia beneran nggak datang ya?" Lesu laki-laki itu berucap.


"Dah semangat aja, ada gue kok." ucap Kenan di samping Krisna.


"Apaan sih lo!" ketus Krisna.


Kenan hanya tersenyum miring mendapati kekesalan Krisna.


Permainan pun di mulai, hampir setengah permainan, lagi-lagi Krisna menyapukan pandangan ke arah kursi penonton dan ia tak menemukan sosok yang di cari-cari nya.


Babak pertama selesai, Krisna duduk dengan menundukkan kepala nya, sungguh ia menantikan kedatangan gadis cantik dengan raut ceria itu.


Tapi... apa boleh buat sudah setengah permainan ini tapi Alinda sedikit pun bekum belum menampakkan hidung nya.

__ADS_1


"Ini minum." Sebuah botol minuman terulur ke arah Krisna yang menunduk.


Pemuda tampan itu segera mendongak untuk melihat siapa yang begitu perhatian pada nya, senyum terkembang di sana mendapati siapa yang berdiri di hadapan nya dan, GREB!...


__ADS_2