
Sudah sejak beberapa hari terakhir ini, hunian mewah bak istana milik Frans itu di penuhi umat manusia yang sibuk mendekor, memasak, bahkan membersihkan juga merapikan tempat yang akan di gelar acara itu.
Pagi itu terlihat Alinda cantik dengan kebaya merah nya, gadis yang tak henti-henti nya mengembangkan senyum manis itu tengah duduk di sebuah kursi bersama dengan keluarga terdekat dan juga para tamu undangan.
Di samping gadis itu, ada Krisna dan kedua orang tua nya yang juga mendapatkan undangan pernikahan dari keluarga Frans.
Ya... ijab qobul Cakra dan Helen akan di laksanakan hari ini, terlihat Alinda menatap kakak kandung nya yang memasang tampang datar nya.
Pak penghulu sudah duduk di hadapan kedua mempelai pengantin yang duduk berdampingan.
Mempelai wanita atau Helen terlihat menundukkan wajah nya, sama hal nya dengan Cakra, kedua insan berbeda gender itu sebenarnya tak menginginkan pernikahan dadakan ini.
Bahkan tatapan kebencian tersirat di dalam netra kedua mempelai itu.
Walau begitu Cakra mengucapkan ikrar ijab qobul dengan sangat lancar bahkan suara nya terdengar lantang dan jelas, seperti sudah ia hafalkan jauh-jauh hari.
"Kris, ntar kalau kita nikah, lo bisa satu kali tarik nafas gitu juga nggak?" bisik Alinda dengan mata yang masih fokus menatap kakak kandung dan juga kakak iparnya.
"Bisa lah! Gitu doang, Cakra yang baru tau nama nya aja hafal apa lagi aku yang udah kenal dari kecil." percaya diri Krisna menyahuti pertanyaan Alinda.
"Ok, aku tunggu tanggal main nya." ucap Alinda dengan menatap Krisna.
Krisna hanya tersenyum dan mengacak pelan pucuk kepala kekasih hati nya itu.
Acara ijab qobul telah usai, kini para tamu undangan dan juga kerabat dekat yang menghadiri pernikahan dadakan itu sudah dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang ada.
Menerima ucapan selamat dan do'a terbaik kedua mempelai itu terlihat baik-baik saja, dengan memasang senyum semanis dan se ramah mungkin, Alinda melihat bahwa acting kedua mempelai pengantin baru itu sangatlah bagus.
"Sungguh pasangan yang cocok." ucap Frans yang berdiri di samping Alinda.
"Cakra yang sama sekali tidak ada hati untuk kak Helen saja bisa menerima, lalu apa kabar dengan Papa yang masih menaruh hati tapi tidak berani mengungkapkan?" sindir Alinda dengan masih tersenyum menatap kakak kandung nya yang tengah duduk bersanding di atas pelaminan.
__ADS_1
Frans merasa tertusuk kali ini, memang benar ucapan putri sulung nya itu, kalau dirinya masih menaruh hati untuk Kista sang mantan istri sekaligus ibu dari kedua anaknya.
"Dah Alin cuma becanda kali Pah." menyenggol siku Papanya Alinda berucap, mungkin takut durhaka karena telah menohok plus menusuk hati orang tua nya.
"Nggak papa sayang, lagi pula, memang Papa mu ini pecundang yang tidak berani menyatakan perasaan nya, padahal sudah ada kalian berdua yang pasti akan selalu mengikat kami." sahut Frans dengan menatap Alinda yang berdiri di sampingnya.
"Terus, tante Nita gimana?" tanya Alinda mengingat kalau memang Frans bukanlah pria singel.
"Masih proses." sahut Frans menundukkan kepala nya.
"Papa kurang tegas sih jadi laki, kaya Mama dong, sekali nggak ya nggak, jadi berpendirian gitu loh!" cecar Alinda.
"Ya... Mama mu memang beda, dan sifat keras juga tegas nya menurun kepada kalian berdua." Frand diam-diam mencuri pandang ke arah mantan istrinya yang terlihat tengah ngobrol dengan keluarga Krisna.
Alinda mengikuti kemana pandang Frans berlabuh, dan senyum miring terbesit di bibir gadis nakal nan jahil itu.
"Ahem... Jangan di liatin mulu, nggak bakal ngeh dia mah kalau cuma di tatap doang, apalagi dengan jarak segini jauh nya." menghela nafas Alinda menepuk keningnya.
"Samperin gih!" Alinda seperti menyuruh teman sebaya nya untuk melakukan PDKT.
"Jangan di acak kasihan Hair Do nya!" ketus Alinda berucap dengan menutup pucuk kepala nya.
"OK, kalau Papa emang mau ngobrol berdua sama Mama, Alin bantu." ucap Alinda, tanpa mendengar persetujuan dari Frans, gadis itu segera berjalan mendekati kerumunan tiga anggota keluarga itu, keluarga Helen, keluarga Krisna, dan Kista sebagai ibu dari Cakra.
"Ee... Tante Rosma, maaf ni ganggu sebentar waktu nya, tadi kak Helen kayak nya nyariin Om dan Tante deh." dengan sopan Alinda berucap, gadis itu memang seperti bunglon, bisa berubah sesuai situasi dan kondisi namun juga melalui bagaimana rasa hati.
"Oh ya ampun, iya nak tidak apa-apa." sahut Rosma dengan beranjak dari duduknya.
Alinda hanya tersenyum sopan demi menyahuti ucapan itu, tak lama setelah besan baru itu pergi meninggalkan tempat bersantai itu, kini Alinda beralih menatap Krisna.
Pemuda tampan itu paham akan pandangan yang tengah terarah padanya itu.
__ADS_1
"Eee... Mah, tadi Krisna lihat di sebelah sana ada snack enak loh, kita coba ke sana yuk!" ajak Krisna kepada Riana, ya... itu adalah ide yang sangat brilian, pasal nya Riasan langsung tanggap, ya... wanita setengah abad itu memang penyuka wisata kuliner.
"Benarkah? Ayo Pah kita coba!" ajak nya dengan segera beranjak dari duduk nya. Tak mau menciptakan perdebatan Hermawan pun menuruti keinginan istri tersayangnya itu.
Setelah satu persatu mereka pergi meninggalkan Kista, kini tinggallah Alinda dan Kista berdua, "Mama udah makan?" basa-basi Alinda bertanya.
"Em... belum, mana bisa mama makan? Sedangkan pernikahan Cakra yang terlihat perfect ini saja sudah membuat perut Mama kenyang." sahut Kista.
"Mama bahagia Cakra menikah?" tanya Alinda.
"Bagaimana Mama tidak bahagia, setelah sekian lama kakak mu berpikir pernikahan itu tidaklah baik, bahkan dia telah membatasi dirinya untuk tidak berurusan dengan perempuan, dan hari ini, Mama menyaksikan ikrar ijab qobul yang di ucapkan nya terasa lancar dan menyentuh hati." air mata bening tiba-tiba menetes ketika Kista bercerita.
Bagaimana bisa biasa saja, jika trauma berumah tangga Cakra penyebab utama nya adalah dirinya dan mantan suami nya yang malah memilih berpisah demi kehidupan kedua putra putri yang sengaja di baginya.
"Mama jangan nangis, Alin ambilkan makan dulu ya?" menawari tapi tidak menerima persetujuan atau penolakan, Alinda segera meninggalkan Kista, gadis itu berjalan menuju meja yang menyediakan beberapa jamuan makanan di sana.
Dari meja yang penuh dengan berbagai olahan menu masakan, gadis nakal itu terus mengamati ibu kandungnya.
Sedikit gemas Alinda yang melihat Frans tak kunjung mendekat, hampir saja gadis itu menarik taplak meja, karena kini tangan nya sudah meremas gemas kain taplak meja itu.
Namun hati nya segera merasa lega saat ia melihat Frans mendekati Kista, dan terlihat kedua orang tua itu saling berucap.
"Kira-kira apa yang mereka bicarakan? Kok jadi kepo aku?" lirih Alinda dengan masih mempertahankan posisi nya juga penglihatan nya.
"Lancar?" tanya Krisna dengan menempatkan lengan nya di pundak Alinda.
Gadis itu menoleh ke arah kekasihnya, "Lancar." sahut Alinda singkat namun dengan senyum kepuasan, Krisna mengikuti kemana arah mata Alinda berlabuh.
Ya mereka kini tengah menatap kedua orang dewasa yang tengah duduk berdampingan, namun masih terlihat malu, itu yang membuat Alinda gemas kembali.
"Akhirnya selesai juga masalah kamu." Krisna mengacak pelan kepala tak acak.
__ADS_1
"Iya, akhir nya selesai juga, tinggal tunggu kabar baiknya saja, bagaimana kelanjutan nya." Alinda tersenyum dengan menatap kedua orang tua nya yang terlihat mulai berbincang, tangan Alinda melingkar di pinggang Krisna, sedangkan sebelah tangan Krisna mengelus surai hitam Alinda...
Jangan lupa like dan favorit 🥰🥰🥰