
Setelah panjang lebar, juga dengan susah payah Krisna menjelaskan kepada kedua orang tuanya melalui telfon.
Akhirnya lusa kedua keluarga itu akan bertemu, demi membahas pernikahan Alinda dan Krisna.
Hari yang di tunggu untuk mempertemukan dua keluarga besar itu pun akhirnya tiba, ya... dua keluarga konglomerat itu kini tengah mengadakan makan malam di sebuah restoran.
Di dalam ruang VIP yang telah dipesan Frans, mereka membahas rencana pernikahan untuk kedua putra putrinya yang masih berusia belia.
"Apa tidak papa jika mereka menikah di usia yang masih sangat muda?" tanya Hermawan yang sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan kedua muda mudi yang masih mengejar study itu.
"Mau bagaimana lagi pak, saya tidak mau jika sampai arang tercoreng di wajah keluarga kita." sahut Frans.
"Lalu bagaimana masa depan mereka?" Hermawan masih mengkhawatirkan kehidupan ekonomi putra bungsunya.
"Bagaimana jika kita berikan pekerjaan di perusahaan?" ide itu terucap dari Kista yang sedari tadi berdiam diri.
"Ide bagus." setuju Riana.
"Tunggu! Tapi bukan kah mereka masih akan bergantung kepada kita?" ucap Hermawan.
"Tidak, bukan bergantung, mereka berkerja dan perusahaan yang akan menggaji." sahut Frans.
Mengangguk-angguk Hermawan berusaha memahami ide itu, "Apakah tidak bisa menunggu sampai Krisna di wisuda?" ucap Hermawan lagi.
"Kapan Krisna wisuda?" tanya Kista.
"Dua bulan lagi Tante." sahut Krisna dengan sopan.
"Em... baiklah... dua bulan lagi waktu yang cukup untuk mempersiapkan semuanya." Frans setuju dengan itu, tak hanya itu Hermawan pun juga menyetujuinya.
...❄❄❄❄...
Dua bulan bukanlah waktu yang lama, jika di jalani dengan kesibukan, semua akan terasa begitu cepat, ya pagi ini Alinda sudah bersiap dengan penampilan cantiknya untuk menghadiri acara wisuda calon suaminya.
"Pagi Mah, Pah." sapa Alinda dengan senyum cerianya.
"Pagi juga sayang." sahut Frans sedangkan Kista hanya tersenyum dengan mengoleskan selai kacang pada roti tawar yang ada di atas meja.
"Baby nggak sarapan?" tanya Frans yang melihat Alinda hanya meminum susunya.
"Nggak Pah, Alin mau makan sama Krisna aja ntar." ucap Alinda setelah meletakkan gelas kaca yang sudah kosong.
"Jangan keluar jauh-jauh, calon pengantin nggak boleh pergi berdua jauh-jauh lo, nak pamali!" ucap Kista mengingatkan.
"Mama tenang aja, Alin bisa jaga diri kok, oh iya acaranya masih besok pagi, kan?" tanya Alinda memastikan.
"Iya besok pagi, tapi kamu jangan pulang malem!" dengan tegas Kista mengingatkan putri nakalnya itu.
"Cakra beneran nggak datang?" tanya Alinda dengan salim dan mencium punggung tangan Kista, kemudian beralih ke Frans.
"Nggak bisa, dia sibuk dengan meetingnya, perusahaan Papa di Prancis sedang naik daun setelah dipegang kakakmu." jelas Frans, yang secara tidak langsung membanggakan putra sulungnya itu.
Menganggukkan kepala Alinda mengerti, gadis itu segera keluar dari dalam hunian mewah itu setelah ia berpamitan dengan kedua orang tuanya.
...❄❄❄❄...
Di kampus...
Krisna dengan kedua orang tuanya tengah duduk di bangku taman, "Mana Alin? Kok belum datang?" tanya Riana.
__ADS_1
"Palingan masih di jalan, atau nggak masih di balik selimutnya, mana bisa dia bangun pagi kalau nggak di telfon." sahut Krisna.
"Hahaha... Alinda tidak berubah ternyata." sahut Hermawan yang memang hapal juga dengan sifat Alinda.
"Tidak Pah, dia berubah, sekarang sudah tidak lagi se jahil dulu, bahkan saat Krisna bilang Krisna sibuk, dia diam, tidak merengek seperti dulu." jelas Krisna yang memang lebih menyukai Alinda yang sudah mulai tumbuh dewasa itu.
"Hacim!!!" terdengar suara bersin dari belakang Krisna, hingga pemuda tampan yang masih mengenakkan jubah hitam beserta topi kebesaran itu menoleh ke arah sumber suara.
"Lin?" lirih nya dengan menatap gadis yang tengah berdiri dengan mengucek hidungnya.
"Hehe... Maaf ya aku telat?" ucap Alinda yang segera memberikan buket yang berisi coklat itu kepada Krisna.
"Congrats ya Baby!" ucapnya seraya memelui singkat leher Krisna yang masih duduk di kursi.
"Iya, makasih ya sayang?" Krisna mengelus pucuk kepala kekasihnya itu.
"Sama-sama sayang ku." sahut Alinda.
"Ekhem-ekhem... kita kok kayak jadi obat nyamuk ya Pah?" sengaja Riana menggoda sepasang muda-mudi di hadapannya itu.
"Eh eh maaf Om, Tante." ucap Alinda dengan senyum Pepsodent nya, gadis itu tak lupa bersalaman juga dengan kedua orang tua Krisna.
Setelah berbasa-basi sekitar lima belas menit, mereka memutuskan untuk makan bersama, sekalian menuju jalan pulang.
Mobil keluarga Krisna berhenti disebuah restoran mewah, mereka memutuskan untuk makan di sana.
...❄❄❄❄...
Sore hari Kediaman Frans sudah penuh manusia-manusia sibuk kembali seperti beberapa bulan yang lalu.
Ya... para team WO(Wedding Organizer) sudah datang dan menghias ruangan mewah itu.
Kista sendiri yang mengusulkan model gaun pengantin yang akan dikenakan putri bungsunya itu.
Sudah hampir senja tapi belum ada tanda-tanda gadis remaja itu akan pulang, itu menambah rasa khawatir orang tua yang tengah menunggu itu.
Tapi baru saja Kista mengeluarkan gawai canggihnya, sebuah mobil sudah terlihat berhenti di halaman depan hunian mewah itu.
Ya... Alinda diantarkan oleh sopir dari kediaman Hermawan, "Makasih ya pak?" ucap Kista dengan berjalan mendekati putrinya.
"Iya Nyonya, sama-sama, saya permisi." ucap pak sopir itu dengan sopan.
Kista segera mengajak putri bungsunya itu untuk masuk dan menemui designer yang sudah sedari tadi menunggunya.
Setelah mencoba beberapa gaun pilihan itu, Alinda memutuskan untuk menggunakan gaun putih dengan paduan tile pink yang terlihat sangat manis, cocok sekali dengan kepribadian Alinda yang ceria.
...❄❄❄❄...
Tanpa ponsel, Alinda setelah bertemu dengan Krisna kemarin sedikitpun tidak bisa memegang benda canggih itu.
Pagi ini subuh-subuh Alinda sudah habis mandi, gadis itu semangat, tak biasanya ia bangun pagi, pagi ini tanpa di bangunkan, gadis itu sudah bersiap-siap dengan sendirinya.
TOK... TOK... TOK...
Terdengar pintu kamar Alinda di ketuk, gadis itu segera membukakan pintu.
Team MUA ternyata sudah tiba, mereka segera masuk ke dalam kamar Alinda dan merias calon pengantin wanita itu dengan jari jemari ajaib mereka.
...❄❄❄❄...
__ADS_1
Di sisi lain, di kediaman Hermawan...
Terlihat Krisna tengah mematut diri didepan cermin, pemuda itu terlihat tampan dengan tuxedo hitam dengan mawar pink di dada kirinya.
"Sudah siap?" tanya Hermawan dengan menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Siap!" sahut Krisna, rombongan pengantin laki-laki pun segera berangkat menuju tempat acara, yang tak lain adalah kediaman Frans.
Setibanya di tempat acara, terlihat Krisna menghela nafasnya, mungkin ada sedikit rasa gugup yang menyelimuti hatinya.
Kini pria tampan itu sudah duduk dihadapan pak penghulu.
Tak lama kemudian keluarlah Alinda dengan gaun dan riasan yang menawan, semua mata tertuju padanya, gadis itu menunduk malu.
Di arahkan oleh orang-orang yang paham akan adat pernikahan, Alinda duduk di samping Krisna.
Setelah semua dipersiapkan dengan matang, pak penghulu pun memulai Ijab qobul yang langsung disahuti oleh Krisna dengan satu kali tarik nafas.
"... di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawin nya Alinda Frankista binti Ali Franskinsten dengan maskawin tersebut di bayar tunai" lancar jaya Krisna mengucapkan ikrar ijab qobul nya.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya pak penghulu.
"SAAAAAAAHHHHH!!!" sahut semua tamu undangan berserta keluarga dan kerabat dekat.
"Alhamdulillah..." pak Penghulu melanjutkan nya dengan do'a yang diaminkan oleh semuanya, juga termasuk kedua mempelai, yang sesekali mencuri pandang dengan melirik satu sama lain.
Setelah selesai do'a Krisna mengulurkan tangan kanan nya yang segera di sambut oleh Alinda kemudian diciumnya punggung tangan laki-laki yang kini telah sah menjadi imam dalam rumah tangganya, tak lupa Krisna membalas juga mencium kening Alinda.
...~TAMAT~...
Alhamdulillah setelah menerjang badai kehidupan, akhirnya Krisna dan Alinda bersatu, terimakasih untuk para reader yang sudah mampir di sini, terimakasih atas like dan dukungan kalian, jangan lupa baca juga kelanjutan novel ini yang akan menceritakan kisah Helen dan Cakra di novel yang berjudul BUKA CASANOVA.
Chapter 1 [Ijab Qobul]
...Saya terima Nikah dan kawin nya Helen Valensia binti Valeno Santoso......
Lantunan ijab qobul yang keluar dari mulut pemuda tampan itu entah mengapa membuat hati Helen bergetar, bahkan gadis dewasa yang berhiaskan make up natural dengan kebaya putih yang bertaburkan batu berlian swarovski itu terlihat sangat tersanjung.
"Bodoh kenapa aku bisa mengagumi suara nya yang pasti cuma acting itu? Heh... bahkan dengan bodohnya telinga ku menganggap suara nya itu merdu, ah aku pasti sudah mulai gila." Batin Helen dengan memejamkan netra indah nya yang berhiaskan bulu mata lentik.
Ya... Helen Valensia atau mempelai pengantin wanita itu tengah duduk di samping mempelai pria yang bernama Cakra Frankins.
"SAH?" tanya pak penghulu dengan suara lantang nya.
"SAAAAAAAAAHHHHH..." Suara yang terdengar serempak itu membuat Helen dan Cakra spontan saling menatap, tapi karena masih merasa asing Helen kembali memalingkan wajah nya.
"Nak salim dulu sama suami mu, nak Cakra sekarang sudah menjadi imam di dalam keluarga kecil mu, jadi istri yang nurut ya nduk." Baru saja Helen membuang pandangan agar tidak bertatapan dengan pemuda yang kini sudah bergelar suami itu, tiba-tiba dari samping kiri nya, bu Rosma atau ibu kandung dari Helen berucap agar anak gadis nya yang di pinang keluarga konglomerat itu berlaku sopan layak nya istri soleha.
"Iya bu." lirih Helen yang kemudian kembali menghadap ke arah Cakra, gadis bergelar istri itu menengadahkan tangan kanan nya untuk bersalaman dengan sang suami.
Tak mau membuat malu keluarga di depan tamu undangan Cakra segera menyambut hangat tangan Helen, di genggam nya, lembut kulit putih Helen, tanpa ragu juga Cakra mengecup kening istri nya itu...
Mau tau kelanjutannya?
Yuk baca di novel yang berjudul BUKAN CASANOVA 🥰🥰🥰
__ADS_1