
Dengan senyuman yang masih saja mengembang di wajah tampan nya, Krisna memasuki unit apartemennya.
"Sayang... Yank? Baby, yuhu, cinta?" Berteriak-teriak tidak jelas, Krisna berjalan dengan mood yang sangat baik petang itu.
Di dalam kamar mandi Alinda terlihat bingung, gadis itu memasang benar-benar indera pendengaran nya.
Ya... Suara Krisna yang di dengar nya, tapi ada yang berbeda, kenapa terdengar seperti anak TK yang baru saja mendapatkan pujian?
Karena penasaran akhirnya Alinda melilitkan handuk di pinggang nya, eits... tunggu dulu, atasan Alinda masih dengan T-Shirt nya ya, awasi otak anda!
Dengan sedikit berlari Alinda menghampiri Krisna, "Ada apa?" Tanya Alinda menilik manik legam milik Krisna.
Menggelengkan kepala pemuda tampan itu berucap, "Nggak!" Sahut nya singkat namun masih dengan senyum nya.
Masih menatap Krisna dengan tatapan aneh nya, Alinda meraih pesanan nya dan segera membawa nya ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian Alinda keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan ke arah ruang tengah, gadis itu menghempas kan pantat nya di atas permukaan sofa lembut.
"Aku antar pulang ya?" Krisna dengan bahas lembut nya mengajak agar gadis nakal kesayangan nya itu mau di antar kan pulang.
Melirik tajam yang saat ini Alinda lakukan, "Jangan melihat ku seperti itu." ucap Krisna dengan memeluk tubuh Alinda dari samping.
"Baru aja gue duduk, udah ngusir? Hah! Iya? Terus abis gue pulang, lo mau kencan sama Nafiza? Mau kemana, makan malam romantis juga? Belum kenyang gegara tadi makan nya cuma satu mangkuk berdua?" Ocehan beruntun semacam jagung popcorn yang meletup-meletup begitu lah Alinda saat ini.
"Nggak gitu sayang, kok malah bawa-bawa Nafiza sih?" Masih dengan menancapkan dagu nya di pundak Alinda, Krisna menyahuti ucapan gadis itu.
"Kalau bukan Nafiza siapa? Kan yang sering hubungin Lo dia!" Alinda mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, udah dong, jangan gini, kita bakal jarang ketemu loh, tapi kamu malah gini pas kita ketemu." Krisna mencubit dagu Alinda dan menarik nya hingga gadis itu menoleh ke arah nya.
"Gini gimana? Lo nggak suka gue begini? Hah?! Bilang aja! Iya kita bakal jarang ketemu terus kenapa? Lo mau ketemuan sama team-team cheerleader yang suka sorak-sorakin lo itu?" Alinda beranjak dari duduk nya, namun Krisna segera meraih lengan nya.
"Sayang, please jangan marah-marah, kamu kenapa sih? Aku salah apa lagi?" tanya Krisna dengan berdiri di depan gadis yang tengah berapi-api itu.
"Apa?! Salah apa? Lo itu jadi cowok nggak peka banget sih! Pake nggak tau kesalahan nya dimana lagi!" dengan bersedekap Alinda berucap.
"Astaga, gue nggak peka? Ini sebenar nya siapa yang salah sih? Kok gue jadi bingung." Batin Krisna dengan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Dahlah gue mau pulang!" Merengut gadis itu dengan tangan yang bersedekap.
"Ya udah, aku anter ya?" Masih berusaha sabar Krisna dalam menawarkan tumpangan nya.
Bukan nya menjawab Alinda malah merlirik Krisna dengan tatapan yang terlihat seperti mencurigai.
" Sayang, please! Jangan liat aku begitu, ntar kalau sampai aku lupa gimana?" Goda Krisna dengan sengaja agar gadis itu mau tertawa barang sedikit saja.
__ADS_1
"Lupa? Ooo... Jadi lo mau lupain gue? Terus mau jadian sama Nafiza? Waaaahhhh asli ketebak dong niat busuk lo!" Cerocos Alinda yang semakin tersulut emosi nya.
"Sayang please, aku capek kamu bahas Nafiza lagi Nafiza lagi." Gerutu Krisna dengan memegang kedua pundak Alinda.
" Ya habis nya dia hubungin kamu terus!" Celetuk Alinda mulai tak masuk akal.
"Ya mau gimana lagi, orang dia punya nomor, aku.. "
"Di blokir aja udah!" Dengan santainya Alinda berucap.
"Hah? B... Blokir? Ya nggak gitu juga sayang." Ucap Krisna dengan menahan lengan Alinda.
"Nggak gitu? Hieleh bilang aja sayang!" Masih dengan nada yang marah-marah Alinda menepis lengan Krisna, gadis itu segera berlari ke dalam lift dan segera masuk kemudian menekan tombol agar lift segera tertutup.
Krisna yang tak sabar menunggu kedatangan lift selanjutnya, pemuda itu terlihat berpikir keras namun selanjutnya ia berlari kearah tangga darurat, dengan langkah besar nya pemuda itu berlari sampai ke lantai bawah.
Namun percuma karena gadis itu sudah menghentikan sebuah Taksi dan masuk ke dalam nya.
"Aaaarrrggghhh Sial!" Terlihat Frustasi Krisna dengan cepat berlari ke arah basement untuk mencari mobil nya, ia mengikuti taksi yang di tumpangi Alinda.
Setiba nya di depan gerbang rumah nya, gadis itu sudah melihat mobil ayah nya dan kakaknya sudah terparkir rapi di halaman.
"Oh mereka sudah pulang, berati gue harus lewat jalan alternatif." Gumam nya dengan berjalan menuju samping bangunan megah itu.
...❄❄❄❄...
Di sisi lain, di kediaman Frans...
Hunian mewah bak istana itu terlihat begitu mencekam, ketika Cakra dengan raut wajah tak enak dipandang nya menanyakan kemana adik nya pergi.
"Kemana mata kalian semua? Mengawasi satu bocah saja tidak becus!" teriak Cakra dengan marah-marah tak jelas.
Tak ada satu pun pengawal yang menjawab amukan nya, hingga Frans keluar dari ruang kerja nya.
"Istirahat lah, biar Papa yang cari." ucap nya dengan nada rendah.
Namun baru saja Frans hendak melayangkan panggilan nya kepada Alinda, gadis itu sudah lebih dulu menongolkan wajah nya dari lantai atas.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Alinda dengan melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga.
Dengan sorot mata tajam nya sudah dapat ditebak bahwa kakak kandung Alinda itu tengah dalam keadaan emosi.
"Kemana aja lo? Hem? Udah berani main kucing-kucingan iya?!" pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut Cakra yang masih tersulut emosi.
"Gue... Di kamar, lo juga liat sendiri gue baru turun." Alasan gadis itu, tapi sama sekali tak berani Alinda untuk menatap netra tajam yang terlihat tengah mengintimidasi dirinya.
__ADS_1
"Lo!..."
Drrrttttzzzz...
Drrrttttzzzz...
Drrrttttzzzz...
Belum selesai teguran terucap dari mulut Cakra terdengar gawai canggih yang ada di dalam saku celana Cakra berdering meminta perhatian lebih dari si empu nya.
Terlihat laki-laki itu menghembus nafas kasar, kemudian tangan kanan nya merogoh saku untuk mengeluarkan gawai canggih yang masih setia berdering itu.
Cakra melihat layar ponsel kemudian menatap Frans dan juga Alinda secara bergantian, kemudian putra sulung Frans itu berjalan menjauh dari keduanya.
"Siapa yang telfon?" tanya Frans dengan memandang punggung putra nya yang kian menjauh.
Alinda mengendikkan pundaknya, "Pacarnya kali." acuh gadis itu masih marah dengan ayah biologis nya itu.
"Alin masih marah sama Papa?" terang-terangan Frans bertanya.
Hanya melirik sekilas, kemudian Alinda berjalan kembali menuju kamar nya, Frans hanya mampu menghela nafas panjang nya, ia menyadari kalau itu memang kesalahan nya.
Sesampai nya di kamar Alinda...
Gadis itu terlihat duduk termenung dengan memeluk bantal guling nya.
Pikiran nya kacau sekali, entah karena apa dirinya hari ini rasa nya ingin marah saja, "Aaaaarrrggghhhh!!!" Teriak Alinda menutup wajah nya dengan guling yang di peluk nya.
KLAP!!
Mendadak gelap gulita kamar gadis itu ketika ia mulai membuka mata nya kembali, "Pah? Mati lampu ya?"
Krrriiieeeetttt... Wusssshhh...
Dari arah jendela dimana dirinya masuk tadi berhembus angin malam, karena lupa gadis itu tadi tidak menutup jendela dengan benar.
Netra waspada terarah ke arah jendela yang berbunyi, samar-samar gadis itu melihat bayang-bayang hitam tengah melangkah masuk ke dalam kamar nya melalui jendela itu.
"Siapa kamu?" Panik Alinda, namun gadis itu tetap bertanya dengan suara lantang nya.
"Jangan mendekat atau ku pukul kau!" Ancam gadis itu, ketik bayangan hitam itu mendekati diri nya.
"Ssstttt jangan berisik!" Makhluk hitam itu berbisik dengan menempelkan jari nya di bibir Alinda.
Melotot Alinda hendak berteriak, "Aaammmhemmhemm..." Bayangan hitam itu dengan segera membungkam mulut Alinda...
__ADS_1