Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Nikahkan Saja!


__ADS_3

Frans dengan bolak-balik memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya terlihat begitu cemas.


"Ada apa mas?" tanya Kista yang kala itu tengah berjalan dari dapur menuju ruang tengah dengan membawa secangkir teh hangat.


"Rumah ini terasa sepi setelah Cakra dan Helen pindah, juga setelah kepulangan besan kita, apalagi Alinda sering keluar malam, ini sudah jam sembilan malam kok Alin belum pulang, mana diluar hujan lebat." raut khawatir melengkapi ucapan ayah dua anak itu.


"Alin sama Krisna, kan?" tanya Kista dengan duduk disalah satu sofa yang teronggok diruang tengah.


"Iya." mengangguk Frans menyahuti wanita cantik yang tak lain adalah mantan istrinya itu.


"Coba di telfon barang kali mereka berteduh dimana." ide yang keluar dari mulut ibu dua anak itu segera Frans lakukan.


Terlihat orang tua itu menghubungi nomor Alinda maupun Krisna, secara bergantian.


Satu pun tak ada yang menjawab telfon, berpikir keras akhirnya Frans memutuskan untuk mengenakan jaket dan segera menuju garasi mobil.


"Mau kemana?" tanya Kista.


"Apartemen Krisna." sahut Frans dengan menghentikan langkahnya.


"Aku ikut!" ucap Kista yang segera berdiri.


Dua orang dewasa berbeda gender itu segera menuju garasi dan menaiki mobil yang tersedia di sana.


Mobil Frans melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, entah apa yang ada di dalam pikiran orang tua itu.


Setibanya di gedung apartemen Krisna, Frans dan Kista segera menaiki alat transportasi vertikal itu dan menuju unit apartemen Krisna.


Tak perlu menunggu waktu lama, keduanya sudah tiba di depan unit apartemen Krisna, tapi terlihat sepi, pintu pun tertutup rapat, alhasil Frans menuju unit apartemen Sendy, yang tepat ada di samping unit apartemen Krisna.


Belum sampai orang tua itu mengetuk pintu apartemen Sendy, dari dalam sudah lebih dulu di buka oleh Fraya.


"Loh... Om... Tante... Ada apa ya?" tanya Fraya dengan raut wajah bingungnya.


"Apa Alin main ke sini?" tanya Frans to the point.


Fraya menggelengkan kepalanya, "Hah? Tidak." sahutnya kemudian.


"Sudah ku duga!" geram Frans dengan kenakalan anak gadisnya itu.

__ADS_1


"Sabar Om, biar Fraya yang panggilkan jika memang ada di sebelah." ucap Fraya dengan melangkahkan kaki nya menuju pintu unit apartemen Krisna.


TOK... TOK... TOK...


Diketuk nya pintu itu beberapa kali hingga sang empunya membukakan pintu itu.


CEKLEK!!!


"Ngapain lo kesini?" ketus juga dingin suara si pemilik apartemen itu.


Frans dan Kista segera muncul di belakang Fraya, "Itu, ada..." mengkode Krisna kalau kedua orang tua Alinda ada di sana.


Tapi terlambat karena sudah muncul dan melihat Krisna yang tengah bertelanjang dada.


Pemuda itu gelagapan karena hanya mengenakkan boxer saja, "Eh... Om... Tante... Ada apa ya?" tanya Krisna yang merasa kikuk.


"Siapa Beib?" teriak Alinda dari dalam.


Frans menaikkan salah satu alisnya, "Oh iya, silahkan masuk Om, Tante." ajak Krisna.


"Ada apa ini rame-rame?" ucap Sendy yang baru saja keluar dari unit apartemennya.


"Eh ada Om dan Tante." sapa Sendy lagi.


Krisna segera mengajak semuanya masuk ke dalam dan untungnya Alinda sudah mengenakkan pakaian lengkap, tapi masih dengan rambut yang basah dan itu mengundang pertanyaan bagi semua orang.


"Abis mandi dek?" cetus Kista dengan menatap putri bungsunya itu.


Semua mata fokus tertuju pada rambut basah Alinda, "Hah? eng... iya Mah." sahut Alinda lirih.


"Tunggu! Tunggu! Kalian nggak abis..."


PLETAK! remote AC tiba-tiba melayang ke kepala Sendy yang baru saja hendak berucap.


"Aduh! Sakit Kris!" keluh Sendy dengan mengelus kepalanya yang baru saja berbenturan dengan remote AC.


"Makanya punya otak jangan mesum!" tuding Krisna yang saat itu sudah bernegatif thinking dengan pikiran yang ada di dalam otak Sendy.


"Siapa juga yang mesum? Orang gue cuma mau tanya kalian nggak habis kehujanan, kan?" Sendy melanjutkan pertanyaan yang sempat tertunda oleh remote AC yang melayang.

__ADS_1


"Oh, iya kita kehujanan, tadinya Krisna mau antar Alin pulang, tapi hujan makin deras, makanya mampir ke sini dulu, ini juga baju Krisna yang Alinda pake!" jelas Alinda dengan menunjukkan T-shirt yang Oversize yang ia kenakan.


Mengangguk paham semuanya, namun tiba-tiba Frans memicingkan matanya, "Tapi dingin-dingin kalian yakin nggak ngapa-ngapain?"


Sontak Alinda dan Krisna saling memandang satu sama lain, semakin curiga Frans dengan tatapan kedua muda-mudi ini.


"Dahlah Om, nikahkan saja mereka berdua!" celetuk Sendy dengan entengnya.


"Nikah?" tanya Frans.


"Iya, Om, dari pada kelepasan terus hamidah menghantui rumah tangga kalian, kan malu." cecar Sendy yang kini tengah dipikirkan matang-matang oleh Frans dan juga Kista.


"Gimana Mah?" tanya Frans meminta pendapat mantan istrinya itu.


"Aku sih ok ok aja asal anak-anak ok, toh mereka yang menjalani." sahut Kista santai.


"Kamu nggak takut kerusakan rumah tangga kita akan terulang pada mereka yang menikah muda?" tanya Frans.


"Mas, yang namanya orang itu beda nama aja udah beda nasib loh! Ya banyak yang bilang buat jatuh tidak jauh dari pohonnya, tapi apa semua begitu? Apakah Tuhan menciptakan nasib makhluknya sama dengan orang tua nya? Tidak, kan?" cecar Kista dengan panjang lebar.


"Om Frans masih ingat cerita pembuat berhala yang anak nya malah menentang penyembahan berhala?" tanya Sendy yang sepertinya sependapat dengan Kista.


"Maksud kamu..."


"Ya Om, di pelajaran sekolah dasar dulu ada mata pelajaran yang menceritakan kisah sejarah itu, dan anak itu menjadi orang ternama, bahkan jauh dari model kehidupan sang ayah." jelas Sendy.


"Kita percayakan saja kepada Alinda dan Krisna yang menjalaninya, toh dari pada arang akan tercoreng diwajah kalian, lebih baik kalian sahkan saja dulu mereka berdua." imbuh Sendy yang membuat Frans terdiam.


Bukan setuju atau tidak setuju, Frans hanya takut jika sampai Cakra ternyata masih belum setuju dengan pernikahan dini adik kandungnya itu.


"Tapi bagaimana dengan Cakra?" tanya Frans, yang sedikit pun tidak tegas, dan itulah yang sejak dulu tidak disukai oleh Kista, Frans terlalu lembek dalam mengambil keputusan.


"Cakra sudah menikah, biar dia urus rumah tangganya sendiri, atau nggak kita kejar dia untuk segera mempunyai momongan, biar nggak ngerecokin hubungan Alinda." tegas Kista dengan menatap mantan suaminya itu.


Mengangguk setuju Frans dengan keputusan mantan istrinya, "Baiklah, besok kita adakan pertemuan dua keluarga kita sekarang Alin ikut Papa pulang dulu."


Akhirnya keputusan telah di ambil, mereka pun segera kembali pulang ke rumah masing-masing.


Sedangkan Krisna sibuk menghubungi kedua orang tuanya, terlihat pemuda tampan itu menutup pintu apartemen kemudian menelfon orang tuanya.

__ADS_1


Berbincang dari telfon Krisna mengabarkan bahwa dirinya akan menikahi Alinda secepatnya.


📞"Apa?! Kau akan menikah? Masalah yang di buat Kenan saja belum selesai, sekarang kau akan membuat masalah baru?!...


__ADS_2