Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Backstreet


__ADS_3

"Lo bisa diem dulu nggak?!" ucap Krisna penuh penekanan juga dengan tatapan tajam yang mampu mengoyak jantung gadis yang ada di hadapan nya itu.


Reflek Alinda menggigit bibir bawah nya, kemudian tanpa aba-aba bibir berwarna pink natural itu tiba-tiba meleyot.


"Hiks... Hiks..." Terdengar isak tangis dari hidung bangir yang mulai memerah di hadapan Krisna.


"Hey... hey... hey... jangan nangis dong." Melembut bahasa yang Krisna ucapkan, agar kekasih hati nya itu tidak menangis lagi.


Jemari kekar atlet basket itu mengusap pipi basah yang sudah berderai air mata, "Jangan sentuh!" sentak Alinda dengan menepis tangan yang membelai lembut pipi nya.


Mengerutkan alis tak mengerti dengan sikap Alinda, "Kamu marah?" tanya Krisna, sengaja menyebut kata kamu agar gadis itu sedikit bersimpati dengan bahasa yang berubah.


Tak mau menjawab Alinda membuka pintu mobil dan hendak keluar namun dengan cepat Krisna meraih lengan gadis cantik itu, "Mau kemana?"


"Lepasin! Kemana pun gue pergi, bukan urusan lo! Krisna galak!" Berontak Alinda berusaha melepaskan tangan nya dari cengkeraman pemuda tampan itu.


Karena tidak berhasil melepaskan cengkeraman itu, tanpa ampun Alinda menggigit lengan Krisna.


"AW!!!" Sontak Krisna melepaskan lengan gadis nakal itu, mendapat kesempatan, Alinda segera keluar dari mobil dan berlari meninggalkan Krisna.


"Lin... Alinda!" Dengan memegangi tangan yang ada cap gigi Alinda, Krisna segera mengejar gadis yang tengah berlari itu.


Niat hati ingin terus berlari hingga tak terkejar oleh pria yang kini terus berlari di belakang nya, tapi apalah daya, perut kosong yang belum terisi sama sekali sedari pagi membuat tenaga tak cukup untuk menambah kecepatan untuk berlari.


"Haaahh... Haahhh... Haaaahhh... " ter engah-engah gadis remaja itu berhenti sejenak, namun terlambat untuk kembali berlari karena lengan kekar Krisna sudah mendekap tubuh sintal nya dari belakang.


"Cukup! Aku capek!" Bisik Krisna dengan memeluk erat tubuh Alinda.


"Hiks... Hiks... Lepasssiiiin!" Rengek Alinda dengan gerakan yang sangat lemah.


"No! Maaf kalau aku tadi galak, aku nggak suka lihat kamu sama cowok lain." Masih kekeuh dengan bahasa aku kamu, Krisna berucap.


Terdiam Alinda namun masih dengan nafas yang tersendat-sendat karena isak tangisnya belum hilang sepenuh nya.


Krisna membalikkan tubuh Alinda agar menghadap ke arah nya, "Kita balik ke mobil ya? Ok kalau kamu mau ke apart, kita ke sana."


Menyapukan jemari nya di pipi kanan dan kiri Alinda yang berderai bulir bening, Krisna kembali berucap, "Udah dong nangis nya, ntar kalau cantik nya pindah ke aku gimana?"


Candaan yang terdengar garing itu malah membuat Alinda terlihat mengulum senyum dan tanpa sadar berucap, "Iya... Terus rambut nya di kepang dua, hehe..." masih dengan isak yang tersisa Alinda berucap.


Krisna merasa lega, ia pun menyatukan kening nya dengan kening Alinda, sungguh nyaman dan sedikit terlupakan oleh masalah yang sebenar nya memisahkan.


KRUCUK... KRUCUK...


Team keroncong mulai melanda, perut Alinda tak dapat lagi menahan rasa lapar nya, sungguh malu gadis itu, konser keroncong yang ada di dalam perut nya sampai terdengar oleh Krisna.

__ADS_1


"Kamu lapar?" tanya Krisna yang membuat Alinda memerah pipi nya akibat menahan rasa malu, tapi mau bagaimana pun gadis itu tetap menjawab jujur walau hanya dengan menganggukkan kepala nya.


Senyum manis Krisna kembangkan hingga menghiasi wajah tampan nya, suka sekali dirinya mendapati gadis nakal yang ada di hadapan nya kini punya rasa malu dan malah terlihat imut juga menggemaskan.


Tak mau lagi membiarkan cacing-cacing di perut terus berpesta dengan team keroncong, Krisna segera mengajak gadis nakal nya itu untuk mencari makan.


Tiba di kafe favorit, mobil Krisna baru saja memasuki lahan parkir namun dari kejauhan Alinda melihat Cakra bersama dengan seorang gadis tengah makan di dalam kafe itu.


"Tunggu Kris!" Alinda berucap dengan menahan lengan Krisna, sontak laki-laki tampan yang bersiap memasuki ruang parkir itu pun menginjak rem.


"Ada apa?" Mengerutkan alis karena terkejut, Krisna bertanya dengan nada yang ia buat selembut mungkin.


"Ada Cakra, di sana." Alinda menunjuk ke arah dimana Cakra duduk dengan menikmati hidangan bersama dengan gadis di depan nya.


"Kita pindah?" Tanya Krisna.


"Kenapa nggak kita labrak aja? Toh dia juga sama cewek!" Ketus dengan nada berapi-api Alinda memendam amarah diam-diam kepada kakak kandung nya itu.


"Sayang, lihat dulu penampilan cewek nya, siapa tau dia rekan kerja atau mungkin kencan buta yang di atur om Frans atau bahkan bisa jadi dia sekretaris nya." Krisna berusaha agar gadis nakal nya itu tak berulah di tempat umum.


Terdiam Alinda mendengar penjelasan dari Krisna, ya karena memang benar, selama ini Cakra memang tak pernah tertarik untuk menjalin hubungan serius dengan gadis mana pun, ya... masih dengan alasan yang sama, kakak kandung dari Alinda itu masih mempunyai trauma dengan hubungan rumah tangga kedua orang tua nya.


Namun walau begitu, tak sedikit juga gadis-gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hati nya.


Tersadar dari pemikiran seputar kakak nya yang memang berlebihan dan tidak mau move on menurut Alinda, gadis itu segera mengambil keputusan.


Selama di perjalanan Alinda melihat-lihat ke luar, mana tau gadis itu menemukan kafe atau resto yang cocok untuk kedua nya makan.


Tak lama kemudian Krisna kembali menepikan mobil nya, ia mamasuki lahan parkir, tak jauh beda dari kafe favorit yang pertama, di kafe ini juga bersuasana romantis, dengan bergandengan tangan Alinda dan Krisna berjalan memasuki kafe dengan mata yang menyapukan pandangan kepenjuru arah demi mencari kursi kosong yang dapat di duduki kedua nya.


"Astaga!" Membulat netra indah milik Alinda, "Ada apa?" tanya Krisna dengan mengikuti kemana arah mata Alinda memandang.


"Om Frans?" Lirih Krisna dengan berusaha membawa Alinda untuk pergi dari kafe itu.


"Tunggu Kris, kayak nya mereka bukan lagi kencan baik-baik deh." Alinda menahan agar tidak pergi dari tempat itu.


Perlahan kedua nya berjalan mendekat, sengaja Alinda dan Krisna duduk tak jauh dari kursi Frans dengan posisi membelakangi orang tua itu, dengan jarak yang tak jauh itu, keduanya menajamkan indera pendengaran nya.


Terdengar samar-samar pembicaraan kedua orang dewasa di belakang mereka berdua.


"Maaf Nit, aku nggak bisa lagi maafin kesalahan mu yang ini!" tukas Frans.


"Tapi mas, mas Frans salah paham loh, itu foto bisa aja editan, kan?" Jelas wanita yang di sebut dengan sebutan Nit.


"Editan itu kalau ada orang lain yang mengirim nya, tapi ini aku sendiri Nita! Aku sendiri yang melihat nya! Hanya saja aku masih diam dan ternyata kau memang tidak tau diri! Aku tidak mau tau tanda tangani surat cerai ini! Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan mu dan pacar mu itu!" tegas Frans berucap.

__ADS_1


"Mas mau balikan kan sama mantan mas Frans? Dan foto ini cuma alibi saja! Benar begitu, kan?" Nita terlihat begitu emosi.


"Jangan kau sebut dia seperti itu, mau bagaimana pun dia itu lebih baik dari pada kamu, dia itu ibu dari anak-anak ku, dia bisa mengurus anak ku, dan kamu... "


"Cukup mas! Aku muak kau banding-bandingkan aku dengan dia terus!" sela Nita dengan berdiri dari duduk nya.


"Nyata dia meninggalkan mu saat kau susah, siapa yang menemani kamu saat kamu susah? Aku mas, bukan Kista sialan itu!" Geram Nita selalu dibanding-bandingkan dengan mantan istri Frans.


"Tapi perpisahan ini memang keputusan bersama, sedikit pun dia tidak pernah menduakan ku! Dia setia sampai kita berpisah!" Penuh penekanan Frans masih terdengar membela mantan istri nya itu.


"Terus mas, terus saja kau membela nya, aku muak! Mau cerai? Jangan harap!" Tegas Nita dengan beranjak dari tempat duduk nya dan meninggalkan Frans yang masih duduk di sana bersama dengan secarik surat cerai yang sama sekali Nita tak mau menyentuh nya.


Tak tahan Alinda tak mendekati ayah biologis nya itu, gadis cantik itu kini duduk di samping Frans dengan menepuk bahu orang tua itu dengan pelan, "Papah?" lirih nya bersuara.


"A... Alinda?" Terkejut Frans mendapati putri bungsu nya ada di sana.


"Alin sudah tau semua nya, Pah." Jelas gadis itu membuat orang tua itu merasa payah dalam mengatasi semua maslah nya.


"Kenapa Papa minta cerai? Bukan kah mama Nita menyayangi kak Cakra?" Tanya Alinda dengan suara pelan nya.


"Itu semua hanya pencitraan belaka nak, kau tak tau masalah yang sebenar nya." gumam Frans dengan menatap sendu putri bungsu nya itu.


"Kau bersama Krisna?" tanya Frans ketika ia melihat Krisna yang duduk di kursi belakang nya. Alinda hanya menganggukkan kepala nya, tak berani berbohong gadis itu di depan orang tua nya.


"Apa kau tidak takut jika Cakra akan memisahkan kalian lagi? Apa kurang jauh rumah Papa sama apartemen milik Krisna?" tanya Frans sedikit pun tak ada nada tinggi di sana.


"Tidak Pah, Alin tidak bisa jauh dari Krisna, Alin suka sama Krisna seperti Papa mencintai mama Kista, Alinda tau sebenar nya masih ada Mama kista, kan Pah, di hati Papa?" Cecar gadis cantik itu dengan sorot mata serius.


"Kau masih kecil, tak tau apa-apa tentang hubungan orang dewasa." kilah Frans.


"Kenapa orang dewasa harus munafik?" Mengerutkan alis Alinda tak sependapat dengan Frans.


"Kenapa harus berpisah jika memang saling mencintai?" pertanyaan itu kembali memenuhi indera pendengaran Frans.


"Pah, asal Papa tau ya? Mama selama ini tidak pernah sedikit pun serius menjalin hubungan dengan laki-laki lain, mama sibuk dengan pekerjaan nya, sedikit pun tidak membiarkan laki-laki lain menggantikan posisi papa di hati nya." imbuh gadis remaja itu.


"Tapi Papa tidak pantas untuk mama mu sayang, dia terlalu berharga untuk bersanding dengan Papa." sahut Frans, bahkan orang tua itu tidak mampu menatap manik milik anak gadis nya.


"Papa itu laki-laki pah, bikin anak saja bisa jadi dua, masa untuk mengakui perasaan saja kalah sama ego dan gengsi!" dengan bahasa ketus Alinda berucap.


"Mengakui semua ini setelah mama mu sukses itu tidak semudah kau membalikkan telapak tangan mu nak." masih dengan nada yang rendah Frans menyahuti ucapan putri nya.


Alinda menggelengkan kepala nya, gadis itu beranjak dari duduk nya meninggalkan Frans sendiri di sana.


"Kris kita pulang!...

__ADS_1


Jangan lupa like dan favorit 🥰🥰🥰


__ADS_2