Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Bentrok Krisna dan Kenan


__ADS_3

TING!


Gawai canggih meminta perhatian, Krisna merogoh nya dari dalam daku celana jeansnya.


Tertera nama Nafiza di dalam layar ponsel itu, satu notifikasi pesan masuk segera Krisna buka.


"Siapa?" Tanya Alinda.


"Nafiza." singkat Krisna menjawab.


"Apa?! jadi cewek lain hubungin lo?! Apa-apaan lo?!" Terlihat marah Cakra berucap, memang nya siapa yang akan ikhlas jika adiknya merasa dipermainkan?


Tidak ada bukan?


"Tunggu Cak! Nggak seburuk yang lo pikir! Nafiza cuma minta tolong sama kita, gue sama Krisna, jadi bukan cuma Krisna sendiri yang hubungan sama Nafiza.


"Lo yakin nggak papa?" tanya Cakra menatap adik kandungnya.


Mengangguk Alinda meyakinkan Cakra, setelah relax semuanya, Krisna baru membuka pesan di dalam ponsel itu.


"Ada apa Beib?" tanya Alinda ketika melihat raut wajah Krisna yang terlihat serius.


Krisna menatap Alinda, dengan menghela nafas, "Kenan tidak mau tanggung jawab." ucap Krisna.


"Apa?!" tersentak kaget Alinda, "Bahkan setelah vidio CCTV kita kirim?" tanya Alinda, sedangkan Krisna hanya mengangguk.


Geram Alinda, "Memang butuh di hajar ni orang!"


"Nggak beib, biar mama sama papa yang urus." ucap Krisna.


"Maksud lo?!" tanya Alinda tak paham.


"Ya... Dia saudara ku, hanya saja dia di asuh nenek di sini, sedangkan aku di Indo." jelas Krisna.


Pernyataan itu membuat Alinda dan seluruh keluarganya terkejut, pasal nya sedikit pun Krisna tak pernah menceritakan Kenan, baru hari ini laki-laki tampan itu mengakui Kenan sebagai saudaranya.


"Om, Tante, maaf saya permisi dulu, karena masalah ini harus segera di selesaikan." ijin pamit Krisna masih dengan bahasa yang sopan, walaupun hatinya sudah bergemuruh bak ombak dilautan yang siap menghantam karang.


"Iya nak, hati-hati." sahut semuanya serempak.


"Tunggu! Gue ikut!" Alinda yang tadi nya duduk di samping Cakra kini berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Krisna.


"Alin! Awas jangan kelepasan!" pesan Cakra mengingatkan.


Setelah keduanya berpamitan, Alinda dan Krisna segera meluncur membelah jalanan yang sangat ramai itu menggunakan mobil Krisna.


Di tengah perjalanan tak sedikit pun kata terucap dari bibir Krisna maupun Alinda, keduanya fokus dengan pikiran masing-masing yang memikirkan nasib Nafiza.


Bukan ke apartemen, melainkan mobil Krisna menuju jalur pedesaan yang sangat asri, "Kita mau kemana?" tanya Alinda yang mulai menghafal jalan menuju apartemen Krisna.

__ADS_1


"Kerumah nenek." sahut Krisna dengan pandangan masih menatap lurusnya jalanan dihadapannya itu.


"Hah? nggak ke apart?" tanya Alinda melongo.


"Nggak sayang, mama sama papa ada di rumah nenek." jelas Krisna dengan sabar.


Terdiam Alinda hanya menganggukkan kepala, sedangkan Krisna fokus mengemudikan mobilnya.


...❄❄❄❄...


Di Desa kecil Rhinebeck tak jauh dari kota Manhattan, sebuah hunian mewah bermodel klasik, tak jauh juga dari sungai Hudson yang mengalir jernih, menggambarkan kesan keromantisan.


Namun suasana menjadi menegang ketika sebuah mobil berparkir cantik di sana.


Ya... setelah mengemudi dalam waktu kurang lebih 1jam 50menit, kini Krisna dan Alinda sudah tiba di kediaman nenek Herma yang mana beliau adalah ibu kandung dari Hermawan atau ayah Krisna.


BRAK!!


Pintu mobil Krisna banting dengan cukup keras, emosi memuncak tak kala ia melihat saudara kandung nya tengah asik bermain ponsel tanpa ada sedikit pun beban kehidupan.


"KENAN!!" teriak Krisna dengan langkah besarnya mendekati saudaranya itu.


Terkejut Kenan mendapati adik yang umurnya hanya beda satu tahun dengannya itu tengah menghampirinya dengan raut wajah penuh amarah.


BRUGH!! Satu bogem melesat mendarat dengan keras di pipi kiri Kenan.


Kenan memegangi pipi kirinya, namun Krisna segera mencengkeram kerah baju kakak kandung nya itu.


"Krisna stop! Apa yang kamu lakukan?! Dia kakak mu!" teriak Riana dengan berdiri dari duduknya.


"Kakak? Aku tidak sudi mempunyai kakak bangs*t seperti dirinya! Pengecut yang tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatan nya!" emosi Krisna masih dengan mencengkeram kerah baju Kenan.


Sedangkan Kenan hanya tersenyum miring, berbeda dengan Riana, Herma kini membela Krisna, "Coba jelaskan sayang, jangan main kasar, kau tidak sayang lagi dengan nenek mu yang mulai menua ini? Coba kita bicarakan baik-baik dulu, nenek akan mendengarkan kamu, nak."


Suara lembut dari perempuan tua itu membuat hati Krisna sedikit melunak, pemuda yang tadinya dikuasai amarah itu kini berangsur melepaskan kerah baju saudaranya.


Alinda segera meraih lengan Krisna, gadis itu menuntun kekasih hatinya agar duduk di salah satu sofa yang kosong.


"Duduk dulu, jangan gegabah, boleh marah, tapi bukankah dia itu saudara mu?" Alinda berucap dengan duduk di samping Krisna.


Tak menjawab Krisna hanya menunduk dengan mengusap kasar wajahnya, terlihat frustasi pemuda tampan di samping Alinda itu.


"Ada apa ini sebenarnya? Krisna? Kenan? Bisa kalian jelaskan pada Mama?" Riana yang sudah kelewat penasaran dengan kemarahan putra bungsunya pun segera bertanya.


Tak satu pun dari kedua putra Riana bersuara, pada akhirnya ibu dua anak itu bertanya kepada Alinda, "Alin, sayang? Bisa kamu jelaskan nak?" suara lembut nan halus itu tak dapat Alinda tolak sedikitpun.


"Em... sebenarnya kita kesini cuma mau, agar Kak Kenan bertanggung jawab atas perbuatannya." ucap Alinda dengan lirih, namun masih dapat di dengar oleh Riana dan juga Herma.


"Bertanggung jawab soal apa?" tanya Riana masih dengan suara halusnya.

__ADS_1


"Agar tidak memutuskan pacarnya, karena..."


"Karena gue sukanya sama lo!" sela Kenan yang membuat semua mata tertuju padanya.


Membulat netra Alinda mendapati pernyataan dadakan itu, "Apa lo bilang?!" teriak Krisna yang berdiri dari duduk nya, namun Alinda menghentikan langkah Krisna agar tidak menghajar Kenan lagi, karena mau bagaimanapun Kenan adalah kakak kandung Krisna.


"Baby?! Apa-apaan ini?" tidak terima lengan nya ditahan Alinda, Krisna protes.


"Stop beib! Jangan gampang emosi dong!" ucap Alinda dengan menatap Krisna.


"Tapi dia..."


"Tenang! Duduk dulu, ok!" Alinda kembali menarik lengan Krisna agar duduk di sampingnya lagi.


Para orang tua hanya menggeleng pelan kepalanya, sedangkan Alinda yang sudah berhasil menenangkan Krisna, kini gadis itu beralih menatap Kenan yang masih terdiam sejak ia menyatakan perasaannya barusan.


"Kak Kenan, apa maksud kakak?" tanya Alinda.


"Baby? Kau memanggilnya kakak?" protes Krisna dengan menarik dagu Alinda hingga gadis itu kembali menatap dirinya.


"Ya terus harus gimana beib? Toh memang dia lebih tua dari gue, kan?" sahut Alinda seenak jidatnya.


"Lalu aku? Bukankah aku tiga tahun lebih tua dari mu? Bahkan sedikitpun kau tak pernah memanggilku kakak." protes Krisna lebih terdengar seperti anak kecil yang cemburu dan itu membuat Herma dan Riana menahan tawanya.


"Beib, lo diem dulu deh, biar selesai dulu satu permasalahannya." Krisna hanya mengangguk pasrah walau dalam hatinya dia masih ingin menuntut jawaban yang memuaskan.


Kembali Alinda menatap Kenan, "Kak, kakak harus tanggung jawab dengan menikahi Nafiza, lagi pula dia mengandung juga karena perbuatan kakak, kan?"


Kini Alinda to the point, tak mau lagi gadis itu bertele-tele.


"Buat apa gue menikahi gadis yang hanya menjadikan gue sebagai pelampiasan?" Kenan membuka suara.


"APA?!" teriak Alinda dan Krisna bersamaan. Sedangkan Riana dan Herma masih memilih untuk mendengarkan sampai selesai.


"Asal kalian tau, setiap kali kita ketemu, kita jalan, dia selalu banding-bandingin gue sama Krisna, Krisna yang genius, Krisna yang cool, Krisna yang rapi, Krisna, Krisna, dan Krisna, ya... Hanya Krisna yang ada di dalam otaknya dia!" cecar Kenan membuka semua uneg-uneg didalam hatinya.


"Tapi kakak bisa, kan, demi baby yang ada di dalam perut Nafiza, Alin mohon, jangan telantarkan makhluk kecil yang bahkan belum merasakan keindahan dunia ini." ucap Alinda memohon.


Kenan terdiam, sekali lagi ia menatap Alinda, "Kenapa nggak Krisna aja? Toh dia lebih suka sama Krisna." enteng sekali Kenan berucap.


"Terus lo pikir gue mau pakai barang bekas lo?!" geram Krisna kembali emosi.


"Kenapa nggak? Lo boleh kok pakai dulu Alinda, gue rela dapet bekas lo." seringai tipis Kenan membuat Krisna semakin geram saja.


"Tapi gue nggak sudi! Gue nggak akan pernah memberikan Alinda untuk laki-laki bejat kaya lo!" berdiri Krisna setelah berucap kemudian...


BRUGH!!!


Bogem Krisna kembali menghantam wajah tampan Kenan, "KRISNA STOP!!...

__ADS_1


__ADS_2