
Jika yang sebelumnya ada cerita Cakra dan Helen di "Bukan Casanova"
Ini author hadirkan cerita anak-anak mereka, jadi nanti akan ada anaknya Krisna dan Alinda juga anak Cakra dan Helen, cus mampir ya sayang-sayang kooh.
Kita asik-asikan sama anak SMA lagi...
Didepan laboratorium biologi, SMA Nusa Bangsa...
Truth or dare, permainan yang sangat populer dikalangan siswa SMA ini cukup memacu adrenalin, bagaimana tidak? Barang siapa yang kena pasti harus siap jujur dengan segala pertanyaan konyol yang akan diberikan temannya atau memilih tantangan yang pasti tak kalah gilanya.
Botol berwarna hijau itu terlihat berputar dengan begitu cepat, bahkan semua anak laki-laki yang mengerumuninya sangat antusias, detak jantung seolah dipacu dengan kecepatan melebihi batasan.
Mulai melambat pergerakan botol hijau itu hingga berhenti tepat menunjuk kearah__
"Barnes! Lo yang kena!" Rifki salah satu teman Barnes berucap dengan menunjuk kearah pemuda tampan dengan tampang bengis itu.
"Kok gue? Gue kan nggak ikutan!" kilah Barnes yang memang sedari awal tidak berminat untuk bermain.
"Halah Barnes mah gitu, cemen!" timpal Aldo yang duduk tepat di samping Barnes.
Tanpa menunggu nanti Barnes segera menyambar kerah seragam putih Aldo, "Apa lo bilang? Gue cemen?! Hem!"
"Wait, wait, wait, wait tunggu dong! Jangan kasar dong Bar sama temen sendiri ini." Rifki berusaha melerai mereka.
"Jangan banyak bacot lo!" masih dengan emosi yang membara Barnes melepaskan kerah baju Aldo.
"Ya kalau lo nggak mau dikata cemen, terima dong kekalahan lo!" tantang Aldo yang tidak kapok dengan perlakuan Barnes barusan.
__ADS_1
"Ok! Gue terima!" tegas Barnes.
"Jadi lo pilih apa nih? Truth or dare?" tanya Rifki dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Gue pilih dare!" mantap sekali Barnes mengutarakan pilihannya.
"Nah gitukan enak nggak usah pake acara berantem segala." cetus Jody dengan menepuk punggung Barnes.
"Ok lo pilih dare ya..." sahut Rifki, ia mulai menimang-nimang kira-kira hal apa yang membuat Barnes berat hati untuk melakukannya.
Pada saat itulah seorang gadis dengan bola basket yang dia dribble menggunakan tangan kanannya, tengah melintas di samping para cowok-cowok nakal yang kurang kerjaan itu.
Saat itulah atensi Rifki beralih pada gadis cantik yang asik dengan bola oranye itu.
"Ok! Gue mau lo cium tu cewek!" cetus Rifki dengan menatap punggung ramping yang memakai seragam basket berwarna navy.
"Gila lo Rif! Ini sekolah men! Kira-kira dong kalau kasih tantangan!" kembali emosi Barnes mendapati tantangan tersebut.
"Tapi..."
"Kenapa? Lo nggak berani?" tanya Aldo yang kebetulan saat itu dihampiri oleh pacarnya, gadis cantik dengan tampilan jauh dari kata rapi itu duduk di pangkuan Aldo, tanpa aba-aba Aldo mengecup pipi gadis cantik yang bernama Feli itu.
"Cemen lo Bar, Aldo aja berani cium cewek di sekolah, masa lo nggak sih?!" Jody mendadak jadi kompor di tengah suasana yang cukup memanas itu.
Terdiam cukup lama Barnes hingga bel tanda istirahat selesai, kini semua siswa-siswi berbondong-bondong masuk kedalam kelas masing-masing.
"Ingat Bar, ada kutukan yang akan selalu menghantui elo, kalau elo belum lakuin tantangan yang gue sebut barusan!" cetus Rifki sebelum mereka masuk kedalam kelas yang berbeda.
Terdiam Barnes, ia masuk kedalam kelas dan berjalan mendekati kembarannya yang juga satu kelas dengannya.
__ADS_1
"Minggir lo!" bentak Barnes kepada siswa laki-laki yang duduk di samping Bryna, tanpa membantah, cowok berkacamata dengan name tag bertuliskan Aldy di dada kanannya itu menyingkir, bukan takut, mereka lebih pilih cari aman saja dari pada harus kena bogem dari si brutal Barnes.
"Bar! Lo bisa nggak, jangan kasar! Gue sama Aldy lagi ada ngerjain tugas OSIS!" ucap Bryna.
Barnes mendudukkan pantatnya tepat di samping kembarannya, "Gue lagi ada masalah Na." berubah Barnes kala ia bersama orang-orang tertentu.
"Ada apa? Coba cerita!" tak kalah halus Bryna bertanya.
Barnes mulai menceritakan semua rentetan kejadian, hingga tak terasa guru fisika sudah duduk di depan sana.
"Barnes! Bryna! Bisa Ibu mulai ulangan hari ini? Atau kalian mau bercerita di depan sini!" cetus bu Agata, guru fisika yang terkenal tegas namun tetap terlihat cantik dengan rambut sebahunya.
Terdiam Barnes dan Bryna, keduanya sibuk dengan soal masing-masing, "Mampus gue! Ini soal apa-an sih?! Kok gue nggak ngerti sedikitpun?!"
Untuk pertama kalinya Barnes gagal dalam ulangan fisika nya, sepulang sekolah rautnya muram, Bryna sudah lebih dulu pulang bersama sopir yang menjemputnya, sedangkan Barnes masih di parkiran sekolah.
"Kenapa tu muka? Kusut amat kek jalan berbatu yang belum diaspal." cetus Jody yang sudah lebih dulu tiba di parkiran.
"Njir untuk pertaman kalinya gue dapet nilai jelek!" umpat Barnes dengan menaiki kuda besi kesayangannya.
"Dah lupain pelajaran yang ada! Mending sekarang kita alun-alun kota, katanya di sana ada kerusuhan loh." ajak Rifki.
"Rusuh? Siapa yang berani bikin rusuh?" tanya Barnes seketika jiwa brutalnya bangkit, persetan sudah tentang nilai fisikanya yang anjlok.
"Katanya masalah rebutan cewek sih, terus anak dari SMA kita ada yang luka parah gegara rebutin tu cewek." jelas Aldo yang saat itu baru tiba di parkiran, tak lupa di lengan kanannya melekat gadis cantik yang tak lain adalah Feli.
"Terus lo ke tempat kerusuhan mau bawa-bawa cewek?" tanya Barnes yang sudah berpikir bahwa membawa cewek disaat-saat genting itu hanya akan menambah beban keribetan.
"Sorry ya Bar, cewek gue bukan cewek manja kek cewek-cewek yang ngejar-ngejar lo kok, aman, lagi pula dia bawa temen." jelas Aldo yang membanggakan Feli.
__ADS_1
"Duh masih nungguin cewek lagi ini? Pasti dah lama! Ck!" berdecak kesal Barnes sudah memasang tampang garangnya...
Cuzz lanjut baca di novel yang berjudul si Bobrok dan si Brutal... 🥰🥰🥰