Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Nikahkan saja!


__ADS_3

Frans dan Cakra kedua laki-laki beda generasi itu baru saja turun dari mobil, dengan membawa kantong paper bag yang berisi beberapa makanan yang mereka beli sebelum sampai di unit apartemen milik putri nya.


"Kamu yakin Cak nggak mau beli lagi? Yakin cukup segitu aja?" Tanya Frans dengan menenteng paper bag yang ada di tangan nya.


"Udah Pah, ya kalau kurang biar aja mereka berbagi, biar belajar hidup mandiri nggak manja terus," Cecar Cakra yang mengetahui kalau adik perempuan nya itu sangatlah manja.


"Tapi kan kasihan, ada teman-teman nya juga itu lo Cak," Ayah dua anak itu masih saja mengkhawatirkan para remaja itu.


TING!!


Pintu lift terbuka, kedua nya keluar dari lift dan berjalan menuju pintu unit apartemen putri nya.


TOK TOK TOK...


"Baby... Alinda... " Panggil Frans tapi tak ada sahutan sedikit pun di sana.


"Kamu yakin ini kamar nya Cak? Papa lupa, tapi kok nggak ada sahutan dari dalam?" Frans melihat di sebelah ada satu pintu lagi dan terdengar suara tawa bercanda dari dalam sana.


"Yakin kok," Sahut Cakra, namun Frans malah berjalan menuju pintu sebelah.


"Pah... "


CEKLEK!!


Belum sempat Cakra mengutarakan nya, Frans sudah lebih dulu membuka pintu kamar itu.


Dan betapa terkejut nya laki-laki yang kini sudah menginjak usia kepala empat itu, "Kalian sedang apa?!"


Terlihat kemarahan tertahan di sana, Cakra yang notabene nya adalah kakak kandung dari Alinda, segera pemuda berbadan kekar itu menerobos masuk dan menarik kerah baju Krisna kemudian...


BUGH!!! Satu bogem mendarat dengan cukup keras di wajah Krisna bagian kanan.


"Aaaa!! Cakra STOP!! Jangan!" Teriak Alinda berusaha memisahkan kedua laki-laki di hadapan nya itu.


"Lo! Berani-beraninya lo nyentuh adik gue?!" Dengan penuh penekanan Cakra mencengkeram kerah baju Krisna kanan dan kiri.


"Cakra! STOP!" Alinda menggoncang lengan Cakra tapi kakak laki-laki nya itu sedikit pun tak menggubris nya.


"Cak, gue suka sama adik lo, kita sama-sama suka, apa salah nya? Gue bukan orang munafik yang tidak mau mengakui rasa suka ini Cak, sudah cukup gue menahan nya selama ini... "


BUGH!!! Sekali lagi Cakra mendaratkan bogem nya di wajah tampan Krisna, hingga lelaki tampan itu tersungkur di atas sofa.

__ADS_1


"Sialan lo!" Dengan nafas yang bergemuruh Cakra mengacak rambut nya frustasi, Frans mendekati ketiga remaja itu.


"Papa?" Lirih Alinda.


Terlihat Frans menunjukkan raut wajah kecewa namun tak berani diri nya berucap atau pun menegur dengan nada tinggi.


Ya... semua berawal dari kesalahan nya yangs sebagai orang tua tapi tidak dapat memantau pergaulan anak perempuan nya.


Memang selama ini dia hanya fokus dengan karier dan juga kesuksesan Cakra saja.


Lalu bagaimana dengan Alinda? Ya... Alinda di besarkan oleh Kista, mantan istri nya yang berprofesi sebagai designer yang pasti nya sangat sibuk.


Ya... kesalahan remaja itu pasti nya berawal dari kesibukan kedua orang tua nya yang terlalu mengejar ego masing-masing.


Merasa bersalah dengan kekeliruan nya di masa lalu, Frans kini berjalan mendekati Alinda dan memeluk anak gadis nya itu.


"Maaf in papa," Lirih Frans dengan mengecup pucuk kepala anak gadis nya.


"Nggak pah, ini kesalahan Alin, Alin minta maaf sudah mengecewakan kalian," Cecar gadis itu dengan bulir bening yang menetes dengan lancar jaya melewati pipi mulus nya.


Perlahan Frans melepaskan pelukan nya dan melihat Krisna yang duduk di atas sofa dengan wajah yang babak belur karena dua bogem telah mendarat di wajah tampan nya.


"Iya, om." Sahut Krisna dengan menganggukkan kepala nya.


Terlihat laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu tengah menghirup udara yang seakan kehilangan oksigen itu.


Alinda memegang lengan ayah biologis nya itu dengan bibir yang meleyot, "Papa..."


Frans memandang anak gadis nya itu kemudian duduk di sofa, di apit dua remaja yang kepergok tengah bermesraan barusan, Frans merasa kepala nya penuh dengan penyesalan, "Maaf nak, papa gagal dalam mendidik mu," Lagi Frans meminta maaf.


Tak lama kemudian Sendy dan Fraya datang kedua nya berdiri di ambang pintu dengan melihat ke dalam apartemen Krisna, kemudian saling tatap kedua nya seperti saling melempar tanda tanya.


Tak mau di tumbuhi oleh prasangka-prasangka buruk, kedua nya segera mendekati Cakra yang saat itu masih berdiri dengan memijit kening nya sedangkan tangan nya yang sebelah tengah bertengger di pinggang.


"Ada apa ini? Loh, om Frans juga ada," Sendy bertanya, namun tak satu pun dari mereka memberikan jawaban.


Beralih laki-laki bertubuh kekar itu melihat ke arah sahabat nya yang babak belur, " Loh Kris? Lo kenapa? Kok bisa begini?"


Sungguh Sendy bingung dengan keadaan malam itu.


"Ngomong dong, Kris, lo dihajar siapa? Bilang sama gue, biar gue hajar balik tu orang!" Berapi-api Sendy, agar sahabat nya itu mau berucap.

__ADS_1


"Gue yang hajar," sahut Cakra tanpa melihat ke arah Sendy, Sendy pun segera bangkit dan mencengkeram kerah baju Cakra, "Soal keselamatan teman-teman gue, gue nggak main-main Cak!"


Terdiam sejenak Sendy kemudian ia melepaskan kerah baju Cakra, ia mengingat Cakra masih kakak kandung dari Alinda.


"Gue lebih serius dari pada lo Sen!" Jari telunjuk Cakra menunjuk tepat di depan mata Sendy.


"Ada masalah apa lo?" Tanya Sendy dengan sorot tajam nya.


"Dia! Udah berani nyentuh adik gue!" Tegas Cakra yang membuat Sendy beralih memandang Krisna.


"Jadi bener dugaan gue?" Mengerutkan alis Krisna menatap balik sahabat nya itu.


Krisna menghela nafas, "Bukan seperti yang ada di otak mesum lo!" sahut Krisna dengan memijit kening nya.


"Terus?" Tanya Sendy yang terlihat tengah menginterogasi.


"Kak Sendy! Nggak gitu lah ngomong nya!" Kini Fraya bersuara, gadis itu pun tidak nyaman dengan pertanyaan yang saat ini Sendy lontarkan.


Memang nya remaja mana yang tidak malu untuk mengatakan kalau mereka baru saja bercumbu, yah walau pun mau sama mau, tapi perbuatan mereka itu sudah masuk ke dalam privasi kedua nya.


"Kak Sendy nggak malu apa, kalau misal nya abis cium cewek terus cerita ke sana kemari? Urat malu teman kita ini masih belum putus kak!" Tegas Fraya.


Dan itu membuat Sendy terdiam, seolah ia berpikir, namun kemudian sebuah ide muncul di dalam otak nya, "Alin, lo suka sama Krisna?"


PLAK!!


Sebuah tamparan mendarat di wajah tampan Sendy, "Apaan sih lo Fray?" Melotot Sendy melihat Fraya yang baru saja mendaratkan tamparan di wajah tampan nya.


"Lagian udah di bilangin, kalau mau tanya itu kira-kira dong, ini soal privasi perasaan kak!" Kembali nge-Gas Fraya berucap.


"Apaan sih Fray? Lo protes terus deh perasaan!" ketus Sendy.


"Lagian pertanyaan nya gitu," sahut Fraya.


"Maksud gue tuh, kalau Alin nya suka sama Krisna terus Krisna nya juga suka sama Alin, kenapa nggak di nikahkan aja udah!" Sontak semua mata tertuju pada Sendy yang baru saja berucap.


Tapi Frans terlihat seperti setuju dengan usulan Sendy, "Tapi Sen, mereka itu masih terlalu muda lo, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi? Contohnya pernikahan mama sama papa gue," Ternyata sedari tadi Cakra berpikir jauh ke sana.


Ya... Perpisahan kedua orang tua nya membuat remaja yang sudah lebih dewasa itu mengalami sedikit trauma.


"Pokok nya gue nggak setuju mereka nikah kalau sampe akhir nya harus berpisah...

__ADS_1


__ADS_2