Beloved Bad Girl

Beloved Bad Girl
Kejutan


__ADS_3

Dengan langkah riang serta senyuman yang menghiasi wajah ayunya Alinda turun dari taksi yang baru saja di tumpangi nya.


Gadis cantik itu terus berjalan menyusuri setiap koridor kampus dimana dirinya dan teman-teman nya menimba ilmu.


"Hai Al? Lo nggak ada jam kan hari ini? Ngapain ngampus?" sapa Fraya yang baru saja selesai kelas, dan sudah pasti gadis itu juga hendak menuju lapangan basket, demi melihat kakak-kakak tampan yang bertanding sore ini.


"Hehe... Biasa nyamperin ayang." sahut Alinda dengan menaik-turunkan kedua alisnya, "Ayang? Siapa? Krisna?" terbelalak Fraya mengucapakan tebakan nya yang sudah pasti akan di angguki oleh Alinda.


"He'em, memangnya siapa lagi?" dengan wajah cerianya Alinda mengakui tanpa malu-malu sama seperti saat dirinya di bangku SMP waktu itu.


Tak mau berlama-lama, kedua gadis itu terus melangkahkan kaki nya menuju lapangan, langkah Alinda terhenti ketika ia mendapati Kenan pun juga ada di sana.


"Kenapa Al?" tanya Fraya yang melihat teman sebestienya itu tak bergeming bahkan hanya tinggal beberapa langkah lagi ia bertemu dengan sang pujaan hati.


"Nggak, gue nggak papa." Menggeleng pelan Alinda menyahuti Fraya.


"Lo ada masalah?" tanya Fraya lagi, jujur saja gadis itu sangat mengkhawatirkan sahabatnya yang akhir-akhir ini sering berubah-ubah mood, bahkan lebih banyak diam.


Ya kebetulan keduanya bertemu hari ini dengan raut Alinda yang terlihat ceria kembali.


"Nggak kok, gue lagi menghindari masalah." sahut Alinda dengan masih berdiri di tempat nya.


Setelah menunggu beberapa saat, Alinda berjalan menuju mesin yang menyediakan minuman.


Gadis itu mengeluarkan kartu yang diberikan Frans kepada nya, di gesekkan nya kartu itu di tempat khusus itu, tak lama kemudian keluarlah sebotol minuman dingin dengan rasa jeruk yang terlihat segar.


Tanpa memperdulikan Fraya, Alinda berjalan memasuki area lapangan basket, dan saat itu dilihatnya Krisna tengah duduk di pinggir lapangan.


Pemuda tampan itu terlihat lelah tak bersemangat, tak seperti hari-hari biasanya, kaki jenang Alinda melangkah dan berhenti tepat di depan pemuda tampan yang terduduk lemas di pinggiran lapangan.


Tak pandai merangkai kata-kata seindah mutiara, Alinda hanya mengulurkan sebotol minuman dan berucap, "Ini minum."


Terlihat di sana Krisna hanya memandangi botol yang dia ulurkan ke depan wajah pemuda tampan itu.


Namun detik berikutnya Krisna mendongak, mungkin ia ingin memastikan siapa yang berbaik hati memberikan semangat berupa minuman segar itu.


Terlihat senyum bahagia mengembang menghiasi wajah tampan nya dan...


GREB!!!


Bukannya meraih botol minuman yang di berikan Alinda, Krisna justru malah memeluk kaki jenjang gadis di hadapan nya itu.


Tak lama, Krisna segera berdiri dan memegangi kedua pundak Alinda, "Aku kira kau tidak akan datang."


Krisna membelai pipi gadis cantik itu, GREB!!! Kini Alinda yang memeluk tubuh atletis Krisna yang berbalut seragam basket bahkan lengkap dengan keringat yang membasahi tubuhnya.


"Hey... Ada apa Baby?" tanya Krisna dengan menangkup kedua pipi Alinda agar menatap ke arahnya.


"Ada kejutan, tapi ntar aja di apartemen!" ucap Alinda dengan mengedipkan salah satu netra bulatnya.


Mengerutkan alis Krisna menatap pujaan hatinya itu, "Jangan macam-macam lo ya!" Krisna memperingatkan Alinda.


"Nggak kok Beib, cuma ada satu macam Alinda yang seperti ini." ucap Alinda masih dengan cengengesan.

__ADS_1


Tak lama kemudian peluit di tiup, tanda kalau waktu istirahat untuk para atlet telah usai, kini Alinda menunggu altet basket kesayangannya dengan duduk di antara para penonton yang lainnya.


...❄❄❄❄...


Dikediaman Frans, di waktu yang sama...


Sore itu Frans bersama dengan Friska dan juga Cakra masih duduk di kamar Friska. Kemana Helen? Ya... Helen lebih memilih keluar dan ikut kegiatan para pelayan, karena di gadis yang sopan dan tau tata krama, gadis itu tidak mau jika sampai di sebut sebagai benalu.


Ketiganya terlihat sangat serius, jika tadi membasah tentang pernikahan dadakan untuk Cakra dan Helen lain hal nya dengan sekarang.


Mereka terlihat lebih fokus kepada Frans, "Memang nya kenapa dengan mama Nita, Pah?" tanya Cakra yang memang lumayan dekat dengan ibu sambungnya.


"Dia... Dia..."


"Dia selingkuh kan Frans? Dia hanya mengincar hartamu saja, kan?" tebakan Friska sedikit pun tak meleset.


Sedangkan Frans hanya menunduk, sungguh ayah dua anak itu malu dengan rumah tangga yang gagal dua kali itu.


"Jadi, gimana? Apakah rumah tangga Papa yang ke dua ini juga akan hancur begitu saja?" tersenyum miring Cakra ketika mengucapkan pertanyaannya, sungguh miris putra sulung Frans itu, trauma untuk kehancuran rumah tangga yang pertama saja masih membuatnya enggan untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita, apa lagi sekarang yang kedua juga akan hancur.


"Lalu jika tidak Papa akhiri, harus bagaimana? Jika jelas-jelas mama Nita mu itu main serong." tanya Frans dengan menatap netra tajam putra sulungnya.


"Terserah Papa saja!" terdengar dingin sahutan yang Cakra ucapkan.


Putra sulung Frans itu segera beranjak dari duduk nya, "Mau kemana?" tanya Friska.


"Keluar cari angin!" menyahuti tanpa memandang ke arah nenek nya, Cakra terus berjalan keluar dari kamar neneknya.


...❄❄❄❄...


Kedua remaja itu kini tengah duduk di dalam mobil, dengan senyum yang mengembang, di sana sesekali kedua nya saling pandang dan kembali fokus ke jalanan.


"Kenapa sih? Kok kayak nya seneng banget?" akhirnya Krisna sudah tidak tahan lagi menahan rasa penasaran yang sedari tadi memenuhi hati dan pikirannya.


"Emmm... pengen nya sih kejutan buat ntar di apart aja, tapi kalau lo udah nggak sabar, ya udah nggak papa, biar gue kasih tau." sahut Alinda dengan nada yang dibuat-buat.


"Hahaha... terserah kamu aja, aku seneng kok liat Baby udah ceria lagi." ucap Krisna dengan mencolek hidung bangir Alinda.


"Emmm... Jadi kita akhiri aja ya hubungan..."


...CEEEKKKIIIIIIITTTTT!!!...


Belum selesai Alinda berucap, Krisna sontak menginjak rem secara mendadak, hingga kepala kedua nya hampir saja membentur dashboard mobil.


"Aaaaaakkk!!" teriak Alinda terkejut.


"Ada apa sih Beib? kucing nyebar kah?" Panik Alinda melihat ke jalanan di depan.


"Baby kau sadar dengan ucapan mu barusan?" tanya Krisna kini dengan menatap tajam Alinda.


"Yang mana? Yang kucing nyeberang?" dengan polosnya Alinda bertanya.


Terlihat Krisna menghela nafas panjangnya, "Tentang kau yang akan mengakhiri hubungan ini." lirih Krisna dengan menundukkan kepala nya.

__ADS_1


"Hah?! Astaga Beib, gue belum selesai ngomong! Maksudnya hubungan Backstreet kita ini loh, capek nggak sih sembunyi-sembunyi gini?" tanya Alinda.


"Aku tidak akan merasa lelah jika semua dijalani bersama mu." ucap Krisna dengan menatap lekat netra Alinda.


"Iiiiihhh sweet banget sih." Alinda mencubit pelan hidung bangir Krisna.


"Ekhem... Jadi... Duh gimana ya? Kok jadi bingung sih ngomongnya." Alinda terlihat menggaruk kepala nya.


"Ke intinya aja deh, nggak usah berbelit-belit." saran Krisna ketika melihat Alinda kebingungan menyusun kata-kata.


TIN... TIN... TIN... TIN...


Deretan mobil yang ada di belakang mobil Krisna sudah membunyikan klakson nya, meminta agar mobil yang mereka tumpangi segera melaju dan tidak menghalangi jalan.


Tersadar berhenti di tengah jalan, Krisna segera menjalankan mobil nya kembali.


Namun masih dengan memasang wajah dingin nya, Krisna menatap lurus ke depan, sedikit pun ia tak menatap Alinda yang kini bingung dengan keadaan.


"Baby?" lirih Alinda dengan memegang pundak Krisna, tapi pemuda tampan itu sedikit pun tak bergeming.


Terlihat Alinda menghela nafasnya panjang, gadis itu memilih untuk diam, menunggu situasi dan kondisi agar lebih membaik, dan akhir nya mobil yang mereka tumpangi kini berhenti di basement, "Minggu depan Cakra menikah." ucap Alinda ketika Krisna mematikan mesin mobilnya.


Terdiam tak bergeming Krisna saat itu, perlahan pemuda tampan itu menoleh ke arah Alinda.


"Barusan kamu bilang apa Yank?" tanya Krisna dengan menatap lekat wajah ayu kekasih hati nya itu.


"Minggu depan Cakra menikah." dengan pelan dan jelas Alinda mengulangi ucapan nya.


"Kamu serius baby?" tanya Krisna masih tak percaya, "Jadi? Kenapa tadi kamu mau kita berakhir?" imbuhnya.


"Bukan berakhir hubungannya, tapi berakhir Backstreet nya." Jelas Alinda sedikit merengut jengkel.


"Owh, ya udah sih jangan manyun gitu, ntar kalau aku gemes aku gigit nih!" ucap Krisna dengan mencubit dagu Alinda serta memangkas jarak diantara keduanya.


"Iiiihh mesum!! Jangan lah ini tempat umum!" panik Alinda mendorong-dorong dada Krisna yang sengaja menjahili kekasih nya itu.


"Ya udah peluk aja deh dikit." Krisna menyerah dan hanya memeluk tubuh sintal Alinda.


Kini kedua remaja itu keluar dari dalam mobil dan mulai melangkahkan kakinya menuju transportasi vertikal yang tersedia.


Dengan bergandengan tangan keduanya berjalan, sesekali saling bercanda di jalan mau pun di dalam lift.


TING!


Pintu lift terbuka tepat dimana unit apartemen Krisna berada, tanpa melepas genggaman tangan kedua sejoli itu terus berjalan.


Dari kejauhan kedua nya melihat seorang gadis yang tak asing di indera penglihatan Alinda maupun Krisna.


"Nafiza?" lirih Alinda dengan mengerutkan kedua alisnya, dan ya gadis itu menoleh dan benar saja dia Nafiza.


"Mau apa lo kesini?!" berubah ketus gadis yang baru saja ceria itu.


"Gue ada perlu sama Krisna, bukan sama lo!...

__ADS_1


__ADS_2