
Anak laki-laki berbadan gemuk duduk di teras rumahnya dengan memeluk lutut. Ia menangis tersedu-sedu, dengan wajah yang terbenam di antara kedua lututnya. Tangannya bergetar memegang kedua ujung kakinya yang saling bertumbuk.
Kemudian, tanpa sengaja seorang gadis cilik yang lewat depan rumahnya, mendengar suara isak tangisnya yang sayup.
Gadis cilik itu menghentikan langkahnya setelah merasa terusik dengan suara tangisan yang memilukan itu. Anak perempuan yang ditaksir berusia enam tahun itu perlahan mendekati pintu pagar yang tidak tinggi dan bercat hitam.
Mata kecil gadis cilik itu mengintip penasaran di antara celah teralis pagar. Lalu, karena iba ia memanggil anak laki-laki gendut itu.
“Hey, kamu kenapa menangis?” Suara gadis cilik yang setengah berteriak terdengar cukup nyaring.
Sontak, mendengar suara berisik yang memanggil, anak laki-laki gendut itu mendongakkan wajahnya. Melihat ke arah pagar, di mana tampak gadis cilik itu begitu lekat menempelkan wajahnya ke besi pagar. Bersamaan dengan kedua tangannya yang mungil dan putih yang mencengkeram jeruji.
Malu menerjang. Dipergoki menangis oleh seorang anak perempuan sangatlah memalukan. Katanya, anak laki-laki itu pantangan menangis. Dan karena dia sudah besar, maka tak boleh banyak menangis. Begitulah yang selalu Ibunya bilang ketika ia merengek dalam tangisan. Apalagi sampai dilihat oleh seorang anak perempuan imut seperti dia.
Buru-buru bocah gendut itu menarik ujung lengan bajunya, dan mengusapkannya ke sekitar mata. Dan dengan bagian kaos lainnya, ia mengelap hidungnya yang beringus.
“Jangan menangis!” Anak perempuan itu menyahut lagi, agak memerintah.
Masih dalam keadaan terduduk menekuk lutut, si bocah gendut membalas perkataan gadis cilik, yang berhasil menyinggung perasaannya yang sedang berduka itu.
“Memang kenapa kalau aku menangis?!” gertak si bocah gendut sambil mendelik pada gadis cilik, yang rambut panjangnya terpasangi bandana. “Apa karena aku anak laki-laki? Jadi tidak boleh menangis?” lanjutnya kesal.
Gadis cilik menggeleng cepat.
“Bukan! Aku hanya tidak mau kamu bersedih. Kamu menangis karena sedih bukan?” Usianya mungkin masih kecil tapi kepekaannya begitu besar.
Bocah gendut terdiam sesaat. Ia mendengus, menghentikan sisa tangisnya.
Masih menatap lekat si bocah gendut, gadis cilik menunggu respon bocah gendut itu.
“Aku boleh masuk ke rumahmu tidak? Bukakan pagarnya!” Tiba-tiba gadis cilik itu memerintah.
Karena tak tega melihat gadis cilik bertampang memelas, si bocah gendut memaksa berdiri dan berjalan menggapai pagar.
Begitu si bocah membuka kunci pagar, si gadis cilik langsung mendorong pagar dan menghambur masuk. Ia pun berbalik, menghadapkan pandangannya dekat bocah gendut itu. Yang masih belum beranjak dari belakang pagar.
Si gadis merogoh sesuatu dari saku baju terusan panjangnya, yang berenda dan terdapat pita besar di dadanya.
“Nih, makanlah!” Gadis cilik mengulurkan tangannya, dengan sebuah jeruk tersodor di telapak tangannya yang terbuka. “Aku hanya punya jeruk ini. Rasanya manis,” imbuh gadis cilik, disertai senyum yang cantik.
“Kenapa aku harus memakan jeruk?” tanya si bocah gendut heran.
“Supaya kamu tidak menangis lagi. Makan yang manis bisa membuatmu senang,” seru anak perempuan itu, yang memberi isyarat agar bocah gendut segera menerima jeruknya.
Meskipun aneh, tapi bocah gendut tetap mengambil jeruk itu.
“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
“Aku baru pindah beberapa bulan lalu. Aku tinggal di rumah paling ujung jalan ini.”
“Terima kasih jeruknya.”
“Karena kamu sudah menerima jeruk dariku, maka mulai sekarang kita berteman.”
Senyuman imut tertarik di wajah cantik gadis cilik. Dan si bocah gendut pun sekejap telah melupakan kesedihannya. Ia pun membalas gadis cilik itu, dengan sebuah senyuman penuh harapan.
__ADS_1
Sejak saat itu mereka berdua pun berteman. Walau mereka terpaut usia beberapa tahun.
***
Si bocah gendut tak punya teman. Dia sering diledek oleh teman-teman seusianya karena bentuk fisiknya.
Dasar gendut!
Anak dekil! Jarang mandi ya
Kalau mau main sama kita, kuruskan dulu badannya
Sudah gendut, bodoh lagi
Entah berapa cacian dan kata-kata kasar yang menyakitkan tertuju pada bocah gendut itu.
Tapi, hari-harinya berubah menyenangkan setelah ia menemukan teman pertamanya. Si gadis cilik itu.
Setelah bulan-bulan berlalu
Sesekali si gadis cilik bertandang ke rumahnya. Ataupun sebaliknya. Karena rupanya Ibu mereka berdua juga berteman baik, tak lama setelah mereka sering main bersama.
Kadang gadis cilik mengajak si bocah gendut untuk main ke taman, yang letaknya tak jauh dari rumah mereka.
Seperti malam ini, mereka datang ke taman yang sudah sepi.
Mereka sengaja datang di malam hari untuk melihat kilauan bintang-bintang di langit yang cerah.
Di ayunan kayu, mereka duduk terpisah. Si gadis cilik tampak menerbangkan ayunannya dengan senang.
Setelah puas, gadis cilik menghentikan gerakan mengayunnya. Ia memberikan senyuman termanis pada anak laki-laki itu.
Kemudian, ia melabuhkan tatapannya ke arah bintang yang bersinar.
“Bintangnya indah ya. Aku suka.”
“Iya, indah.”
“Nanti, kamu sering-sering lihat bintang ya,” ucap gadis cilik, yang menengadahkan wajahnya memandang langit. Seolah matanya tengah menghitung bintang.
Bocah gendut mengernyit.
“Kenapa aku harus sering melihat bintang?” Dia bertanya karena tak paham.
Gadis cilik mengalihkan pandangannya pada si bocah gendut.
“Karena aku akan pindah rumah. Jadi, aku tidak bisa menjadi temanmu lagi.” Ucapan polos gadis cilik itu meluruhkan perasaan bocah gendut ke dalam kehampaan. Jika gadis cilik tidak ada, maka ia takkan punya teman lagi.
“Kapan kamu pindah?”
“Besok.”
“Ke mana?”
“Tidak tahu. Kata Ibu, tempatnya jauh dari sini.”
__ADS_1
“Jadi, aku tidak akan bisa melihatmu lagi,” ucap bocah gendut sedih.
“Kamu lihat saja bintang di langit. Dan kamu bisa menganggap bintang itu adalah aku.”
“Kamu bukanlah bintang.”
“Aku memang bukan bintang. Tapi Ibuku selalu bilang, kalau merindukan seseorang kita bisa melihat bintang. Kita pilih salah satu bintang, dan panggil bintang itu dengan nama orang yang kita rindukan.” Rupanya gadis cilik itu hafal persis setiap perkataan Ibunya. Ibarat dongeng, yang ceritanya sering diulang-ulang.
“Aku tidak mau menjadikanmu bintang. Karena bintang terlalu tinggi untuk kuraih.”
“Ini sudah malam. Ibu akan mencariku kalau aku belum pulang. Selamat tinggal bocah gendut,” kata gadis cilik, yang kemudian berdiri dan hendak meninggalkan ayunan.
Bocah gendut pun berdiri, meraih tangan kecil anak perempuan itu dan ia meletakkan sebuah cincin plastik mainan dari saku celananya. Tadi, cincin itu tidak sengaja dipungutnya di jalan, saat akan menjemput gadis cilik di rumahnya.
“Untuk apa kamu memberikan cincin kotor dan jelek ini. Kamu ingin menghinaku?!” Tiba-tiba gadis cilik marah.
“Sekarang hanya cincin jelek ini yang aku punya. Simpanlah baik-baik. Itu sebagai bukti pertemanan kita. Nanti kalau aku sudah besar, aku akan menggantinya dengan cincin mahal yang bagus.” Si bocah gendut mengepalkan telapak tangan gadis cilik hingga cincin itu tergenggam rapat.
“Memangnya nanti kita bakal bertemu lagi?”
“Iya, pasti kita akan bertemu lagi. Dunia ini kan sempit.”
“Tapi kalau kamu sudah besar, jangan memberiku cincin.”
“Kenapa?”
“Karena aku lihat Ibuku memakai cincin dari Ayah. Dan Ibuku bilang, Ibu memakai cincin itu sebagai tanda kalau dia sudah menikah.” Lugu, gadis cilik bercerita.
“Ya sudah. Nanti setelah aku besar, aku tetap akan memberimu cincin mahal karena aku akan menikah denganmu,” kata bocah gendut, serius. Tak terlihat main-main dengan perkataannya.
“Masih kecil sudah mengajakku menikah. Aku tidak mau menikah denganmu. Karena kamu gendut, bau dan suka ingusan.” Gadis cilik menolak tanpa belas kasihan.
“Lihat saja, nanti kalau sudah besar aku akan berubah menjadi laki-laki tampan. Sampai-sampai kamu tidak akan mengenaliku. Dan pasti kamu nantinya tidak akan menolak untuk menikah denganmu.”
Bocah gendut sangat yakin dengan ucapannya. Yang entah baru sebatas angan, atau harapan yang akan terwujud.
Sementara si gadis cilik yang masih berpikir lurus dengan keluguannya, hanya menganggap perkataannya sebagai candaan semata.
Mereka pun akhirnya berpisah.
Dan waktu pun bergulir dengan cepat.....
-
-
-
Terima kasih para pembaca yang telah mampir ke karyaku yang banyak kekurangan ini
Cerita saat ini sedang proses revisi. Mulai dari bab pertama sampai terakhir. Saya ingin memperbaiki banyaknya kekurangan dalam cerita ini.
Semoga setelah revisi hasilnya tidak mengecewakan
Terima kasih atas dukungannya selama ini
__ADS_1