Belum Ada Judul

Belum Ada Judul
Melaksanakan kesepakatan


__ADS_3

Begitu keluar pintu kamar mandi, hidung Cherry mengendus aroma menggoda yang bersumber dari dapur. Rasanya tak sabar ia ingin menghampiri kakaknya yang sibuk menyiapkan sarapan tetapi ia terpaksa lanjut melangkah ke kamar untuk berganti pakaian.


Cherry yang telah berpakaian santai dan bekerudung polos mengarak langkah ke meja makan bundar. Air mukanya seketika berubah suka cita mendapati makanan yang telah terhidang di meja.


“Duduklah. Kakak masak sarapan kesukaan kamu,” kata Rahis seraya menurunkan tubuhnya di kursi.


Cherry yang senang duduk dengan patuh.


“Terima kasih ya, Kak. Padahal kan Kakak harus siap-siap ke kantor tetapi malah buat sarapan dulu.”


“Ini kan hari pertama kamu kerja setelah lama menganggur. Masakan ini sebagai bentuk dukungan aku buat kamu,” ucap Rahis seraya menjulurkan piring yang terisi makanan kepada Cherry.


“Aku coba roti tawar gorengnya dulu. Bismillah.” Cherry segera mengambil potongan roti bentuk segitiga yang berbalur tepung panir.


Dia tak segan menggigit sebagian besar roti. Alhasil mulutnya terisi penuh. Pipinya menggembung ketika giginya sibuk mengunyah makanan.


“Makannya pelan-pelan. Tidak usah terburu-buru,” ucap Rahis yang mencomot sepotong roti. Beda dengan Cherry, ia memilih untuk menggunakan sendok.


“Isian ayamnya enak banget,” puji Cherry yang tak ambil jeda untuk mengunyah.


“Habiskan makanan dalam mulutmu dulu baru bicara. Nanti kamu bisa tersedak.”


Rahis selalu memperlakukan Cherry dengan lembut. Baginya Cherry adalah saudara yang sangat berharga.


Sejak tinggal terpisah dengan ayah mereka, Rahis selalu siaga menjaga Cherry. Ia senantiasa jadi ksatria pelindung bagi Cherry, menggantikan sosok ayah yang tak bisa berada di sisi mereka lagi.


“Ngomong-ngomong apa posisi kamu di restoran itu?” tanya Rahis.


“Masih belum tahu. Hari ini baru akan dikasih tahu. Pastinya aku bekerja di posisi biasa. Aku kan kurang pengalaman. Dapat kerja di restoran yang menjanjikan saja aku sudah bersyukur.”


“Ya, Aku harap di sana kamu bisa bekerja dengan baik. Suatu hari kamu pasti menjadi Chef yang diakui,” ucap Rahis tulus mendoakan.


“Aamiin. Semua ini berkat Kakak. Semenjak Ibu meninggal Kakak yang jadi tulang punggung. Kakak sudah merawatku dengan baik. Aku sendiri belum bisa membalas semua kebaikan dan pengorbanan Kakak.”


Mendengar ucapan Cherry, Rahis termenung sesaat. Ia teringat tentang sesuatu hal.

__ADS_1


“Sebagai kakak, aku memang harus menjagamu dengan baik,” timpal Rahis dengan tatapan hangat memandang Cherry.


“Dan kita bisa melalui masa sulit berkat orang yang telah menolong kita waktu itu setelah tak lama Ibu meninggal.” Air muka Rahis mengeras. Sorot matanya pada Cherry berubah tegang. “Kak, sebenarnya siapa dermawan baik hati itu? Sampai saat ini Kakak tidak pernah memberitahu tentang sosok orang itu.” Cherry penasaran kembali setelah sekian waktu ia melupakan tentang sosok dermawan misterius.


“Aku tidak bisa memberitahumu. Karena dulu dia berpesan untuk tidak mengatakan tentang identitasnya kepadamu. Kebaikannya lebih baik dirahasiakan.” Setelah bicara, Rahis menyuapkan roti.


“Dulu, Kakak bilang dermawan itu pergi ke Prancis, setelah memberikan sejumlah uang yang cukup besar kepada Kakak untuk biaya hidup kita. Apakah sekarang dia sudah kembali?”


“Dia sudah kembali belum lama ini.” Saat memberi jawaban Rahis terlihat bimbang. Ketakutan tersembunyi di pancaran matanya. Entah apa penyebabnya.


“Kakak, sudah bertemu dengannya lagi? Jika sudah, bagaimana kalau Kakak mengajakku untuk menemuinya?” tanya itu terlayangkan dengan menggebu-gebu. Bertemu dengan sosok penolong dalam hidupnya, ia sangat bersemangat.


Namun, begitu Cherry mencetuskan tanya yang terakhir, Rahis nyaris saja tersedak ketika ia baru meneguk air putih. Beruntung, ia bisa mengatasinya. Dengan menutup bibir, dan mengalirkan air dalam mulutnya cepat-cepat ke tenggorokan.


“Aku sudah bertemu dengannya. Nanti, aku akan mengajakmu untuk bertemu dengannya. Tapi, tidak dalam waktu dekat. Karena aku sibuk belakangan ini,” balas Rahis, merasa enggan memenuhi permintaan Cherry.


Meskipun Rahis tak yakin untuk mempertemukan Cherry dengan sang penolong, tapi ia sungguh tak bisa berbohong. Ia juga tak bisa menyembunyikan hal yang ia takutkan itu lebih lama lagi.


Bertemunya Cherry dengan sosok penolong itu akan bisa mengubah hidup Cherry selanjutnya. Karena, orang itu menolong mereka dengan maksud tertentu. Suatu hari, Rahis harus bisa mengabulkan permintaannya sesuai yang telah disepakati.


“Baiklah. Aku bisa menunggu.” Cherry menarik senyum.


Akan tetapi, Rahis tampak gelisah. Dia berusaha menghilangkan kegelisahan itu dengan menikmati sarapan.


“Apa Kakak sudah menghubungi Ayah?” tanya Cherry, saat potongan terakhir berhasil ia terjunkan ke mulutnya.


“Aku belum sempat menghubungi Ayah lagi,” jawab Rahis, buru-buru menyelesaikan kunyahannya yang tertunda.


“Kakak harus lebih baik sama Ayah. Sekarang Ayah sudah tua. Jangan terlalu membencinya, ya! Nanti, Kakak hubungi Ayah! Dan tanya kabarnya. Kalau bisa Kakak temui Ayah. Kalian bicaralah dari hati ke hati,” bujuk Cherry yang sedih akan hubungan Rahis dan Ayahnya tak mengalami perkembangan.


“Baiklah, adikku. Supaya kamu tidak khawatir, aku akan menghubungi Ayah. Dan menemuinya nanti jika waktu luang.”


Mereka berdua mengakhiri obrolan dengan senyum yang lebar. Makanan pun dihabiskan dengan lahap.


Kakak Cherry berangkat kerja lebih dulu. Dan Cherry membereskan meja lalu mencuci piring kotor.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻


Karyawan baru yang berjumlah sekitar sepuluh orang berkumpul di ruang kerja manager. Mereka diberikan penjelasan mengenai pekerjaannya sesuai posisi mereka masing-masing dan seluk beluk restoran.


Setiap orang diberikan kunci loker dan pakaian seragam koki berwarna putih dan bawahan hitam. Khusus untuk Cherry diberikan sedikit kelonggaran aturan. Ia diperbolehkan memakai celana panjang yang dirangkap dengan rok yang berwarna senada. Kerudung yang dipakai Cherry pun harus mengikuti warna seragam koki.


Tentu ada syarat yang harus dibayar setelah keistimewaan yang didapat Cherry soal pakaian seragam. Baik kerudung maupun roknya tidak boleh menghambat geraknya. Soalnya di dalam dapur Cherry akan banyak bergerak karena posisinya di dapur sebagai Kitchen assisten.


Cherry mengganti pakaiannya dengan seragam koki berlengan panjang di ruang ganti khusus perempuan. Untuk memudahkan gerak Cherry menurunkan roknya hingga batas betis yang tertutup celana panjang. Dan jilbab panjangnya ia ubah menjadi lebih pendek di bagian dada serta ujungnya ia tarik dan diikat ke belakang leher.


“Kamu unik juga ya berseragam koki syar'i seperti itu,” kata Irene entah bermaksud mengejek atau memuji Cherry.


“Berpakaian yang menutup aurat bukan berarti membatasi ruang gerak perempuan,” timpal Cherry menjelaskan dengan tersenyum.


“Dia terlihat sangat cantik dengan pakaian koki seperti ini,” sahut seorang perempuan dewasa ikut berpendapat. “Sekalian aku ingin memperkenalkan diri. Aku Diana. Aku mohon bantuannya kepada kalian semua,” sambungnya ramah.


“Aku Cherry. Aku juga mohon bantuannya.”


“Ya. Semoga kita bisa menjadi tim yang baik. Kenalkan aku Eva,” sahut wanita muda berambut pendek yang juga berseragam koki.


“Menurutku Cherry justru terlihat lebih anggun sebagai koki wanita,” pujinya.


“Perkenalkan aku Sukma. Hari ini kita akan bekerja dalam tim yang sama di dapur. Kita harus saling bekerja sama dan mendukung. Kemampuan kita tidak dinilai dari apa yang kita pakai melainkan dari seberapa baik kita bekerja,” kata seorang perempuan yang tampak paling tua di antara mereka.


Irene membatu tetapi ia segera berkata lantang. “Aku Irene. Senang bisa satu tim dengan kalian.”


Lalu mereka semua pergi menuju dapur utama restoran, yang mana di sana telah menunggu anggota dapur baru lainnya yang siap untuk briefing bersama Chef de Cuisine.


Irene paling semangat dan berjalan paling depan karena dalam kepalanya sudah terisi penuh tentang pertemuannya kembali dengan Chef tampan kemarin.


Catatan kecil


Kitchen assistant : Asisten dapur yang bertanggung jawab membantu segala persiapan di dapur, mencuci peralatan masak dan membersihkan dapur.


Chef de Cuisine : Kepala koki yang bertugas memimpin dapur. Ia memegang jabatan tertinggi di dapur. Kadang disebut juga sebagai Head Chef/ kepala dapur. Dan sering kali hanya dipanggil Chef ketika bekerja.

__ADS_1


__ADS_2